Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wilayah baru sang kulkas
Apartemen Arden terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, dengan desain minimalis monokrom yang terasa seperti berada di dalam lemari es raksasa—serba abu-abu, hitam, dan putih. Sangat menggambarkan kepribadian pemiliknya.
"Tuan Bos, ini rumah apa ruang interogasi? Sepi banget, mana warnanya bikin ngantuk," celetuk Violet sambil menyeret kopernya masuk.
Arden meletakkan kunci mobilnya di atas meja marmer. "Ini namanya minimalis, Violet. Tidak ada kebisingan visual. Kamu tidur di kamar tamu sebelah kanan. Jangan pindahkan satu pun barang di ruang tengah, dan jangan berisik kalau teman-temanmu datang berkunjung."
"Yah, padahal baru mau aku pasang lampu tumblr ungu di balkon," gumam Violet kecewa.
"Jangan berani-berani melakukannya," ancam Arden, meski ia tetap membawakan koper Violet masuk ke kamar.
Malam Pertama: Penjaga Tidur
Malam itu, Violet tidak bisa tidur. Kejadian teror cat merah tadi siang terus terngiang-ngiang. Ia merasa setiap suara di luar pintu adalah ancaman. Dengan langkah perlahan, ia keluar kamar untuk mengambil air minum.
Ia terkejut saat melihat lampu ruang tengah masih menyala redup. Di sana, di atas sofa kulit yang kaku, Arden duduk dengan laptop di pangkuannya. Ia masih memakai kemeja kerjanya, hanya dasinya saja yang sudah dilepas.
"Tuan? Kok belum tidur?" tanya Violet pelan.
Arden menoleh, wajahnya tampak lelah namun matanya tetap waspada. "Aku sedang menyelesaikan laporan. Kamu kenapa bangun?"
"Nggak bisa tidur... takut," ucap Violet jujur, suaranya mengecil.
Arden terdiam sejenak. Ia menutup laptopnya dan menepuk sisi sofa di sampingnya. "Sini."
Violet duduk dengan ragu. Arden kemudian menarik sebuah selimut tebal dan menyelimuti bahu Violet. "Tidurlah di sini kalau kamu takut. Aku akan di sini sampai pagi. Tidak akan ada yang berani masuk ke tempat ini selama aku masih bernapas."
Violet menatap Arden dari samping. Sinar lampu yang remang mempertegas garis rahang Arden yang tegas. "Tuan Bos... kok jadi manis banget sih? Apa cat merah tadi siang mengandung pelet ya?"
Arden mendengus, tapi kali ini ia tidak membalas dengan kata-kata dingin. Ia justru menyandarkan kepala Violet ke bahunya. "Berhenti bicara dan tutup matamu, Gadis Berisik. Ini perintah."
Violet tersenyum, hatinya terasa hangat. Ia memejamkan mata dan untuk pertama kalinya sejak teror itu, ia merasa benar-benar aman.
Pagi yang Kacau
Keesokan paginya, ketenangan Arden hancur berantakan.
Ting tong! Ting tong!
Bel apartemen ditekan berkali-kali dengan tidak sabar. Saat Arden membuka pintu dengan mata yang masih sedikit mengantuk, ia langsung diserbu oleh tiga orang gadis yang membawa kotak pizza, balon, dan sebuah speaker portabel.
"VIOOOO! OPERASI PERLINDUNGAN CEGIL DIMULAI!" teriak Evara sambil merangsek masuk.
"Wah, gila! Apartemen Pak Arden estetik banget, tapi kurang warna ungu sih," tambah Avyanna sambil mulai mengeluarkan barang-barang "dekorasi" dari tasnya.
Lavanya berdiri di depan Arden sambil tersenyum tenang. "Maaf ya Pak, kami dengar Violet habis kena teror. Sebagai tim suksesnya, kami wajib memberikan dukungan moral dan... sedikit keributan."
Arden berdiri mematung di tengah ruang tamu yang dalam waktu lima menit sudah dipenuhi balon ungu dan suara tawa nyaring. Ia menoleh ke arah Violet yang baru keluar kamar dengan wajah tanpa dosa.
"Violet... apa yang saya bilang soal jangan berisik?" tanya Arden dengan suara rendah yang menahan amarah.
"Aduh Tuan, mereka ini sistem imun aku! Kalau mereka nggak ada, aku bisa stres dan sakit. Tuan mau calon istrinya sakit?" balas Violet sambil memeluk Evara.
Arden memijat pelipisnya. Ia menyadari satu hal: membawa Violet ke rumahnya berarti membawa seluruh sirkus ke dalam hidupnya yang tenang. Namun, saat ia melihat Violet tertawa lepas bersama teman-temannya—tawa yang sempat hilang kemarin—Arden hanya bisa menghela napas pasrah.
"Satu jam. Setelah itu, kalian semua keluar," ucap Arden, meski ia sendiri berjalan ke dapur untuk membuatkan cokelat panas untuk mereka semua.
Pesan dari Kegelapan
Di tengah keriuhan itu, ponsel Arden bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:
"Menaruhnya di sarangmu tidak akan membuatnya aman, Arden. Justru sekarang kalian berdua berada di dalam satu peti mati yang sama. Tunggu kejutan di hari pertunangan kalian."
Arden mencengkeram ponselnya erat. Matanya menajam ke arah pintu keluar. Arjuna sudah melampaui batas, dan Arden tidak akan membiarkan pertunangan yang mulai ia nantikan ini hancur.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...