NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Rencana kerjasama

Tiga hari setelah rapat internal SOLIX, suasana di kantor pusat LYNX Entertainment berubah lebih sibuk dari biasanya. Lorong-lorong panjang berlapis marmer abu, yang biasanya hanya dipenuhi staf lalu-lalang dengan berkas, kini diisi oleh langkah-langkah tergesa para eksekutif yang menuju satu ruangan penting: Ruang Rapat Utama, Lantai Dua Belas.

Di atas meja besar berpermukaan kaca, proposal setebal hampir dua ratus halaman  tergeletak rapi—dokumen pribadi yang disusun oleh Namjunho, lengkap dengan catatan tangan di setiap margin. Tulisan itu penuh coretan halus, garis-garis penekanan, bahkan kutipan dari karya Nala yang menjadi alasan utama di balik usulan tersebut.

Suasana ruangan terasa berat namun terkendali. Enam orang duduk di kursi kulit hitam menghadap satu sama lain. Di ujung meja, Direktur Utama LYNX, Kang Minwoo, menatap berkas itu dalam diam. Wajahnya keras, matanya tajam—seorang veteran industri yang sudah dua puluh tahun memimpin perusahaan dengan prinsip: stabilitas di atas eksperimen.

Di sampingnya, Wakil Direktur Operasional, Yoo Sejin, membuka lembar pertama proposal dengan gerakan tenang, sementara Kepala Divisi Produksi SOLIX, Han Sungwoo, yang mewakili tim manajemen SOLIX, duduk tegak di sisi kanan. Dua eksekutif lain—Direktur Kreatif Lee Ahrin dan Kepala Departemen Hukum, Oh Kyungtae —terlihat bersiap dengan laptop dan catatan mereka.

Setelah memastikan semua anggota hadir kecuali Junho yang memang datang terlambat karena harus menghadiri rapat tambahan dengan Yoohan dan hoseung akhirnya rapat pun dimulai.

“Baik, mari kita langsung ke pokok pembahasan.” Suara Direktur Kang memecah keheningan. “Proposal kerja sama kreatif antara tim SOLIX dan… seorang penulis asing, ya? Ini ide Namjunho sendiri?” ujar nya dia mengedarkan pandangannya lalu menatap manajer Han, mendengar itu manajer Han lantas mengangguk sopan.

“Ya, Tuan. Ide tersebut lahir dari pengamatannya saat menghadiri acara penghargaan International Literature & Film di Seoul tepat 4 hari lalu. Beliau merasa karya penulis tersebut memiliki kedalaman emosional yang sejalan dengan arah musikal SOLIX berikutnya. Saya dengar dari Soojin-ssi beliau juga memvalidasi jika Namjunho sudah mengamati penulis itu, bahkan beliau yang mengantarkan nya menjadi pemenang di acara tersebut,” ujar nya menjelaskan semua nya dengan detail, Direktur Kang menyandarkan tubuhnya.

“Saya sudah membaca sebagian. Dan saya harus katakan, ini… tidak lazim. Kita berbicara tentang membuka akses lingkaran internal pada seseorang dari luar negeri—yang bahkan tidak memiliki latar belakang musik. Apakah tidak ada risiko kebocoran informasi, atau bahkan perbedaan visi?” tanya nya yang membuat Oh Kyungtae, kepala departemen hukum, segera menimpali, suaranya rendah tapi tegas.

“Dari sisi hukum dan kerahasiaan, ini sangat berisiko. Kontrak semacam ini membutuhkan penjagaan ketat. Belum lagi regulasi lintas negara. Bila salah satu pihak melanggar, implikasinya serius. Ini bukan kolaborasi publik seperti biasanya,” timpal nya yang membuat suasana hening sejenak.

Sementara itu, Yoo Sejin—yang terkenal pragmatis dan berpikir dengan angka—menghela napas pelan sebelum berbicara.

“Secara bisnis, langkah ini tidak memiliki return of investment yang jelas. Kita mengundang seseorang tanpa basis penggemar, tanpa nama besar, tanpa jaminan hasil. Dengan reputasi global SOLIX, satu langkah salah bisa menjadi tajuk utama di media internasional,” kata nya sembari memainkan pena nya menimbang ucapan nya sendiri.

Ruangan kembali sunyi sejenak. Hanya suara halus jam dinding yang terdengar. Namun, Direktur Kreatif Lee Ahrin, satu-satunya wanita di ruangan itu, menutup berkas di depannya dengan gerakan pelan.

