Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!
Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.
Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.
Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.
Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.
"Apa kamu adalah kak Niko?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
*
*
Lara menjerit. Melempar amplop berisi puluhan foto suaminya yang sedang bersama seorang perempuan muda. Ya, perempuan. Bukan sekertarisnya, karena Satria tidak pernah memasukkan sekertaris perempuan kedalam jajaran staf nya. Pasti selalu pegawai laki-laki yang dia pilih sebagai staf terdekat untuk mengurus segala jadwal dan pekerjaannya.
Rupanya kini dia sudah mulai berani juga bermain-main. Dari sekian tahun kebersamaan mereka, baru kali ini seorang Satria berani menggandeng seorang perempuan berjalan di keramaian. Pasti perempuan itu sangat spesial untuk suaminya sehingga dia punya keberanian semacam itu.
Dan lihat, perempuan itu lebih muda darinya. Bahkan terlihat seperti keponakannya.
Apakan ini yang menyebabkan dia menjadi lebih dingin dari biasanya?
Suaminya itu memang sudah seperti itu sejak mereka menikah. Tapi tak pernah mengacuhkannya sedikitpun. Satria selalu memperlakukannya dengan baik, layaknya seorang suami kepada istrinya.
Satria selalu berusaha memenuhi segala keinginannya. Memberikan segala yang dia butuhkan. Tak pernah memandangnya rendah walaupun Satria tahu, dirinya bukan dari tempat pria itu berasal.
Satria menemukannya ketika Nikolai senior kena serangan jantung saat menghadiri rapat penting di sebuah hotel Jakarta. Lara yang waktu itu telah menyelesaikan urusannya dengan klien yang melakukan pertolongan pertama di lift saat ayahnya itu pingsan.
Karena rasa syukur dan hutang Budi yang mendalam, Nikolai meminta putra satu-satunya itu untuk menikahi Lara, sebagai rasa terimakasihnya. Yang tanpa bisa di tolak oleh Satria. Mengingat jasa besar dari perempuan itu yang telah menyelamatkan ayahnya.
*
*
Lara mendesah frustasi. Kalau sudah begini, dia pasti akan sulit untuk kembali merayu Satria untuk memperbaiki hubungan mereka yang memang sudah kacau sejak beberapa tahun ini.
Kacau karena dirinya yang goyah. Berani bermain api dibelakang suaminya. Mencari kesenangan dari pria-pria yang ditemuinya di tempat liburan yang sering dia kunjungi untuk melepas penat.
Dia bosan karena hidupnya yang beberapa tahun ini terasa monoton. Hidup bergelimang harta tak mampu membuatnya selalu bahagia. Kadang Lara merasa kesepian karena sering ditinggal pergi oleh suaminya yang memiliki usaha dimana-mana.
Apalagi setelah Satria diserahi tanggungjawab penuh oleh ayahnya untuk memegang semua perusahaan yang dimiliki keluarganya, pria itu terasa semakin menjauh. Tak ada lagi kebersamaan yang pernah dibangun antara mereka berdua.
Walaupun pernikahan ini bukan atas dasar cinta dari keduanya, tapi setidaknya dulu Satria selalu berusaha menjadi suami yang baik. Menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya.
Tapi semuanya berubah saat Satria telah memegang kendali penuh atas perusahaan ayahnya. Pria itu jadi jarang dirumah. Lebih banyak menghabiskan waktunya diluar kota, menyelesaikan pekerjaannya. Yang lama kelamaan hal itu membuat Lara akhirnya tak tahan.
Jiwanya yang memang sudah menjadi petualang di awal membuatnya mencari kesenangan diluar. Dan dari sinilah semuanya bermuara. Suaminya semakin menjauh ketika berbagai skandal perselingkuhan akhirnya terkuak.
Meminta berpisah tidak mungkin karena hidupnya sangat tergantung kepada Satria. Terlebih lagi, Nikolai senior selalu menentang niat Satria untuk berpisah darinya. Membuat posisinya masih aman.
Tapi dia tak rela mengetahui suaminya telah menemukan pelarian. Lara takut posisinya akan segera tergeser. Dia menyadari, banyak alasan kuat bagi Satria untuk segera mendepaknya dari kehidupan pria itu.
Dan itu tak boleh terjadi. Dirinya harus segera berhenti bertualang, dan segera menyelamatkan pernikahannya. Bagaimanapun caranya akan dia lakukan.
*
*
*
Satria memejamkan matanya. Memijit pelan pangkal hidungnya. Rasa lelah yang teramat sangat menderanya. Pekerjaannya begitu banyak hari ini.
Setelah meninjau lokasi tambang minyak baru di sebuah pelosok, dia harus segera terbang kembali ke Jakarta. Menyelesaikan tandatangan dokumen penting demi melancarkan segala urusan perizinan untuk setiap proyek pembangunan yang akan segera dikerjakan bawahannya.
Dia bukan orang yang senang berpangku tangan. Bahkan untuk meninjau lokasi pun sering dia lakukan sendiri. Walaupun memiliki banyak staf yang pastinya bersedia melakukan hal itu untuknya, tapi Satria lebih senang melakukannya sendiri agak lebih meyakinkan dirinya.
