NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17 perjamuan maut du hutan bambu hitam

Hutan Bambu Hitam bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Terletak di pinggiran utara Ibukota, hutan ini terdiri dari ribuan batang bambu setinggi tiga puluh meter yang warnanya sehitam arang dan sekeras besi. Angin yang bertiup melewati celah-celah batang bambu menciptakan suara siulan panjang yang mirip dengan rintihan arwah penasaran.

Han Shuo melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan. Ia tidak membawa obor. Matanya, yang kini telah diperkuat oleh tingkat Pondasi Dasar Tahap Akhir, mampu melihat aliran Qi yang bergetar di udara. Di balik jubahnya, ia menyelipkan pisau dapur Bulan Sabit—bukan lagi pisau karat yang ia gunakan dulu, melainkan senjata yang telah ditempa ulang dengan Api Batin-nya.

"Kau terlambat, Nak," sebuah suara serak muncul dari balik bayang-bayang.

Wang Lin berdiri di sebuah kliring kecil. Ia tidak lagi mengenakan jubah mewah. Ia memakai zirah ringan kulit badak, dan di tangannya terdapat sebuah pedang panjang yang memancarkan aura dingin yang menusuk. Di belakangnya, berdiri empat sosok berjubah abu-abu dengan topeng perunggu.

Han Shuo berhenti sepuluh langkah di depan mereka. "Aku tidak terlambat untuk mendengar pengakuan dosamu, Wang Lin. Ceritakan tentang orang tuaku."

Wang Lin tertawa, tawa yang kering dan penuh kemenangan. "Orang tuamu? Han Feng dan istrinya? Mereka adalah koki yang hebat, memang. Tapi mereka terlalu bodoh. Mereka menemukan sesuatu yang tidak seharusnya disentuh oleh manusia fana: Fragmen Kitab Rasa Semesta Bagian Kedelapan."

Jantung Han Shuo berdegup kencang. Fragmen Kitab? Jadi orang tuaku memilikinya?

"Ayahmu adalah Kepala Koki Istana yang menemukan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tapi soal kendali atas umur panjang," lanjut Wang Lin. "Dia menolak menyerahkannya kepada Leluhur Keluarga Wang. Jadi... kami membuatnya menghilang. Dan malam ini, fragmen yang tersisa di dalam darahmu akan menjadi milik kami."

"Hanya kalian berlima?" Han Shuo bertanya, suaranya sangat tenang, terlalu tenang hingga membuat Wang Lin sedikit gelisah. "Aku berharap lebih banyak bumbu untuk pesta malam ini."

"Jangan sombong!" Wang Lin berteriak. "Teman-temanku ini adalah Empat Rempah Kematian. Masing-masing dari mereka memiliki teknik yang akan membuatmu memohon untuk mati!"

Pertempuran: Rasa yang Menghakimi

Tanpa peringatan, keempat sosok berjubah itu berpencar. Mereka bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna, membentuk formasi Wajan Neraka Delapan Penjuru.

Han Shuo menutup matanya sesaat. Ia mengaktifkan teknik barunya: Lidah Penghakiman.

Di dalam pikirannya, dunia fisik menghilang. Yang ada hanyalah aroma dan rasa energi.

* Sosok di Utara: Beraroma tajam seperti cengkeh, namun ada rasa "hambar" di kaki kirinya.

* Sosok di Selatan: Beraroma manis yang memuakkan seperti kayu manis, namun memiliki energi yang "alot" di punggungnya.

* Sosok di Timur dan Barat: Beraroma lada hitam, agresif namun "cepat basi" (kehabisan stamina).

"Masakan kalian... kurang garam," gumam Han Shuo.

Sosok dari Utara menyerang dengan rantai berduri. Han Shuo tidak menghindar secara konvensional. Ia melangkah maju, memutar tubuhnya seperti sedang mengaduk adonan besar, dan menggunakan punggung pisaunya untuk memukul titik "hambar" di kaki kiri lawan.

KRAKK!