“Dengan segala hormat, saya menyela. Justru itu yang membuat ide ini menarik. Industri kita terlalu lama bermain aman. Kita butuh kejutan. SOLIX sudah mencapai titik puncak; mereka tidak lagi mencari popularitas, mereka mencari makna. Dan terkadang, makna datang dari perspektif yang sama sekali asing,” Ucap nya dengan sopan namun cukup tegas untuk menyakinkan argumen nya.

Beberapa kepala menoleh padanya, sebagian dengan tatapan ragu, direktur Kang mengetuk meja dua kali dengan jari telunjuknya.

“Jadi Anda mendukung ide ini?” tanya nya yang membuat Lee Ahrin mengangguk ringan.

“Saya mendukung uji coba. Tidak perlu sepenuhnya melepas kendali. Kita bisa undang penulis itu secara pribadi dulu, lakukan observasi. Jika potensinya nyata, kita lanjutkan. Jika tidak, proyek dihentikan tanpa publikasi,” balas nya yang membuat Yoo Sejin menggeleng kecil.

“Dan jika media mencium kabar ini? Kita tahu sehaus apa mereka mengali informasi,” ujar nya yang membuat manajer Han menyela cepat.

“Tidak akan, Junho sendiri yang menjamin kerahasiaannya. Undangan akan dikirim secara pribadi atas nama proyek internal, bukan publik. Kami akan menyiapkan NDA (Non-Disclosure Agreement) khusus. Untuk penulis itu, jadi jika semuanya benar-benar terjadi dia akan sepenuhnya terikat pada aturan hukum perusahaan. Ini bisa meminimalisir dampak bocornya rahasia apapun,” ujar nya yang membuat Oh Kyungtae menatap Han dengan alis terangkat.

“Dan Anda yakin orang itu bisa dipercaya? Begini pak, kita tidak tahu culture dan prinsip apa yang di bawa wanita asing itu ke sini, saya tidak merendahkan analisis Junho-ssi kita tahu setajam apa insting nya, tapi bukankah kita juga tidak bisa sepenuhnya percaya pada insting beliau?” ujar nya yang membuat manajer Han menatap nya sekilas.

“Dengan segala penilaian pribadi saya terhadap karakter Namjunho,” jawab Han mantap, “ia tidak akan mengusulkan seseorang yang tidak ia nilai berintegritas tuan. Kita semua tahu SOLIX bisa terbang setinggi sekarang karena beliau, saya tidak bermaksud menolak logika anda tapi saya juga tidak ingin buta terhadap penilaian junho,” ujar nya yang membuat udara di ruang rapat itu seketika menjadi panas, pendingin ruangan seolah berhenti berfungsi karena ketegangan yang mulai tercipta.

Direktur Kang diam cukup lama. Tatapannya beralih dari satu wajah ke wajah lain. Lalu, ia membuka proposal dan membaca satu halaman yang sudah ditandai dengan stabilo merah.

Di sana tertulis sebuah kalimat kecil dari Junho:

“Kadang, resonansi tidak datang dari kesamaan bahasa, tapi dari luka yang berbicara dengan cara yang sama.”

Direktur Kang menatap tulisan itu lama, lalu menutup berkas dengan lembut.

“Jadi, intinya, sebagian dari kalian menilai ide ini berpotensi segar untuk arah kreatif, sebagian lain menganggapnya terlalu berisiko,” katanya datar. “Kita tidak akan mengambil keputusan gegabah. Tapi—” ia berhenti sejenak, menatap Han, “—karena rekomendasi datang langsung dari leader SOLIX, kita tidak bisa menolaknya mentah-mentah,” lanjut nya yang membuat suasana semakin menegang, hingga akhirnya Lee Ahrin berkata dengan nada menengahi.

“Bagaimana jika kita bentuk tim kecil khusus untuk mengkaji proyek ini? Tidak lebih dari tiga orang. Mereka akan menyiapkan segala hal untuk pertemuan awal dengan penulis tersebut. Pertemuan dilakukan secara privat dan informal, di luar perhatian publik?” tanya nya yang membuat direktur Kang menimbang beberapa detik, lalu mengangguk.

“Baik. Kita lakukan itu. Tapi pastikan semua dilakukan dalam batas protokol tertinggi. Jika ada kebocoran sedikit pun—proyek ini tidak pernah ada,” ujar nya yang membuat Han Sungwoo menunduk hormat.

