Sequel Jodoh Pilihan Allah
~Aku mencintaimu karena Allah, aku menikahimu Karena Allah, Semoga Karena Allah pulalah kita berpisah~
Shafa Azura & Zidane Ar-Rayyan pasangan fenomenal dengan kisah cintanya yang unik dan menginspirasi. Namun, sebuah tragedi terjadi, memaksa mereka terpisah. Apakah itu ujian? Atau garis takdir yang harus mereka jalani.
Mampukah Shafa bertahan dengan penantian dan cintanya kepada Rayyan?
Jangan tanyakan sampai kapan aku menunggu, Karena aku di takdirkan untuk menunggu dan kau di takdirkan untuk kembali~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah Pulang
Ruangan yang tadi nampak sedikit riuh kini berubah menjadi tenang setelah kedatangan Rayyan yang tiba-tiba memeluk Am. Dua orang wanita yang tengah menangis di sebuah sofa di ruangan itu pun ikut terkejut saat mendengar suara yang memanggil nama Am berulang-ulang.
"Ra...Rayyan?" Ibu mendekat, menyentuh bahu pria berkaos hitam tersebut. Tidak ada sahutan, Andi hanya menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia juga bingung, di satu sisi ia sudah mengetahui namanya tapi di sisi lain dia masih belum mengingat siapa-siapa orang terdekatnya, kecuali Am dan Shafa yang wajahnya sudah ia kenali sebelumnya.
"YA ALLAH... RAYYAN ANNAK KU!!!" Ibu menjerit histeris begitu melihat wajah Andi dia langsung memeluknya dan menangis sejadi-jadinya.
"Rayyan, kamu pulang nak... Kamu pulang... Hu...hu..hu... Kamu masih hidup nak" Ucap ibu di sela-sela tangisnya. Andi yang bingung tak bisa menjawab ia hanya bisa merasakan nyaman pelukan seorang ibu yang kini tengah menangis seperti anak kecil. Ia tak berani menatap mata wanita di depannya, ada perasaan sayang yang begitu dalam yang ia rasakan untuk wanita itu.
"Ini ibu nak, ini ibunya Rayyan" Ibu menatap wajah putranya yang sedang menunduk.
"Rayyan...Rayyan mana Rayyan!!!" Suara lain menggema di ruangan itu. Ayah yang tadi tengah membeli sesuatu diluar di kejutkan dengan berita kedatangan ayah Am yang kini tengah ramai di perbincangkan di bawah. Begitu mendengar hal itu ia segera berlari ke ruangan cucunya meninggalkaan semua barang yang ia beli di kursi lobby.
"Ayah!!! Anak kita pulang ayah...Hiks...Hiks!!!" Teriak ibu.
"YA ALLAH, ALHAMDULILLAH" Ayah melakukan sujud syukur saat melihat pria yang tengah duduk di sisi ranjang Am. Mereka semua seperti sedang bermimpi bertemu dengan Rayyan. Jangan tanyakan bagaimana dengan mommy Shafa? Karena saat ini ia masih belum sadarkan diri karena rasa terkejutnya melihat Rayyan yang hampir 3 tahun ini menghilang.
"Rayyan!!!" Ayah gantian memeluk putra semata wayangnya yang selalu ia sebut dalam doanya. Ayah ikut menangis menumpahkan rasa bahagia atas kembalinya Rayyan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
"Rayyan, Shafa pasti bahagia melihat kamu datang nak!!!" Ujar Ayah yang masih memeluk Rayyan.
"Cukup" Sahutnya yang tidak mau mendengar nama Shafa di sebut. Menyebut namanya hanya akan menimbulkan perasaan marah karena melihatnya berdua dengan Malvin di tambah dengan melihat kondisi Am yang seperti ini membuat Rayyan ingin mengumpat pada wanita yang selama ini menunggunya.
Bisa-bisanya kamu meninggalkan Am dan memilih untuk berdua bersama laki-laki itu.
"Rayyan, kamu kenapa nak?" Tanya Ibu yang merasa khawatir dengan sikap putranya tersebut.
