NovelToon NovelToon
Runtuhnya Tahta Langit

Runtuhnya Tahta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Langkah di Gerbang Langit

Gerbang Sekte Langit Pedang menjulang setinggi lima tubuh manusia. Dua pilar batu putih diukir dengan gambar pedang yang saling bersilangan, dan di atasnya terbentang papan kayu bertuliskan aksara emas: "Langit Pedang—Jalan Menuju Dao."

Xiao Chen berdiri di hadapan gerbang itu saat matahari pagi baru saja muncul dari balik puncak gunung. Sinar keemasannya menyinari jubah hitamnya, menciptakan kontras yang mencolok—kegelapan yang berdiri di ambang cahaya.

Hui duduk di sampingnya, bulu hitamnya berkilau diterpa sinar matahari. Serigala itu tidak menggeram. Ia hanya menatap gerbang dengan mata merah yang tenang, seolah memahami bahwa ini adalah momen penting.

"Gerbang ini," suara Yue Que di benaknya, "dibangun di atas fondasi yang salah. Mereka menulis 'Jalan Menuju Dao', tapi mereka tidak pernah benar-benar mencari Dao. Mereka hanya mencari kekuasaan."

Xiao Chen tidak menjawab. Ia sibuk mengingat.

Dulu, setiap kali ia melewati gerbang ini, ia berjalan dengan kepala tertunduk. Sebagai pelayan, ia bahkan tidak berhak menggunakan jalan utama—ia harus lewat pintu samping dekat dapur. Gerbang ini hanya untuk murid, tetua, dan tamu kehormatan.

Hari ini, ia akan masuk lewat gerbang utama. Bukan sebagai pelayan. Bukan sebagai murid. Tapi sebagai sesuatu yang belum pernah dilihat sekte ini.

Ia melangkah maju.

---

Dua penjaga gerbang—murid luar berseragam biru—sedang mengobrol santai saat melihat sosok berjubah hitam mendekat. Awalnya mereka mengira itu adalah tamu dari sekte lain, mungkin seorang kultivator pengembara. Tapi saat sosok itu semakin dekat, mereka melihat sesuatu yang membuat darah mereka berdesir.

Pedang patah di balik jubahnya. Serigala hitam di sampingnya. Dan simbol retak keemasan yang samar-samar terlihat di dadanya.

"Ber-berhenti!" Penjaga pertama, seorang pemuda dengan kumis tipis, mengacungkan pedangnya. "Siapa kau?! Sebutkan nama dan tujuanmu!"

Xiao Chen berhenti. Ia menatap penjaga itu. Wajahnya familiar—ia pernah menyapu lantai di paviliun tempat penjaga ini tinggal. Tapi penjaga itu tidak mengenalinya. Tentu saja tidak. Siapa yang ingat wajah pelayan?

"Aku ingin bertemu Tetua Agung Shen Wuji," katanya, suaranya tenang. "Dan Zhao Ling'er. Dan Wei Tianxing. Dan semua orang di sekte ini yang ingin melihatku."

Penjaga kedua—lebih tua, dengan bekas luka di pipi—menyipitkan mata. "Kau... kau Xiao Chen, bukan? Pelayan yang dibuang ke Jurang Naga Pemakaman?"

Nama itu menggema di udara pagi. Penjaga pertama tersentak, mundur selangkah. "Xiao Chen?! Tapi kau... kau seharusnya sudah mati!"

"Aku memang mati," jawab Xiao Chen. "Dan aku bangkit kembali. Sekarang, tolong beri tahu Tetua Agung bahwa aku sudah tiba. Aku tidak ingin masuk dengan paksa. Tapi kalau aku harus... aku akan melakukannya."

Penjaga pertama menelan ludah. Ia menatap rekannya, mencari petunjuk. Penjaga kedua—yang lebih tua dan lebih berpengalaman—mengangguk pelan.

"Aku akan menyampaikan pesanmu." Ia berbalik dan berlari masuk ke dalam kompleks sekte.

Penjaga pertama tetap berdiri di tempatnya, pedang masih teracung tapi tangannya gemetar. Xiao Chen tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menunggu. Hui duduk dengan sabar di sampingnya. Yue Que tersembunyi di balik jubahnya, tapi Xiao Chen bisa merasakan pedang itu bergetar pelan—antisipasi.

---

Di dalam sekte, berita itu menyebar lebih cepat dari api.

"Xiao Chen ada di gerbang!"

"Dia datang! Sendirian!"

"Dia membawa serigala hitam dan pedang patah!"

Murid-murid berhamburan keluar dari paviliun masing-masing. Beberapa berlari menuju gerbang untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Yang lain justru menjauh, takut. Para pelayan berhenti bekerja, berbisik-bisik di sudut-sudut dapur dan gudang.

Lin Er, yang sedang memikul air dari sumur, mendengar nama itu. Ember di tangannya jatuh, air tumpah ke tanah. "Kakak Xiao Chen... dia kembali?"

Ia berlari secepat mungkin menuju gerbang, menerobos kerumunan murid yang sudah berkumpul. Saat ia tiba, napasnya tersengal, dan ia melihatnya.

Xiao Chen.

Bukan Xiao Chen yang dulu—kurus, lusuh, bahu membungkuk. Tapi Xiao Chen yang baru. Jubah hitam. Punggung tegak. Mata yang menatap lurus ke depan tanpa rasa takut. Dan di sampingnya, seekor serigala hitam yang tampak seperti penjaga dari dunia lain.

"Kakak Xiao Chen..." bisik Lin Er, air mata menggenang di matanya.

Xiao Chen mendengar suara itu. Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di gerbang, ekspresinya melunak. Ia mengenali anak itu.

"Lin Er," katanya, cukup keras untuk didengar anak itu di tengah kerumunan. "Terima kasih untuk nasi dan dupanya."

