Di hari Pernikahannya Kayla Sanjaya 25th di paksa menukar calon suaminya dengan calon suami kakak sepupunya, Apakah Nayla menolak atau menyerahkan calon suaminya untuk kakak sepupunya... Yukkk... Kepoin Karya baru author...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Sudah semua sayang, nggak ada yang ketinggalan? " tanya Rangga saat memasukan koper ke dalam bagasi mobil, hari ini mereka akan pulang ke kota J.
"Nggak ada mas, sudah semua, tapi nanti kita mampir ke toko oleh oleh langganan aku dulu ya." pinta Kayla yang sudah duduk manis di kursi samping kemudi.
"Siap, cinta ku." jawab Rangga menutup pintu mobil.
Mendengar jawaban dari sang suami, membuat pipi Kayla bersemu merah, suaminya selalu pintar berkata manis dan itu berhasil membuat Kayla salah tingkah.
"Cieee.... Salting nih yee.... " goda Rangga mencolek pipi sang istri yang sudah berubah warna, dari putih bersih menjadi merah merona.
"Apa sih mas, nggak jelas deh." sewot Kayla memalingkan wajahnya menatap ke arah luar jendela, dan hidung yang kembang kempis, karena di goda sang suami.
Rangga terkekeh geli melihat tingkah malu malu sang istri, membuatnya gemes sendiri, tidak ingin melihat sang istri semakin malu, Rangga melajukan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan apartemen mereka.
"Semua harus sempurna ya, aku nggak mau ada yang kurang." tegas nyonya Lastri kepada para pendekor yang sedang mendekor ruang pesta pernikahan Rangga dan Kayla.
Nyonya Lastri memang sangat bersemangat mempersiapkan pesta pernikahan sang putra, yang sudah lama tidak pulang, sekali pulang membawa istri.
Tidak ada satu pun dari keluarga inti yang bisa melarang keinginan nyonya Lastri untuk mengadakan pesta pernikahan sang putra dengan sangat meriah, walau Kayla meminta acara sederhana saja, tapi nyonya Lastri tetap pada pendiriannya.
Karena dia ingin membanggakan kepada khalayak ramai, karena Rangga sudah mempunyai istri yang sangat cantik, dan Sangat pintar, jadi tidak ada cela bagi mereka untuk mendekati sang putra.
Dia tau selama ini Rangga tidak nyaman dan sangat risih selalu di dekati oleh anak anak rekan kerja sang suami, hingga membuat sang putra memilih pergi dari rumah, tanpa membawa nama besar keluarganya.
"Baik bu." sahut para pekerja dengan sopan.
"Mbak, nanti tolong di pojok sana di kasih bunga hidup ya, dan di tengah ini saya maunya pohon buah aja, dan di sana saya chocolate fountain nya (coklat air mancur)" nyonya Lastri terus saja mengarahkan para pekerja tanpa lelah.
"Semangat sekali mbak." sapa adik ipar nyonya Lastri.
"Iya dong, gimana nggak semangat coba, anak yang hilang itu sudah kembali, udah gitu pulang nggak sendiri, malah bawa istri, syukur syukur juga udah isi juga tuh istrinya." kekeh nyonya Lastri, terlihat raut bahagia di wajah yang mulai menampakan garis garis halus di wajahnya, tapi masih tetap terlihat cantik dan terawat.
"Secantik apa sih perempuan itu, sampai sampai kalian sangat bersemangat, bahkan aku syok loh dengan abang kasih hadiah untuk dia." kekeh nyonya Ami.
"Nanti kamu juga kenal." kekeh nyonya Lastri penuh arti.
"Ck, kalian pelit banget sih." cibir nyonya Ami, "Ya udah mbak, sekarang kita masuk dulu, sudah di tunggu buat makan siang loh." ujar nyonya Ami ingat tujuannya ke sana.
"Kalian duluan aja, aku mau mengawasi ini dulu." tolak nyonya Lastri yang belum mau meninggalkan para pekerja di ruangan itu.
"Makan dulu mbak, jangan sampai pas waktu pesta, kamunya sakit, kan nggak lucu." oceh nyonya Ami menarik tangan nyonya Lastri.
