Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.
Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pena Pertama dan Tawa Tetangga
Tiga hari. Tiga malam. Aku tidak keluar dari kandang ayam.
Di tanganku hanya ada pensil patah dan kertas bungkus semen. Di depanku hanya ada satu nama yang jadi kompas: NISA.
Aku menulis. Merangkak. Menulis lagi. Tangan kram sampai keriting. Punggung remuk kayak digiling truk. Mata perih nahan kantuk. Tapi pena patah ini tidak berhenti bergerak. Tidak boleh berhenti.
Kisah pertama selesai: "Wasiat Untuk Anakku Nisa". Sepuluh lembar kertas lusuh. Tulisanku jelek, miring-miring, banyak coretan, belepotan air mata. Tapi ini harta paling mahal seumur hidupku. Lebih mahal dari dua kakiku yang dulu.
Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, aku merangkak keluar kandang. Matahari nusuk mata. Bau tanah basah nyampur bau kotoran ayam. Dunia di luar ternyata masih sama. Masih kejam.
"Galih? Kamu ngapain keluar?" suara mertuaku cemprut dari dapur. Nada suaranya campuran kaget dan risih.
Aku diam. Tenggorokanku kering. Aku sodorkan sepuluh lembar kertas itu ke istriku yang lagi meras cucian. Tanganku gemetar.
Ia terima. Ia baca. Baris pertama. Baris kedua. Tangannya mulai gemetar. Bibirnya bergetar. Air matanya netes. Netes ke kertas. Netes tepat di judul "Wasiat Untuk Anakku Nisa".
"Mas... ini... kamu nulis ini buat Nisa?" suaranya tercekat, hampir gak keluar.
Sebelum aku sempat jawab, suara melengking dari pagar sebelah nyamber kayak petir.
"Waduh, Galih udah bisa jalan? Eh, dengkulnya masih lumpuh ding. Ngapain itu pegang-pegang kertas? Nulis? Mau jadi penulis best seller? Hahaha!"
Tawa itu. Tawa Bu RT. Tawa yang sama kayak tiga bulan lalu waktu aku divonis lumpuh di rumah sakit. Tawa yang nginjek harga diriku sampai ke tanah.
Ibu-ibu yang lagi ngegosip sambil ngupas bawang ikut nimbrung. Kompak. Kayak koor.
"Alah, Mas Galih. Udah terima takdir aja to. Daripada halu nulis-nulis gak jelas. Mending perbanyak doa aja biar cepet dipanggil Yang Di Atas. Kasihan istrimu ngurusin kamu."
DOR.
Kalimat terakhir itu lebih sakit dari vonis dokter Jendral. Vonis dokter cuma matiin kaki. Kalimat itu bunuh nyawaku sebagai suami. Sebagai lelaki.
Istriku mau maju marah. Wajahnya merah. Kutahan tangannya. Dingin. Aku tatap mata semua tetangga satu-satu. Dalam. Lalu aku tersenyum. Senyum pertama yang bukan senyum palsu.
"Bener Bu," kataku pelan. Suaraku serak tapi jelas. "Aku emang udah dipanggil Yang Di Atas."
Mereka kaget. Kukira aku mau ngaku kalah. Mau nyerah. Mau mati.
"Yang Di Atas manggil aku lewat tangis Nisa tengah malam. Disuruh bangkit. Disuruh nulis. Disuruh robek kata SURAM dari akte kelahiran anakku. Disuruh perang."
Hening. Hening banget. Cuma ada suara ayam jago berkokok dan suara jantungsuara jantungku sendiri yang berdebar seperti genderang perang.
Aku balik badan. Merangkak lagi masuk kandang. Tapi kali ini beda. Punggungku tegak. Kepalaku angkat. Dadaku busung. Aku bukan lagi sampah yang merangkak. Aku panglima yang pulang ke markas setelah kasih ultimatum ke musuh.
Karena aku baru sadar Jendral. Sadar total.
Tawa mereka adalah bensin untuk mesin tempurku. Hinaan mereka adalah kompas menuju kemenangan. Kandang ayam ini bukan kuburan. Ini istanaku. Ini ruang komando perlawanan.
Sore itu, dengan tangan yang masih gemetar dan berlumuran grafit, aku tulis judul baru di kertas bungkus semen kedua. Tinta grafitnya tebal, dalam, tidak bisa dihapus.
"BAB 2: BALAS DENDAM LEWAT TINTA"
Di luar pagar, tetangga masih ketawa ngakak, puas merasa menang. Di dalam kandang, Galih yang lumpuh baru saja menemukan kakinya yang baru. Kaki yang tidak bisa dipatahkan vonis dokter.
Kakinya bukan di dengkul. Tapi di ujung pena patah yang kugenggam.
Perang kata sudah resmi dimulai. Dan aku bersumpah atas nama Nisa, atas nama air matanya, aku tidak akan berhenti sampai dunia berhenti ketawa. Sampai dunia mulai membaca namanya.
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