NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Perayaan Sang Pemenang

​.. Pagi ini udara Jakarta terasa jauh lebih segar, seolah-olah polusi dan debu jalanan ikut hilang bersamaan dengan dijebloskannya Adrian ke balik jeruji besi. Berita tentang penangkapan pengusaha muda karena kasus percobaan penculikan langsung menjadi headline di semua media massa. Aku duduk di teras paviliun sambil menyeruput kopi hitam, merasa puas melihat foto Adrian yang memakai rompi tahanan berwarna oranye.

​.. "Waduh Mas Adrian, akhirnya dapet seragam baru juga ya. Warnanya oranye lagi, mencolok banget kayak jeruk mandarin," gumamku sambil tertawa kecil. Ternyata, sehebat-hebatnya orang punya uang, kalau sudah berurusan dengan hukum dan bodyguard asal Sidoarjo, tetap saja bakal tumbang juga.

​.. Tak lama kemudian, Clarissa muncul dari pintu utama rumahnya. Dia memakai gaun berwarna biru navy yang sangat elegan, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya memancarkan aura kemenangan yang luar biasa. "Genta! Siapkan mobil sekarang. Hari ini kita tidak ke kantor, saya mau merayakan kemenangan kita dengan makan siang spesial!" teriaknya dengan nada suara yang sangat riang.

​.. "Siap, Mbak Bos! Tapi perayaannya jangan di restoran yang isinya cuma sayuran mentah lagi ya, perut saya butuh asupan karbohidrat yang nyata," jawabku sambil bergegas memanaskan mesin mobil. Clarissa hanya tertawa, tawa yang sekarang sudah menjadi musik favoritku setiap pagi.

​.. Kami sampai di sebuah restoran mewah di kawasan SCBD yang pemandangannya langsung menghadap gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Pelayan restoran itu menyambut kami dengan sangat sopan, seolah-olah kami adalah pasangan bangsawan yang baru saja turun dari khayangan. Begitu duduk, aku langsung merasa kikuk melihat banyaknya sendok dan garpu yang tertata rapi di samping piringku.

​.. "Genta, kamu mau pesan apa? Pilih saja yang paling mahal, saya yang traktir sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan hidup saya kemarin," ucap Clarissa sambil memberikan buku menu yang isinya penuh dengan istilah-istilah bahasa Prancis yang bikin lidahku keriting.

​.. Aku mencoba membaca menu itu dengan saksama. "Mbak Bos... ini tulisannya 'Escargot'. Ini bukannya bekicot yang biasa ada di sawah belakang rumah saya ya? Kok harganya sampai ratusan ribu begini?" tanyaku dengan nada polos yang membuat Clarissa hampir tersedak air minumnya.

​.. "Itu bekicot Prancis, Genta! Rasanya beda, teksturnya lebih lembut dan bumbunya sangat mewah," jelas Clarissa sambil menahan tawa. Aku hanya menggeleng-geleng kepala. "Waduh, kalau di Sidoarjo, bekicot segini banyak bisa buat umpan pancing, Mbak. Tapi ya sudahlah, mumpung gratis, saya mau coba!"

​.. Selama makan siang, suasana terasa sangat cair. Clarissa menceritakan betapa lega perasaannya karena Adrian sudah tidak lagi menjadi bayang-bayang dalam hidupnya. Dia juga memberikan sebuah jam tangan mewah sebagai hadiah tambahan untukku. "Ini bukan cuma penunjuk waktu, Genta. Ini simbol kalau mulai detik ini, waktu kamu adalah milik saya," ucapnya dengan tatapan yang sangat serius.

​.. Aku terdiam, menatap jam tangan itu lalu menatap wajah Clarissa. "Mbak Bos... kalau waktu saya milik Mbak Bos, berarti saya nggak boleh ijin pulang kampung buat kondangan dong?" candaku untuk menutupi rasa baper yang mulai membuncah di dada. Clarissa tertawa lepas, dia mencubit lenganku dengan gemas. "Kamu itu ya! Suasana lagi romantis begini malah bahas kondangan!"

​.. Di tengah tawa kami, aku menyadari satu hal. Kemenangan ini bukan cuma soal Adrian yang dipenjara, tapi soal aku yang berhasil memenangkan kepercayaan penuh dari seorang Clarissa Wijaya. Dari seorang preman pasar yang

cuma dianggap supir, sekarang aku sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup sang CEO. Jakarta memang keras, tapi perjuangan tulus tidak akan pernah mengkhianati hasil.

​.. Setelah makan siang yang penuh tawa dan sedikit perdebatan soal rasa bekicot Prancis itu, Clarissa mengajakku untuk berjalan-jalan sebentar di taman atap restoran tersebut. Angin sore Jakarta yang mulai sejuk menerpa wajah kami, memberikan kedamaian yang jarang sekali kami dapatkan di tengah hiruk-pikuk pekerjaan kantor yang gila-gilaan.

