Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gosip sepedas cabai
*Tahun 1980-an*
Era ini ditandai berakhirnya Perang Dingin, runtuhnya Tembok Berlin, kebangkitan komputer pribadi, MTV, dan budaya pop yang ikonik.
Ini masanya orang berebut kuasa. Memperluas wilayah. Membangun peradaban dengan teknologi yang lebih maju. Semua berlomba jadi yang paling dominan.
Dan justru karena itu Anna memilih tetap tinggal di balik tembok halaman belakang rumah jendral. Tempat yang meyakini dia sudah mati. Tempat yang paling aman sedunia.
Sebagai anak Komandan Rangga, wajahnya dikenal seantero negeri. Muncul ke permukaan? Sama saja menyerahkan leher ke kericuhan politik, perebutan, dan dendam lama.
…
Siang itu Anna bersiap. Pakaian anggun, riasan wajah sederhana tapi segar. Lima tahun ia memperbaiki diri habis-habisan. Kulitnya kini putih halus bagaikan salju. Wajahnya rupawan, tubuh molek, kaki jenjang. Tak ada yang percaya ini Anna—“si gadis jelek” lima tahun lalu.
Ia mengikat kain menutupi hidung dan mulut, menyisakan sepasang mata hazel dengan bulu mata lentik yang mencolok.
“Ibu, di kota nanti aku mau ke perpustakaan. Aku mau pinjam banyak buku!” seru Cikal, semangatnya meluap.
Sejak kecil Anna mendidiknya ketat. Tiga tahun sudah lancar membaca. Empat tahun, Cikal mulai membongkar cara kerja teknologi, persis seperti ibunya.
Anna tersenyum, mengelus pucuk kepala putranya. “Boleh. Tapi ingat, kalau ada yang tanya siapa orang tuamu, bilang saja ayahmu sudah meninggal. Ibumu cuma janda tua yang miskin. Mengerti?”
“Baik, Ma.” Cikal mengangguk mantap.
Setelah semua siap, mereka berjalan ke belakang pondok. Di sana ada tumpukan papan kayu menutupi dinding bolong—jalan rahasia yang Anna buat sehari setelah ia dikurung. Tanpa itu, mana mungkin ia bertahan lima tahun?
Begitu keluar, Anna menutup lubang dengan semak. Menyamarkan pintu masuk agar tak ada yang curiga.
Tak lama, keduanya tiba di pusat kota. Di persimpangan, mereka berpisah. Cikal ke perpustakaan. Anna masuk lebih dalam, melewati jejeran toko dengan aroma khas 80-an: suara radio kaset, interaksi pedagang yang hangat, transaksi catat tangan, teknologi manual yang humble dan kekeluargaan.
Sesekali Anna singgah, membeli kebutuhan yang habis.
“Tumben sendirian. Putramu ke mana?” sapa bibi penjual sayur.
“Cikal di perpustakaan. Jarang-jarang kami ke kota. Katanya dia kangen bau buku baru,” jawab Anna ringan.
Bibi itu tertawa. Satu pasar tahu betapa gilanya Cikal pada buku.
“Ibunya Cikal, anakmu sudah besar dan pintar. Tak berpikir menikah lagi? Kau masih muda. Hidupmu pasti lebih baik,” celetuk pria paruh baya dari lapak sebelah.
Anna terkekeh. “Tidak, Paman. Sudah sering kubilang, aku ini buruk rupa. Siapa yang mau menikahi gadis berwajah cacat?”
Tawar-menawar diselingi gosip sudah jadi rutinitas tiap ia ke pasar.
“Tahu tidak? Jendral kita, Jendral muda Chandra, hari ini menikahi selir ke-10-nya loh,” salah satu bibi membuka obrolan.
Anna terperanjat. Matanya membulat sesaat. _Nikah lagi? Bajingan ini mau punya berapa istri? Mau bikin timnas?_ umpatnya dalam hati.
Wajahnya tetap datar. “Sudahlah, Bu. Urusan orang tak usah kita campuri,” sahutnya santai. Dengar kabar Chandra menikah lagi sudah seperti dengar harga cabai naik. Biasa. Toh dia tak pernah menganggap Chandra sebagai suami.
“Iya, betul. Tapi aku kasihan sama istri pertamanya yang terbakar lima tahun lalu. Malang betul nasibnya. Baru sehari menikah sudah meninggal,” timpal paman penjual daging.
Anna menunduk, memilah kangkung. Momentum.
“Paman, Bibi… apa kalian tidak merasa kebakaran itu janggal?” suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat tiga kepala menoleh. “Kudengar rambut istri Jendral itu pendek. Tapi mayatnya… berambut panjang. Dicepol besar pula.”
Ia menanam bibit. Menyiram api curiga yang sudah ia rintis lima tahun.
Sasarannya jelas: para pedagang. Mereka pusat informasi. Gosip sekecil apa pun bisa lari dari mulut ke mulut, dari pasar ke kelurahan, dari kelurahan ke telinga prajurit.
Lima tahun Anna jadi dalang opini publik. Cukup mahir membuat kediaman jendral yang agung kini dipandang sebelah mata.
“Iya juga. Aku juga pernah dengar selentingan itu. Jangan-jangan keluarga jendral menutup-nutupi sesuatu,” sahut seorang bibi, matanya menyipit curiga.
Di balik cadar, Anna tersenyum puas. Gosip kebakaran lima tahun lalu adalah kuncinya. Begitu pintu itu terbuka, jalannya menuju kebebasan akan lapang. Dan jalan menuju leher Widuri, dalang sebenarnya, akan semakin dekat.
Gimana, onty? Lebih mengalir kan? Ritme 80-annya dapet, dialognya nampol, operasi “Gosip Pasar” Anna makin berasa kayak misi intelijen 😏
Kalau suka dan ada rezeki, boleh traktir author kopi ya ☕❤ Biar energi nulis adegan Cikal bikin satu perpus bengong makin kenceng.
lnjut thor