NovelToon NovelToon
Legenda Naga Terkutuk

Legenda Naga Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Perperangan / Fantasi
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Amateurss

Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

senja

"Sial... mentang-mentang anak bangsawan Solgrin, dia berlagak seenaknya. Ingin sekali kutendang bokong gendutnya tadi," gumam Kenny gusar, masih terus mengumpat.

"Padahal mereka itu dari negeri sebelah dan cuma numpang belajar di sini, tapi tingkahnya benar-benar bikin muak!, Sialan!" lanjutnya sembari menendang kerikil di jalanan dengan kasar.

"Sudahlah, Ken. Tidak perlu berlarut-larut seperti itu," ujar Ursha'el tenang, mencoba meredam emosi Kenny sembari terus berjalan di sampingnya.

"Padahal kau yang anak angkat anggota dewan Paxvar saja tidak banyak tingkah. Bisa-bisanya dia berlagak sok hebat di negri orang," sahut Kenny yang raut wajahnya masih tampak sangat jengkel.

"Yah... begitulah. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Yang penting Luce tidak apa-apa. Iya kan, Luce?" Ursha'el menoleh ke arah Luce yang sedari tadi hanya terdiam seribu bahasa.

Luce tersentak kecil seolah baru tersadar dari lamunannya. "Eh? Hahaha! Iya, aku tidak apa-apa, kok!" jawab Luce dengan tawa renyah dan senyum lebar.

Ada keheningan singkat setelah tawa Luce mereda. Ada getir yang tertinggal dalam tawa itu, membuat suasana mendadak terasa canggung. Menyadari hal tersebut, Luce segera mengalihkan pembicaraan agar teman-temannya tidak terus merasa iba.

"Baiklah, aku pulang duluan ya. Ayo, Ken!" seru Luce sembari melangkah menuju kereta kuda yang terparkir di pinggir jalan. Kenny hanya bisa mengikuti langkah Luce masuk ke dalam kabin kereta.

"Sampai besok!" ujar Ursha'el, yang hanya dijawab dengan anggukan pelan dari balik jendela oleh kenny. Beberapa saat kemudian, kereta kuda itu mulai bergerak, meninggalkan kepulan debu tipis di belakangnya.

Vivi dan Ursha'el masih berdiri diam di tepi jalan, tepat di depan gerbang selatan akademi. Cahaya sore yang kian meredup memantul dari bebatuan besar tebing di seberang jalan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang sunyi.

"Ayo, Vi..." ajak Ursha'el sembari menarik lengan Vivi.

Vivi hanya mengikuti langkah Ursha'el dengan tatapan yang masih tampak melamun. Mereka berdua menaiki kereta kuda umum yang baru saja berhenti. Setelah duduk di bangku belakang yang kosong, kereta itu pun mulai melaju ke arah berlawanan, membawa mereka pulang di bawah langit senja yang mulai menggelap.

Keduanya diam dalam keheningan yang lumayan panjang. Pandangan Vivi menerawang jauh keluar jendela, memperhatikan kesibukan penduduk Paxvar yang mulai menutup toko dan bersiap pulang di penghujung sore.

Ursha'el memperhatikan profil wajah Vivi dari samping. Merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati sahabatnya itu, ia mencoba mencairkan suasana. "Hmm... ada yang berbeda, ya?" ujarnya pelan sembari menusuk-nusuk pundak Vivi dengan ujung jarinya.

Vivi tersentak, namun tak menoleh. "Entahlah, Ursha... aku sendiri merasa bingung," jawabnya lirih, sembari tetap mengarahkan pandangannya ke arah jalanan yang berlalu.

Ursha'el tertawa tipis, suara tawanya terdengar lembut di antara derap langkah kuda. "Wah... kau biasanya tidak pernah bingung setiap kali menceritakan perasaanmu padaku. Baru kali ini aku mendengarmu bilang begitu," Ursha'el menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai.

"Coba deh, ceritakan pelan-pelan saja kalau memang ada yang mengganggu pikiranmu," sambungnya dengan nada tulus, memberikan ruang bagi Vivi untuk bicara.

Vivi mengalihkan pandangannya pada Ursha'el sesaat, lalu kembali menerawang ke arah jalanan dengan hela napas panjang.

"Hah... gimana ya," gumamnya sembari menyandarkan punggung ke sandaran kursi kereta kayu. "Rasanya... aneh sekali."

Ursha'el menoleh sepenuhnya, memberikan perhatian utuh. "Aneh bagaimana?"

"Aku merasakan banyak hal yang... tidak biasa hari ini. Misalnya, soal ucapan Gideon tadi," jelas Vivi pelan. "Entah kenapa, saat dia mulai menghina Luce, aku merasa sangat muak. Jauh lebih muak dari biasanya."

Ursha'el tetap diam menyimak, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan segala isi pikirannya tanpa interupsi.

