Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 KHSC
Juna dan Nares duduk di kursi belakang mobil mewah Juna, meluncur cepat menuju kawasan elit di mana Gunawan Bhaskara tinggal. Malam itu dingin, tetapi ketegangan di antara mereka lebih terasa daripada suhu udara.
Juna mengenakan jas hitam, ekspresinya kembali pada mode CEO yang kaku—namun kali ini, kekakuannya adalah perisai, bukan tembok. Di sampingnya, Nares memegang tas tangan yang berisi bukti-bukti kejahatan Gunawan.
“Kau yakin tidak mau menunggu Rio, Juna? Kita bisa melibatkan tim pengacara,” tanya Nares, khawatir.
“Tidak perlu, Nareswari. Aku ingin menanganinya sendiri. Aku ingin dia melihat bahwa aku tidak lagi takut pada trik kotornya. Rio akan siaga di luar rumahnya, dan dia akan menghubungi polisi jika kita tidak keluar dalam satu jam,” jawab Juna.
Nares mengangguk, terkesan dengan keberanian Juna. “Kau tahu, kau terlihat sangat menawan saat menjadi pahlawan yang melindungi kebenaran.”
Juna tersenyum tipis, meraih tangan Nares. “Aku tidak akan menjadi pahlawan tanpa kau yang menunjukkan jalan kebenaran.”
Setibanya di rumah Gunawan, mereka dipersilakan masuk oleh asisten rumah tangga yang terlihat gugup. Rumah Gunawan sangat besar, tetapi terasa dingin dan kosong, kontras dengan kehangatan sederhana yang baru saja mereka bangun di Raja Ampat.
***
Gunawan Bhaskara duduk di kursi kerjanya yang besar, memegang segelas whisky mahal. Ia tidak terkejut melihat kedatangan Juna dan Nares.
“Arjuna. Kau sudah kembali dari bulan madu, tampaknya kau sudah menemukan keberanian baru,” kata Gunawan sinis.
Juna berdiri tegak di depan meja Gunawan, Nares berdiri sedikit di belakangnya.
“Aku datang untuk memberimu dua pilihan, Paman,” kata Juna, suaranya datar dan tajam. “Pilihan pertama: Kau segera mengundurkan diri dari dewan direksi Bhaskara Corp, menyerahkan semua sahammu, dan aku tidak akan menyerahkan bukti-bukti ini ke polisi.”
Gunawan tertawa. “Bukti apa yang kau miliki, Anak muda? Ancaman kosong?”
Nares melangkah maju, meletakkan tas tangannya di atas meja. Ia mengeluarkan setumpuk dokumen dan beberapa flash drive.
“Bukti ini mencakup laporan audit palsu Proyek Pulau Seribu, kuitansi fiktif kompensasi penduduk lokal, dan transfer dana ilegal ke perusahaan cangkang yang Anda kendalikan. Kerugian perusahaan mencapai puluhan miliar, Paman Gunawan. Dan kerugian sosialnya tidak ternilai harganya,” Nares menjelaskan dengan suara yang mantap.
Wajah Gunawan memucat. Ia meraih gelasnya, tangannya sedikit gemetar. Ia tidak menyangka Nareswari, gadis yang ia anggap remeh, adalah yang menemukan kelemahannya.
“Ini… ini semua fitnah! Kau hanya mencoba menjebakku, Arjuna!” seru Gunawan.
“Fitnah? Rio memiliki salinan ini, dan jika kau tidak setuju dengan pilihan pertama, maka kau harus menghadapi pilihan kedua: menghabiskan sisa hidupmu di penjara, Paman. Pilihlah dengan bijak,” kata Juna, tidak memberikan ruang negosiasi.
Gunawan menatap Juna dan Nares secara bergantian. Ia menyadari, Juna yang sekarang jauh lebih berbahaya daripada Juna yang dulu. Juna yang ini memiliki hati nurani, yang dipandu oleh Nares.
***
Gunawan tahu ia telah kalah dalam permainan korporat. Tapi ia adalah pria yang tidak menerima kekalahan begitu saja. Ia memutuskan untuk menyerang kelemahan Juna yang paling rentan: Nares.
Gunawan tersenyum jahat. “Kau menang, Arjuna. Aku akan mengundurkan diri.”
Juna sedikit terkejut, tetapi tetap waspada. “Bagus. Rio akan mengirimkan dokumen pengunduran diri besok pagi.”
“Tunggu dulu, Arjuna. Kau menang dariku, tetapi kau tidak tahu siapa istri yang kau ambil. Apakah kau sudah menyelidiki latar belakangnya?” Gunawan menatap Nares dengan pandangan meremehkan.
Nares menegang.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Paman,” peringatan Juna.
