Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 17.
Malam itu berakhir tanpa jawaban.
Rangga tidak menceritakan apapun tentang pertemuannya dengan Dimas. Ia hanya memeluk Milea lebih lama dari biasanya, seolah sedang berpamitan diam-diam.
Dan Milea… merasakannya.
Ada sesuatu dalam pelukan Rangga yang berbeda. Bukan hangat, tapi berat. Seperti seseorang yang sedang memeluk karena takut kehilangan, bukan karena ingin memiliki.
Sejak malam itu, Rangga mulai menjaga jarak. Bukan dengan dingin, justru dengan sikap yang terlalu hati-hati.
Ia tidak lagi menyentuh Milea tanpa alasan, tidak lagi memeluk dari belakang. Tidak lagi bercanda ugal-ugalan seperti beberapa hari lalu. Senyumnya masih ada, tapi matanya selalu tampak menjauh.
Milea bukan perempuan bodoh. Ia tahu, ada tembok yang kembali dibangun Rangga. Perlahan, tapi pasti.
Dan reaksi Milea justru berlawanan.
Pagi-pagi saat Rangga hendak berangkat kerja, Milea tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Kenapa?” tanya Rangga kaku, karena Milea berinisiatif memeluknya lebih dulu.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawab Milea, wajahnya menempel di punggung Rangga. “Aku cuma mau memelukmu.”
Rangga menelan ludah. Tangannya terangkat ragu, lalu akhirnya menepuk tangan Milea pelan.
“Lea… aku harus segera pergi. Meskipun aku nggak banyak ngurusin kerjaan di perusahaan karena ingatanku yang terbatas, tapi aku tetap sibuk mengerjakan beberapa hal.”
Biasanya Milea akan segera melepaskan, tapi tidak hari itu.
“Aku ikut,” katanya ringan.
Rangga menoleh cepat. “Ke kantor?”
“Iya.”
“Kamu kan kerja.”
“Aku bisa izin.”
“Hari ini nggak bisa, kamu harus ngerti." Rangga tetap menolak.
Setiap tatapan Milea mengingatkannya pada Radit. Setiap mata itu menatapnya, dadanya terasa diremas.
Aku nggak pantas bahagia, dengan jantung adikku.
Rangga membuat keputusan paling bodoh yang bisa ia pikirkan. Jika Milea membencinya… maka ia akan pergi tanpa benar-benar menghancurkan wanita itu.
Rangga menghubungi satu nama yang sejak awal seharusnya ia hindari, Jenny. Mereka bertemu di sebuah kafe, tak jauh dari apartemen Jenny.
“Aku nggak nyangka kamu yang ngajak ketemu,” ujar Jenny sambil menyilangkan kaki. “Istrimu tahu?”
Rangga menggeleng. “Nggak.”
Jenny menatapnya lama. “Kamu kelihatan… bingung.”
“Aku butuh bantuan,” ucap Rangga tanpa basa-basi.
Jenny mengangkat alis. “Bantuan apa?”
Rangga menghela napas panjang. “Aku mau Milea membenciku.”
Kalimat itu membuat Jenny terdiam.
“Kamu bercanda?”
“Aku serius.”
“Kenapa?”
Rangga menggenggam gelasnya erat. “Karena aku nggak pantas buat dia.”
Jenny tersenyum tipis, getir. “Kau selalu merasa begitu, bahkan saat bersamaku dulu. Kau terlalu... menjaga jarak.“
Rangga tak menjawab, karena dia masih belum mengingat hubungannya dengan Jenny di masa lalu. “Aku mau kamu pura-pura selingkuh sama aku.”
Jenny terpaku. “Apa?”
“Biar Milea muak padaku, biar dia ninggalin aku.”
Jenny tertawa kecil, tidak percaya. “Kamu gila.”
“Mungkin.”
“Dan kamu pikir aku mau?”
Rangga menatap Jenny tanpa fokus, sorot matanya hampa seolah memikul beban yang terlalu berat. “Aku mohon, dia tidak akan pernah benar-benar bahagia bersamaku. Aku sudah terlalu banyak melukainya. Jika aku tetap di sisinya dengan rasa bersalah seperti ini… suatu hari nanti, justru aku akan menghancurkannya.”
Keheningan panjang terjadi.
Jenny akhirnya bersandar, menghela napas. “Kamu tahu… kamu ini menyebalkan sejak dulu.”
“Maaf.”
“Tapi aku juga tahu, kamu bukan orang jahat.”
Jenny terdiam sejenak, lalu berkata, “Baiklah.”
Rangga menatapnya tajam. “Apa?”
“Aku bantu, hanya kali ini.”
Rangga mengangguk. “Terima kasih.”
Jenny tersenyum tipis. “Jangan ucapkan terima kasih dulu. Aku ingin kau jujur, apa alasanmu melakukan semua ini pada Milea? Aku tidak ingin melukai hatinya, aku juga perempuan. Dan aku pernah merasakan sakit itu... olehmu.”
Rangga terdiam sejenak. Lalu, akhirnya ia bercerita. Tentang pernikahannya dengan Milea, tentang sikap dingin yang pernah ia tunjukkan, hingga kecelakaan yang merenggut ingatannya. Ia juga mengungkap fakta yang baru ia ketahui tentang Radit, dan kematian adiknya itu.
