Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genggaman Di Tengah Keramaian
Setelah perjalanan sekitar 15 menit yang terasa sangat cepat, mereka akhirnya tiba di kafe titik kumpul dekat taman kota. Vino dan Dhea sudah menunggu di sana, berdiri di dekat motor Vino sambil bercanda-canda. Vino dengan jaket kulit hitamnya tampak begitu serasi bersanding dengan Dhea yang mengenakan dress merah muda cerah.
Saat melihat Misca dan Raya tiba bersama—Raya turun dari motor Misca dengan wajah yang sedikit memerah—Vino langsung menyeringai lebar dan bersiap melancarkan godaan.
"Akhirnya datang juga! Pasangan paling hits se-Wilayah Utara!" seru Vino dengan suara yang keras dan penuh kemenangan, tangannya bertepuk sambil tertawa.
Dhea yang tidak mau kalah langsung menghampiri Raya dengan wajah penuh kemenangan dan mata yang berbinar jahil. Ia menyenggol lengan Raya dengan sikutnya sambil berbisik—namun sengaja cukup keras agar Misca dan Vino bisa mendengar—"Ciyee... yang dijemput motor sport paling keren sewilayah utara! Gimana rasanya dibonceng 'pangeran es' kita, Raya? Romantis banget ya? Pasti deg-degan sepanjang jalan!"
Wajah Raya seketika memerah padam sampai ke ujung telinga. Ia langsung merasa seperti ingin menghilang atau tenggelam ke dalam tanah. Ia mencoba menghindari tatapan Dhea yang penuh godaan.
"Dhe, apaan sih..." protes Raya dengan suara yang gugup sambil membetulkan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm. "Cuma berangkat bareng kok. Biasa aja."
"Biasa aja?!" Dhea hampir teriak. "Raya, ini Misca yang kita bicarakan! Misca yang notabene tidak pernah—DAN AKU BILANG TIDAK PERNAH—ngajak atau ngantar cewek kemana-mana! Kamu itu istimewa, tau!"
Melihat situasi yang mulai membuatnya sangat tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian dan godaan, Misca yang berdiri agak kaku di samping motornya—masih dengan helm yang belum dilepas—langsung berdeham keras.
"Ehem!"
Suara itu cukup untuk membuat Vino dan Dhea sedikit mengurangi intensitas godaan mereka. Misca melepas helmnya dengan gerakan yang sangat slow motion—entah kenapa terlihat sangat cool—lalu menatap ketiga temannya dengan wajah yang tetap datar, namun ada sedikit—sangat sedikit—rona merah di ujung telinganya yang menandakan ia juga sebenarnya malu.
"Sudah, jangan buang-buang waktu," potong Misca dengan nada yang sangat pendek dan tegas, mencoba mengalihkan pembicaraan secepat mungkin. "Ayo langsung ke acaranya sekarang. Jeka sudah di sana duluan."
Mendengar perintah itu—atau lebih tepatnya permintaan yang dikemas dalam bentuk perintah—suasana candaan langsung mereda sedikit. Semua orang yang ada di sana, termasuk Vino yang biasanya paling berani, langsung mengangguk patuh. Meskipun Misca datang sebagai teman, bukan sebagai ketua wilayah, aura otoritasnya tetap tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
"Siap, Bos!" sahut Vino sambil merangkul Dhea dan mulai berjalan menuju motornya. Tapi sebelum mereka benar-benar pergi, ia sempat menoleh ke belakang dan mengedipkan mata nakal ke arah Misca—sebuah gestur yang mengatakan "Aku tahu apa yang sedang terjadi dan aku akan terus menggodamu tentang ini."
Misca hanya memutar bola matanya—sebuah ekspresi langka yang sangat jarang ia lakukan—lalu mengikuti dari belakang bersama Raya yang masih merasa wajahnya panas.
Mereka semua pun mulai bergerak meninggalkan kafe menuju lokasi festival di Alun-Alun kota yang hanya berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki dari kafe.
Sesampainya di Alun-Alun, suasana festival sudah sangat ramai dan meriah. Lampu-lampu warna-warni dipasang di sepanjang area, panggung besar di tengah sedang menampilkan band lokal yang cukup terkenal, stan-stan makanan berjejer rapi di sepanjang jalanan dengan aroma yang sangat menggugah selera, dan ratusan—mungkin ribuan—orang memadati area tersebut.
Anak-anak berlarian dengan balon dan mainan di tangan mereka. Pasangan-pasangan muda berjalan bergandengan tangan dengan mesra. Keluarga-keluarga duduk di tikar sambil menikmati makanan dan pertunjukan. Suara musik, tawa, obrolan, dan hiruk-pikuk khas festival memenuhi udara malam yang sejuk.
