Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Tak Terjangkau
Pagi berikutnya, latihan di halaman Sekte Awan Kelabu berjalan lebih awal dari biasanya.
Bukan karena Wei Zhen memerintahkan demikian. Tapi karena para murid—terutama para murid perempuan—tidak sabar untuk melihat satu pemandangan: Xiao Chen duduk di beranda, membaca gulungan-gulungan kuno dengan rambut putihnya yang berkibar diterpa angin pagi.
Dan pagi ini, mereka mendapatkan bonus tambahan.
Lin Yao berdiri di tengah halaman, pedang kayu latihan di tangannya. Mata hijaunya yang seperti zamrud menatap Xiao Chen dengan intensitas yang membuat para murid lain menyingkir. Jubah hijaunya berkibar, rambut hitamnya yang diikat setengah bergerak-gerak diterpa angin. Dia sudah dalam posisi siap bertarung.
"Aku sudah siap," katanya.
Xiao Chen menutup gulungan yang sedang dibacanya—Gulungan Teknik Pedang Dasar Fana tingkat Rendah—dan meletakkannya di samping dengan hati-hati. "Pagi-pagi sekali. Apa kau tidak mau sarapan dulu?"
"Aku sudah sarapan. Sekarang, penuhi janjimu."
"Janji?" Wei Ling, yang baru saja tiba di halaman, menatap mereka berdua dengan alis terangkat. "Janji apa?"
"Taruhan," jawab Lin Yao tanpa mengalihkan pandangan dari Xiao Chen. "Jika aku bisa menyentuhnya dalam pertarungan, dia akan menjawab satu pertanyaan apa pun dariku."
Wei Ling menatap Xiao Chen dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kau... setuju dengan itu?"
"Tentu saja. Ini menyenangkan." Xiao Chen bangkit dari duduknya, meregangkan lengannya sebentar. Gerakannya santai, hampir malas. "Baiklah, Lin Yao. Aturannya sederhana. Kau boleh menggunakan apa pun—teknik, senjata, strategi. Jika kau bisa menyentuh bagian mana pun dari tubuhku atau pakaianku, kau menang."
"Itu saja?"
"Itu saja."
Lin Yao menyipitkan matanya. "Kau sangat percaya diri."
"Aku hanya tahu kemampuanku."
Kata-kata itu terucap tanpa kesombongan—hanya pernyataan fakta yang tenang. Tapi entah bagaimana, itu justru membuat Lin Yao semakin bersemangat. Dia memutar pedang kayunya, merasakan keseimbangannya. "Aku tidak akan menahan diri."
"Aku juga tidak mengharapkanmu begitu."
Para murid membentuk lingkaran lebar di sekitar halaman. Wei Zhen muncul di beranda, tertarik oleh kerumunan. Feng Mo dan Lan Yue berdiri di sisi yang berlawanan, mata mereka terpaku pada dua sosok di tengah. Bahkan kedua murid laki-laki Qin Wuya muncul dari paviliun tamu, menonton dengan ekspresi waspada.
Su Mei, yang berdiri di samping Lan Yue, berbisik, "Lin Yao tidak pernah kalah dalam duel. Bahkan melawan murid-murid Pendirian Fondasi tingkat 3, dia bisa menang."
"Xiao Chen berbeda," jawab Lan Yue pelan.
"Aku tahu. Aku bisa merasakannya."
—
Lin Yao bergerak lebih dulu.
Dia tidak membuang waktu dengan pemanasan atau serangan percobaan. Langkah pertamanya sudah merupakan teknik—Bayangan Kilat Fana tingkat Menengah, teknik pergerakan tercepat yang dimilikinya. Tubuhnya melesat seperti panah, pedang kayunya mengarah ke bahu Xiao Chen.
Cepat. Sangat cepat. Para murid Tahap Pemurnian Qi bahkan tidak bisa melihat gerakannya dengan jelas.
Xiao Chen melangkah ke kiri. Satu langkah kecil, hampir tidak terlihat. Tapi entah bagaimana, pedang Lin Yao melewati tempat di mana bahunya berada sepersekian detik sebelumnya. Tidak kena.
