“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Intim di Tengah Hari dan Kehangatan Kamar Pengantin 21+
Sesampainya di kamar, sepasang suami istri itu larut dalam ciuman yang memabukkan. Kinanti berjalan mundur, sementara Aditya merangsek maju, seolah tak sabar menuntaskan hasrat. Pintu kamar telah terkunci rapat. Suara decakan ciuman mereka terdengar manis dan intens. Kinanti melingkarkan kedua lengannya ke leher suaminya.
"Emmhh..." desah tertahannya saat Aditya semakin intens menciumnya.
Pinggang ramping Kinanti dibelai mesra oleh tangan kekar sang suami. Langkah kaki mereka perlahan namun pasti mengarah ke ranjang berukuran besar. Memegangi belakang kepala sang istri agar tak terbentur saat dibaringkan, Aditya dan Kinanti akhirnya jatuh terbaring di atas kasur. Ciuman mereka terjeda sejenak. Kinanti memandangi wajah tampan suaminya yang penuh gairah. Deru napas keduanya memburu akibat ciuman panjang tadi.
Aditya, yang masih haus, kembali menyerbu bibir sang istri. Keduanya kembali berciuman. Tangan kekarnya meremas pinggang ramping Kinanti, sementara sang istri memegang bahu suaminya. Kepala mereka asyik bergerak ke kanan dan kiri, mencari kenikmatan. Geraman Aditya mengiringi decapan ciuman keduanya. Tubuh gagah itu mengurung sang istri yang tampak pasrah di bawah kungkungannya.
"Mas menginginkanmu, Sayang. Kamu sudah bersih, kan?" tanyanya gamblang. Ia benar-benar sudah tak tertahankan.
"Sudah, kok, Mas," lirih Kinanti.
Tanpa aba-aba, Aditya mencumbui leher jenjang Kinanti. Desahan gadis cantik itu tak bisa dicegah. Tangannya refleks naik untuk meremas rambut hitam suaminya.
"Mas Adi, emmh..." Kinanti melenguh saat salah satu aset berharganya sudah diremas oleh tangan nakal Aditya.
Puas mencumbu leher sang istri, wajah tampan Aditya terangkat. Keduanya saling pandang dengan binar gairah yang sama.
"Besar," lirih Aditya sambil meremas dada kembar Kinanti.
Lenguhan Kinanti tertahan sambil mencengkram bahu sang suami.
"Kenyal," bisik Aditya, meremas semakin kuat.
"Dohhh, Maas..." desah Kinanti sontak.
Aditya tersenyum nakal, membasahi bibir bawahnya. Dengan gerakan cepat, ia melepas pakaian istrinya.
Pakaian itu melorot ke bawah, memperlihatkan lekuk tubuh Kinanti yang indah. Masih dilindungi pakaian dalam, Aditya segera melepaskan semuanya hingga Kinanti telanjang. Senyum merekah muncul di wajah Aditya, pandangannya begitu buas memandang sang istri.
"Mas," lirih Kinanti.
HAP!
Aditya meraup ujung aset kesukaannya. Kinanti dibuat menggeliat saat Aditya menghisap kuat, sesekali menjentik dengan lidah, bahkan menggigit gemas.
"Aduuhh Mas, pelan-pelan..." lenguh Kinanti merasakan sensasi yang aneh.
"Nikmat, hm?" tanya Aditya, suaranya tak terlalu terdengar karena masih sibuk. Kinanti memejamkan mata, menikmati sensasi yang begitu nikmat.
Aditya menjelajahi area sensitif Kinanti bergantian. Sambil menikmati cumbuan di bagian atas, Kinanti dibuat lalai oleh tangan suaminya yang sudah turun mencari bagian bawah.
"Awwhh!" Kinanti memekik kecil.
Tangan Kinanti refleks ikut turun, melingkupi tangan suaminya. Aditya mulai menemukan titik sensitif dan memainkannya perlahan.
"Mas."
"Mau bermain di sini," ujar Aditya, bangkit dari kegiatan sebelumnya. Kini lidahnya menuju area bawah Kinanti.
Kinanti gelagapan. Aditya tampak tergesa belum sempat ia mencegah, pakaian dalamnya sudah terlepas begitu saja. Tubuh Kinanti diangkat, lalu dibaringkan ke tengah kasur. Aditya bangkit sejenak untuk melepaskan kausnya. Tubuh kekar itu terlihat jelas, sangat menggiurkan, membuat Kinanti sempat melongo.
"Mas Adi, sebentar, Mas..." cegah Kinanti, terpotong.
"Sshuuttt," sahut Aditya, merangkak dan kembali mengurung tubuh molek istrinya.
"Dia sudah mengamuk di bawah sana, Sayang," bisik Aditya mesra.
