Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara dua cangkir
Kirana tidak langsung berjalan. Kakinya tetap di tempat, seperti menolak perintah sederhana dari otaknya sendiri. Jalan di depannya terlihat biasa lampu kuning yang menggantung malas, genangan tipis yang memantulkan bayangan kota, dan suara kendaraan yang lewat sesekali seperti napas panjang yang ditahan. Tapi ada sesuatu yang tidak pas. Bukan di luar. Di dalam.
Ia menoleh lagi ke kaca halte. Kosong. Hanya dirinya. Normal. Terlalu normal. Tangannya bergerak pelan ke arah pergelangan tangan, menyentuh titik yang tadi terasa hangat. Denyutnya masih ada. Dalam. Teratur. Tapi bukan miliknya bukan ritme yang biasa ia kenal saat gugup atau lelah. Ini seperti mengikuti sesuatu yang lain. Sesuatu yang sabar.
"Jangan minum," bisiknya lagi, lebih pelan kali ini, seolah takut ada yang mendengar. Kata-kata itu tidak terasa seperti miliknya. Mulutnya bergerak, suara keluar, tapi sumbernya ia tidak yakin. Seperti ada yang meminjam pita suaranya sementara.
Kirana akhirnya melangkah. Satu. Dua. Tiga. Ia sengaja memperlambat langkahnya, memperhatikan sekitar dengan lebih tajam dari sebelumnya. Setiap suara, setiap bayangan, setiap detail kecil yang sebelumnya tak pernah berarti kini terasa seperti petunjuk. Lampu di tiang sebelah kiri berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu stabil. Kirana berhenti. Ia yakin tadi lampu itu tidak berkedip. Atau ia tidak ingat? Masalahnya, akhir-akhir ini ia tidak bisa membedakan antara lupa dan tidak pernah terjadi.
Angin malam berembus, membawa sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Aroma dupa. Manis. Pahit. Tipis tapi jelas. Tubuhnya langsung menegang. Ia menoleh cepat ke kanan tidak ada apa-apa. Ke kiri jalan kosong. Tapi bau itu tetap ada. Bukan dari luar. Lebih dekat. Lebih dalam. Seolah berasal dari ingatan yang mulai bocor ke kenyataan.
Langkahnya mundur setengah. Dan saat itu di ujung jalan, tepat di bawah lampu yang redup, seseorang berdiri. Diam. Tidak bergerak. Jaraknya cukup jauh, tapi cukup jelas untuk dikenali. Kemeja putih. Rambut hitam rapi. Siluet yang terlalu familiar. Napas Kirana tersangkut di tenggorokan.
"Li... Wei?" Tidak ada jawaban.
Sosok itu tidak bergerak. Tidak melambai. Tidak mendekat. Hanya berdiri, seperti bagian dari latar yang lupa menghilang. Kirana melangkah maju tanpa sadar. Satu langkah. Lalu satu lagi. Jarak mereka sedikit berkurang. Dan saat cahaya lampu menyentuh wajah itu—bukan Li Wei. Atau bukan sepenuhnya. Wajahnya sama. Bentuk rahang, hidung, bibir. Tapi kosong. Matanya tidak fokus. Seperti melihat sesuatu yang jauh di belakang Kirana, sesuatu yang tidak bisa ia lihat.
Dan yang paling mengganggu—ia tidak melihat Kirana. Sama sekali. Kirana berdiri di depannya, jarak tinggal tiga meter, tapi matanya menembus Kirana. Melewati bahu kirinya, menuju ke tempat yang tidak pernah dikunjungi siapa pun.
Kirana berhenti. Dadanya terasa berat, seperti ada sesuatu yang perlahan ditekan dari dalam. "Lo... lihat gue, kan?" suaranya hampir tidak terdengar. Tidak ada reaksi. Sosok itu hanya berdiri. Hidup. Nyata. Tapi tidak untuknya.
Langkah kaki lain terdengar. Dari arah berlawanan. Kirana menoleh. Seorang perempuan berjalan mendekati sosok itu. Santai. Biasa. Sepasang sepatu pantofel krem. Rok panjang yang sedikit menyapu aspal. Tidak ada yang aneh. Tidak sepintas pun ia menatap Kirana. Seolah tidak ada yang aneh di dunia ini. Ia berhenti di depan orang yang mirip "Li Wei". Tersenyum. Dan tanpa ragu menggenggam tangannya.
Kirana membeku. Sosok itu membalas genggaman itu. Lembut. Alami. Seolah itu memang tempatnya. Seolah ia tidak pernah hilang. Seolah Kirana yang tidak pernah ada. Perempuan itu mengatakan sesuatu terlalu pelan untuk didengar. Sosok itu tertawa kecil. Tawa yang Kirana kenal. Tawa yang ia dengar dalam mimpinya . Tawa yang sekarang ia dengar jelas dan nyata.