Nyonya Lastri hanya bisa pasrah, karena di tarik oleh adik iparnya itu, ada benarnya juga apa yang di bilang sang adik, klau sampai di tumbang saat pesta pernikahan sang anak kan nggak lucu, bikin pesta berantakan.
"Mereka sudah sampai dimana? lama banget" keluh tuan Ardi yang sudah tidak sabar cucu dan cucu menantunya sampai.
"Sabar pa, sebentar lagi mereka sampai kok." ucap tuan Ardi dan terkekeh melihat wajah tidak sabaran sang papa.
"Dari tadi sebentar sebentar aja, tapi nggak sampai sampai." sewot tuan Ardi.
"Papa istirahat aja dulu, nanti klau mereka sampai, aku kasih tau, klau sudah istirahat, papa bisa berbincang lama sama cucu dan cucu menantu papa." ucap Nyonya Lastri yang sudah berada di samping tuan Ali.
Tuan Ali bersiap untuk menyahut ucapan menantunya itu, namun terpotong oleh sang putri.
"Apa yang di bilang kakak ipar benar pa, mendingan papa istirahat dulu, jadi nanti saat mereka sampai papa bisa ngobrol lama." sela nyonya Nia, tuan Ali hanya bisa pasrah, klau semua orang sudah berbicara, apa lagi ke dua wanita itu, tidak akan menang dirinya melawan mereka berdua.
"Hmmm... Baiklah." pasrah tuan Ali dengan wajah yang terlihat lesu.
"Semangat dong, jangan lesu, kan cucu papa akan pulang." bujuk nyonya Nia menggandeng tangan sang papa.
"Ma, sini duduk." ucap tuan Ardi menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Ntar dulu pa, mama mau lihat kerjaan mereka." tolak nyonya Lastri yang ingin melihat dekorasi di ruangan lain.
"Biarkan saja mereka bekerja ma, mereka kan sudah mama kasih arahan tadi." ujar tuan Ardi.
"Iya sih, tapi mama takut nggak sesuai." ucap nyonya Lastri yang kekeh ingin memantau para pekerja yang sedang mendekor itu.
Tuan Ardi hanya geleng geleng kepala melihat tingkah sang istri, memang wanita itu sangat perfeksionis segala gela harus pas.
"Kakek.... " seru bocah laki laki yang sepertinya baru saja pulang sekolah, terlihat dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya.
"Hati hati sayang, jangan lari lari." dengan sigap tuan Ardi menyambut kedatangan cucunya itu.
"Hehehe... Maaf kek, habis sudah nggak sabar ke temu sama om Rangga." ucap Niko yang memang sejak kedatangan keluarganya saat itu, Rangga dan Kayla sering vidio call bersama keluarganya, apa lagi bocah laki laki itu yang sangat menyukai sang om.
"Mereka belum sampai." kekeh tuan Ardi mengacak rambut Niko, wajah bahagia Niko lansung berubah cemberut, saat tau om dan tantenya belum sampai.
"Yaaa..... Kirain sudah sampai, ternyata belum juga." jawab Niko dengan wajah lesunya.
"Sebentar lagi mereka sampai kok, sekarang kamu bersih bersih dan ganti baju dulu, jangan lupa makan siang." ujar tuan Ardi dengan nada lembut.
"Baik kek, aku kek kamar dulu ya." jawab Niko mematuhi perintah sang kakek.
Tuan Ardi yang melihat langkah lesu cucunya hanya geleng geleng kepala, "Nggak papa nggak Niko sama aja, nggak sabaran banget, mereka pikir jarak kota S dan kota J dekat apa." kekeh tuan Ardi geleng geleng kepala.
"Kenapa pa? " tanya nyonya Lastri yang sudah berada di samping sang suami.
"Tuh, lihat cucu mu, sama aja kaya papa." kekeh tuan Ardi.
"Sudah nggak sabaran ternyata." nyonya Lastri pun ikut terkekeh.
Bersambung.....
nah gt dong damai itu kan indah😍
semangat💪