Napas Aditya memburu. Ia menuntun tangan Kinanti untuk memegang langsung bukti keperkasaannya di balik celana panjangnya. Gundukan besar milik suaminya sudah sangat keras.
Desahan Aditya terdengar keras saat asetnya disentuh sekilas oleh sang istri.
"Mau ya Sayang?" ajak Aditya.
"Mas Adi... Ummh!" Bibir Kinanti langsung dibungkam oleh Aditya. Tangan Aditya kembali meremas bukit kembar Kinanti yang sangat menggoda itu. Ciuman terlepas, napas keduanya saling berderu bersahutan.
"Mas, kita di rumah Ibu, nanti bagaimana kalau terdengar?" ucap Kinanti, berupaya mencegah sang suami di sela napasnya yang tersengal-sengal. Aditya menggeleng pelan sambil tersenyum nakal.
"Kamar Mas di lantai dua, Sayang. Kamu lupa, hm?"
*ADUH, GAWAT!* batin Kinanti.
"Mas Adi, tapi—Aahhh!"
Kejadiannya begitu cepat. Kinanti sampai terbelalak saat tangan nakal suaminya sudah menyentuh bagian bawahnya.
"Nikmat sekali, Sayang," bisiknya sensual.
Aditya sedikit berbaring ke samping agar tubuhnya tak menimpa Kinanti. Gadis cantik bertubuh molek itu menggigit bibir bawahnya untuk meredakan desahannya yang semakin keras, takut terdengar sampai luar.
"Emmmhh!!"
Aditya mulai bermain di area bawahnya, dan sebelah aset berharganya dijelajahi kuat. Bagian bawah Kinanti terasa geli dan mulai meluap. Tangan Aditya terampil menjelajahi area sensitif itu. Lama-kelamaan, gerakannya mulai cepat.
"Aaahhh, Maas Adii, ahhhh..."
Kekehan berat Aditya begitu mendebarkan. Mata tajamnya menatap buas wajah istrinya yang memerah menahan gairah.
*Cantik sekali,* batin Aditya.
Ia tak menyangka akan sampai di tahap ini bersama Kinanti, istri sahnya. Kedua kaki Kinanti dibuat melebar, satu ke kiri dan satunya lagi menyandar padanya. Aditya semakin bernafsu melihat Kinanti yang merengek, terlihat begitu sensual saat akan mencapai pelepasan.
"Mas, stop! Aku mau keluar, emmhh..." desah Kinanti.
"Keluarkan saja, keluari di tangan Mas," balas Aditya serak.
Kinanti menggeleng ribut. Pelepasannya sebentar lagi sampai.
"Mas oohhhh, stop dulu..."
Tangan sang istri sibuk menjauhkan tangannya di bawah sana.
"Sebut nama Mas," bisik sang suami tepat di cuping telinga istrinya. Aditya yakin tidak lama lagi Kinanti akan keluar.
"Mas Adiiihhhh..." ucap Kinanti, klimaks dengan sangat deras. Napasnya tersengal-sengal. Ia menatap suaminya yang menyeringai penuh arti. Wajah tampan itu kembali mendekati aset berharganya, menyesap bak bayi kelaparan. Sambil menyesap, Aditya meremat aset yang satunya. Padahal baru saja keluar, Kinanti dibuat panas kembali, mendesah karena gairah yang tersulut. Sepasang mata Aditya mendongak, menatap wajah kenikmatan istrinya.
*Mau juga, akhirnya,* batinnya kesenangan.
Tangannya kembali turun. Ia masih ingin menekan bagian bawah Kinanti.
"Basah sekali, Sayang," bisik Aditya.
Kinanti malu bukan main. Bisa-bisanya Aditya mengatakan hal sefrontal itu.
"Mas Adi, ih!" rengek Kinanti, membuat Aditya terkekeh berat. Ia beranjak naik. Wajahnya ia posisikan berada tepat di depan wajah sang istri.
"Tanggung kalau menunggu pindah rumah, kelamaan, Sayang. Kita main sekarang saja, ya," bisik Aditya dengan senyum mesum.
"Mau ya?" Suara suaminya semakin membuat area sensitifnya menegang, menanti sentuhan yang akan menghancurkan pertahanannya.
"Sayang," ucap Aditya lagi, membenamkan wajahnya di leher Kinanti.
"Mas mau sekarang?" tanya Kinanti memastikan.
"Iya, Mas sudah tidak tahan, Sayang," bisik Aditya menahan hasratnya.
Kinanti dibuat bimbang. Apakah sang suami bisa berjanji padanya tidak akan kasar? Ini masih siang dan mereka sedang berada di rumah mertuanya ia takut jika ada yang mendengar. Apalagi ini adalah pengalaman pertama baginya.
"Mas," panggil Kinanti ragu.
"Kamu mau?" tanya Aditya.