​.. "Genta, kamu lihat gedung-gedung itu?" tanya Clarissa sambil menunjuk ke arah pusat kota. "Dulu, saya pikir kalau saya bisa punya kantor di gedung tertinggi, saya sudah mendapatkan segalanya. Tapi ternyata, di atas sana rasanya sangat sepi. Tidak ada orang yang benar-benar peduli apakah saya sudah makan atau belum, atau apakah saya sedang sedih atau senang."

​.. Aku berdiri di sampingnya, mencoba mengikuti arah telunjuknya. "Waduh Mbak Bos, kalau di atas gedung itu sepi, ya wajar saja. Kalau ramai namanya bukan kantor, tapi pasar kaget. Tapi saya paham maksud Mbak Bos. Di dunia ini, punya segalanya itu percuma kalau nggak ada orang yang tulus di samping kita buat diajak makan kerupuk bareng."

​.. Clarissa menoleh ke arahku, cahaya matahari senja membuat matanya yang cokelat jernih itu terlihat semakin bersinar. Dia tidak berkata apa-apa, tapi tangannya perlahan meraih tanganku dan menggenggamnya dengan sangat erat. Bukan genggaman takut karena penculik seperti kemarin, tapi genggaman yang terasa sangat hangat dan penuh rasa percaya.

​.. "Genta... kamu adalah orang pertama yang membuat saya merasa bahwa menjadi Clarissa yang biasa itu jauh lebih berharga daripada menjadi CEO Wijaya Tower. Terima kasih sudah tetap tinggal, meski saya sering galak dan menyebalkan," bisiknya pelan, hampir terbawa angin sore.

​.. Aku hanya bisa terdiam, tenggorokanku mendadak tercekat. Rasanya semua kata-kata lucu yang biasanya keluar dari mulutku mendadak hilang entah ke mana. Aku hanya bisa membalas genggamannya, memberikan janji bisu bahwa aku tidak akan pergi ke mana-mana. Jakarta mungkin tetap keras, tapi selama aku berdiri di sampingnya, aku merasa sanggup menghadapi apapun.

​.. Cahaya senja di atap restoran itu perlahan mulai memudar, digantikan oleh lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu seperti jutaan berlian yang tersebar di aspal Jakarta. Genggaman tangan Clarissa masih terasa hangat di jemariku yang kasar ini. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungku yang rasanya lebih kencang daripada suara knalpot motor brong di Sidoarjo.

​.. "Mbak Bos... kalau Mbak Bos bilang terima kasih terus, nanti saya malah jadi besar kepala. Nanti kalau saya kepedean terus minta naik gaji lima kali lipat, Mbak Bos yang pusing sendiri lho," kataku mencoba memecah suasana yang terlalu serius itu. Aku melihat Clarissa tersenyum tipis, matanya menatap jauh ke depan.

​.. "Genta, kamu tahu tidak? Seumur hidup saya, saya selalu dikelilingi orang yang bilang 'ya' hanya karena takut atau karena ingin sesuatu dari saya. Tapi kamu... kamu orang pertama yang berani bilang 'tidak' saat saya egois, dan berani menertawakan saya saat saya terlalu kaku," bisik Clarissa pelan. Dia melepaskan genggaman tangannya, tapi kemudian menyandarkan kepalanya di pundakku.

​.. Aku terdiam membeku. Wangi rambutnya yang seperti bunga melati mahal itu benar-benar melumpuhkan logika premanku. Di saat seperti ini, aku baru sadar sepenuhnya. Aku, Genta Arjuna, pemuda yang besar di pasar dan terminal, ternyata sudah benar-benar jatuh hati pada bidadari ibu kota ini. Bukan karena kekayaannya, tapi karena kesepian yang dia sembunyikan di balik jas mahalnya.

​.. "Sudah malam, Mbak Bos. Anginnya makin kencang, nanti kalau Mbak Bos masuk angin lagi, saya yang repot harus ngerokin pakai koin seribuan lagi," ucapku sambil melepas jaket kulitku dan menyampirkannya ke bahu Clarissa. Clarissa menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, lalu mengangguk pelan.

​.. Kami berjalan kembali menuju parkiran dengan langkah yang santai. Malam ini, aku pulang bukan cuma membawa perut yang kenyang karena bekicot Prancis, tapi membawa janji di dalam hati. Bahwa aku tidak akan membiarkan air mata jatuh lagi di pipi Clarissa. Jakarta mungkin tetap kejam, tapi selama ada Genta Arjuna di sampingnya, Clarissa tidak akan pernah merasa kesepian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!