Lin Yao tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya, pedangnya berubah arah dalam gerakan yang seharusnya tidak mungkin—Teknik Pedang Berputar Fana tingkat Tinggi. Pedang kayu itu membentuk busur horizontal, mengincar pinggang Xiao Chen.
Xiao Chen menunduk sedikit. Bukan menghindar dengan panik—hanya menunduk, seperti seseorang yang sedang membungkuk untuk memungut bunga. Pedang itu melewati di atas kepalanya, beberapa helai rambut putihnya berkibar terkena angin dari gerakan pedang, tapi tidak tersentuh.
Lin Yao menggertakkan giginya. Dia melompat mundur, menciptakan jarak, lalu melesat lagi. Kali ini dia menggunakan kombinasi—tiga serangan berturut-turut: tebasan ke kiri, tusukan ke tengah, sapuan ke kaki.
Xiao Chen bergerak.
Bukan bergerak cepat—hanya bergerak tepat. Dia memiringkan tubuhnya untuk menghindari tebasan, berputar ringan untuk melewati tusukan, dan mengangkat satu kaki untuk menghindari sapuan. Gerakannya seperti air, mengalir di antara serangan-serangan Lin Yao tanpa pernah bersentuhan.
"Kau... tidak mungkin!" Lin Yao melancarkan serangan bertubi-tubi sekarang. Pedangnya menjadi kabur, gerakannya semakin cepat. Dia menggunakan semua teknik yang dia tahu—Pedang Bayangan, Langit Berat, Tusukan Seribu Daun. Keringat mulai mengucur di pelipisnya, napasnya memburu.
Tapi tidak satu pun serangannya yang mengenai.
Xiao Chen terus bergerak dengan tenang. Kadang-kadang dia bahkan tidak melihat ke arah pedang yang datang—seolah dia sudah tahu ke mana setiap serangan akan bergerak. Matanya yang ungu keemasan tenang, hampir seperti dia sedang menonton pertunjukan yang menarik.
Setelah tiga menit penuh, Lin Yao berhenti. Dadanya naik-turun, napasnya tersengal. Pedang kayunya gemetar di tangannya—bukan karena takut, tapi karena kelelahan.
"Aku... belum selesai," katanya terengah-engah.
"Ambil napas dulu," kata Xiao Chen. Suaranya masih setenang sebelumnya. Bahkan tidak ada tanda-tanda kelelahan sedikit pun.
Lin Yao menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, dia menyadari sesuatu: selama tiga menit itu, Xiao Chen tidak pernah bergerak lebih dari dua langkah dari posisi awalnya. Dia hanya berputar, menunduk, memiringkan tubuh—tapi lingkaran geraknya sangat kecil. Seperti pohon besar yang rantingnya bergoyang diterpa angin topan, tapi batangnya tetap kokoh.
"Ini tidak adil," bisiknya.
"Apa yang tidak adil?"
"Kau bahkan tidak menggunakan teknik. Kau hanya... bergerak."
"Bukankah itu cukup?"
Lin Yao mengepalkan tangannya. "Aku ingin kau serius."
"Lin Yao." Suara Xiao Chen tiba-tiba menjadi lembut. "Aku serius. Aku selalu serius. Hanya karena aku tidak bergerak seperti yang kau harapkan, bukan berarti aku tidak menghargai pertarungan ini."
Lin Yao menatapnya. Ada ketulusan di mata ungu keemasan itu—ketulusan yang membuat amarahnya mereda. Tapi juga membuat sesuatu yang lain bangkit. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Rasa penasaran.
"Kalau begitu..." Dia menegakkan tubuhnya, meletakkan pedang kayunya ke tanah. "Aku akan mencoba cara lain."
"Tanpa pedang?"
"Pedang bukan satu-satunya caraku."
Dia mendekati Xiao Chen perlahan. Tidak berlari. Tidak melesat. Hanya berjalan. Tangannya terentang longgar di samping tubuhnya. Matanya yang hijau zamrud terkunci pada mata Xiao Chen.