"Sebentar," cegah Kinanti.
Aditya langsung mengangkat kepalanya, menatap wajah bimbang Kinanti. Sepertinya mau, tapi masih ragu.
"Mas akan pelan-pelan. Kamu tidak usah khawatir," ucap Aditya meyakinkan sang istri.
"Satu ronde, Mas usahakan cuma satu ronde," lanjut Aditya.
"Mas janji padaku cuma satu ronde?" tanya Kinanti, mendongak karena sang suami sudah mulai menyesap lembut permukaan kulit lehernya.
"Mas tidak janji, tapi Mas akan usahakan," bisik Aditya.
"Jadi mau, kan?" tanya Aditya lagi.
"Kalau Mas ingin sekali, ayo," ucap Kinanti.
Aditya tak dapat menahan senangnya. Pria tampan itu bahkan memperlihatkan gigi putihnya saking lebarnya ia tersenyum.
"Kamu nyaman, Sayang?" tanya Aditya mesra.
Ia masih memikirkan kenyamanan istrinya. Kinanti mengangguk malu.
"N-nikmat, Mas," ucap Kinanti, membuat Aditya gemas.
"Nanti kalau sudah masuk, Mas gerakkan, tambah nikmat, Sayang."
BLUSH!
Pipi Kinanti terasa panas bukan main.
"D-dimasukkan?" tanya Kinanti terbata-bata.
"He'em, dimasukkan ke dalam bagian bawah kamu," bisik Aditya.
*Heh! Aku benar-benar tamat,* batin Kinanti.
"Kalau sakit, cakar atau jambak rambut Mas, tapi jangan minta berhenti karena Mas tidak akan berhenti, Sayang," ucap Aditya.
"Mas akan gempur kamu sampai kelelahan," tambah Aditya.
Saat Kinanti hendak menyahut, bibirnya sudah dibungkam oleh sang suami dengan ciuman panas.
Keduanya larut dalam cumbuan yang kian bergelora. Geraman rendah Aditya sesekali terdengar, menandakan pertahanannya sudah berada di ambang batas. Dengan gerakan yang sedikit tergesa namun penuh damba, ia menanggalkan sisa kain terakhir yang menghalangi pandangannya.
Seketika, keindahan Kinanti terpampang nyata di atas kasur kamar. Kulitnya yang seputih pualam tampak bercahaya, memperlihatkan lekuk tubuh yang padat berisi dan begitu menggoda. Aditya terpaku sejenak, memuja setiap jengkal kemurnian di depan matanya yang tampak merona merah jambu karena gairah begitu mulus, begitu sempurna, dan kini seutuhnya menjadi miliknya.
*Sempurna!* batin Aditya.
Aditya dibuat pening seketika melihat tubuh istrinya, benar-benar indah sekali.
"M-Mas? Jangan dilihatin begitu," ujar Kinanti malu.
Bagaimana mungkin Kinanti tidak merasa tersipu jika dipuja seintens itu oleh suaminya sendiri? Dalam keadaan tanpa penghalang dan ia merasa begitu terekspos. Tatapan lapar Aditya seolah menelanjangi kembali jiwanya, membuat wajah Kinanti memerah hingga ke dada, menyadari bahwa tak ada lagi satu inci pun dari dirinya yang tersembunyi dari pria itu.
"Tubuhmu indah, Sayang. Mas suka," ucap Aditya, membuat Kinanti tersenyum sambil menggigit bibirnya malu.
Aditya ikut tersenyum. "Sebentar, Mas lepas celana dulu."
Kinanti memandangi sang suami yang turun dari ranjang, berdiri menjulang tinggi kekar. Pria tampan itu melepas celana panjangnya, juga celana dalamnya. Kinanti dibuat melongo berkali-kali lipat melihatnya.
*I-itu—benar-benar bisa masuk nanti?!* batin Kinanti.
"M-Mas?" ucap Kinanti terbata-bata.
Aditya tak banyak bicara. Pria tampan dengan tatapan buasnya itu merangkak menaiki ranjang, kembali mengurung tubuh Kinanti. Tangannya membuka lebar paha istrinya, dan ia menempatkan dirinya di tengah-tengah tubuh sang istri.
"Kaget, hum?"
"Besar sekali," keluh Kinanti terang-terangan di bawah kungkungan suaminya.
Karena ukurannya sebesar itu, Kinanti jadi ngeri-ngeri sedap. Pasti nanti akan sakit sekali saat masuk ke dalam tubuhnya.
"Kalau kecil, kamu tidak akan puas, gadis cantik," bisik Aditya mesra.
CUP!
Bibir ranumnya kembali dipagut sang suami.
"Rileks, ya, Sayang," bisik Aditya.