Di tengah lautan manusia itu, Misca yang biasanya lebih suka ketenangan dan kesunyian mulai merasa sedikit tidak nyaman. Kepalanya yang terbiasa dengan suasana sunyi dan terkontrol mulai terasa agak pusing menghadapi suara bising yang saling bersahutan dari berbagai arah dan kerumunan yang berdesak-desakan tanpa pola yang jelas.
Terlalu banyak gangguan yang tidak bisa ia kontrol. Terlalu banyak gerakan acak yang tidak bisa ia prediksi. Terlalu banyak suara yang mengganggu fokusnya.
Tanpa sadar, Misca merasa sedikit sesak—bukan secara fisik, tapi secara mental. Ia tidak suka berada di tengah situasi yang tidak bisa ia kendalikan atau kalkulasi seperti ini. Napasnya sedikit lebih pendek dari biasanya. Tangannya yang biasanya sangat tenang sedikit berkeringat.
Saat mereka sedang berjalan memasuki kerumunan yang semakin padat, Misca yang berjalan di depan sedang membukakan jalan bagi Raya yang ada di belakangnya. Tapi sekelompok anak muda yang sedang berlarian sambil membawa minuman nyaris menabrak Raya.
Secara spontan dan tanpa berpikir panjang—sebuah tindakan yang sangat tidak seperti Misca yang biasanya selalu kalkulatif—Misca bergerak mundur dan meraih tangan Raya.
Jari-jarinya menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat—tidak menyakitkan, tapi sangat kuat dan protektif. Seolah hanya dengan memegang tangan Raya, ia bisa tetap merasa tenang dan terkendali di tengah kekacauan yang membuatnya tidak nyaman ini.
Raya tersentak merasakan genggaman tiba-tiba itu. Ia melirik ke bawah, melihat tangan Misca yang jauh lebih besar menggenggam tangannya dengan erat. Kemudian ia melihat ke samping, menatap wajah Misca.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Misca, ia melihat ekspresi yang berbeda di wajah pemuda itu. Misca tampak sedikit tegang—tidak ketakutan, tapi tidak nyaman. Rahangnya sedikit mengeras, matanya bergerak cepat mengamati lingkungan sekitar dengan lebih waspada dari biasanya.
Genggaman tangan Misca terasa kuat, hangat, dan sangat... melindungi. Seolah ia sedang berkata tanpa kata: "Selama kamu bersamaku, tidak ada yang akan menyakitimu."
Raya merasakan dadanya menghangat. Ia membalas genggaman itu dengan lembut—mencoba memberikan rasa tenang yang mungkin diam-diam dibutuhkan Misca di tengah situasi yang membuatnya keluar dari zona nyamannya.
"Aku di sini, Mis," bisik Raya sangat pelan—hampir tidak terdengar di tengah kebisingan festival. "Kamu nggak sendirian."
Misca tidak menjawab. Tapi genggamannya sedikit melonggar—tidak melepaskan, tapi tidak se-erat tadi. Seolah kata-kata Raya berhasil menenangkannya sedikit.
Mereka terus berjalan menelusuri festival seperti itu—tangan bertautan, bergerak melewati kerumunan, sesekali berhenti di stan-stan yang menarik perhatian. Vino dan Dhea yang berjalan agak jauh di depan sesekali menoleh ke belakang dan saling berpandangan dengan senyum penuh arti, tapi mereka bijak untuk tidak berkomentar atau menggoda lagi.
Jeka yang sudah menunggu di area dekat panggung musik melihat mereka datang. Ia membetulkan kacamatanya, lalu tersenyum kecil saat melihat Misca dan Raya yang berjalan sambil bergandengan tangan.
"Akhirnya datang juga," sapa Jeka saat mereka mendekat. "Aku kira kalian nyasar."
"Macet," jawab Misca singkat sambil—akhirnya—melepaskan genggaman tangannya dari Raya. Tapi ada sedikit keengganan dalam gerakan itu, seolah ia sebenarnya ingin terus memegang tangan itu.
Raya merasakan tangannya tiba-tiba terasa dingin saat Misca melepaskan genggamannya. Ia hampir—hampir—ingin meraih tangan Misca lagi, tapi ia menahan dirinya.
Selama hampir satu jam berikutnya, mereka berlima—Misca, Raya, Vino, Dhea, dan Jeka—menjelajahi festival bersama-sama. Suasana yang tadinya sedikit canggung perlahan mulai mencair.