Jenny mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan, namun setelah lama terdiam ia menarik napas panjang dan mengangguk pelan. Pada akhirnya, ia setuju membantu Rangga.
Namun Rangga tidak tahu satu hal, setelah pertemuan itu Jenny melakukan sesuatu yang lain.
Ia menemui Milea.
Usai berpisah dari Rangga di kafe, Jenny dan Milea bertemu. Jenny menceritakan rencana Rangga apa adanya. Anehnya wajah Milea tetap tenang saat mendengarnya, seakan wanita itu sudah menyiapkan dirinya untuk kenyataan apa pun.
“Dia memintaku berpura-pura menjadi selingkuhannya, dan aku setuju. Rangga juga sudah bilang padaku… dia kehilangan ingatannya.”
Milea hanya terdiam, menyimpan perasaannya sendiri. Lalu, dia mengangguk pelan. “Jadi begitu. Aku tahu Rangga sedang berusaha menjauh dariku, aku cuma nggak tahu caranya.”
Jenny menatap Milea dengan terkejut. “Kamu… nggak marah?”
Milea tersenyum tipis. “Aku marah, tapi lebih daripada itu... aku merasa sedih karena sepertinya dia melakukan ini karena merasa tak percaya diri.”
“Jadi… apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Jenny pelan. “Aku mendengar dari Rangga, dia sudah mengetahui semuanya tentang kematian Radit. Seorang pria bernama Dimas yang menceritakan padanya, dia sahabat Radit.”
Milea menghela nafas, “Aku mau lihat sejauh apa dia mau menghancurkan dirinya sendiri. Dan aku mau dia tahu… aku nggak akan pergi darinya meski dia mendorongku seperti dulu dengan bersikap dingin padaku.”
Jenny menghela napas panjang. “Kalian sama-sama keras kepala.”
Milea tersenyum kecil. “Kami memang pasangan serasi, bukan?”
Hari yang direncanakan pun tiba.
Rangga sengaja bersikap ramah pada Jenny di kantor tempat Milea bekerja saat menjemput istrinya itu. Ia berdiri di lobby berbincang ringan dengan Jenny, ingin memastikan semuanya terlihat wajar sambil menunggu Milea menyelesaikan pekerjaannya.
Namun ketika Milea akhirnya datang dan mendekat, tak ada amarah di wajahnya. Tatapannya datar, tanpa emosi apa pun membuat Rangga justru merasa gelisah.
“Aku sudah ada janji dengan seorang teman, kamu pulang saja lebih dulu.” Kalimat itu diucapkan Milea dengan tenang, tapi terasa dingin.
Rangga tersentak, namun ia mengangguk tanpa bertanya apapun.
Rangga, kamu nggak pandai berpura-pura.
Milea benar-benar pergi, ia membiarkan Rangga lebih dulu kembali ke rumah dan membiarkan pria itu tenggelam dalam kegelisahan yang ia ciptakan sendiri.
Rangga duduk di ruang tamu dengan kemeja kusut melekat di tubuhnya, tangannya gemetar sejak tadi. Setiap detik terasa seperti vonis yang tertunda.
Ia yakin saat Milea pulang, wanita itu akan menangis. Ia yakin Milea akan marah, ia bahkan siap jika Milea menamparnya.
Namun hingga waktu menunjukkan pukul 10 malam, Milea tak juga pulang. Perlahan, kegelisahan menyusup ke dada Rangga.
Ke mana dia?
Tangannya sudah menggenggam ponsel, berniat menelepon Milea. Namun sebelum layar benar-benar menyala, ia mengurungkan niat itu.
“Tidak! Kalau aku menghubunginya sekarang, sandiwara ini akan sia-sia. Aku harus terlihat mengabaikannya… supaya dia benar-benar membenciku.”
Tekadnya mengeras, meski malam itu ia sama sekali tak bisa memejamkan mata. Pikirannya dipenuhi bayangan Milea, dan rasa cemas yang tak mau pergi.
Sementara itu, Milea tengah duduk santai di sofa ruang tamu Jenny. Kedua perempuan itu saling berpandangan beberapa detik, sebelum akhirnya tertawa bersamaan.
“Kau tahu,” ujar Jenny dengan senyum jahil, “Aku punya ide supaya suamimu kapok.”
Milea mengangkat satu alis. “Katakan dulu. Kalau menarik, baru aku pertimbangkan.”
“Buat dia cemburu, dan takut kehilanganmu. Lebih besar dari rasa bersalahnya padamu... maupun pada Radit.”
Mata Milea seketika berbinar. “Kedengarannya… menarik.”
“Kau punya teman pria yang bisa diajak bersandiwara?” tanya Jenny.
Milea menggeleng pelan.
“Aku punya teman, biar aku yang minta dia membantumu. Bagaimana?”
Milea terkekeh. “Asal jangan sampai kelewat batas, jangan sampai dia malah baper dan jatuh cinta padaku.”
Jenny mendengus ringan. “Kau narsis juga, pantas saja kau cocok dengan Rangga.”
Mereka kembali tertawa, dan sandiwara Milea akhirnya resmi dimulai.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