Kinanti memejamkan matanya. Aditya dibuat terkekeh. Setakut itukah pada miliknya? Memang besar, tapi ia pastikan masuk juga ke dalam aset mungil istrinya. Mengetahui ketakutan Kinanti, Aditya kembali bermain di area sang istri agar lebih licin. Kinanti dibuat mendesah saat asetnya kembali dimainkan secara brutal.
"Akhh!" erangan Kinanti.
"Sakit?" tanya Aditya, dibalas Kinanti mengangguk pelan.
"Biar agak terbuka dulu punyamu," lirih Aditya.
Kinanti menelan ludahnya, merasakan perih di bawah sana.
"Nanti kalau tidak begini dulu, milikmu bisa lecet, Sayang," ucap Aditya.
"Buka matamu, lihat Mas," ucap Aditya lagi.
Gadis itu masih memejamkan matanya, menahan perih.
"Kinanti, jangan merem. Lihat Mas," titah Aditya, mulai terdengar tak mau dibantah. Perlahan, Kinanti membuka matanya.
"Kamu percaya sama Mas, kan?" tanya Aditya.
"Ahhhh, iyaaaahhh..."
"Sebentar lagi Mas masukkan. Milik kamu sudah basah sekali," ucap Aditya tersenyum kecil.
Kinanti dibuat geram karena perkataan frontal suaminya.
"Kesenangan, hum?" goda Aditya supaya Kinanti lebih rileks.
Istrinya tampak memejamkan mata, benar-benar keenakan. Aditya lega melihatnya. Sudah tak tahan, ia ingin mencoba mengganti tangannya dengan sang jagoan. Mencium sekilas bibir menganga Kinanti.
"Mas masukkan," izin Aditya.
"Pelan-pelan, Mas," lirih Kinanti.
Aditya mengulangi peringatan sang istri barusan di benaknya. Baik, mari coba masuk pelan-pelan. Menggesek sebentar di luar milik sang istri agar cairan itu juga memperlicin senjatanya, agar masuknya lebih gampang.
Kinanti kembali mendesah saat merasakan betapa keras dan panasnya aset sang suami saat bergesekan dengan miliknya.
"Maasshh..." lenguhan Kinanti.
Aditya menundukkan wajahnya untuk melihat posisi milik keduanya, apakah sudah tepat. Mulai masuk. Aditya kembali mengangkat wajahnya dan menatap lekat sang istri. Kinanti tampak mengerutkan keningnya karena sakit.
"Mas—emmhh... tidak muat, itu..." lenguhan Kinanti.
"Muat," ucap Aditya.
"Mas Adihh..."
"Jangan merem. Lihat Mas," titah Aditya.
Kinanti membuka matanya, melihat sang suami yang menatapnya lekat.
"Kamu percaya sama Mas, kan?" tanya Aditya.
Kinanti terdiam. Ia ragu. Baru mau masuk sudah sakit.
"Sayang?"
Menatap mata tajam suaminya, Kinanti perlahan mengangguk kecil. Suami tampannya tersenyum lembut.
"Sakit sebentar, tapi nanti kamu bakal ketagihan, minta terus."
DEG!!!
Aditya pun mencoba semakin memasukkan. Ini baru ujung senjatanya yang masuk. Kedua lengan Kinanti berpegangan di pundak kekar Aditya. Kukunya sudah meremat bahu kekar Aditya.
"Aduh! Sshhh... Sakit, Mas," lenguhan Kinanti.
Aditya semakin mendorong miliknya agar tertanam semuanya dengan pelan, sesuai permintaan sang istri tadi.
"Sempit sekali, Sayang, agh!" erangan Aditya sampai mendongakkan wajahnya. Jakunnya naik turun. Geraman menggoda sungguh terdengar sangat seksi. Napasnya semakin berderu kencang. Ia menahan gairahnya sekuat tenaga yang semakin naik ke ubun-ubun. Kinanti menggigit bibirnya. Ini masih terasa baru setengah yang masuk, tapi sudah teramat sangat sakitnya.
"Haahhh, Masss," bibir Kinanti menganga. Matanya berembun menahan tangis.
"Tidak, Sayang, Mas tidak akan berhenti. Maaf, Sayang," Aditya menggeleng. Wajahnya kembali menunduk memandang wajah sang istri.
Setelah mengatakan itu, Aditya langsung saja menghentak dalam satu gerakan tegas, menyatukan raga mereka seutuhnya.
"Aakhhh!" pekik Kinanti.
CUP!!
Suami Kinanti itu langsung menghentakkan pinggulnya. Tubuh Kinanti ikut terdorong ke atas. Kepalanya refleks diangkat saat senjata suaminya sudah sepenuhnya tertanam. Aditya cepat-cepat membungkam mulut istrinya melalui mulutnya agar pekikan Kinanti tidak sampai terdengar keluar kamar. Kuku Kinanti pun menancap di kedua bahu Aditya. Dan benar saja, sepasang mata Kinanti sempat terbelalak saat pusaka sang suami masuk. Aditya melihatnya dengan jelas karena ia pun tak memejamkan mata. Kinanti merasa keperawanannya sudah benar-benar diloloskan sang suami.
