Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Duri di balik Bahagia
Aku hanyut dalam diam. Membiarkan ia terus mendesakku agar aku terjaga dari tidurku. Faktanya, saat ini aku tak benar-benar tidur. Tanpa diduga, sebuah tangan memelukku dari arah belakang. Napasku sesak. Bagai berlari dari kejaran musuh. Aku tak bisa melepasnya semauku. Pelukannya terlalu erat. Aku … tak bisa bernapas.
Tiba-tiba … ia berkata.
“Kemarilah! Mari berpelukan,” pintanya seraya menarik bahuku agar menghadap padanya. Ia tersenyum menatapku. Lantas, ia berkata …
“Sampai kapan jilbab itu akan terus dipasang?” tanyanya seraya menampilkan tawa padaku. Aku membalasnya dengan senyum canggung. Kemudian, melepas jilbabku perlahan.
Mata itu … kini menatapku dengan binar mata yang sulit kuartikan. Setiap senyumannya terlihat tulus dan menenangkan. Senyuman itu bagai narasi-narasi hangat tanpa perlu diucapkan lewat kata-kata. Aku menunduk malu—menatap kaus putih sederhana yang ia kenakan. Kupejamkan mata, sepertinya rasa kantuk itu mulai menghabisi kesadaranku.
Saat kesadaranku perlahan memudar, kurasakan napas hangat yang menyapu permukaan kulit wajahku. Terasa dekat, sehingga jantungku kini memburu tak beraturan meski mata ini terpejam. Hingga tiba-tiba … sesuatu yang lembut nyaris menyentuh bibirku. Namun, kembali kurasakan hawa hangat itu menjauh. Aku memahami, bahwa saat ini … suamiku tengah rindu.
Kupejam erat kedua mataku, tanganku memeluk guling dengan kuat. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menggeser guling itu dari pelukanku. Hingga kini … kurasakan tubuh kami saling menyatu—dalam kehangatan.
Ia memelukku dengan erat. Seolah ingin memberitahu, bahwa aku aman di sisinya. Ia berbisik lirih.
“Ya Allah. Istriku ini begitu suci. Ia bahkan takut aku nodai.” Ia membelai lembut wajahku. Sebuah kecupan mendarat di keningku.
“Tidurlah. Sepertinya kamu benar-benar sudah lelah,” ucapnya kemudian seraya membelai lembut rambutku. Aku mengembuskan napas lega. Memegang jantungku yang kian memburu.
Ucapannya itu, aku masih suci? Itu seperti menamparku. Mataku memanas. Rasanya, ingin detik itu juga aku berteriak dan menangis. Mengatakan bahwa ia telah menikahi perempuan bekas orang lain. Tapi … betapa lisanku tak mampu melukainya. Aku memilih menelan tangis itu sendirian. Hingga tanpa sadar, aku membangunkannya.
“Kamu … nangis?” tanyanya padaku seraya memerhatikan air mata yang menetes di pipiku.
Aku lekas menyekanya. Kemudian, tersenyum hangat menatap wajah itu.
“Maaf, apa aku melukaimu?” tanyanya heran seraya meraih wajahku lembut.
“Aku ... Nggak apa-apa, kok," jawabku setelahnya kemudian tersenyum padanya.
“Maafkan aku. Jika ada ucapanku yang salah." Ia meminta maaf. Lantas mengecup keningku lembut.
“Aku … tak pernah senyaman ini, saat bersama seorang pria.” Demikian suara hatiku.
Azan subuh berkumandang merdu. Membangunkanku dari tidur yang sejatinya kurang nyenyak. Aku memandang suasana sekitar. Kutepuk wajahku pelan. Ternyata … ini bukan mimpi. Semalam, ternyata itu adalah nyata. Aku bangkit dari kasur. Menuju ruang wudu yang ada di dalam kamar kami.
Sajadah hijau lembut ini, kini menjadi tempatku bersujud. Selepas salat, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan Hamzah di luar sana. Suara itu semakin keras. Aku bergegas menghampirinya. Kugendong ia … berharap ia tenang dalam dekapanku. Hamzah menyandarkan kepalanya ke pundakku. Satu kecupan di keningnya, kini kudaratkan.
