Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dengan Hermawan
Bab 34
AKBP Hermawan datang keesokan harinya. Dia tidak sendirian. Dua orang pria berpakaian prei mengikutinya, wajah mereka tegas, mata mereka waspada. Mobil hitam yang mereka tumpangi terparkir di halaman rumah, menimbulkan debu yang mengepul ke udara. Bambang melihat dari balik jendela. Tangannya gemetar. Dia tidak pernah tahu apakah setiap orang yang datang adalah teman atau musuh.
Dewi membuka pintu. "Selamat pagi, Pak Hermawan."
"Selamat pagi, Dewi. Maaf datang tanpa kabar. Ada perkembangan penting."
Mereka masuk ke ruang tamu. Bambang dan Ucok sudah duduk di kursi kayu. Hermawan duduk di seberang mereka. Kedua pria tadi berdiri di dekat pintu, menjaga.
"Apa perkembangannya, Pak?" tanya Ucok.
"Kami sudah dapat izin untuk menggali lokasi pabrik. Tim dari Pusat Laboratorium Forensik akan datang besok. Mereka akan mencari sampel tanah, sampel air, dan apa pun yang bisa jadi bukti."
"Kolamnya sudah terbakar," kata Bambang. "Mungkin tidak ada yang tersisa."
"Kami tidak hanya mencari kolam. Kami mencari sisa-sisa makhluk. Sisa-sisa korban. Dokumen. Apa pun yang tertinggal."
Dewi mengeluarkan USB dari sakunya. "Pak Hermawan, ini salinan dokumen yang kami dapat dari sumber. Isinya laporan internal perusahaan, foto, video, dan korespondensi Pak Toni dengan pihak lain."
Hermawan menerima USB itu. Matanya membesar. "Dari mana kalian dapat ini?"
"Dari wartawan. Dia mengumpulkannya selama tiga tahun. Dia takut mempublikasikannya sendiri."
"Ini bukti yang sangat berharga. Saya akan segera bawa ke laboratorium forensik digital untuk diverifikasi."
"Pak, satu lagi," kata Bambang. "Menurut sumber kami, proyek ini tidak hanya di Kalimantan. Ada pabrik lain. Di Sumatera dan Sulawesi. Mungkin lebih."
Hermawan terdiam. Wajahnya berubah pucat. "Kamu yakin?"
"Sumber kami yakin. Dia sudah mengumpulkan bukti selama tiga tahun."
"Tuhan," bisik Hermawan. "Ini lebih besar dari yang saya kira."
"Kami hanya bisa memberikan informasi, Pak. Sisanya terserah Bapak dan polisi."
Hermawan menghela napas panjang. Dia memasukkan USB itu ke dalam saku jaketnya. "Saya akan koordinasikan dengan Bareskrim. Ini sudah bukan kewenangan Polda lagi. Ini kejahatan luar biasa. Nasional. Bahkan internasional."
"Pak Toni?" tanya Ucok.
"Kami masih mencari. Imigrasi sudah kami blokir. Namanya sudah masuk red notice Interpol. Dia tidak bisa ke mana-mana."
"Tapi dia masih bebas."
"Untuk saat ini. Tapi tidak lama lagi. Saya janji."
Hermawan berdiri. Dia berjabat tangan dengan Bambang, dengan Ucok, dengan Dewi. Jabatannya kuat. Matanya serius. "Kalian jaga diri. Jangan keluar malam hari. Jangan terima tamu yang tidak dikenal. Kalau ada yang mencurigakan, segera hubungi saya."
"Baik, Pak."
Mereka mengantarkan Hermawan ke mobil. Mesin menyala. Mobil hitam itu perlahan meninggalkan halaman, menimbulkan debu lagi. Bambang menatap kepergiannya sampai mobil itu hilang di balik pohon sawit.
"Dewi," panggil Bambang.
"Iya."
"Kamu percaya dia?"
"Aku tidak tahu. Tapi setidaknya dia mengambil USB itu. Setidaknya dia mau bergerak."
"Atau dia akan menghancurkannya. Atau memberikannya pada perusahaan."
"Kita tidak bisa berpikir seperti itu terus, Bambang. Kita harus punya kepercayaan pada seseorang."