Aditya melepas ciuman. Mata tajamnya memejam sekilas, menikmati sensasi di bawah sana. Ia tadi kesusahan menerobos segel Kinanti, dan kini ia telah merasakan merasakan sebuah hambatan yang akhirnya pecah, menandakan bahwa ia adalah penguasa pertama dan satu-satunya bagi hati dan raga Kinanti. begitu pun sebaliknya.
"Arghh Sayanghh..." suara Aditya semakin berat dan tebal.
"Kan aku bilang pelan-pelan, Mas," suara Kinanti serak menahan tangis. Air matanya sudah mengalir keluar di setiap sudut matanya.
CUP! CUP!
Aditya menciumi kelopak mata sang istri. Ia merasa bersalah karena telah lalai akan gairahnya tadi.
"Sakit, Maass, sakitt," adu Kinanti sambil terisak-isak lirih.
Aditya menundukkan wajahnya ke pelipis sang istri sembari berbisik.
"Maaf, Sayang. Mas kelepasan, menghentak terlalu kuat," ucap Aditya penuh sesal.
Kinanti menggigit bibirnya, merasakan sakit dan perih. Rasanya robek di bawah sana.
"Sshht, jangan menangis, ya. Mas minta maaf, Sayang. Mas akan buat kamu nikmat setelah ini," ucap Aditya mengusap air mata Kinanti.
Gairahnya tak bisa ditahan, menggebu-gebu, sampai ia terlena dan malah menyakiti sang istri.
Kinanti memandang wajah tampan suaminya yang terlihat serius. Tatapan mata lembut itu kembali hadir. Ia sempat tak mengenali suaminya tadi. Aditya terlihat liar dan beringas.
"Masih sakit?"
Wanita muda itu menatap lekat suaminya. Ia menjawab pelan.
"Sudah mendingan, Mas. Boleh bergerak, tapi aku mohon pelan-pelan, Mas," lirih Kinanti.
Aditya tersenyum simpul. Ia mengecup bibir Kinanti sekilas.
"Mas janji pelan-pelan."
Kali ini ia akan mengontrol sedikit gairahnya demi sang istri agar tak kembali merasa sakit. Padahal, jujur saja, Aditya ingin menghentakkan kuat-kuat. Milik Kinanti sungguh sangat legit dan nikmat. Mana bisa ia pelan-pelan? Tapi mari dicoba dulu, siapa tahu nanti sang istri sendiri yang meminta digempur kuat-kuat. Aditya dengan semua pikiran liarnya, apalagi mereka sudah sah, tak tanggung-tanggung lagi. Tubuhnya sedikit bangkit. Kedua lengannya berada di sisi kepala sang istri.
"Aghhh! Sayanghh..." Aditya mulai bergerak. Kepalanya mendongak sekilas, merasakan sensasi di bawah sana. Kembali menunduk, menatap penyatuan mereka. Ia mengeluarkannya pelan-pelan, lalu kembali memasukkan ke dalam lembah Kinanti. Ia sampai memejamkan matanya agar tak kembali mengulang kesalahan yang sama.
Terdengar Kinanti mulai mendesah. Rasa sakit dan perih itu masih ada, namun lama-kelamaan tergantikan dengan rasa gatal dan tak nyaman. Ia dibuat tak tenang dengan gerakan suaminya yang terasa sedikit kurang cepat.
"Mas Adiihh..." sang istri memanggil.
"Sakit, Sayang? Mas terlalu kencang? Mau lebih pelan lagi?" Pertanyaan beruntun sang suami menatapnya khawatir.
Kinanti memandangi sayu, bibir digigit, seakan ingin mengutarakan sesuatu tapi ragu-ragu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Aditya lagi.
"Mas..."
"Hum?" Aditya masih menggerakkan dengan tempo pelan.
"Ke-kencengin dikit, Mas. Punyaku terasa tidak nyaman di bawah sana," ucap Kinanti tertahan.
DWAR!!
Aditya membelalakkan matanya lebar. Ia pun sontak menghentikan gerakannya.
Kinanti pasrah di bawah kuasa sang suami. Kedua tangannya sudah meremat sisi bantal yang ia pakai. Aditya menghentak kuat, membawa istrinya menuju titik tertinggi yang melelahkan. Kakinya dilebarkan untuk Aditya. Pria tampan bertubuh kekar itu nampak begitu bernafsu saat menggagahi sang istri. Buka puasa juga akhirnya, meskipun hari masih siang. Namun, bagaimana lagi, gairah keduanya tak bisa ditahan. Kinanti melepas ciuman mereka, desahannya lolos.