"Jadwal saya sore ini apa?" Satria kepada sekertarisnya, Arfan.
"Sore ini jadwal bapak kosong. Bapak bisa istirahat untuk bersiap-siap meeting besok pagi di Hotel Marriot, pak. Ada kolega dari Dubai untuk proyek tambang minyak kita yang baru." jawab Arfan, dengan jelas.
"Oke. Kalau begitu saya mau pulang." ucapnya, seraya bangkit dari kursi kebesarannya. Melangkahkan kaki panjangnya keluar ruangan.
Arfan mengangguk. Dengan segera dia menelfon sopir pribadi bosnya untuk segera bersiap.
Mobil Alphard hitam milik Satria sudah terparkir tepat saat pria itu sampai di depan pintu masuk. Tanpa banyak bicara, Satria langsung masuk dan duduk di kursi penumpang. Kembali menyandarkan punggung lebarnya ke sandaran kursi.
"Kita ke Bandung, pak Amir." perintahnya kepada sang sopir, yang langsung dibalas anggukkan tanda mengerti.
Sesaat kemudian pria itu merogoh ponsel di saku jasnya. Mencari nomor dan menekan tombol berwarna hijau.
Setelah beberapa detik telfon tersambung.
"Hallo?" suara yang amat dirindukannya terdengar dari seberang sana.
"Bersiaplah, saya sore ini sedang jalan ke Bandung." katanya.
"Iya pih." jawab dari seberang lagi.
"Sofia?" katanya, tiba-tiba detak jantungnya terasa tak beraturan.
"Iya?"
"Saya kangen." katanya.
Hening.
"Sofia?" panggilnya,
"Iya pih?"
"Saya kangen." katanya lagi.
"Fia juga kangen papi." jawaban dari seberang, yang tampaknya merupakan jawaban yang ingin didengar Satria. Terlihat dari senyum yang baru saja terbit di sudut bibirnya.
"Sampai ketemu di hotel." ucapnya, lalu mengakhiri panggilan.
*
*
Perjalanan dari Jakarta ke Bandung memakan waktu kurang lebih dua jam. Kebetulan setelah keluar dari tol, jalanan kota tidak terlalu macet pada hampir malam itu. Mobil hitam milik Satria segera meluncur ke hotel biasa tempat pria itu menghabiskan waktunya bersama Sofia.
"Kamu dimana?" Satria segera menelfon Sofia sesaat setelah dirinya tiba di suitroom miliknya.
"Ini udah keluar lift," jawab perempuan itu. Yang agak tergesa, terdengar dari suara napasnya yang terengah-engah.
"Jangan lari-lari, Sofia!!" Satria dengan nada khawatir.
Terdengar kekehan dari seberang sana. Kemudian telfon diakhiri.
Dua menit kemudian, terdengar pintu terbuka dari luar. Terlihat kepala Sofia menyembul dari balik pintu, meneliti ruangan itu. Senyumnya tersungging manakala menemukan sosok menjulang tinggi itu yang tengah berdiri tegap di dekat jendela besar yang belum ditutup tirai.
Satria membalikkan badan, dan balas tersenyum ketika menemukan wajah cantik yang dua Minggu ini berputar-putar di kepalanya.
Pria itu merentangkan tangannya, dan Sofia setengah berlari menghambur ke pelukan pria yang juga dua Minggu ini dirindukannya.
Rindu.
Ah, ... hal konyol apalagi ini? Rindu katanya. Rindu uangnya? atau rindu orangnya? Dia tak mampu membedakannya. Karena rasanya sama saja. Sofia membutuhkan uang dari pria itu, tapi juga sangat merindukan sosoknya yang selalu membuatnya nyaman ketika bersama dia.
Terserah lah apa namanya. Yang pasti saat ini dirinya telah menikmati pelukan hangat sang papi, menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang sangat disukainya. Yang sudah menjadi semacam aromatherapy bagi tubuh dan otaknya yang lelah karena pekerjaan menguras tenaga di gym.
"Kamu sehat?" selalu kata itu yang keluar pertama kali.
Sofia mendongak, kemudian mengangguk sambil tersenyum, "Sehat. Papi sendiri gimana?"
"Saya sehat. Berkat doa kamu saya selalu sehat." jawabnya, kembali menenggelamkan wajah tirus itu di dada bidangnya.
Sofia menggerak-gerakan kepalanya di dada Satria. Seperti anak kucing yang sedang bermanja pada tuannya. Membuat pria itu tergelak.
"Kamu sepertinya harus menelfon orangtua kamu kalau malam ini ada kerjaan lembur." Satria menyeringai.
"Udah." Sofia yang masih menyurukkan wajahnya di dada bidang Satria.
"Oh ya?" pria itu terkekeh, meraup wajah yang dari tadi terbenam di dadanya.
Sofia mengangguk dengan wajah yang merona tersipu.
"Gadis pintar!" pujinya, yang kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibir tipis Sofia. Membuat kedua pipi perempuan itu semakin merona.
*
*
Bersambung....