Lin Er terisak. Ia ingin berlari memeluk Xiao Chen, tapi seseorang menahannya. Seorang murid inti—bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang tidak ingin anak pelayan mendekati "ancaman".

Xiao Chen melihat itu. Matanya kembali mengeras.

---

Tidak lama kemudian, kerumunan di gerbang terbelah. Sebuah sosok berjalan keluar dari dalam sekte, dikawal oleh beberapa murid inti.

Wei Tianxing.

Jubah emasnya berkilau di bawah sinar matahari. Pedang roh kelas menengah terselip di pinggangnya. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tampan dan penuh percaya diri. Tapi ada sesuatu di matanya—sedikit keraguan yang coba ia sembunyikan di balik senyum sinis.

"Jadi kau benar-benar masih hidup," katanya, berhenti sekitar sepuluh langkah dari Xiao Chen. "Aku tidak percaya saat mendengar laporannya. Tapi ini... ini sungguh menghibur. Setidaknya aku bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri kali ini."

Xiao Chen menatapnya. Wei Tianxing. Pria yang mendorongnya ke jurang. Pria yang sekarang bertunangan dengan Zhao Ling'er.

"Aku tidak datang untuk membunuhmu, Wei Tianxing," kata Xiao Chen. "Aku datang untuk menunjukkan sesuatu. Kalau kau ingin bertarung, aku tidak akan menolak. Tapi kau harus tahu: aku bukan lagi pelayan yang kau dorong ke jurang."

Wei Tianxing tertawa. Tawa yang dipaksakan, terlalu keras. "Kau pikir jubah hitam dan serigala peliharaan membuatmu kuat? Kau masih sampah yang sama, Xiao Chen. Akar spiritualmu tetap retak. Kau tidak akan pernah menjadi kultivator sejati."

"Akar spiritualku memang retak," jawab Xiao Chen. "Tapi justru karena retak itulah aku menjadi lebih kuat dari yang bisa kau bayangkan."

Ia melangkah maju. Satu langkah. Hanya satu langkah. Tapi kerumunan mundur serempak. Wei Tianxing tidak mundur, tapi bahunya menegang.

"Aku akan memberimu satu kesempatan, Wei Tianxing. Minggirlah. Biarkan aku masuk dan berbicara dengan Tetua Agung. Setelah itu, kalau kau masih ingin bertarung, aku akan melayanimu."

"Kau pikir aku butuh kesempatan dari sampah sepertimu?!" Wei Tianxing mencabut pedangnya. Bilahnya berkilau biru—pedang roh yang diperkuat dengan formasi. "Aku akan membunuhmu di sini, di depan semua orang, agar semua orang tahu bahwa Wei Tianxing tidak takut pada hantu yang bangkit dari kubur!"

Ia menyerang.

Langkahnya cepat—lebih cepat dari Zhou Yuan, lebih cepat dari Fang Rui. Fondasi Pendirian tingkat menengah, hampir menyentuh tingkat atas. Pedangnya menusuk lurus ke arah jantung Xiao Chen, disertai hembusan Qi biru yang tajam.

Xiao Chen tidak bergerak.

"Sekarang," kata Yue Que.

Tulang punggungnya mengirimkan informasi: sudut serangan, kecepatan, jarak. Tulang dadanya bernapas, mengirimkan Energi Chaos ke tangan kanannya. Xiao Chen meraih ke belakang, mencabut Yue Que dari balik jubahnya.

Bukan untuk menangkis. Bukan untuk memotong.

Hanya untuk mengetuk.

TING!

Ujung Yue Que yang patah menyentuh sisi pedang Wei Tianxing tepat di titik keseimbangan. Energi Chaos yang terkumpul di bilah patah itu meledak kecil—bukan ledakan yang menghancurkan, tapi cukup untuk mengubah arah pedang.

Pedang Wei Tianxing meleset. Bukan hanya meleset—tangan pemuda itu terpental ke samping, lengannya bergetar hebat, dan pedangnya terlepas dari genggaman. Bilah biru itu berputar di udara sebelum menancap di tanah, beberapa langkah di belakang Xiao Chen.

Wei Tianxing terbelalak. "Apa—"

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Xiao Chen sudah berada tepat di hadapannya, Yue Que terangkat setinggi bahu. Bukan untuk menyerang—hanya untuk menunjukkan bahwa ia bisa, kapan saja ia mau.

Wei Tianxing terjatuh terduduk. Wajahnya pucat. Tangannya yang kosong gemetar.

"Siapa... siapa kau?!" Suaranya pecah.

Xiao Chen menatapnya dari atas. "Aku sudah bilang. Aku bukan lagi pelayan yang kau dorong ke jurang. Sekarang, minggirlah. Aku punya urusan dengan Tetua Agung."

Kerumunan membisu. Tidak ada yang berani bersuara. Wei Tianxing, murid inti kebanggaan sekte, calon suami Zhao Ling'er, baru saja dilucuti pedangnya dalam satu gerakan. Bukan dengan kekuatan brutal. Tapi dengan sesuatu yang bahkan tidak bisa mereka pahami.

Xiao Chen melangkahi Wei Tianxing, berjalan masuk ke dalam kompleks sekte. Hui mengikutinya, melewati pemuda yang terduduk di tanah dengan tatapan kosong.

Di kejauhan, dari arah Aula Utama, Tetua Agung Shen Wuji berdiri di balkon. Ia menyaksikan semuanya. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi tangannya yang mencengkeram pagar batu berubah putih.

"Jadi kau benar-benar datang," bisiknya. "Pewaris Ras Dewa Patah."

Ia berbalik, masuk ke dalam aula. Pertemuan yang sesungguhnya akan segera dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!