"Aaaduhh... Maass..."
Keduanya saling tatap. Aditya menyeringai. Matanya berkilat gairah.
"Nikmat, Sayang, hum?" tanya Aditya sambil terus menghentakkan di bawah sana. Bibir Kinanti menganga, mengeluarkan desahan.
"Mas tidak bohong, kan? Ini bakal nikmat, Sayang. Aaaghhh! Sempit sekali punyamu, Sayang," wajah suaminya yang sedang bernafsu terlihat semakin tampan.
Tangan Kinanti terulur untuk meraih rahang tegas suaminya, dan langsung dipegang oleh Aditya. Ia kecup, bahkan jilat telapak tangan itu, lalu mengemut jemari sang istri.
"Aghhh! Suka, hm? Kamu sendiri yang minta dikencangkan, kan? Mas turuti, Sayang," bisik Aditya mesra sambil tersenyum, menatapnya yang sudah tidak berdaya di bawah. Pria tampan itu menunduk, mulutnya meraup salah satu dada Kinanti. Sudah ada beberapa tanda di leher bawah menuju dada berisi itu. Aditya, dengan rasa tak bersalahnya nanti akan terlihat atau apa ia masih tetap memberikan bukti kepemilikannya di spot yang ia inginkan. Biarlah semua tahu jika Kinanti sudah menjadi miliknya seutuhnya.
"Mas Adiihh..." Sang istri memekik tatkala bagian atas dan bawahnya secara bersamaan dimainkan sang suami.
Aditya semakin bersemangat. Saat tangan Kinanti meremat rambutnya semakin kuat, semakin cepat pula hentakannya. Kinanti dibuat semakin mendesah tak karuan. Tubuh moleknya menggeliat, bahkan merengek kesakitan, tapi ia tak bohong jika menikmati. Bibir bengkaknya tak berhenti menyebut nama sang suami.
"Mas Adihhh...." rengek Kinanti.
Kini Aditya kembali memandang wajah istrinya yang merengek di bawah kuasanya. Tubuh molek Kinanti berkeringat dan tersentak atas bawah seiring lajunya. Matanya terpejam sesekali, lalu kembali terbuka, memejam-melek keenakan.
"Mas, stop dulu, aku mau—"
"Jangan ditahan, basahi milik Mas."
Tak berselang lama, Kinanti pun mencapai pelepasan cukup deras. Aditya menghentikan gerakannya sejenak. Tak lama, hanya sebentar, ia kembali menghujam hingga ke relung terdalam. Kinanti, yang masih belum siap, merasakan sensasi tak karuan di bawah sana.
"Mas! Sebentar dulu,"
"Milikmu menjepit milik Mas, Sayanghh! Sensasi ini yang Mas nantikan," erangan Aditya membuat sang istri menggeleng ribut.
"Mas, please..." ucap Kinanti sampai menjambak rambutnya.
"Memohon untuk Mas tambah temponya, Sayang? Dengan senang hati... ugh!" ucap Aditya menghentakkan kuat dan brutal.
"Mas, sakit, Mas, aagrrhh..." Kinanti menangis. Semakin merengek, semakin candu bagi Aditya. Ia akan buat Kinanti sampai menangis kebanjiran di bawah sana. Aditya menyeringai buas.
"Mas tidak akan berhenti sampai kamu di bawah kuasa Mas."
Aditya mencium bibir Kinanti setelah sang istri kembali dilanda keluar kedua kalinya. Namun, kali ini Kinanti dibuat ketar-ketir karena sang suami belum setetes pun mengeluarkan lahar panasnya. Deru napas keduanya saling bersahutan.
Aditya sedikit menjauhkan wajahnya. "Capek?" tanya Aditya, dibalas Kinanti mengangguk kecil.
"Sudah ya, Mas?" ucap Kinanti dengan napas tersengal-sengal.
"Mas belum, Sayang," bisik Aditya, membuat istrinya langsung menelan ludah susah payah.
"Tadi katanya cuma satu ronde?" Wajah Kinanti memelas, meminta sudah. Tapi sepertinya belum juga karena Aditya malah mengajak, "Kamu mencoba di atas mau tidak?"
DEG!
"Mas Adi..." ucap Kinanti terpotong.
"Setelah Mas keluar, baru selesai," ucap Aditya. Karena melihat Kinanti sudah basah kuyup di bawah sana akibat ulahnya, dan istrinya itu terlihat letih, Aditya sedikit kasihan. Terlebih ini adalah awal untuk sang istri.
"Sayang," Aditya mulai menciumi leher jenjang Kinanti, merayunya.
"Tapi aku tidak mengerti harus bagaimana," ucap Kinanti pelan.
