NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 - Kedatangan Atlas

Atlas tampak bersembunyi di antara tiang-tiang sebuah bangunan dekat gang yang sesuai dengan petunjuk dalam ingatannya. Tatapannya tertuju pada sebuah mobil hitam yang terparkir di depan gang.

"Sial, apa yang mereka lakukan?! Lama sekali! Aku tidak bisa masuk ke sana kalau mobil itu masih ada!"

Setelah tiga menit, mobil itu akhirnya bergerak. Namun, mobil itu menuju jalan utama alih-alih masuk ke dalam gang.

Atlas tidak membuang waktu, dia langsung melangkah untuk masuk ke dalam gang.

Sebuah mobil dengan plat nomor REJ 288 terparkir di depan tempat sampah besi tua, persis seperti petunjuk yang Atlas terima.

Atlas mengintip ke dalam mobil tetapi tidak menemukan apa pun di dalamnya.

"Ke mana mereka membawa Alicia?"

Suara sepeda motor terdengar dari balik dinding, membuat Atlas bersembunyi di samping mobil, tepat di antara mobil dan dinding sempit.

Cahaya dari lampu depan motor terlihat dari sisi kiri, tepatnya dari ujung gang, menandakan bahwa motor itu sedang keluar. Dua motor besar dengan pengendara berpakaian serba hitam melintas. Suara pintu yang ditutup membuat Atlas segera berlari ke arahnya.

Atlas melompat dan menendang pintu yang hanya tersisa sedikit celah, membuatnya terbuka lebar kembali.

"Siapa kau!"

Dua penjaga mengarahkan pistol mereka ke arah Atlas. Atlas yang tergeletak di tanah segera bangkit dan berkata, "Di mana adikku?"

"Ah, jadi kau Atlas. Bagus sekali, Bro, kau datang sendirian ke tempat kematianmu! Katakan permintaan terakhirmu sebelum kami membawamu dalam keadaan sekarat!" Kedua penjaga tertawa sombong, pistol mereka semakin mendekati wajah Atlas.

Atlas menyeringai, tidak menanggapi kata-kata mereka. Dia menjentikkan jarinya, membuat kedua pistol itu terlepas dari tangan mereka.

"Dapat!" Atlas menangkap kedua pistol itu dan menyelipkannya ke celananya. Dia dengan cepat melayangkan pukulan ke wajah para penjaga yang kebingungan.

"Ugh! Berani-beraninya kau-Ugh!"

Atlas tidak memberi mereka kesempatan untuk berbicara, tangannya sibuk menghantam wajah mereka secara bergantian. Dia melempar tubuh mereka ke dinding, mematahkan tulang rusuk dan leher mereka.

"Sebelum kalian menyentuhku, aku yang akan membuat kalian mati, bodoh!"

Atlas berlari menyusuri lorong panjang yang menuju ke tangga. Tawa beberapa pria terdengar. Atlas mengeluarkan satu pistol dari celananya dan menaiki tangga.

"Ah, malam ini terasa sangat menyenangkan. Sudah lama sejak kita menikmati minuman mewah. Aku tidak sabar mendapatkan bayaran lebih besar jika target berikutnya berhasil ditemukan!" Salah satu anggota geng Dragon Blood yang menghadap tangga membelalakkan mata saat melihat Atlas mendekat dengan pistol di tangan.

"Apakah target berikutnya yang kau maksud itu aku?" Atlas tersenyum.

Tiga pria yang duduk langsung berdiri dan membanting gelas yang mereka pegang. Dua di antaranya juga mengeluarkan pistol. Seorang pria berambut sebahu dengan tubuh paling besar menepukkan kedua tangannya.

"Betapa sempurna pesta makan malam ini! Ternyata kau orang baik yang suka membantu orang lain. Ayo, kita selesaikan ini supaya kita bisa mendapat–"

Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Atlas berhasil melumpuhkan dua rekannya yang mendekat. Atlas dengan cepat mengambil pistol lain dan menembak kepala mereka berdua.

Darah memercik, mengenai wajah pria berambut sebahu itu.

"Kau!" Pria itu mencoba meraih Atlas, tetapi Atlas dengan mudah melompat dan menghantam lehernya dengan siku.

Pria besar itu terjatuh, tetapi tangannya dengan cepat meraih kaki Atlas, membuat Atlas terjatuh. Kedua pistol di tangan Atlas terlepas, salah satunya jatuh ke tangga.

"Kau pikir bisa menghentikanku? Kau salah besar, bod- Argh!"

Atlas menendang wajah pria itu, membuat cengkeramannya pada kaki Atlas terlepas. Atlas memanfaatkan celah itu untuk mengambil salah satu pistol yang ada di dekatnya.

"Berbicara denganmu hanya membuang waktuku. Nikmati saja hidupmu di neraka!"

Pistol itu kembali merenggut nyawa. Pria besar itu menghembuskan napas terakhirnya saat peluru bersarang tepat di jantungnya. Sayangnya, saat Atlas mencoba menembak kepalanya lagi, pistol itu kehabisan peluru.

Atlas melirik pistol yang sebelumnya dipegang oleh dua rekannya yang sudah mati, tetapi tumpukan otak yang menempel di sana membuat Atlas menggeleng dan berkata, "Menjijikkan.”

Atlas kemudian mulai mencari ke seluruh lantai dua. Tiga ruangan yang tersedia tampak kosong dan tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan Alicia.

Atlas kemudian naik ke tangga dan melakukan hal yang sama di lantai tiga.

Namun, hasilnya sama. Tidak ada siapapun di lantai itu.

"Sial! Di mana mereka menyembunyikan Alicia?!"

Atlas merasa sangat putus asa, terutama karena tidak terlihat adanya tangga menuju ruangan lain. Kepanikan dan kemarahan membuatnya melampiaskan emosi dengan menendang dinding di sudut ruangan.

"Huh!" Siapa sangka tendangan Atlas justru membuatnya menemukan pintu tersembunyi? Dinding yang dia tendang ternyata adalah pintu geser, menampilkan tangga kecil yang bisa dinaiki di dalam ruangan remang-remang itu.

Atlas segera masuk dan menaiki tangga. Semakin dekat, jantungnya berdetak semakin cepat saat mendengar tangisan seorang wanita.

"Alicia!" gumamnya.

Tangga yang cukup panjang itu mengarah ke lorong panjang yang remang-remang.

"Panggil lagi nama kakakmu! Dia tidak akan datang menyelamatkanmu, jalang!"

Suara Stevan yang terdengar membuat kemarahan Atlas semakin memuncak. Dia berlari cepat dan menemukan sebuah ruangan dengan pintu terbuka dari mana suara itu berasal.

Atlas merasa napasnya sesak. Dia mengepalkan tinjunya dan berteriak, "Kau bajingan Stevan! Apa yang telah kau lakukan pada adikku!"

Tiba-tiba, semua orang menoleh ke arah Atlas. Senyum lebar muncul di wajah Stevan saat dia memutar tubuhnya dan berkata, "Selamat datang, Atlas, senang bertemu denganmu sebelum kau mati.”

1
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
king polo
ini baru seru
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Budiman
ditunggu up berikutnya ya kak
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!