"Hhhhhuuhhh....Engghhhh" Tiba-tiba nafas berat terdengar lolos dari bibir Am. Lantaran terkejut dengan kehadiran Rayyan hingga melupakan kondisi Am yang sempat kritis. Untung daddy Shafa siaga meski ingin sekali memeluk Rayyan dan turut menumpahkan kerinduannya ia masih bisa menahan diri untuk lebih fokus pada cucunya.
"Panggil Shafa sekarang!!!" Ujar daddy Shafa yang terlihat jelas gurat kekhawatiran di wajahnya. Ia segera memperbaiki selang oksigen di wajah Am, mengurut lembut bagian dadanya.
"Am, cucu opa... Bangun sayang" Daddy terus memberi tindakan sambil memanggil nama Am. Dan karena ia menyebut dirinya opa, membuat Andi sadar bahwa itu mungkin mertuanya, si pemilik klinik tersebut.
"Ya Allah...Am" Tangan daddy nampak bergetar, ia terpundur beberapa langkah tak sanggup lagi menangani cucunya dan meminta dokter lain untuk menggantikannya. Bayang-bayang wajah lucu dan tingkah nakal Am membuat daddy tak sanggup memandangnya lebih lama.
"Dok, kondisinya semakin menurun!" Ujar dokter Shelly yang kini sedang menangani Am.
"Am, bangun nak, ini ayah nak... Ayah sudah datang. Ayah janji tidak akan pergi lagi Am bangun nak" Rayyan mencium kepala Am lama sambil merapalkan doa dalam hati. Haruskah mereka bertemu dalam kondisi seperti ini?
"Am... Maafkan ayah nak, ayah terlalu lama meninggalkan Am... Am bangun nak" Suara Rayyan semakin parau seiring dengan nafas berat yang di keluarkan oleh bocah berumur 3 tahun 4 bulan tersebut.
"BRAKK"
Terdengar suara pintu terbuka kembali dengan keras di ikuti dengan bunyi high heels orang yang tengah berlari.
"AMM.... Hiks..Hiks" Teriak Shafa yang sudah menangis sejak di perjalanan tadi setelah menerima telepon dari salah satu perawat Am.
Mata tajam Rayyan langsung menyorot wanita yang baru saja masuk di ikuti dengan seorang pria yang ia ketahui sebagai dokter Malvin. Malvin yang tengah menggendong Zifara dengan posessive layaknya seorang ayah yang sedang menggendong anaknya membuat Andi ingin menghantamnya. Ia mengepalkan tangannya ingin rasanya menghajar laki-laki itu atau memarahi Shafa yang tengah terduduk di lantai di tenangkan oleh beberapa dokter wanita lainnya. Ia bahkan belum menyadari keberadaan Rayyan di tempat itu.
"AAMMMM!!!!" Teriak Shafa histeris... Kondisi ini seperti de javu baginya. Ia seperti kembali pada saat mengetahui kepergian Rayyan dua setengah tahun yang lalu.
"Shafa tenang Nak!" Daddy menghampirinya memberikan pelukan hangat pada Shafa yang terduduk di lantai dingin klinik itu.
"Daddy... Lakukan sesuatu Dad! Jangan diam saja. Hiks...Hiks!!!" Teriaknya.
"Am...mommy akan bawa ayahmu nak! Bangun lah! Mommy janji...Hu..hu..hu" Tangisnya kian menjadi. Beberapa orang di ruangan itu turut meneteskan air mata mendengar tangis pilu seorang ibu dan istri yang kehilangan. Sekuat tenaga Rayyan menahan air matanya untuk tak tumpah mendengar suara histeris nan menyayat dari mommy Am. Setiap kata yang ia ucapkan seolah menyimpan kesakitan tersendiri di dalamnya.
Apa yang akan kamu lakukan jika aku tidak datang Shafa? Siapa ayah yang kamu janjikan pada anakku?
"AMMM!!!" Teriaknya lagi sambil berusaha bangkit namun di tahan oleh beberapa perawat melihat kondisinya yang sangat tidak stabil, mereka khawatir Shafa justru akan menghambat pekerjaan dokter.