“Dipahami, Tuan.”

“Dan satu hal lagi,” tambah Yoo Sejin, masih dengan nada dingin. “Pastikan orang itu memahami bahwa bekerja dengan SOLIX bukan sekadar menulis. Ini tentang hidup dalam ritme mereka—disiplin, tertutup, dan terikat penuh oleh rahasia. Jangan sampai budaya yang dia bawa menghancurkan apa yang kita pertahankan bertahun-tahun,” lanjut nya yang membuat manajer Han mengangguk lagi.

“Saya akan sampaikan.”

Akhirnya setelah ketegangan itu berakhir, rapat besar itu kembali berlangsung hampir dua jam penuh. Setelah berbagai suara berganti bicara, keputusan akhir akhirnya diambil. Namun sebelum semua orang beranjak dari kursinya, pintu ruang rapat terbuka—dan sosok yang mereka tunggu akhirnya masuk dengan langkah tenang.

Namjunho datang terlambat cukup lama dari jadwal karena memang dia dan Yoohan serta Hoseung sedang membahas sebuah Koreo baru untuk project mereka, tapi tak seorang pun berani menegurnya. Rambutnya masih sedikit basah—baru selesai latihan, mungkin—dan kemeja hitam yang ia kenakan terlihat kontras di bawah lampu ruangan yang dingin.

“Maaf, rapat sudah sampai mana?” suaranya tenang, dalam, dan sedikit serak.

Manajer Han langsung memberi isyarat agar Junho duduk di kursi kosong di ujung meja.

“Kita sudah saja menyimpulkan pembahasan soal proyek penulisan, Junho. Dan… ide yang kamu ajukan, pada dasarnya sudah diterima, dengan beberapa catatan,” ujar nya yang membuat salah satu direktur kreatif lain, pria paruh baya dengan jas abu gelap, menatap Junho tajam.

“Kami tidak menolak, tapi kami ingin tahu lebih banyak. Apa benar kamu ingin melibatkan penulis luar dalam tim internal? Bukan dari Korea, bukan dari agensi—dan bahkan tidak punya pengalaman di industri musik? Junho-ssi, kau tahu ide mu ini gila? Begitu banyak seniman profesional yang ada di luar sana tapi kau memilih orang amatiran?” ujar Kim Min-suk.

Namun Junho menyandarkan tubuhnya ke kursi, menautkan jemarinya di atas meja. Ekspresinya tenang, tapi matanya menatap lurus, stabil.

“Ya. Karena justru itu yang membuatnya menarik,” jawabnya datar.

Suara gumaman kecil terdengar di antara para eksekutif. Mereka yang sejak awal tidak setuju dengan ide gila dari junho jelas tidak puas mendengar jawaban itu.

“Apa kamu yakin ini soal musik, bukan… hal lain?” seloroh salah satu di antaranya dengan nada setengah sinis. Manajer Han menatapnya tajam, tapi Junho justru tersenyum tipis.

“Kalau yang Anda maksud ‘hal lain’ adalah sesuatu di luar profesionalitas, saya rasa saya cukup tahu batas saya.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Saya hanya ingin membawa suara baru dalam tim kreatif kita. Seseorang yang bisa melihat lirik bukan hanya sebagai syair lagu, tapi sebagai bentuk cerita yang menyentuh,” Jawab nya yang membuat direktur Kang, pria berkacamata yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara.

“Junho, kamu tahu betapa ketatnya sistem di sini. Setiap kata, setiap baris lirik, mewakili citra grup global. Kalau sampai ada kesalahan persepsi—” ucapan nya terhenti saat Junho dengan berani' memotong nya cepat.

“—maka saya yang akan bertanggung jawab,” potong Junho, suaranya tenang tapi tegas.

Hening. Ruangan seketika terasa menegang. Beberapa orang tampak tidak nyaman; sebagian lainnya saling pandang, menimbang keberanian sang leader yang berbicara dengan nada sedingin itu. Manajer Han menimpali pelan, mencoba menurunkan tensi.

“Junho sudah menyiapkan konsep kolaborasi dengan sistem review bertingkat. Tidak ada risiko kebocoran atau pelanggaran hak cipta. Lagipula, yang ia usulkan hanya observasi awal,” ujar nya yang membuat Lee ahrin mengangguk mantap, sebagai tim kreatif dia memang sudah setuju dengan ide ini sejak awal.

