Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.
Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman Albert
Luciano berdiri di depan jendela kamar hotel itu, pandangannya menembus kaca yang memantulkan gemerlap kota. Bukan untuk menjauh dari Alana, melainkan menjauh dari dirinya sendiri. Ia mengepalkan tangan, menahan dorongan yang terlalu kuat untuk kembali mengurung, melindungi, memiliki secara berlebihan.
Ia sedang belajar menahan.
Belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti menggenggam sekuat mungkin.
Tanpa ia sadari, langkah pelan terdengar di belakangnya. Dan sebelum ia sempat menoleh, sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Pelukan itu hangat, lembut, dan datang tanpa paksaan.
“Aku belum bisa mencintai kamu, Luciano,” suara Alana terdengar dekat, jujur. “Tapi aku juga tidak membencimu. Dan aku akan berusaha untuk bisa mencintai kamu.”
Luciano membeku. Kata-kata itu sederhana, tapi menghantam lebih kuat daripada janji apa pun. Ia berbalik perlahan, lalu membalas pelukan itu dengan erat—bukan posesif, melainkan penuh rasa syukur.
“Terima kasih, Alana,” ucapnya lirih di puncak kepala gadis itu. “Itu lebih dari cukup untukku.”
Ia menarik napas panjang, lalu menambahkan dengan nada hati-hati, “Untuk sementara aku ingin membawamu tinggal di apartemen. Tidak rumah itu. Aku ingin kau merasa aman. Tidak apa-apa, bukan?”
Alana menggeleng pelan dalam pelukannya. Tidak ada penolakan di sana—hanya kepercayaan yang masih belajar tumbuh. Ia menutup mata, membiarkan dirinya berada di sana, dalam pelukan yang kali ini tidak mengurung.
****
Luciano tiba di kediamannya menjelang siang. Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah hangat, sebuah pemandangan yang jarang terjadi. Para anak buahnya menyambut dengan anggukan hormat, beberapa bahkan tersenyum samar. Mereka bisa merasakannya: aura tuan mereka berbeda hari ini.
Altair berdiri tak jauh dari pintu utama. Saat Luciano melewatinya, keduanya saling bertukar senyum singkat, sesuatu yang dulu hampir mustahil.
“Sepertinya kau jauh lebih ramah hari ini, Luciano,” ujar Altair santai, mengikuti langkahnya. “Berbeda sekali dari sebelumnya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Apa semalam kau dan Alana…?”
Kalimat itu menggantung di udara.
Luciano hanya menghela napas pelan, lalu duduk di sofa ruang keluarga. Ia menyandarkan punggung, menatap langit-langit beberapa detik sebelum menjawab.
“Kau tahu,” katanya akhirnya, suaranya tenang namun berat makna, “Alana sudah menerimaku. Tapi dia tidak ingin kembali ke rumah ini.”
Altair terdiam, memahami lebih dari yang diucapkan. “Lalu?”
“Alana akan tinggal di apartemen untuk sementara,” lanjut Luciano. “Tempat yang tidak menyisakan trauma baginya.”
Ia menoleh ke Altair, tatapannya kembali dingin tapi tegas, penuh otoritas. “Siapkan penjagaan ketat. Dua lapis. Aku ingin semua akses disaring.”
Altair mengangguk mantap. “Tidak ada yang mendekat tanpa izin.”
“Bukan hanya itu,” sambung Luciano. “Aku ingin laporan setiap jam. Jika ada yang mencoba mengikuti, memotret, atau sekadar mendekat dengan niat mencurigakan hentikan. Aku tidak peduli siapa.”
Altair tersenyum tipis. “Masih posesif,” komentarnya ringan.
Luciano tidak menyangkal. “Aku sedang belajar menahan diri,” katanya jujur. “Tapi satu hal tidak akan berubah, tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh Alana.”
Altair menepuk bahu Luciano singkat. “Kau mencintainya dengan caramu sendiri. Sekarang kau hanya perlu memastikan caramu tidak melukainya.”
Luciano terdiam, lalu mengangguk pelan.
“Dan Altair,” panggilnya sebelum pria itu pergi.
“Ya?”
“Terima kasih… sudah menghentikanku saat aku hampir kehilangan segalanya.”
Belum sempat suasana mereda, langkah tergesa terdengar dari arah lorong. Salah satu anak buah Luciano muncul dengan wajah tegang, napasnya masih tersengal seolah baru berlari jauh.
“Tuan,” ucapnya sambil menunduk hormat, “ada laporan mendesak.”
Luciano langsung menegakkan tubuhnya. Sorot matanya yang tadi hangat seketika berubah tajam. “Bicara.”
“Gudang senjata kita di hutan timur… diserang,” lanjut pria itu. “Pelakunya anak buah Albert.”
Nama itu menggantung di udara seperti ancaman.
Altair langsung mengumpat pelan. “Sial… akhirnya dia bergerak juga.”
Luciano berdiri perlahan. Tidak ada amarah meledak-ledak, tidak ada teriakan. Justru ketenangan yang berbahaya menyelimuti dirinya. “Korban?”