"Kenapa Dad?? Kenapa Tuhan tidak adil pada Shafa, kenapa?" Jeritnya di sertai isak tangis.
"Tidak Shafa, Allah maha baik Nak" Ayah kini menghampirinya turut menenangkannya.
"Apa salah Shafa ayah? Kenapa Shafa dijauhkan dari orang-orang yang Shafa cintai? Kenapa Shafa di hukum seperti ini? Shafa ngak kuat ayah!!! Shafa nggak kuat..hiks...hiks" Isaknya semakin menjadi. Beban beratbyang di pukulnya selama ini terasa bertambah dengan melihat kondisi Am yang tak berdaya. Haruskah ia kehilangan lagi? Am adalah satu-satunya pengobat rindunya pada Rayyan, sekalipun ada Zifara, namun wajah Am yang di turunkan dari ayahnya setidaknya bisa sedikit mengobati rasa rindu itu.
"Am, jangan tinggalin mommy nak!!! Hiks..Hiks" Shafa semakin tertunduk dalam tangisnya. Perih begitu menghimpit hatinya. Suara alat medis yang terdengar di ruangan itu membuatnya kian di rundung pilu.
"Mas Rayyy kamu dimanaaa!!!" Teriaknya kembali histeris.
"Kamu dimana Mas Raayyyy!!!" Jeritnya sebelum kehilangan kesadarannya kembali.
"Ya Allah Shafa!!!" Belum hilang khawatir mereka akan kondisi Am, kini tambah lagi pasien pingsan setelah mommy yang hingga kini belum juga sadar.
"Pindahkan mommy, di ruangan sebelah Jeff biar Shafa di sini" Ujar daddy pada putra sulungnya yang baru saja tiba.
Malvin segera memberikan Zifara pada ayah Rayyan, sedang ia ikut memeriksa kondisi Shafa, wajah Malvin tak kalah panik melihat wanita yang di cintainya terkulai lemas dalam dekapan daddynya.
"Saya khawatir traumanya kambuh dok!" Ucap Malvin serius.
"Baringkan saja di bed itu dan pantau terus perkembangannya! Kalau perlu ikat kedua tangannya" Ucap daddy tak kalah serius.
"Siap dok!" Ucap Malvin.
Trauma? trauma apa yang di miliki mommy Am sampai harus seperti itu?
Setiap gerak gerik Malvin tak lepas dari tatapan mata elang Rayyan, bagaimana ia memasang selang infus mengecek suhu di keningnya dan memeriksa denyut nadinya membuatnya ingin menendang jauh-jauh dokter tampan itu dari hadapannya.
"E...nggh" Terdengar suara lirih dari bibir Am, mengalihkan kembali fokus Rayyan.
"Am... Anak ayah, bangun nak! Ayah sudah pulang" Bisik Rayyan di telinga Am.
___________
Welcome back Ayah Rayyan...
Cie... Ayahnya datang...
tp akhirnya ceritanya gantung.
tolong dilanjut sampai end kak...
ternyata selama itu kak authornya vakum
semoga sehat selalu kak ya, dimudahkan segala urusan oleh Allah SWT
Aamiiiin
ayolah kakak di lanjut lg
jngan di gantung
sy selalu mendoakan semoga kak Thor naik sehat dan selalu dlm lindungan Tuhan ,,
biar bisa lanjut
sy samapai jenuh menunggu
Tp ngomong2. Ini banyak komen gn dibaca ga sih sama si Author.
ga terlalu lebay
tapi kenapa lama sX up lanjutan nya
sampe 5 x baca bolak balik
belum ada sambung nya ,
sampe cape nunggu
sampe hafal cerita nya karna berulang X di baca
malah sampe geregetan sama AUTHOR nya
kenapa blm UP lg
sampe nangis di tinggal AUTHOR ngilang begitu Saja
tapi kenapa kelanjutan nya belum ada juga tor
lanjut dong biar seru
sampe bosen bacanya 5X baca loh ,,
sampe khatam ceritanya