Si penyerang Utara berteriak saat tulang keringnya hancur. Ia jatuh tersungkur.

"Bagaimana mungkin?!" Wang Lin terkejut. "Dia bisa melihat celah dalam Langkah Bayangan?!"

Dua penyerang lainnya menyerang bersamaan dengan pedang pendek. Han Shuo mengambil segenggam bubuk dari kantong di pinggangnya—Bubuk Cabai Setan Merah yang telah ia murnikan dengan Qi Api.

"Teknik Tumis Udara: Ledakan Pedas!"

Han Shuo melemparkan bubuk itu ke arah api obor yang dibawa salah satu musuh. BOOM! Bubuk itu meledak menjadi awan merah yang menyengat. Bukan hanya membutakan mata, bubuk ini mengandung Qi yang membakar pori-pori kulit.

Para pembunuh itu terbatuk-batuk, formasi mereka hancur seketika.

Han Shuo bergerak seperti kilat. Dengan teknik Niat Pisau, ia melakukan serangkaian sayatan cepat. Ia tidak membunuh mereka secara langsung; ia memotong urat nadi di tangan dan kaki mereka dengan presisi seorang koki yang sedang memisahkan daging dari tulang.

Dalam hitungan menit, keempat pembunuh elit itu tergeletak di tanah, tidak berdaya namun masih bernapas.

Konfrontasi Terakhir: Wang Lin dan Pedang Es

Sekarang hanya tersisa Wang Lin. Ia gemetar, namun kebenciannya lebih besar dari rasa takutnya. Ia menggigit lidahnya sendiri, menyemburkan darah ke pedangnya.

"Seni Terlarang: Santapan Darah Musim Dingin!"

Pedang Wang Lin membesar, ditutupi oleh lapisan es hitam yang mengeluarkan aura kematian. Suhu di kliring itu turun drastis. Bambu-bambu di sekitar mereka mulai membeku dan pecah.

Han Shuo merasakan tekanan yang luar biasa. Wang Lin telah memaksa kultivasinya naik ke puncak Inti Emas (Golden Core) untuk sementara dengan mengorbankan umurnya.

"Kau akan mati di sini, Han Shuo! Kau dan rahasiamu akan terkubur!" Wang Lin menebas. Gelombang es raksasa meluncur menuju Han Shuo.

Han Shuo tidak mundur. Ia merogoh botol kecil berisi Minyak Lemak Babi Api yang paling murni yang ia miliki. Ia meminumnya sedikit, membiarkan energi panas membakar tenggorokannya, lalu menyalurkan seluruh Qi-nya ke pisau Bulan Sabit.

"Jika kau ingin membekukan dunia," kata Han Shuo, suaranya bergema dengan kekuatan Kitab Rasa Semesta, "maka aku akan memasak hatimu sampai hangus."

"Teknik Rahasia: Wajan Langit Membara!"

Han Shuo mengayunkan pisaunya dalam gerakan melingkar vertikal. Qi api yang sangat padat keluar, membentuk piringan api raksasa yang berputar cepat. Saat pedang es Wang Lin menghantam piringan api itu, suara uap yang sangat keras memenuhi hutan.

Ssssssssssssst!

Kabut tebal menutupi segalanya. Di dalam kabut, Han Shuo menggunakan Lidah Penghakiman untuk melacak panas tubuh Wang Lin.

Wang Lin panik. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Tiba-tiba, ia merasakan dingin di lehernya. Bukan dingin es, melainkan dinginnya baja pisau dapur.

"Daging yang terlalu banyak lemak... harus dibuang," bisik Han Shuo di telinga Wang Lin.

Han Shuo tidak memotong lehernya. Ia menusukkan jarinya yang dialiri Qi api ke titik pusat Dantian Wang Lin.

Cesss!

Wang Lin menjerit mengerikan saat kultivasinya dihancurkan dari dalam. Es di pedangnya mencair, dan ia jatuh ke tanah seperti tumpukan daging yang layu.