Suaminya cepat mengangkat wajahnya, yang sudah tersenyum senang.
"Mas ajari. Ayo bangun dulu," ucap Aditya dengan semangat.
Tubuh lelah Kinanti diangkat Aditya perlahan. Kedua lengan sang istri sudah melingkar di lehernya.
"Kakinya lebarkan, Sayang," bisik Aditya.
"Perih, Mas." Kinanti lagi-lagi menelan ludahnya sendiri.
Aditya membantu paha sang istri agar duduk di atas pahanya. Kinanti mendongak, menatap wajah tampan suaminya dan berujar, "Dia masih belum tidur?"
Aditya terkekeh berat. "Bagaimana mau tidur kalau belum keluar, Sayang? Dia belum puas."
Bibir Kinanti mencebik kesal. "Dia, atau Mas Adi yang belum puas?" sarkas sang istri.
Aditya pun sudah mengarahkan bukti keperkasaannya untuk kembali masuk ke lembah terbuka itu.
"Pelan, Mas," Sebelah tangan Kinanti berpegangan di pundak kekar Aditya.
Aditya mendongak, mereka saling tatap. Milik Kinanti perlahan mulai menelan habis miliknya. Sepasang matanya memejam sekilas. Tubuh molek itu pun otomatis turun.
"Sakit?" tanya Aditya saat asetnya sudah kembali masuk semuanya.
"Masih perih," adu Kinanti, seraya berpegangan sebelah tangan pada paha suaminya.
"Tapi punyamu sudah basah, Sayang," ucap Aditya tanpa filter.
Kinanti mengulum bibirnya. Aditya tak pernah terkontrol kata-katanya saat mereka berhubungan.
"Mas Adi, ih, omongannya," cibir Kinanti. Sebelah tangan Kinanti yang masih berpegangan di leher Aditya bergerak menjambak rambut suaminya gemas. Aditya dibuat terkekeh.
"Kelepasan, habisnya punyamu enak sekali," goda Aditya.
"Apa hubungannya, coba?!" cibir Kinanti.
Aditya tak menjawab. Ia langsung menyambar bibir manis istrinya. Tubuh Kinanti didekap, sembari sang istri kembali mengalungkan tangannya di lehernya. Tangan besar Aditya menuntun sang istri untuk bergerak. Tubuh molek itu nampak langsung menggerakkan pinggulnya dengan sensual. Sembari bergerak, lidah mereka pun ikut berpagutan nakal.
Aditya tak memejamkan matanya barang sedikit pun. Ia ingin melihat dengan jelas wajah sayu sang istri. Merasa Kinanti sudah tahu apa yang harus dilakukan, kedua tangannya bertopang di belakang badan, menikmati service sang istri. Awalnya malu-malu, perlahan sekarang terasa lebih cepat.
"Sayanghh... Nikmat sekali," erangan Aditya.
Membuka matanya perlahan, Kinanti tersenyum malu.
"Cepat sekali? Nikmat ya, hum?"
"Mas Adiiihhh..."
Aditya dibuat terkekeh gemas. Istri kecilnya malu-malu tapi mau juga. Kinanti sampai mendongakkan kepalanya. Aditya kembali mendekat.
"Ada apa, Sayang?"
"Dada aku tidak nyaman, Mas."
"Terus?"
"Mas Adi tidak mau?"
"Kamu mau Mas sambil menikmatinya, sayang?"
Sebenarnya malu, tapi ia tak tahan. Mau tak mau Kinanti mengangguk kecil sambil mengulum senyum. Aditya mendekatkan wajahnya ke aset kembar sang istri. Kedua pasang mata mereka tak terlepas barang sedikit pun.
"Maaasss...ahhh..terusshh,"
Tanpa diperintah pun, Aditya akan menikmati aset kesukaannya itu. Kinanti semakin bergerak cepat. Aditya sampai melepaskan kegiatannya. Ia tatap wajah merah penuh gairah istrinya yang mendesah.
"Sayanghh?"
"Nikmat, kan, Mashh ahh..." desah nakal Kinanti.
Tak tahan lagi, Aditya lekas mengembalikan posisi. Ia rebahkan tubuh molek sang istri, kembali ia kungkung.
"Mas?"
"Sudah selesai main-mainnya. Sekarang Mas yang memegang kendali."
"Aakhhh!" jerit Kinanti.
"Nikmat, Sayang?" Aditya menghentak kuat. Kinanti dibuat kelabakan.
Setelah itu, Aditya langsung menghajar istrinya lagi.
"Mas Adiihh..."
Meletakkan kedua lengan kekarnya di sisi tubuh sang istri, Aditya tak melepaskan tatapan buasnya.
"Kamu cantik, Sayang. Pandangan Mas tidak bisa berpaling darimu," goda Aditya.