“Saya setuju, kita memang butuh warna baru untuk album mendatang. Suara internasional akan jadi nilai jual tersendiri,” ujar nya tenang namun ternyata Lee sejin masih belum ingin berhenti.

“Tapi tetap saja, ini ide gila. Kau tidak tahu siapa perempuan itu, latar belakangnya, atau bagaimana dia bekerja. Hanya dari satu kemenangan bukan berarti dia pantas berdiri di sini,” ujar nya yang membuat Junho tersenyum samar—senyum yang hanya muncul saat ia ingin menyembunyikan sesuatu.

“Saya tahu cukup banyak, cukup untuk percaya bahwa dia berbeda,” kata nya tenang.

Dan pada kalimat itu, beberapa pasang mata di ruangan saling bertukar pandang lagi—antara bingung dan penasaran. Manajer Han sempat menarik napas pelan, menyadari nada suara Junho sedikit lebih lembut dari biasanya. Akhirnya direktur utama mengakhiri rapat dengan satu ketukan pena di atas meja.

“Baik. Kita beri kesempatan satu kali pertemuan seperti persetujuan kita di awal, siapkan NDA juga untuk mengikat penulis itu pada hukum perusahaan kita. Jika hasilnya positif, baru kita lanjut. Tapi jika tidak… ide ini selesai,” ujar nya yang membuat Junho menunduk sedikit, sopan.

“Terima kasih,” ucap nya.

"Baiklah cukup sampai di sini, kita lihat perkembangan kedepannya bagaimana," ujar direktur Kang pada akhirnya.

Semua orang berdiri dan mengangguk bahkan mereka yang sejak tadi tidak setuju pun terpaksa ikut setuju, karena ketika keputusan sudah di ambil oleh direktur Kang maka semuanya sudah selesai.

Saat pintu tertutup di belakang nya Lee Ahrin yang sudah berada di luar ruangan menatap keluar jendela, ke arah langit Seoul yang mulai berwarna tembaga senja.

“Lucu,” katanya pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri, “Kadang satu kalimat dari seorang seniman yang mereka anggap amatiran bisa membuat satu perusahaan mempertimbangkan ulang definisi risiko.” dia terkekeh pelan lalu berjalan masuk ke dalam lift.

Sementara itu di dalam ruang rapat yang tadinya dipenuhi puluhan suara kini sunyi. Satu per satu anggota manajemen meninggalkan ruangan, hingga hanya tersisa tiga orang. Suara langkah sepatu terakhir menghilang di balik pintu, dan keheningan menggantung di udara.

Kim Namjunho masih berdiri di dekat jendela besar, menatap pemandangan kota Seoul yang diselimuti sore. Cahayanya jatuh lembut ke wajahnya—tenang, nyaris dingin. Tapi pandangan matanya tidak benar-benar fokus; pikirannya masih berputar di satu nama.

“Junho,” panggil sebuah suara tenang di belakangnya.

Direktur Utama Kang Minwoo menatapnya sambil melepas kacamatanya, diikuti Yoo Sejin, Wakil Direktur Operasional, yang menutup map di tangannya dan duduk bersandar di kursi.

“Duduklah sebentar. Kami ingin bicara… tanpa formalitas,” ujar Kang Minwoo.

Nada suaranya lebih seperti ayah yang hendak menasihati anaknya daripada pimpinan yang memberi peringatan. Junho menurut, duduk di seberang mereka dengan postur tegak, tangan bertaut di pangkuan.

“Apakah ini tentang proyek yang saya ajukan, Tuan?” tanyanya pelan. Hal itu membuat Kang Minwoo mengangguk pelan.

“Tepat sekali. Kami sudah memutuskan memberi izin, tapi sebelum semuanya berjalan, saya ingin tahu satu hal: kenapa kau begitu yakin pada penulis ini?” tanya nya yang membuat Junho terdiam sejenak, Junho menatap lurus, ekspresinya datar tapi suaranya mantap.

“Karena saya tahu karyanya. Karena saya tahu caranya menulis, dan saya percaya… dia punya sesuatu yang tidak dimiliki penulis lain,” ujar nya yang membuat Yoo sejin yang sejak tadi menentang ikut bicara.

