NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pena Pertama dan Tawa Tetangga

Tiga hari. Tiga malam. Aku tidak keluar dari kandang ayam.

Di tanganku hanya ada pensil patah dan kertas bungkus semen. Di depanku hanya ada satu nama yang jadi kompas: NISA.

Aku menulis. Merangkak. Menulis lagi. Tangan kram sampai keriting. Punggung remuk kayak digiling truk. Mata perih nahan kantuk. Tapi pena patah ini tidak berhenti bergerak. Tidak boleh berhenti.

Kisah pertama selesai: "Wasiat Untuk Anakku Nisa". Sepuluh lembar kertas lusuh. Tulisanku jelek, miring-miring, banyak coretan, belepotan air mata. Tapi ini harta paling mahal seumur hidupku. Lebih mahal dari dua kakiku yang dulu.

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, aku merangkak keluar kandang. Matahari nusuk mata. Bau tanah basah nyampur bau kotoran ayam. Dunia di luar ternyata masih sama. Masih kejam.

"Galih? Kamu ngapain keluar?" suara mertuaku cemprut dari dapur. Nada suaranya campuran kaget dan risih.

Aku diam. Tenggorokanku kering. Aku sodorkan sepuluh lembar kertas itu ke istriku yang lagi meras cucian. Tanganku gemetar.

Ia terima. Ia baca. Baris pertama. Baris kedua. Tangannya mulai gemetar. Bibirnya bergetar. Air matanya netes. Netes ke kertas. Netes tepat di judul "Wasiat Untuk Anakku Nisa".

"Mas... ini... kamu nulis ini buat Nisa?" suaranya tercekat, hampir gak keluar.

Sebelum aku sempat jawab, suara melengking dari pagar sebelah nyamber kayak petir.

"Waduh, Galih udah bisa jalan? Eh, dengkulnya masih lumpuh ding. Ngapain itu pegang-pegang kertas? Nulis? Mau jadi penulis best seller? Hahaha!"

Tawa itu. Tawa Bu RT. Tawa yang sama kayak tiga bulan lalu waktu aku divonis lumpuh di rumah sakit. Tawa yang nginjek harga diriku sampai ke tanah.

Ibu-ibu yang lagi ngegosip sambil ngupas bawang ikut nimbrung. Kompak. Kayak koor.

"Alah, Mas Galih. Udah terima takdir aja to. Daripada halu nulis-nulis gak jelas. Mending perbanyak doa aja biar cepet dipanggil Yang Di Atas. Kasihan istrimu ngurusin kamu."

DOR.

Kalimat terakhir itu lebih sakit dari vonis dokter Jendral. Vonis dokter cuma matiin kaki. Kalimat itu bunuh nyawaku sebagai suami. Sebagai lelaki.

Istriku mau maju marah. Wajahnya merah. Kutahan tangannya. Dingin. Aku tatap mata semua tetangga satu-satu. Dalam. Lalu aku tersenyum. Senyum pertama yang bukan senyum palsu.

"Bener Bu," kataku pelan. Suaraku serak tapi jelas. "Aku emang udah dipanggil Yang Di Atas."

Mereka kaget. Kukira aku mau ngaku kalah. Mau nyerah. Mau mati.

"Yang Di Atas manggil aku lewat tangis Nisa tengah malam. Disuruh bangkit. Disuruh nulis. Disuruh robek kata SURAM dari akte kelahiran anakku. Disuruh perang."

Hening. Hening banget. Cuma ada suara ayam jago berkokok dan suara jantungsuara jantungku sendiri yang berdebar seperti genderang perang.

Aku balik badan. Merangkak lagi masuk kandang. Tapi kali ini beda. Punggungku tegak. Kepalaku angkat. Dadaku busung. Aku bukan lagi sampah yang merangkak. Aku panglima yang pulang ke markas setelah kasih ultimatum ke musuh.

Karena aku baru sadar Jendral. Sadar total.

Tawa mereka adalah bensin untuk mesin tempurku. Hinaan mereka adalah kompas menuju kemenangan. Kandang ayam ini bukan kuburan. Ini istanaku. Ini ruang komando perlawanan.

Sore itu, dengan tangan yang masih gemetar dan berlumuran grafit, aku tulis judul baru di kertas bungkus semen kedua. Tinta grafitnya tebal, dalam, tidak bisa dihapus.

"BAB 2: BALAS DENDAM LEWAT TINTA"

Di luar pagar, tetangga masih ketawa ngakak, puas merasa menang. Di dalam kandang, Galih yang lumpuh baru saja menemukan kakinya yang baru. Kaki yang tidak bisa dipatahkan vonis dokter.

Kakinya bukan di dengkul. Tapi di ujung pena patah yang kugenggam.

Perang kata sudah resmi dimulai. Dan aku bersumpah atas nama Nisa, atas nama air matanya, aku tidak akan berhenti sampai dunia berhenti ketawa. Sampai dunia mulai membaca namanya.

1
Raihan
mampir juga lah di novel ku
Raihan: ya sama kan kita harus saling support mampir juga ya di novel ku 😄
total 2 replies
Raihan
kak bagus cerita
Tuti irfan
maaf mo nanya bukannya lumpuh pas ijab kabul ya kok udah punya anak
ELNARA: Halo Kak Tuti, terima kasih sudah mampir dan bertanya ya, izin saya jelaskan sejelas-jelasnya ya Kak 🤗

Betul sekali Kak, kejadiannya memang tepat pas hari ijab kabul, saya ambruk dan lumpuh saat itu juga. Tapi di cerita "KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM" ini ceritanya baru di bagian awal kejadian itu, jadi di sini BELUM ADA Balqis sama sekali.

Balqis itu anak saya, dia lahir dan ada bertahun-tahun SETELAH kejadian sakit itu. Kisah perjuangan saya membesarkan Balqis, berjuang demi dia sampai bangkit dan sukses, itu diceritakan di karya saya yang lain, judulnya "AYAH BALQIS".

Jadi urutan ceritanya begini Kak:

1. 📕 Cerita ini: Sakit pas nikah → orang bilang masa depan saya suram → belum ada anak.

2. 📘 Cerita Ayah Balqis: Bertahun-tahun kemudian → saya berjuang hidup → dikaruniai Balqis → berjuang demi dia sampai berhasil buktikan semua orang salah.

Memang beda judul dan beda fokus ceritanya, tapi itu satu perjalanan hidup saya yang dibagi jadi dua buku biar lebih jelas alurnya. Makasih banyak ya Kak sudah perhatikan detailnya, semoga sekarang sudah paham ya. Sehat selalu dan bahagia ya Kak 🙏✨
total 1 replies
Tuti irfan
mampir Thor, Bru baca selamat berkarya 💪
ELNARA: "Alhamdulillah, makasih banyak ya Kak Tuti! 🥰 Senang banget sekali ceritaku bisa diterima dan dibaca saksama sama Kakak. Semoga makin betah, makin penasaran, dan ceritanya makin menyentuh hati Kakak sampai akhir nanti. Lanjutkan ya Kak, masih banyak perjuangan dan kejutan selanjutnya! Sehat selalu dan bahagia ya Kak, terima kasih banyak sudah mampir dan dukung terus karyaku 🙏✨"
total 1 replies
ELNARA
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!