Keduanya lalu berjalan pergi. Bersama. Melewati Kirana. Dekat. Sangat dekat. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh. Tidak ada bahu yang menyenggol. Tidak ada tatapan sekilas. Tidak ada apa-apa. Seolah Kirana hanyalah bayangan yang gagal menempel pada dunia ini.
Saat mereka menjauh, aroma dupa itu semakin kuat. Membengkak. Dan tiba-tiba jalan di bawah kaki Kirana terasa berubah. Aspal yang dingin menjadi hangat. Lampu jalan berubah warna. Kuning menjadi merah. Pelan. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih keras. Ia menunduk. Di samping kakinya dua lingkaran kecil. Bekas cangkir. Sama seperti di meja tadi. Tapi ini di jalan. Basah. Masih hangat. Seolah baru saja diletakkan di sana.
Kirana mundur cepat. "Ini nggak mungkin..." suaranya pecah, tipis. Tapi dunia tidak berhenti. Lampu-lampu di sepanjang jalan mulai berubah satu per satu. Kuning. Merah. Kuning. Merah. Seperti napas yang tidak stabil. Dupa itu sekarang terlalu kuat. Menusuk. Membuat kepalanya terasa ringan.
Dan di tengah semua itu sebuah meja muncul. Bukan benar-benar muncul, lebih seperti selalu ada di sana, tapi baru sekarang ia bisa melihatnya. Meja kayu. Tua. Di atasnya dua cangkir porselen putih. Uap tipis naik dari permukaannya. Kirana tidak ingat berjalan ke sana. Tapi sekarang ia berdiri tepat di depannya. Tangannya terasa ringan. Terlalu ringan. Seperti sudah pernah melakukan ini berkali-kali. Jarinya mulai terangkat. Pelan. Menuju salah satu cangkir.
Hangatnya sudah terasa bahkan sebelum ia menyentuh. Dan di detik itu—pantulan di permukaan cairan bergerak. Bukan wajahnya. Wajah yang sama dari halte. Versi dirinya. Kali ini tidak tenang. Matanya tajam. Tegang.
"Jangan." Suaranya muncul dari mana-mana. Dari dalam kepala. Dari udara. Dari denyut di pergelangan tangannya. Tangan Kirana berhenti beberapa sentimeter dari cangkir. Napasnya tidak stabil.
"Kalau kamu minum kamu nggak cuma ingat. Kamu tinggal."
Sunyi. Semua suara kota hilang. Tidak ada mobil. Tidak ada angin. Tidak ada dunia. Hanya Kirana. Dan dua pilihan yang terasa seperti satu-satunya hal yang pernah benar-benar nyata. Tangannya bergetar. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Lalu ia menarik tangannya. Cepat. Seolah baru saja menyentuh sesuatu yang membakar.
Uap dari cangkir itu berubah arah. Berputar seperti tornado kecil. Lampu merah di sekitarnya berkedip liar. Bersamaan. Satu ritme. Dupa berubah menjadi asap tebal. Dan meja itu retak. Garis tipis muncul di permukaannya, lalu menyebar seperti luka. Dunia bergetar. Bukan runtuh. Tapi terganggu.
Pantulan di dalam cangkir menatapnya lebih lama. Lalu tersenyum. Bukan senyum tipis seperti sebelumnya. Ini lebih dalam. Lebih puas. "Kamu akhirnya beda." Bisikan itu pelan. Tapi cukup untuk membuat kulit Kirana merinding.
Dalam sekejap semuanya hilang. Lampu kembali kuning. Jalan kembali basah. Udara kembali dingin. Tidak ada meja. Tidak ada cangkir. Tidak ada Li Wei. Kirana berdiri sendirian di trotoar. Napasnya berat. Tangannya masih gemetar. Tapi kali ini denyut di pergelangan tangannya berubah. Lebih cepat. Lebih hidup. Tidak lagi sabar. Seperti sesuatu di dalam dirinya baru saja bangun tidur.
Ia menatap tangannya lama. Lalu perlahan mengepalkannya. Untuk pertama kalinya ia tidak merasa sedang mengulang. Ia merasa baru saja menyimpang. Sedikit. Sangat kecil. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam sistem itu sadar. Kirana menatap ke ujung jalan, tempat sosok itu berdiri tadi. Kosong. Hanya lampu redup dan bayangan pohon. Tapi ia tahu. Seseorang atau sesuatu telah memperhatikan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kirana tidak ingin tahu apa yang akan terjadi besok. Ia hanya ingin tahu: Siapa yang selama ini menggerakkan tangannya? Dan mengapa, baru malam ini, ia merasa bisa menggerakkannya sendiri?