“Aku tidak mengalihkan. Aku hanya bertanya. Kau tahu dia dibesarkan di panti asuhan, kan? Kau tahu dia tidak punya keluarga sejati, kan? Dia yatim piatu. Tapi tahukah kau mengapa dia ada di panti asuhan itu? Aku melakukan sedikit penyelidikan,” kata Gunawan, matanya memancarkan kepuasan.
Nareswari menutup matanya, merasakan ketakutan dingin menjalari tubuhnya. Ia tahu Gunawan akan menemukan masa lalu yang telah ia kubur dalam-dalam.
“Ibunya adalah seorang wanita tunasusila di daerah kumuh, Arjuna. Dan ayahnya… Ayahnya adalah seorang kriminal yang meninggal di penjara karena kasus narkoba,” Gunawan mengucapkan kalimat itu dengan suara keras dan penuh penghinaan.
Juna membeku. Ia menoleh ke Nares, mencari konfirmasi. Wajah Nares pucat pasi, matanya berkaca-kaca. Gunawan telah menghantam Nares tepat di titik yang paling menyakitkan: asal-usulnya yang memalukan, alasan mengapa ia selalu menyembunyikan masa lalunya.
“Ini bohong!” seru Nares, suaranya bergetar.
“Itu fakta, Nareswari. Aku punya dokumennya. Aku punya foto ibumu, dan surat kematian ayahmu. Kau tidak pantas berada di Bhaskara Corp. Kau tidak pantas menjadi Nyonya Bhaskara. Kau adalah anak pelacur dan kriminal!” Gunawan menyeringai.
Nares terisak, jatuh berlutut, semua keberaniannya lenyap. Ia merasa seluruh benteng dirinya hancur.
***
Juna tidak bergeming. Ia hanya menatap Gunawan dengan pandangan yang paling dingin dan mematikan yang pernah Nares lihat.
Lalu, Juna berlutut di samping Nares, merangkulnya erat-erat, membiarkan Nares menangis di bahunya. Juna memeluk Nares dengan perlindungan mutlak.
“Aku tahu kau adalah pria yang menyedihkan, Paman Gunawan. Tapi aku tidak menyangka kau akan jatuh serendah ini,” kata Juna, suaranya rendah dan penuh bahaya.
Juna mendirikan Nares, lalu memegang wajah Nares, mengusap air matanya. Juna menoleh ke Gunawan.
“Dengarkan baik-baik, Paman. Aku tidak peduli siapa ibu atau ayah Nareswari. Aku tidak peduli dari mana dia berasal. Yang aku peduli adalah siapa dia sekarang”
“Nareswari Kirana adalah wanita yang mengajariku tentang kejujuran, integritas, dan cinta sejati. Dia membersihkan Bhaskara Corp dari sampah seperti Anda. Nareswari Kirana adalah istri sah saya, Nyonya Bhaskara yang baru, dan dia jauh lebih berharga daripada semua saham yang pernah ada di keluarga ini.”
Juna memeluk Nares di hadapan Gunawan. “Aku menikahinya bukan karena masa lalu atau keluarganya, tetapi karena hatinya. Dan jika kau berani menyebarkan kebohongan kotor ini, aku tidak hanya akan mengirimmu ke penjara. Aku akan menghancurkan hidupmu.”
Juna mengambil dokumen-dokumen itu, lalu menarik Nares keluar dari ruangan itu tanpa melihat ke belakang.
***
Di dalam mobil, Nares terus menangis, isakannya pecah.
“Juna… aku minta maaf… aku seharusnya memberitahumu. Aku tahu ini akan merusakmu. Ini adalah aib keluarga,” kata Nares di sela tangisnya.
Juna memeluk Nares erat, mencium puncak kepalanya.
“Hei. Lihat aku,” Juna mengangkat wajah Nares. “Kau dengar aku? Tidak ada yang bisa merusakku. Tidak ada yang bisa membuatku malu. Kau adalah istriku. Masa lalu keluargamu adalah masa lalu. Itu tidak mendefinisikanmu.”
“Aku takut. Aku takut kau akan meninggalkanku. Aku takut kau akan malu,” bisik Nares.
“Aku mencintaimu, Nareswari. Aku sudah memilihmu. Aku tidak akan pernah malu padamu. Jika ada yang harus malu, itu adalah Gunawan, yang menggunakan masa lalu untuk menyerang kepribadianmu yang mulia,” kata Juna.
Nares bersandar di bahu Juna, merasa aman. Juna membelainya lembut.
“Mulai sekarang, kita akan membangun benteng kita bersama. Benteng yang tidak akan pernah bisa dirobohkan oleh rumor atau masa lalu. Aku akan menjadi pelindungmu,” janji Juna.
Mereka tiba di penthouse. Juna memeluk Nares saat mereka masuk. Nares merasa lega, Juna tidak meninggalkannya. Loyalitas Juna mutlak. Mereka kini lebih kuat.
Bersambung....