Mereka mengunjungi berbagai stan makanan. Vino, yang memang paling excited soal makanan, menarik semua orang untuk mencoba hampir setiap stan yang mereka lewati—mulai dari martabak manis dengan tiga rasa sekaligus yang ia bicarakan kemarin, sate taichan yang super pedas, es krim goreng yang unik, sampai takoyaki jumbo yang masih panas.
"Ini enak banget, Jek! Cobain deh!" seru Vino sambil menyodorkan sepotong martabak ke arah Jeka yang sedang sibuk membersihkan kacamatanya.
"Vin, kamu sudah makan lima stan berbeda dalam setengah jam. Perutmu itu tanpa dasar ya?" komentar Jeka sambil tersenyum geli, tapi tetap mengambil potongan martabak yang disodorkan.
Dhea tertawa sambil menyeka saus yang menempel di sudut bibir Vino dengan tissue. "Makanya aku bilang jangan kebanyakan makan dulu. Nanti kekenyangan."
Di tengah keramaian dan kehangatan persahabatan itu, Misca berdiri sedikit terpisah—mengamati semuanya dengan pandangan yang sulit dibaca. Ia tidak banyak bicara, tapi sesekali bibirnya terangkat sedikit saat melihat tingkah konyol Vino atau mendengar candaan Jeka. Itu adalah perasaan yang sangat asing baginya: ia berada di tengah keributan, namun merasakan ketenangan yang tidak terduga.
"Mis," suara Raya membuatnya menoleh. Gadis itu berdiri di sampingnya sambil memegang dua tusuk sate taichan di tangannya. "Kamu harus coba ini. Sate taichan. Rasanya unik—pedas tapi segar."
Raya menyodorkan satu tusuk ke arah Misca dengan senyum kecil yang sangat tulus—tanpa ada motif lain selain ingin berbagi sesuatu yang menurutnya enak.
Misca menatap sate itu sejenak, lalu mengambilnya dari tangan Raya. Jari-jari mereka sempat bersentuhan sekilas saat perpindahan sate itu, membuat Raya sedikit tersentak.
Misca menggigit sate itu perlahan. Rasa pedas langsung menyerang lidahnya—lebih pedas dari yang ia bayangkan. Tapi ada kesegaran dari bumbu kecap dan jeruk nipis yang membuatnya cukup enak. Ia mengunyah sambil menatap ke arah panggung di mana band sedang memainkan lagu slow rock yang cukup bagus.
"Pedas," komentar Misca dengan nada datar, tapi ia tetap menghabiskan sate itu sampai habis.
Raya tertawa kecil. "Iya, emang pedas. Tapi enak, kan?"
Misca mengangguk sekali—sebuah anggukan kecil yang hampir tidak terlihat, tapi bagi Raya sudah lebih dari cukup. "Lumayan."
"Mis," bisik Raya sambil mendekat sedikit agar suaranya tidak tenggelam dalam kebisingan. "Kamu harus coba ini juga. Martabak keju cokelat yang Vino beli tadi. Manis banget."
Raya menyodorkan sepotong martabak yang sudah ia ambil dari kotak yang dibawa Vino. Potongan itu cukup besar, dengan cokelat dan keju yang masih meleleh di atasnya—terlihat sangat menggugah selera meskipun sangat manis.
Misca menatap martabak itu dengan ekspresi ragu. Ia biasanya tidak terlalu suka makanan yang terlalu manis—lebih memilih kopi pahit atau makanan dengan rasa yang netral. Tapi ada sesuatu dalam cara Raya menawarkan dengan wajah penuh harap yang membuatnya tidak bisa menolak.
Ia mengambil potongan itu dan memasukkannya ke mulut. Rasa manis yang sangat kuat langsung memenuhi mulutnya—cokelat yang creamy bercampur dengan keju yang asin dan sedikit gurih. Kombinasi yang sebenarnya terlalu manis untuk seleranya, tapi... tidak seburuk yang ia kira.
"Manis," komentar Misca sambil mengunyah perlahan.
"Iya, emang manis banget. Tapi enak, kan?" Raya tersenyum lebar, senang melihat Misca mau mencoba.
Misca tidak langsung menjawab. Ia menghabiskan potongan martabak itu sambil menatap Raya yang sedang tersenyum dengan mata berbinar—mata yang terlihat sangat hidup dan penuh kehangatan di bawah cahaya lampu festival yang berwarna-warni.
"Lumayan," jawabnya akhirnya—kata yang sama seperti tadi, tapi kali ini ada nada yang sedikit lebih lembut di suaranya.