“Dua orang luka berat. Gudang rusak hampir setengah. Mereka menarik mundur setelah memastikan api menyebar di sisi barat,” jawab anak buah itu cepat. “Pesannya jelas, Tuan. Ini balasan karena Oliver.”
Rahang Luciano mengeras. Oliver. Nama itu membawa bayangan masa lalu—bukan penyesalan, tapi konsekuensi. Ia tahu, membunuh putra Albert berarti membuka perang yang selama ini hanya tertahan di permukaan.
“Albert tidak terima,” gumam Altair. “Kehilangan putra satu-satunya membuatnya nekat.”
Luciano melangkah menuju meja, telapak tangannya menekan permukaan kayu keras. “Dia menyerang asetku,” katanya datar. “Itu artinya dia siap kehilangan lebih dari sekadar gudang.”
Ia menoleh ke Altair. “Kirim tim ke hutan timur. Amankan sisa senjata. Tidak ada pengejaran dulu.”
Altair mengangguk, langsung memahami maksud itu. “Kau ingin memancingnya.”
“Tidak,” Luciano membalas dingin. “Aku ingin dia merasa aman dulu.”
Anak buah yang melapor menelan ludah. “Instruksi selanjutnya, Tuan?”
Luciano mengangkat wajahnya, tatapannya gelap dan penuh perhitungan. “Perketat semua penjagaan. Terutama apartemen Alana. Albert mungkin menyerang lewat jalur yang lebih kotor.”
Altair langsung bereaksi. “Aku akan pastikan tidak ada satu pun bayangan mendekatinya.”
“Bagus,” kata Luciano singkat. “Karena perang ini tidak boleh menyentuh dia.”
Ia berbalik, berjalan menuju jendela besar kediamannya. Di luar, langit Jakarta tampak tenang—terlalu tenang untuk badai yang sedang mengumpulkan kekuatannya.
“Albert memilih waktu yang salah,” ucap Luciano pelan, nyaris seperti bisikan. “Dan target yang salah.”
Altair tersenyum kecil. “Itu tugasku. Menjaga tuanku, bahkan dari dirinya sendiri.”
Ponsel Luciano bergetar di atas meja. Satu kali. Lalu berhenti.
Luciano melirik layar itu sekilas, berniat mengabaikannya—hingga ia melihat nama yang muncul.
Albert.
Altair ikut menoleh. “Itu dia.”
Luciano tidak langsung membuka pesan itu. Ia mengambil ponselnya perlahan, seolah memberi waktu pada dirinya sendiri untuk tetap tenang. Saat layar dibuka, sebuah pesan WhatsApp masuk tanpa basa-basi, tanpa salam.
Albert:
Kau pikir kematian Oliver cukup untuk membuatku diam, Luciano?
Luciano mendengus kecil. Ia membalas dengan singkat, dingin.
Luciano:
Putramu memilih jalan itu sendiri.
Balasan datang hampir seketika.
Albert:
Kau merenggut satu-satunya darah dagingku.
Sekarang aku akan merenggut apa yang paling kau jaga.
Altair langsung menegakkan tubuhnya. “Dia menyebut Alana,” katanya pelan, tapi penuh kewaspadaan.
Luciano tidak terlihat panik. Namun sorot matanya berubah gelap—jauh lebih berbahaya dari amarah biasa.
Pesan berikutnya masuk.
Albert:
Gudang di hutan timur hanya pembuka.
Ini perang, Luciano.
Dan aku tidak akan bermain bersih.
Jari Luciano mengencang menggenggam ponsel. Ia membalas satu pesan terakhir—tanpa ancaman berlebihan, tanpa emosi.
Luciano:
Jika kau menyentuhnya, Albert…
aku pastikan namamu lenyap dari peta.
Bukan hanya kau—seluruh garis keturunanmu.
Beberapa detik berlalu.
Lalu satu pesan terakhir masuk.
Albert:
Kita lihat siapa yang lebih dulu kehilangan segalanya.
Luciano mengunci ponselnya. Ruangan itu terasa lebih dingin.
Altair melangkah mendekat. “Apa langkahmu?”
Luciano mengangkat wajahnya, suaranya rendah dan mantap. “Albert ingin perang terbuka,” katanya. “Tapi dia lupa satu hal.”
“Apa itu?”
Luciano menatap lurus ke depan. “Aku selalu menang saat perang berubah menjadi pribadi.”
Ia berbalik. “Siapkan tim intel. Aku ingin semua pergerakan Albert. Rumah, jalur, orang-orang kepercayaannya. Sementara itu—”
Altair menyela, sudah tahu. “Alana dipindahkan?”
“Sekarang,” jawab Luciano tegas. “Gandakan pengamanan. Jika perlu, aku sendiri yang akan menjaganya.”
Di benaknya, wajah Alana terlintas. Senyumnya pagi tadi. Kepercayaan rapuh yang baru mulai tumbuh.
Dan Luciano bersumpah dalam hati. Siapa pun yang menjadikan Alana sebagai sasaran, tidak akan hidup cukup lama untuk menyesali pilihannya.
***