IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Anin dan Kenzo masih tergugu di kursi tunggu. Masing-masing diam dengan pikiran yang berkecamuk.
Dua orang berseragam coklat, datang menghampiri mereka berdua.
"Permisi..." ucap salah satunya.
Anin mendongak, menatap dengan wajah bertanya.
"Maaf, apa anda yang bernama Anin Ratri Maharani? Keluarga dari almarhum Bapak Bondan?"
Pertanyaan dari pria berseragam coklat itu hanya mampu Anin jawab dengan anggukan kepala.
"Jenazah, Pak Bondan sudah kami pulangkan di rumah duka untuk proses pemakamannya. Dan kami juga butuh keterangan lanjutan dari Ibu Widya sebagai saksi kunci kasus pembunuhan ini."
Anin terperangah, otaknya berputar cepat. Jadi, dirinya harus pulang dan mengurus pemakaman Bapaknya itu. Lalu bagaimana dengan keadaan Widya, apa bisa ia tinggalkan?
"Ibu saya masih dalam keadaan kritis, Pak." Anin paksakan, untuk menyahut. "Ia sedang berada di ruang tindakan Operasi. Jadi, untuk keterangan saksi yang seperti Bapak inginkan, Ibu saya masih belum bisa ditemui."
Pria berseragam coklat itu mengangguk, "Baiklah, kalau begitu kami akan meminta informasi keadaan Ibu Widya selanjutnya pada pihak rumah sakit. Permisi."
Pria itu pergi dari hadapan Anin, menuju ruang staff rumah sakit.
Anin menoleh pada Kenzo, "Ken, kita makamkan Bapak dulu. Jenazah nya udah di rumah."
Kenzo menggeleng, "Ogah!" jawabnya acuh, "Gue mau di sini aja, nungguin Ibuk."
"Lo mau di sini aja?"
Kenzo mengangguk, tanpa berani menatap Anin.
"Ya udah, Lo disini. Kalo ada apa-apa sama Ibuk, Lo cepet kasih tahu gue. Biar gue aja yang balik." Anin segera bangkit, meski sebenarnya berat. Kalau bisa memilih, ia ingin seperti Kenzo–tetap menunggu, sampai operasi Ibunya selesai, memastikan keadaanya baik-baik saja. Tapi apa daya, lagi-lagi ... hidup tidak pernah memberinya pilihan.
"Kak, Lo beneran mau balik?" Tanggan Kenzo menggapai tangan Anin.
"Iya," rendah suara Anin, dia tidak memiliki tenaga untuk berbicara dengan nada lebih tinggi dari itu.
"Lo nggak apa-apa sendirian?" Sebenarnya, Kenzo mengkhawatirkan kakak perempuan nya itu.
Anin menghela nafas, "Mau gimana lagi, gue udah terbiasa dengan keadaan terpaksa begini." lirihnya.
Kenzo perlahan melepas pegangannya tadi, lantas ikut berdiri. "Gue nggak mau biarin Lo sendirian lagi kak, gue ikut Lo. Lagi pula, disini Ibuk sudah ada cowok Lo. Gue lihat, dia juga baik sama Ibuk."
Anin mengakui, kehadiran Naufal di hidupnya sangatlah membantu. Diam-diam ia bersyukur akan itu. Tapi tetap saja, ada sudut hatinya merasa nyeri jika memikirkan kehidupan kedepannya nanti. Entah kenapa, batinnya selalu bicara—bahwa hubungannya dengan Naufal, rasanya tidak akan pernah berhasil.
Ponsel Anin berderit, notifikasi panggilan dari nomor kontak yang ia beri nama Om Robi—adik dari Bondan.
"Iya Om?" gegas Anin menjawab.
"Nin, Bapak kamu sudah mau di makamkan." seru suara Robi di seberang telepon, "Kamu bisa pulang dulu tidak? Soalnya, semua biaya pemakamannya harus segera di urus."
Anin menghembuskan nafas, baik Bondan atau Adiknya yang bernama Robi ini sifatnya tidak lah jauh beda. Sama-sama memiliki kebiasaan buruk dan juga mata duitan. Hal ini yang membuat Anin juga tidak pernah dekat dengan keluarga besar Bondan. "Iya, Om. Sebentar lagi balik." sahutnya
"Kira-kira masih lama tidak? Kalau masih lama. Kamu transfer saja ke rekening Om biaya urus jenazah sama pemakamannya. Biar kamu terima beres."
Anin menautkan alisnya, "Berapa biayanya, Om?"
"Ya ... Sekitar lima puluh juta lah."