Para murid menahan napas.
Lin Yao sudah sangat dekat sekarang. Satu meter. Setengah meter. Tangannya terangkat, mengulur ke arah bahu Xiao Chen. Gerakannya lambat, hampir seperti dia akan menyentuh sesuatu yang sakral.
Xiao Chen tidak bergerak. Dia hanya menatapnya.
Lima sentimeter. Tiga sentimeter. Satu sentimeter—
Jari-jari Lin Yao melewati udara kosong.
Xiao Chen sudah berdiri setengah meter di belakangnya. Tidak ada gerakan. Tidak ada transisi. Dia hanya... ada di sana sekarang.
Lin Yao berdiri dengan tangan terulur, menyentuh udara kosong. "Bagaimana..."
"Aku tidak tahu," jawab Xiao Chen jujur. "Aku hanya... tidak ingin disentuh. Jadi aku tidak disentuh."
Lin Yao berbalik. Wajahnya merah, campuran antara frustrasi dan—anehnya—kagum. "Kau... kau tahu apa? Kau benar-benar menyebalkan."
"Begitukah?"
"Ya. Karena kau bahkan tidak berusaha, dan aku tetap tidak bisa menyentuhmu. Itu..." Dia menghela napas panjang. "...memalukan."
Xiao Chen tersenyum. "Kau tidak perlu malu. Kau sangat kuat untuk seusiamu. Teknikmu tajam, gerakanmu tepat. Kau hanya belum menemukan lawan yang sepadan."
"Itu terdengar seperti pujian sekaligus hinaan."
"Mungkin. Tapi aku sungguh-sungguh dengan pujiannya."
Lin Yao memungut pedang kayunya. "Kita tunda pertarungan ini. Suatu hari nanti, aku akan menyentuhmu. Itu janji."
"Aku menantikannya."
—
Tepuk tangan terdengar dari beranda.
Qin Wuya berjalan keluar dari paviliun tamu, tangannya bertepuk perlahan. Wajahnya tersenyum, tapi matanya tidak. "Pertunjukan yang sangat menarik. Benar-benar menarik."
"Tetua Qin," sapa Wei Zhen dari seberang halaman. Nada suaranya datar.
"Aku sudah mendengar tentang tamu misterius kalian, tapi aku tidak menyangka dia sehebat ini." Qin Wuya berjalan mendekati Xiao Chen, mengamatinya seperti seorang pedagang yang sedang menilai barang berharga. "Kau tidak memiliki kultivasi. Tapi kau bisa menghindari semua serangan Lin Yao—murid terbaikku—tanpa teknik. Bagaimana caranya?"
"Aku hanya bergerak," jawab Xiao Chen sederhana.
"Hanya bergerak." Qin Wuya terkekeh. "Tentu saja. Hanya bergerak." Dia melipat tangannya di belakang punggung. "Xiao Chen, kan? Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu."
"Kau tamu di sini. Tapi kau bukan anggota sekte. Bagaimana kalau kau bergabung dengan Sekte Kayu Suci saja? Kami lebih besar, lebih banyak sumber daya. Aku bisa menawarkanmu posisi murid inti langsung—tidak perlu ujian."
Wei Zhen menegang. Wei Ling membelalakkan matanya. Bahkan Lin Yao menoleh dengan ekspresi terkejut.
Xiao Chen hanya tersenyum. "Itu tawaran yang bagus, Tetua Qin. Tapi aku baru saja mulai belajar tentang dunia ini. Aku belum siap berkomitmen pada sekte mana pun."
"Belajar? Kau bisa belajar di sekteku. Bahkan lebih baik."
"Mungkin suatu hari nanti. Tapi untuk sekarang, aku nyaman di sini." Xiao Chen menatap Qin Wuya dengan mata yang tenang. "Lagipula, Sekte Awan Kelabu yang pertama kali menolongku saat aku muncul entah dari mana. Aku tidak akan meninggalkan mereka begitu saja."
Jawaban itu sopan, tapi tegas. Sebuah penolakan yang dibungkus dengan kata-kata indah.