Raya merasa dadanya menghangat mendengar respons itu. Meskipun Misca selalu menjawab dengan kata-kata yang sangat minimal dan datar, entah kenapa Raya mulai bisa membaca nuansa-nuansa kecil di balik kata-kata itu. Dan nuansa kali ini... terasa hangat.
Mereka berdua berdiri di sana sejenak—di tengah hiruk-pikuk festival, dikelilingi ratusan orang yang bergerak kesana-kemari, tapi seolah ada gelembung tak kasat mata yang memisahkan mereka dari dunia luar. Sebuah momen kecil yang mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain, tapi sangat berarti bagi mereka berdua.
"Eh, Mis! Raya!" teriak Vino dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangannya. "Sini! Konsernya sudah mulai!"
Gelembung itu pecah. Misca dan Raya saling berpandangan sejenak, lalu berjalan menuju tempat Vino dan yang lainnya berkumpul—di dekat panggung tapi tidak terlalu depan, di posisi yang cukup strategis untuk melihat dengan jelas tapi tidak terlalu sesak.
Konser dimulai dengan lagu-lagu upbeat yang membuat banyak orang di kerumunan bergoyang dan bernyanyi bersama. Vino dan Dhea ikut bergoyang dengan semangat, Jeka mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama sambil sesekali bertepuk tangan, sementara Misca dan Raya berdiri agak di belakang—hanya mengamati dengan tenang.
Tapi kemudian, band mulai memainkan lagu yang lebih slow dan romantis. Banyak pasangan di kerumunan mulai berpelukan atau bergandengan tangan sambil menikmati lagu itu.
Raya melirik sekilas ke arah Misca yang berdiri di sampingnya. Pemuda itu menatap lurus ke panggung dengan ekspresi yang sama datarnya, tapi ada sesuatu yang berbeda. Mungkin karena cahaya lampu panggung yang berwarna-warni memantul di wajahnya, atau mungkin karena angin malam yang membuat rambutnya sedikit bergoyang, tapi Misca terlihat... berbeda. Lebih manusiawi. Lebih... tampan.
Raya merasakan wajahnya memanas dan langsung memalingkan pandangannya, berusaha fokus ke panggung.
Tapi kemudian, ia merasakan sesuatu menyentuh tangannya yang tergantung di samping tubuh. Sesuatu yang hangat dan kuat—sebuah tangan yang perlahan menggenggam tangannya dengan lembut.
Raya menoleh ke samping dengan terkejut. Misca masih menatap lurus ke panggung, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi—seolah ia tidak melakukan apa-apa. Tapi tangannya... tangannya sedang menggenggam tangan Raya dengan sangat lembut namun mantap.
Tidak seperti genggaman tadi yang kuat dan protektif saat mereka melewati kerumunan. Genggaman kali ini... berbeda. Lebih lembut. Lebih... personal.
Raya merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Ia menatap wajah Misca dari samping—mencoba membaca ekspresi di sana, mencoba memahami apa maksud dari tindakan ini. Tapi wajah Misca tetap sama datarnya, tidak memberikan petunjuk apa pun.
Apa ini hanya refleks? Apa ini karena Misca merasa tidak nyaman di kerumunan? Atau... apa ini benar-benar karena ia ingin memegang tangannya?
Raya tidak tahu jawabannya. Tapi yang ia tahu, tangannya perlahan membalas genggaman itu—jari-jarinya mengunci dengan jari-jari Misca dengan sempurna, seolah memang dirancang untuk saling menggenggam seperti ini.
Dan untuk beberapa menit berikutnya, mereka berdua berdiri seperti itu—bergandengan tangan di tengah kerumunan, mendengarkan musik yang mengalun lembut, menikmati kehadiran satu sama lain tanpa perlu kata-kata.
Vino yang kebetulan menoleh ke belakang untuk mengajak Misca dan Raya mendekat, melihat pemandangan itu. Ia langsung menyikut Dhea dengan pelan sambil mengedikkan kepala ke arah dua orang itu.
Dhea menoleh dan melihat Misca dan Raya yang bergandengan tangan. Matanya langsung membulat dan mulutnya terbuka lebar, tapi Vino dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan—mencegah Dhea berteriak atau berkomentar yang bisa merusak momen indah itu.
Mereka berdua hanya saling berpandangan dengan senyum lebar yang sangat puas—seolah rencana besar mereka untuk menjodohkan kedua orang itu mulai membuahkan hasil.
Jeka, yang berdiri di samping Vino, juga menyadari apa yang terjadi. Ia hanya tersenyum kecil di balik kacamatanya sambil menggelengkan kepala—senang melihat sahabatnya yang biasanya sangat dingin dan tertutup akhirnya mulai membuka hatinya untuk seseorang.