Vanya Mentari, gadis yang memulai peruntungan bekerja di ibu kota menjadi kupu-kupu malam, terpaksa harus terlibat pernikahan kontrak dengan pria yang terkenal sangat dingin.
Pernikahan yang membawa penderitaan pada Vanya di setiap harinya. Bukan hanya luka fisik, melainkan luka batin. Tiap hari, perkataan yang terlontar dari mulut pria yang menikahinya begitu sangat pedis, dan tanjam hingga mampu menusuk rongga jantung dan membuat luka yang teramat mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKM 17
Lagi dan lagi. Neysia merasa jika pernikahannya saat ini sudah tidak sehat. Bagaimana tidak? Karena Glen terus saja menghindari dirinya sudah tidak lagi tidur bersama dan bahkan Glen terus beralasan jika dirinya sangat sibuk bekerja sampai tidak punya waktu untuk melakukan hal demikian dengan alasan jika sudah lelah.
Neysia pun tidak terima dengan alasan yang Glen berikan. Niat Neysia menikah dengan Glen karena Neysia ingin memiliki keturuan, tapi bagaimana bisa jika Glen saja menolak untuk berhubungan.
"Glen, bagaimana aku bisa memiliki anak jika kau saja menolak untuk berhubungan denganku." Kata Neysia yang saat ini sudah membuang jauh-jauh malunya untuk meminta duluan agar bisa berhubungan dengam Glen.
"Sayang, bukan kah sudah aku katakan jika aku lelah." Bujul Glen dengan lembut.
"Lelah, lelah. Itu terus saja yang menjadi alasanmu. Sudah mau sebulan kita tidak berhubungan Glen. Apa kau lupa? Atau jangan-jangan kau mempunyai kekasih di luar sana yang kau ajak bersenang senang?"
PLAK....
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Neysia.
"Glen." Lirih Neysia.
"Sudah aku katakan aku lelah. Apa kau mengerti?" Sentak Glen dengan nada yang tinggi lalu keluar dari kamar dan membanting pintu secara keras hingga membuat Neysia kaget mendengar suara bantingan pintu.
"Glen." Lirih Neysia dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Pria yang ia kenal dengan kelembutannya dulu, yang datang meminta dirinya agar menikah kini sudah berubah menjadi kasar dan bahkan dengan tega menampar pipinya.
Pria yang ia kira bisa memberikan kebahagiaan ternyata salah. Justru pria ini membiarkan air matanya jatuh saat ini.
"Inikah sifat aslimu Glen."
•••••
Bian meraih ponselnya dan langsung menghubungi Zam, meminta Zam untuk membawakan uang tunai sekarang tanpa ada bantahan sedikit pun.
Dan benar saja tidak menunggu waktu yang lama, Zam datang membawa uang sesuai yang di inginkan Bian.
"Untuk apa?" Tanya Zam.
"Sekarang pergilah sebelum aku membu*nuhmu." Ancam Bian yang tentunya membuat Zam takut dan langsung pergi dari pada hidupnya benae-benar berakhir jika tinggal di apartemen.
Setelah Zam pergi. Bian langsung melangkahkan kakinya dengan lebar menuju kamar Vanya.
"Buka!" Titah Bian sambil mengendor pintu, hingga membuat Vanya yang berada di dalam kamar merasa terganggu. "Aku bilang buka, sebelum aku menghancurkan pintu ini." Ancam Bian, dan benar saja Vanya yang berada di dalam sana langsung membuka pintunya.
Bian menjatuhkan tas yang berisi uang lalu tangan kanan Bian mencengkram kedua pipi Vanya.
"Lepaskan." Kata Vanya sambil menahan peri. Kemudian kedua tangan Vanya memukul lengan Bian agar Bian melepaskan cengkraman di pipinya. "Bian lepaskan." Ulang Vanya namun Bian sama sekali tidak menggubris ucapanya.
"Berani sekali wanita sepertimu menghinaku." Kata Bian sambil menatap tajam pada Vanya. "Ingat! Kau hanya sekedar istri kontrak, dan beraninya kau memberikan tubuh kotormu itu padaku!" Teriak Bian dengan lantang hingga membuat Vanya takut.
Namun Vanya berusaha membuang rasa takutnya dengan menatap tajam pada Bian. "Lepaskan!" Kata Vanya lagi, namun bukannya di lepas Bian semakin mencengkram dengan keras.
Vanya terus memukul lengan Bian. Lalu kemudian...
"Auh." Ringis Bian saat aset berharga miliknya di tendang oleh Vanya, sehingga tangan Bian melepas cengkraman di pipi mulus Vanya.
"Vanya!" Teriak Bian dengan lantang. "Berani sekali kau. Ha!" Dengan menahan sakit di aset miliknya Bian mendekat ke arah Vanya lalu dengan sekuat tenaga menarik baju Vanya hingga baju Vanya robek menampilkan gunung kembar yang masih tertutup b*ra.
"Bian. Jangan!" Ucap Vanya, sambil berjalan mundur. Vanya jujur sangat takut melihat ekspresi wajah Bian saat ini.
"Bian please jangan lakukan itu. Kumohon!"
saking banyaknya dosis obat lerangsang sampe lupa gawang yg udah loss doll atau masih tersegel rapi😅
Apa Bian jg gak liat bekas darah d sprei🤔
mereka sekarang saling mencintai lho Tor ....
beruntung sekali nasibmu Zam...
bertaubat lah ZAM...😂
apa sudah menyadari klo dia satu²nya pria yang tidur sama Vanya...??
lihat aja...