Mereka kembali ke dalam rumah. Ucok sudah duduk di kursi kayu, merokok. Asap mengepul tipis di ruangan yang sempit.
"Ucok," panggil Dewi.
"Iya."
"Kamu kenapa diam saja?"
"Aku berpikir."
"Tentang apa?"
"Tentang Laras. Tentang pulang. Tentang apa yang akan aku lakukan kalau semua ini selesai."
"Kamu sudah punya rencana?"
"Pulang. Peluk Laras. Tidak akan pernah pergi lagi."
"Sederhana sekali."
"Tidak perlu rumit. Hidup sudah cukup rumit."
Mereka bertiga terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sore harinya, hujan turun dengan derasnya. Air mengguyur atap seng dengan suara yang memekakkan telinga. Bambang duduk di teras, menatap air yang jatuh dari langit kelabu. Pikirannya melayang ke Ibu. Ke Bapak. Ke rumah kontrakan sempit di gang. Apakah di sana juga hujan? Apakah Ibu menjahit di ruang tamu yang remang-remang? Apakah Bapak duduk di kursi bambu dekat jendela?
Ponsel di sakunya bergetar. Bambang terkejut. Dia mengeluarkan ponsel itu. Layar menampilkan nomor tidak dikenal. Jarinya gemetar. Dia mengangkat.
"Halo?"
"Bambang, ini saya, Ipda Rini."
"Iya, Bu. Ada apa?"
"Kami dapat informasi bahwa orang-orang perusahaan sedang mencari kalian. Mereka sudah tahu lokasi rumah aman kalian sebelumnya. Kalian harus pindah."
"Pindah ke mana?"
"Ke tempat yang lebih aman. Saya akan jemput satu jam lagi. Siap-siap."
Telepon ditutup. Bambang berlari ke dalam. "Dewi! Ucok! Kita harus pindah! Orang-orang perusahaan tahu kita di sini!"
Mereka bergegas membereskan barang-barang. Tidak banyak yang perlu dibawa. Pakaian seadanya. Sisa makanan. Air minum. USB asli yang masih terkubur di belakang rumah.
"USB-nya!" teriak Dewi. "Kita harus ambil!"
Mereka berlari ke belakang rumah. Hujan masih deras. Tanah becek. Bambang menggali dengan tangan kosong. Kukunya penuh tanah. Setelah beberapa menit, jarinya menyentuh plastik pembungkus USB. Dia menariknya keluar. Basah. Tapi semoga masih berfungsi.
Mereka berlari kembali ke dalam. Mobil Ipda Rini sudah datang. Mereka naik cepat. Mobil melaju meninggalkan rumah itu. Bambang menatap ke belakang. Rumah kayu itu semakin kecil. Hujan menyembunyikannya dari pandangan.
"Dewi, kita akan ke mana?" tanya Bambang.
"Entahlah. Tapi semoga ke tempat yang lebih aman."
"Semoga," bisik Bambang.
Mobil melaju di tengah hujan. Jalanan becek. Sesekali ban mobil selip, tapi sopir yang tidak dikenal itu tetap tenang. Bambang tidak tahu siapa sopir itu. Wajahnya tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Setelah perjalanan sekitar satu jam, mobil berhenti di sebuah rumah lain. Lebih kecil dari sebelumnya. Lebih terpencil. Di tengah hutan. Tidak ada tetangga. Tidak ada lampu. Hanya kegelapan dan hujan.
"Ini rumah aman kalian yang baru," kata Ipda Rini. "Jangan beri tahu siapa pun alamatnya. Bahkan keluarga kalian. Demi keselamatan kalian sendiri."
Mereka turun. Tubuh mereka basah kuyup. Ipda Rini memberikan kunci dan senter. "Masuk. Ada makanan di dalam. Saya akan kembali besok."
Mobil itu pergi. Bambang, Ucok, dan Dewi berdiri di halaman rumah baru mereka. Hujan mulai reda. Angin dingin menusuk tulang.
"Setidaknya kita masih bersama," kata Dewi.
"Setidaknya itu," kata Bambang.
Mereka masuk ke dalam rumah. Gelap. Dingin. Tapi aman. Untuk sementara.