Tiba-tiba … sebuah suara mengucap salam terdengar di depan pintu masuk. Suamiku—dia telah pulang.
“Maa syaa Allah … Saleh Abaty sudah bangun.”
“Udah tidur lagi, nih Abaty. Habis di dekap,” ucapku seraya menuai senyuman manis padanya.
“Abaty juga mau dipeluk, dong.” Ia lantas memelukku erat. Kemudian mendaratkan kecupan di keningku.
“Oh, ya. Gimana kalau pagi ini kita pergi jalan-jalan sekaligus olahraga.” Suamiku—Afwan memberi ide.
“Baik, Mas,” jawabku sambil tersipu malu saat ia menatapku lama.
“Maa syaa Allah. Ya, panggil aku … Mas saja. Itu lebih nyaman dibandingkan ustaz.” Tawanya merekah. Menampilkan lesung pipi di sebelah kanan pipinya.
***
Taman Lapangan Banteng, Jakarta
Bias cahaya mentari pagi mengintip di balik celah gedung-gedung yang menjulang tinggi. Monumen raksasa itu berdiri kokoh di tengah lapangan yang luas dan bersih. Aroma tanah basah dan sisa embun pagi menyeruak kuat. Memberikan kedamaian sesaat dari kebisingan kota Jakarta yang padat.
Hamzah tampak tengah menikmati paginya dengan bermain bersama Mas Afwan di sebuah perosotan tak jauh dari tempatku kini duduk. Kutebar senyum di balik cadar. Melihat kedamaian pemandangan keluarga kecilku pagi ini. Sesekali tawaku kecilku merekah. Aku lupa kapan terakhir kali aku tersenyum dan tertawa selepas ini.
“Ke sini, Umi!” panggil Hamzah padaku. Aku mengangguk lalu berjalan menujunya.
Saat aku hendak melangkah, tiba-tiba notifikasi WA-ku berbunyi. Aku lekas membukanya. Namun, betapa terkejutnya aku. Saat melihat ada sebuah nomor baru masuk ke WA-ku. Pesan itu belum kubuka. Nomor itu mengirimku sebuah gambar.
Kuberanikan diri membuka gambar itu. Suara nyaring Hamzah terus memanggil namaku. Namun, pesan misterius ini jauh lebih menaruh perhatianku.
“Itu kamu, kan?” Isi pesan dari nomor tak dikenal itu. Seraya ia mengirimkan sebuah gambarku tengah duduk di sebuah bangku taman, tempatku tadi bersantai menikmati pagi.
Aku diliputi rasa cemas yang sangat. Hingga tiba-tiba, saat aku mengabaikan pesan itu, pesan darinya kembali muncul.
“Kamu udah nikah? Wah, cepat juga, ya. Katamu, lagi nggak mau nikah kan?”
Ingatanku berlabuh pada sosok Dimas.
“Dimas? Apa itu dia?” lirihku seraya menautkan alis heran.
Aku memutuskan memblokir kontaknya. Kemudian berlalu menuju Hamzah dan Mas Afwan. Namun, saat aku hendak berjalan menujunya, seseorang menghalangi langkahku.
“Asalamualaikum, Adelin! Masih ingat aku?”
Mataku membelalak cemas. Darahku berdesir hingga ke menjalar ke ubun-ubunku. Bagaimana mungkin ia bisa mengenaliku? Sementara aku sudah mengenakan cadar?
“Kamu bingung, kan? Kenapa aku bisa kenal kamu? Sementara kamu bercadar.”
Aku tak menjawabnya sama sekali. Pikiranku melayang pada saat ia mampir ke rumahku beberapa minggu lalu. Aku lupa, saat itu aku sudah mengenakan cadar. Bisa saja, ia mengenaliku dari sana.
Aku lantas menggelengkan kepala. Berpura-pura tidak mengenalnya. Aku lantas menghampiri Mas Afwan dan Hamzah. Bahkan, aku sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tiba-tiba … Mas Afwan bertanya.
“Siapa?” tanyanya seraya mengernyitkan dahi.
“Adelin! Kamu lupa aku? Baik, aku kenalkan diriku padanya. Saya Dimas. Mantan kekasih Adelin.”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?