"Tatapanmu, tubuhmu adalah candu Mas, Sayang," puji Aditya.
Ia tak menampik bahwa tubuh Kinanti sangat indah dan akan menjadi candunya kapan saja ia ingin menggagahi sang istri.
Desah seksi suaminya. Kinanti teringin membelai lembut perut berotot Aditya.
"Aku mencintaimu, Masshh..."
"Mas lebih mencintaimu, Sayangghh!"
Aditya merebahkan tubuhnya. Ia dekap sang istri erat sambil menghentak brutal di bawah sana. Kinanti memekik, mendesah keras, bahkan sampai menjerit menangis karena kenikmatan dari sang suami.
"Maass..."
"Aaahh... Mas sampai, Sayang,"
"Aaggrrhh.. Masshh!"
Serangan Aditya melepaskan seluruh gairahnya di sana, memberikan kehangatan yang memenuhi relung terdalam Kinanti, beradu dengan milik Kinanti. Kinanti merasakan kehangatan yang meluap di dalam dirinya, tanda bahwa Aditya telah menuntaskan segalanya. Deru napas mereka bersahutan. Aditya menyembunyikan wajahnya di leher Kinanti.
"Aahh... Terima kasih, Sayang. Mas lega."
"Panas, perutku penuh, Mas."
Aditya terkekeh. Ia mengecup cuping telinga istrinya.
"Benih cinta Mas sedang berjuang sekarang, Sayang. Semoga menjadi awal yang indah bagi kita." bisik mesra Aditya.
Sebelah tangan Aditya mengusap lembut perut istrinya. Ia tahu ini tak mudah, belum tentu sekali buat langsung jadi, tapi ia berdoa semoga kualitas benihnya unggul. Sekali buka puasa langsung gol.
Setelah tuntas satu ronde dari sisi Aditya, azan Dzuhur pun berkumandang. Lega bukan main. Setidaknya ia bisa melaksanakan ibadah salat dengan puas. Hati sudah menuntaskan gairahnya bersama sang istri, yang sudah lama ia tahan.
🌷✿❁✿🌷✿❁✿🌷✿❁✿🌷✿❁✿🌷
🍴 Misteri di Dapur
Meninggalkan sepasang suami istri baru itu, kini di lantai bawah, tepatnya di dapur, Bu Sarasvati dan Bu Winda sibuk menyelesaikan masakan yang hampir siap. Mereka tinggal menunggu para penghuni kembali ke rumah.
"Mbak Saras, kuah rawonnya sudah matang, Mbak," ucap Bu Winda.
"Oh, sudah, ya?" tanya Bu Sarasvati memastikan.
"Tinggal adonan untuk cincau hijau, siap, Mbak," ucap Bu Winda. Bu Sarasvati menghela napas lega, perlahan semua masakan akan selesai matang.
"Eh, Winda," panggil Bu Sarasvati.
"Iya, Mbak?" sahut Bu Winda.
Bu Sarasvati menatap ke lantai atas sejenak. Bu Winda memandangi kakak iparnya ini, bingung.
*Ada apa, sih?* batin Bu Winda yang penasaran.
"Aku kok baru sadar, ya. Kinanti tidak turun-turun?"
"Namanya pengantin baru, Mbak. Sudah pasti lanjut bermesraan di kamar," jawab Bu Winda, yang memang tidak salah. Kakak iparnya tampak terdiam.
"Iya, kali, ya. Eh, atau jangan-jangan..." ucap Bu Sarasvati menggantung.
"Jangan-jangan apa, Mbak?" tanya Bu Winda.
"Halah, seperti tidak paham saja," ucap Bu Sarasvati terkekeh. Bu Winda sontak melebarkan matanya dan tersenyum.
"Husst, Mbak, sudah. Biarkan saja. Kapan Abyan pulangnya, Mbak?" tanya Bu Winda, mengalihkan pembicaraan.
Perhatian Bu Sarasvati pun teralihkan. Ia lekas menemui sang suami untuk menjemput putra bungsunya pulang sekolah.
Tak lama, Bu Sarasvati kembali menemui Bu Winda.
"Masih lama, Winda. Abyan ternyata ada ekstrakurikuler hari ini, kayaknya bakalan pulang jam 5 sore," ucap Bu Sarasvati setelah kembali dari ruang tengah.
"Oalah, ya sudah kalau begitu, Mbak," ucap Winda.
"Fara mana, Win?" tanya Bu Sarasvati.
"Tadi izin sama aku, main ke rumah Mbak Lita," ucap Bu Winda.
"Ya sudah, biarkan. Kasihan tidak ada temannya di sini. Kinanti juga sedang dikurung suaminya," ucap Bu Sarasvati terkekeh, dibalas tawa kecil oleh Bu Winda.
Bersambung__
_____