Kebenaran yang Pahit

Han Shuo menginjak dada Wang Lin. "Bicara. Di mana fragmen itu? Dan siapa yang memerintahkanmu?"

Wang Lin batuk darah, tertawa gila. "Fragmen itu... tidak ada padaku. Ayahmu menyembunyikannya di dalam... Kotak Bumbu Raja yang sekarang berada di tangan Penatua Agung Sekte Awan Merah. Dan orang yang menginginkannya? Kau pikir hanya Keluarga Wang? Tidak... yang menginginkannya adalah sosok yang duduk di sebelah Kaisar... Sang Peramal Agung."

Han Shuo tertegun. Sang Peramal Agung adalah orang paling dihormati di kekaisaran setelah Kaisar sendiri.

"Kami hanya pion, Han Shuo," gumam Wang Lin sebelum matanya meredup. "Dunia kuliner ini... lebih berdarah dari yang kau bayangkan."

Wang Lin menghembuskan napas terakhirnya.

Ying muncul dari kegelapan bambu, wajahnya tampak cemas. "Tuan, kita harus pergi. Pasukan bayangan Peramal Agung pasti sudah dalam perjalanan setelah merasakan getaran energi di sini."

Han Shuo mengambil pedang Wang Lin dan mematahkannya. Ia menatap tangannya yang masih bergetar karena sisa energi api.

"Ying, kita kembali ke kota," kata Han Shuo. "Tapi kita tidak akan bersembunyi. Jika mereka ingin fragmen itu, mereka harus datang ke restoranku. Aku akan menyiapkan menu yang tidak akan pernah mereka lupakan."

Epilog Bab 17: Hadiah Tersembunyi

Saat mereka berjalan keluar dari hutan, Kitab Rasa Semesta di dalam jiwa Han Shuo bergetar hebat.

[Misi Tersembunyi Selesai: Balas Dendam Hutan Bambu]

[Hadiah: Cairan Pemurni Sumsum "Sari Bambu Hitam"]

[Status Baru: Pemahaman "Niat Pisau" meningkat ke tingkat Menengah]

Han Shuo merasakan sumsum tulangnya mendingin, memperkuat fondasi kultivasinya yang tadi sempat tidak stabil karena dipaksa mengeluarkan teknik api besar. Ia merasa lebih ringan, lebih tajam.

Namun, di kejauhan, di atas menara tertinggi istana, seorang pria tua dengan jubah berbintang menatap ke arah Hutan Bambu Hitam.

"Satu pion jatuh," gumam Sang Peramal Agung sambil mengaduk cangkir tehnya yang tidak pernah dingin. "Tapi koki kecil itu mulai membuat aromanya menarik. Mari kita lihat seberapa tahan dia terhadap... rasa putus asa."

Rangkuman Progres Bab 17

* Plot Point Penting:

* Terungkap bahwa orang tua Han Shuo dibunuh karena memiliki fragmen Kitab Rasa Semesta.

* Antagonis utama baru terungkap: Sang Peramal Agung.

* Keluarga Wang (cabang Wang Lin) telah runtuh secara fisik, namun ancaman lebih besar menanti.

* Kultivasi Han Shuo:

* Tingkat: Pondasi Dasar Tahap Akhir (Stabil).

* Teknik Baru yang Digunakan: Teknik Tumis Udara (Serangan Area) dan Wajan Langit Membara (Pertahanan/Serangan Balik).

* Item Baru:

* Sari Bambu Hitam: Bahan langka untuk memperkuat fisik agar tahan terhadap panas api kultivasi tingkat tinggi

1
ddrhart
mulai langkah merekrut pengikut
ddrhart
semakin menarik dengan persahabatan yang tidak biasa
ddrhart
lanjut thor.... cukup menarik
ddrhart
malah datang bahan makanan yang lebih berkualitas
ddrhart
dari awal sudah terima berbagai macam ujian
ddrhart
ayo chef han suo.... jangan kasih kendor !!!
ddrhart
menarik.... berbeda dari yang sudah ada
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!