"Padahal aku sudah bertahun-tahun mengenal Luce. Biasanya aku hanya jengkel karena dia sering menjahili kita," lanjut Vivi. Jemarinya memainkan ujung jubahnya dengan gelisah. "Tapi setelah kejadian di kelas Alkimia tadi, aku jadi merasa sedikit... kagum. Lalu kau menceritakan masa lalunya, ditambah lagi melihat dia babak belur di lapangan pelatihan tadi... perasaanku jadi makin aneh. Aku... ah, entahlah, aku bingung menjelaskannya!"

Telinga runcing Vivi bergetar tipis, Ursha'el menangkap getar itu kemudian tersenyum simpul.

Ursha'el menopang dagu dengan telapak tangan hijau mudanya, menatap Vivi dalam-dalam dengan mata keemasan yang berkilat jenaka. Senyum tipis yang ia sunggingkan menampakkan ujung taring kecilnya yang khas.

"Aku yakin, kalau misalnya aku bertanya, 'Vi, kamu suka Luce?' kamu pasti bakal jawab 'nggak tahu', iya kan?" tanya Ursha'el dengan seringai jahil yang kentara.

Vivi tersentak, wajahnya memanas. "Eh... i-iya... mungkin..n-nggak tahu.." jawabnya gugup, yang memicu tawa tipis dari Ursha'el.

"Yah... hahaha! Jadi tidak perlu terburu-buru, Vi. Jalani saja dulu," ujar Ursha'el sembari menyilangkan tangan di dada, berlagak sok keren layaknya seorang pakar cinta profesional. "Bisa jadi kau hanya sekadar bersimpati, atau mungkin merasa iba dan kasihan. Nanti, kalau perasaanmu sudah benar-benar jelas, bicaralah sendiri padanya."

"Begitu, ya..." gumam Vivi lirih. Pandangannya kembali menembus jendela kereta, menatap sisa-sisa kesibukan kota yang perlahan meredup.

"Yap, begitulah..." sahut Ursha'el pendek. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua, namun kali ini terasa lebih ringan dan menenangkan. Tak lama kemudian, kereta kuda itu tersentak pelan seiring dengan tarikan tali kekang sang kusir.

"Pos Trotoar Baru!" teriak kusir dengan suara lantang, memecah kesunyian sore.

Ursha'el segera bangkit dari tempat duduknya dan merapikan jubahnya. "Ayo, aku duluan ya," pamitnya pada Vivi.

Vivi mengangguk pelan. Sebelum sahabatnya itu melompat turun, ia menatap Ursha'el dengan tatapan yang jauh lebih tenang. "Iya, hati-hati di jalan... dan juga, terima kasih banyak ya," ucapnya tulus, diakhiri dengan sebuah senyum hangat.

Ursha'el hanya mengangguk sembari membalas senyuman itu, lalu melompat turun dari kereta.

Sesaat kemudian, kereta kuda itu kembali berderap melaju, meninggalkan Ursha'el yang perlahan mengecil di kejauhan.

"Hei, Nona Elf, turun di mana?" tanya sang kusir dari balik kemudi, suaranya sedikit parau tertiup angin.

"Pelabuhan... Dermaga ke-21," jawab Vivi singkat.

"Wah... pos pemberhentian terakhir, ya?" sahut si kusir sembari memacu kudanya lebih cepat agar sampai sebelum malam benar-benar jatuh.

"Iya," jawab Vivi datar, suaranya hampir tertelan derap langkah kaki kuda.

Kini Vivi duduk sendirian di bangku belakang, terasa agak luas dan lebih sunyi setelah Ursha'el turun. Ia melayangkan pandangannya keluar, membiarkan matanya menangkap sisa-sisa cahaya langit senja yang memerah indah di cakrawala.

Tanpa ia sadari, sebuah senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya, menghiasi wajahnya yang biasanya tampak kaku dan serius.

1
MnyneSan
haishh slime pincang loh 🤭
MnyneSan
sumpah serasa masuk ke cerita waktu baca, aku pasti ketawa ngik ngok kalo disana🤣
MnyneSan
segila itu ya padahal cuma kotoran🤭tapi mengingat kata terkutuk udah pantas sih😅bisa aja deh authornya
MnyneSan
duh kok tiba-tiba bauu, ya?
MnyneSan
semangat thor
Amateurss: siap kakak 🙏
total 1 replies
MnyneSan
Aku suka gaya penulisan rapi dan tidak pasaran ini
MnyneSan
kalo pencampuran sama goblin berarti ayahnya goblin kan? atau ayah nya juga campuran atau emang wujud goblinnya itu kayak manusia gitu(tp hijau)?
Amateurss: masih terus di bab 6 , hehehe 😁
total 1 replies
anggita
ikut dukung ng👍like sama iklan☝saja.
Amateurss: terimakasih kala🙏🙏
total 1 replies
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏, pemula
Amateurss
kritik dan saran ges 🙏🙏..masih pemula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!