NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:159
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

PIETRA PETROVSKY

Aku terbangun dengan perasaan aneh bahwa sesuatu sebentar lagi akan berubah.

Itu bukan kecemasan. Itu kewaspadaan.

Kujalani rutinitasku dengan tenang: mandi air hangat, rambut diikat sederhana, riasan tipis. Aku memilih pakaian yang profesional tapi nyaman, bukan untuk membuat orang terkesan, melainkan agar aku merasa mantap. Kuseruput kopi sambil menatap kota dari jendela, berusaha mengabaikan pikiran yang terus mendesak soal kemarin.

Soal kedekatan itu.

Soal keheningan yang sarat.

Soal tatapannya.

Kugelengkan kepala, mengusir semua itu. Pekerjaan tetaplah pekerjaan.

Sesampai di perusahaan, aku langsung menuju mejaku. Kususun jadwal hari itu, kuperiksa email, kukonfirmasi rapat-rapat. Semua berjalan lancar. Wajar. Profesional.

Marco tiba tak lama kemudian.

Ia tidak mengumumkan kehadirannya.

Tak pernah.

"Selamat pagi," katanya, suaranya rendah.

"Selamat pagi," jawabku tanpa langsung mengangkat pandangan.

Aku merasakannya ketika ia berhenti terlalu dekat.

"Aku perlu kamu memeriksa kontrak-kontrak ini bersamaku," katanya. "Di ruang kerjaku."

"Tentu... beri saya waktu sebentar saja."

Kataku sambil menyelesaikan pemeriksaan kontrak yang dikirim pihak Tiongkok untuk ditandatangani.

Kurasakan tatapan Marco tertuju padaku, lalu aku menoleh kepadanya.

"Selesaikan saja dengan tenang. Aku menunggu."

Ia berkata sambil bersandar di mejanya dan menyilangkan tangan, sementara ia menatapku.

Aku kembali memeriksa kontrak itu. Karena mau tak mau aku harus menerjemahkannya ke bahasa Portugis, meski Marco pun memahami bahasa mereka dengan sempurna.

Aku bangkit dengan kontrak yang sudah diterjemahkan di tangan, berikut naskah aslinya.

"Anda perlu memeriksa kontrak ini dan melihat apakah ada yang ingin Anda ubah, atau langsung menandatanganinya."

Ia memberi isyarat agar aku menyerahkan berkas itu kepadanya, lalu kuletakkan berkas itu ke tangannya.

Ia duduk di kursinya dan menaruh berkas itu di meja.

Aku berhenti di sampingnya.

"Ini," katanya sambil menunjuk sebuah bagian. "Bagaimana menurutmu?"

Aku mencondongkan tubuh untuk membacanya.

Rambut panjangku jatuh menutupi kontrak dan menghalangi pandangannya ke berkas yang baru saja kuserahkan.

Tanpa mengatakan apa pun.

Kutarik rambutku ke sisi lain, membiarkan sisi kanan leherku sepenuhnya terbuka.

Sementara aku membaca, aku merasakannya.

Ia mendekat.

Kali ini, dengan sengaja.

Lengannya menyentuh lenganku sekilas. Tubuhnya terlalu besar untuk ruang yang ia sisakan di antara kami. Itu bukan ketaksengajaan. Itu sebuah pilihan.

Aku terus membaca, tanpa ekspresi, sampai kurasakan embusan napasnya terlalu dekat dengan leherku.

"Klausul ini bisa menimbulkan konflik hukum," kataku tenang.

"Aku setuju," jawabnya, tapi ia tidak menjauh.

Aroma itu kembali.

Kayu. Dalam. Dengan nada hangat wiski mahal yang seakan menjadi bagian dari dirinya, sama seperti keheningan dan kendali dirinya.

Jantungku sedikit berdegup cepat, bukan karena takut. Karena kesadaran.

"Anda biasa bekerja sedekat ini?" tanyaku tanpa mengalihkan mata dari kertas.

Kudengar senyum samar dalam suaranya.

"Hanya kalau aku memercayai orang yang ada di sampingku."

Aku mengangkat pandangan. Kami terlalu dekat. Bertatapan mata. Jenis kedekatan yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Ia mengamatiku dengan perhatian yang senyap, seakan sedang menghafalkan sesuatu.

Aku mengerjap perlahan, menatap matanya, mencoba memahami kenapa ia melakukan itu.

"Siap untuk rapat berikutnya?" tanyanya, akhirnya melangkah mundur.

"Selalu," jawabku.

"Bagus... Karena kamu yang akan memimpinnya."

"Apa?" tanyaku terkejut.

"Kenapa?"

"Kepalaku sedang penuh dengan hal lain saat ini. Aku tidak akan bisa fokus dalam rapat itu bahkan kalau aku mau."

"Baiklah kalau begitu..."

Kataku sambil mengambil laptop dan beberapa kontrak. Aku harus meyakinkan 20 pemegang saham untuk menandatangani kontrak dengan perusahaan Marco.

Irina masuk ke ruangan sambil membawa map dan berjalan menuju meja Marco.

"Siap untuk rapatnya?" tanyanya sambil menatapnya.

"Aku tidak akan ikut!"

"Kok tidak? Ada 20 pemegang saham di ruangan itu yang akan sangat bagus kalau mau meneken kontrak. Kamu harus datang!"

"Tidak, aku tidak akan datang. Yang menggantikanku adalah Pietra."

Ia berkata sambil menatapku.

Irina memandangku dengan pandangan meremehkan, lalu berkata.

"Dia?"

"Ini cuma akan buang-buang waktu..." ucapnya lirih.

"Buang-buang waktu atau tidak, itu yang akan kita lihat... sudah kuputuskan. Pietra, para pemegang saham sudah menunggu."

"Baik."

Kataku sambil membereskan barang-barangku dan berjalan menuju pintu ruang kerja.

"Pietra."

Aku berbalik menatapnya.

"Jangan kecewakan aku."

Aku kembali berbalik ke arah pintu, membukanya, lalu keluar dari ruang kerja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!