"Lima puluh juta?" Anin terperangah.
Kenzo yang berjalan bersisian dengan Anin, reflek menoleh padanya. "Kenapa, kak?"
Anin menggeleng, tangannya memberi isyarat agar Kenzo jangan dulu bertanya.
"Iya lima puluh juta, itu sudah terbilang yang paling murah."
Anin menelan ludah, "Om aku nggak punya uang sebanyak itu."
"Masa sih?" Robi bertanya dengan nada mencibir, "bukannya kamu sekarang manajer? Terus kamu juga udah lama kerja. Masa uang segitu aja nggak ada. Jangan pelit kamu sama orang tua, dia ini Bapak kamu loh!"
Anin membuang nafas kasar, betapa ucapan Robi ini menambah urutan beban untuknya.
"Cepet kamu transfer, Om tunggu. Biar jenazah Bapak kamu segera di makamkan."
"Nggak Om, biar nanti aku urus sendiri aja. Aku pulang sebentar lagi sama Kenzo."
Belum Robi jawab ucapan Anin tadi, tapi Anin sudah mengakhiri sambungan telpon itu.
"Kenapa kak?!" Kenzo tak sabar, ingin tahu.
"Om Robi..."
"Kenapa dia?"
Anin melirik Kenzo sekilas, watak gampang terbakar emosi sudah tergambar di wajahnya. Anin pun memilih kata-kata, supaya Kenzo tidak tersulut emosinya.
"Dia bilang kalau biaya pemakaman, berkisar lima puluh juta."
Kenzo terkejut mendengarnya, "Apa?!"
Anin kembali membuka layar ponselnya—Memesan taksi online untuk mereka berdua.
"Kak, kalo harus ngeluarin uang sebanyak itu, mending Bapak biarin aja nggak usah di makamkan. Masih hidup aja nyusahin, sekarang mati juga nyusahin!" Kasar ucapan Kenzo ini.
"Heh, nggak usah bilang begitu." tegur Anin, "Begitu-begitu juga dia Bapak kita. Setidaknya, untuk terakhir kalinya, kita kasih Bapak tempat peristirahatan yang layak."
Kenzo berdecak, "Tapi uang dari mana, sebanyak itu kak?"
"Kita pulang aja dulu. Nanti kakak coba ngomong sama pak RT."
Anin dan Kenzo sampai di parkiran. Bersamaan dengan datangnya taksi online pesanannya.
Tak lupa, Anin mengetikkan pesan singkat untuk Naufal. Bilang, ia titip Ibunya sementara pemakaman selesai.
***
Rumah kontrakan yang luasnya tidak seberapa itu, sudah di penuhi oleh para tetangga yang melayat. Duduk berkeliling, di pinggiran jasad Bondan yang terbaring di tengah ruangan.
Tapi anehnya, justru Anin tidak melihat Robi di sana. Dimana sebenarnya Robi tadi? Bukankah ia tadi bilang ingin mengurus pemakaman?
Anin memilih ke kamar mandi dahulu, sebelum ikut duduk di sana. Darah dari rembesan punggung Widya, segera ia bersihkan. Dan mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam. Baru kemudian duduk, di sebelah Kenzo.
Para tetangga sudah mempersiapkan fardhu kifayah untuk proses pemakaman Bondan. Anin berbicara sebentar kepada ketua RT untuk segala tekhnis pemakaman.
"Pak, maaf saya mau bertanya. Soal pemakaman ini, kira-kira membutuhkan biaya berapa?"
"Untuk biaya pemakaman, lima ratus ribu untuk penggali kuburnya saja, Mbak Anin. Untuk yang lain-lainnya sudah di cover oleh kelurahan." Sahut ketua RT.
Anin melongo, betapa kontras jawaban ketua RT dengan ucapan Robi di telpon tadi. Astaga! Apa maksud Robi?
Anin pun menyerahkan uang lima ratus ribu itu pada ketua RT untuk di serahkan pada penggali kubur. Semuanya lancar. Tidak ada hambatan yang berarti.
Pemakaman pun di laksanakan segera.
"Anin, turut berdukacita ya..."
Ucapan dari beberapa tetangga yang menyalaminya.
Anin mengangguk, bilang terimakasih pada empatik yang di ekpresikan para tetangganya itu. Hingga detik pemakaman selesai, tidak tampak sedikitpun batang hidung Robi. Jadi, uang lima puluh juta yang di minta Robi tadi, sebenarnya uang apa? Anin bergidik dengan tingkah adik Bapaknya. Yang tak lain memanglah sama saja.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