Qin Wuya tersenyum lagi—tapi kali ini senyumnya lebih tipis, lebih dingin. "Aku mengerti. Kesetiaan adalah hal yang langka. Aku menghormatinya." Dia berbalik. "Tapi ingatlah, Xiao Chen. Dunia ini kejam. Kadang-kadang, kesetiaan pada yang lemah hanya akan menyeretmu ke bawah."
Dia berjalan kembali ke paviliun tamu, diikuti kedua murid laki-lakinya. Su Mei mengekor di belakang, tapi dia menoleh sekali ke arah Xiao Chen, ekspresinya campuran antara kagum dan khawatir.
Lin Yao masih berdiri di tempatnya. Setelah Qin Wuya menghilang, dia berkata pelan, "Dia tidak akan menyerah begitu saja."
"Aku tahu," jawab Xiao Chen.
"Kau harus hati-hati. Dia bisa menjadi... sangat persuasif."
"Aku akan mengingatnya. Terima kasih, Lin Yao."
Lin Yao menatapnya beberapa detik lagi, lalu berbalik dan berjalan menuju paviliun tamu. Tapi sebelum dia pergi, dia berhenti sejenak dan berkata tanpa menoleh, "Aku masih akan menyentuhmu suatu hari nanti."
"Aku tahu."
—
Sore harinya, Xiao Chen berada di ruang kerja Wei Zhen.
Tetua itu duduk di belakang mejanya, wajahnya muram. Di atas meja, terbentang surat resmi dengan stempel Sekte Pedang Langit—pedang dan awan yang bersilangan.
"Aku sudah memutuskan," kata Wei Zhen. "Kita akan menolak tawaran aliansi."
Xiao Chen mengangguk. "Keputusan yang bijak."
"Tapi itu berarti Qin Wuya akan marah. Mungkin dia akan mencoba sesuatu." Wei Zhen mengusap pelipisnya. "Aku hanya tidak tahu... apa."
"Apapun itu, kita hadapi bersama." Xiao Chen duduk di bantal tamu, gerakannya santai. "Tapi aku punya usul."
"Apa?"
"Kau sebutkan bahwa Sekte Pedang Langit membuka turnamen untuk sekte kecil. Jika Sekte Awan Kelabu bisa berpartisipasi—dan menang—itu akan meningkatkan reputasi kalian. Mungkin cukup untuk membuat Qin Wuya berpikir dua kali sebelum menyerang."
"Berpartisipasi butuh seratus Batu Spiritual Menengah," kata Wei Zhen muram. "Kita tidak punya sebanyak itu."
"Kalau begitu, aku akan mencari cara."
"Kau? Bagaimana?"
Xiao Chen tersenyum. "Aku sudah membaca tentang Batu Spiritual. Tentang bagaimana mereka mengandung energi spiritual murni, dan bagaimana mereka digunakan sebagai mata uang di seluruh Alam Fana." Dia mengangkat tangannya, dan di telapaknya, sebuah batu kecil mulai terbentuk—berkilau dengan cahaya yang jauh lebih terang dari Batu Spiritual biasa. "Bagaimana menurutmu? Apakah ini cukup?"
Wei Zhen menatap batu itu dengan mata terbelalak. Energi yang terpancar darinya sangat murni, sangat padat, sehingga bahkan dari jarak beberapa meter dia bisa merasakannya menembus pori-porinya.
"Itu... itu setidaknya Batu Spiritual Tingkat Tinggi," bisiknya. "Di mana kau mendapatkannya?"
"Aku membuatnya."
"Kau—apa?"
"Aku hanya membayangkan Batu Spiritual seperti yang kau jelaskan, tapi... lebih murni. Dan ini yang muncul." Xiao Chen meletakkan batu itu di atas meja. Kilauannya memenuhi ruangan dengan cahaya lembut. "Apakah ini bisa membantu?"
Wei Zhen menatap batu itu, lalu menatap Xiao Chen, lalu menatap batu itu lagi. Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali.
"Aku butuh teh," katanya akhirnya. "Teh yang sangat, sangat kental."
—
Bersambung ke Episode 3...