“‘Sesuatu’?” ulang Yoo Sejin dengan alis terangkat. “Kau tahu betapa kaburnya alasan itu, kan? Junho-ssi perusahaan ini tidak di bangun hanya dengan keringat mu sendiri,” ujar nya yang membuat Junho mengangguk sedikit tetap tenang meskipun di sindir oleh Yoo sejin.

“Saya tahu. Tapi saya bukan mencari hitungan logis. Saya mencari rasa. Dan dia menulis dengan rasa,” ujar nya yang membuat suasana ruangan hening kembali.

Dua eksekutif itu saling pandang, lalu Kang Minwoo meletakkan tangannya di atas meja, menatap Junho lebih dalam.

“Junho, aku sudah bekerja di industri ini selama tiga puluh tahun. Setiap kali seseorang ‘percaya karena rasa’, biasanya ada emosi lain di baliknya. Jadi, biarkan aku bicara jujur—” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, nada suaranya menurun setingkat.

“Kalau kau melakukan ini karena kau… menyukainya, itu bukan masalah besar. Kau manusia, bukan mesin. Tapi jangan berpura-pura tidak ada apa-apa. Karena kalau kedekatan itu suatu saat tercium publik dan berubah menjadi skandal, yang pertama diserang bukan hanya dirimu—tapi seluruh grup dan perusahaan,” ujar nya, namun Junho tidak langsung menjawab.

Pandangannya bergeser ke arah jendela lagi, seolah mencari ketenangan dalam panorama sore yang mulai berwarna jingga. Hingga akhirnya direktur Kang kembali melanjutkan.

"Apapun yang kamu rasakan tentang hatimu pasti benar Junho, tapi walaupun begitu kamu tidak bisa gegabah karena kamu bukan orang sembarangan, banyak orang yang menyimpan ekspektasi tinggi terhadap mu, sebab itu jika kau memang menyukainya tidak apa-apa. Kau laki laki dan suka pada perempuan itu normal, tapi jangan diam, hanya itu yang saya minta," ujar nya yang membuat Junho diam seolah tertampar oleh tebakan yang sebenarnya tidak dia yakini benar juga.

Butuh beberapa detik sebelum ia berkata pelan.

“Saya mengerti, Tuan. Tapi saya tidak melakukan ini karena alasan pribadi,” ujar nya yang membuat direktur kang mengangguk meskipun wajah nya jelas tidak mencerminkan itu.

Namun Yoo sejin tak percaya semudah itu, menurut nya terlalu aneh seseorang seperti Junho memilih orang asal untuk bergabung dengan tim inti nya.

“Benarkah?” Nada Yoo Sejin sedikit menggoda, tapi matanya penuh selidik.

Junho menatap balik dengan tenang.

“Kalau pun saya menyukainya, itu urusan saya. Tapi saya tidak akan membiarkan hal pribadi mencemari pekerjaan saya.” Ia berhenti sebentar, lalu menunduk sopan. “Saya hanya ingin bekerja dengan orang yang bisa menyentuh hati saya lewat tulisannya. Itu saja,” ujar nya yang membuat Kang Minwoo menarik napas dalam, lalu menghela perlahan, antara kagum dan pasrah.

“Baiklah. Tapi ingat satu hal, Junho—dunia luar tidak akan sebijak itu. Jika suatu saat semua ini menjadi bumerang, kami harus tahu lebih dulu sebelum publik tahu,” ujar nya mewanti-wanti dan Junho mengangguk.

“Saya mengerti. Terima kasih sudah mempercayai saya sejauh ini,” ujar nya.

Junho bangkit, membungkuk sopan pada keduanya, lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah tenang seperti biasa. Tapi begitu pintu tertutup, senyum samar kembali muncul di wajahnya—singkat, hampir tak terlihat.

Bukan senyum kemenangan, melainkan kelegaan kecil karena satu hal: ia akhirnya bisa melakukan sesuatu yang selama ini terasa mustahil—mendekat ke dunia Nala dengan cara yang benar.

════ ⋆★⋆ ════

"Hyung ... Ayo bicara saat pulang," ujar Jihwan pada Yoohan yang baru saja keluar dari ruangan meeting. Yoohan menatap jihwan sejenak lalu mengangguk.

"Bicara di rumah ku, aku tidak ingin terlihat di tempat umum malam malam, terlalu banyak mata yang akan menilai kita," ujar nya yang membuat Jihwan mengangguk dan berjalan melanjutkan jadwal nya masing masing.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!