Penting untuk dibaca calon reader sebagai gambaran : Bahwa novel fiksi ini dilatar belakangi kasus kriminal berat. jadi kandungan di dalam nya berisi 40% konflik tegang, 30% romantis dan 30% komedi. Jadi mohon bijak untuk menanggapi. salam sehat selalu dari Author
Hai, Kamu. Ya Kamu yang pernah tersakiti, dicampakkan, dikhianati, didzolimi, dan dibuang seperti barang tanpa arti.
Jangan takut, kamu tidak sendirian.
Aku juga merasakan hal yang sama.
Kamu sedih? Sama, akupun sedih.
Kamu kecewa? Terlebih lagi aku.
Kamu dendam? Apalagi aku.
Kita berhadapan dengan musuh yang sama walaupun dengan jalan cerita yang berbeda.
Aku butuh kasusmu dan kamu butuh perlindunganku. Untuk menghadapinya lebih baik kita bersatu.
(with Love, Ferdian)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novianti Maura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Ferdian turun dari Mercedes Benz-nya. Diikuti Lusi dari pintu sebelah, lalu gadis itu mengikuti langkah Ferdian dari belakang punggungnya.
Perfect banget nih cowok, gumamnya dalam hati ketika memandangi tubuh tegap Ferdian yang berbalut setelan jas hitam lengkap dengan dasi merah tua.
Rambut klimis pria itu sangat serasi membingkai wajah cerah dan segarnya. Ditambah harum tubuhnya yang sangat menenangkan merasuk indera penciuman siapapun yang berada di dekatnya.
Gak nyangka aku sekarang jadi istrinya, apalah aku cuma remahan rengginang begini, gelitiknya dalam hati, geli.
Senyum jenakanya tersungging diam-diam dan dia berusaha menutupinya dengan telapak tangan agar tak terlihat oleh Ferdian.
Ferdian menghentikan langkahnya untuk menunggu Lusi yang masih beberapa meter di belakangnya. Mereka kini berjalan berdampingan memasuki gedung mewah bertingkat itu. Melewati berpasang-pasang mata yang menoleh pada mereka dengan berbagai tanda tanya.
Lusi yang mengenakan kemeja putih dan celana Jeans kesukaannya tampak mengedarkan bola mata saat memasuki bangunan yang terbilang mewah itu. Rambut hitamnya yang di kuncir kuda membuatnya tampil lebih manis dan menggemaskan hari ini.
Beberapa pria memandang dirinya dengan sorot mata penuh arti disertai senyum nakal yang tersungging di bibir mereka. Tentu saja membuat gadis mungil berkulit putih itu merasa risih dan jengah.
Bergegas dia menyejajarkan langkahnya dengan Ferdian menuju pintu lift dan berdiri di samping pria itu.
Pintu lift terbuka menyediakan ruang untuk mereka masuki. Di dalamnya berdiri tegak seorang laki-laki berseragam security dan mengangguk hormat pada Ferdian.
“Selamat pagi, Pak Ferdian,” salamnya sopan. Dan Ferdian hanya mengangguk sekilas.
“Nona mau ke lantai berapa?” tanyanya kemudian beralih pada Lusi yang masih menganga bingung.
“Dia sama saya.” Ferdian yang menjawab mewakili Lusi.
“Ooo, baik, Pak.” Security itu menekan tombol bertuliskan angka dua puluh.
Ferdian menoleh ke arah Lusi yang berdiri di sampingnya. Diperhatikannya wajah Lusi yang tampak menegang, lalu tersenyum. Lusi pun membalas senyum Ferdian sekilas.
Sejurus kemudian pintu lift terbuka.
“Silahkan, Pak. Selamat bekerja,” ucap security itu hormat. Ferdian mengangguk lagi. Lalu keluar dari lift diikuti Lusi di belakang punggungnya.
"Selamat pagi, Pak.” Intan dan Dewi, dua receptionis cantik berdiri menyambut kedatangan Ferdian.
Lagi-lagi Ferdian hanya membalas dengan anggukan.
Tatapan dua resepsionis itu seketika tertuju pada Lusi yang melangkah di belakang Ferdian.
“Ehh, siapa tuh cewek?” Dewi mencolek Intan yang juga masih memfokuskan penglihatannya pada sosok Lusi yang sudah menjauh dari mereka.
Intan hanya angkat bahu tanda tak tahu.
“Kayaknya masih muda banget, adeknya Pak Ferdian mungkin,” jawab Intan menebak.
“Iya kali ya, mukanya sih sekilas mirip. Sama-sama cakep,” timpal Dewi lagi.
Ferdian menuju ruangannya, di dalamnya sudah ada Vika, sang sekertaris tengah membereskan tumpukan berkas di atas meja kerja miliknya.
“Selamat pagi, Pak,“ sapa Vika menoleh ke arah Ferdian.
“Jadwal saya apa hari ini?” tanya Ferdian lanjut menempati kursi kebesarannya.
“Jam sepuluh pagi ini ada meeting dengan Direksi PT Intrado, Pak. Ruangan meeting sudah saya siapkan. Jam satu siang nanti ada meeting dengan perwakilan PT Lokakarsa di Hotel Citra. Berkas-berkasnya juga sudah saya siapkan," jawab Vika lugas.
“Meeting jam sepuluh saya gak bisa hadir, saya ada keperluan keluar. Tolong kamu yang wakili bersama manajer humas dan manajer marketing," ucap Ferdian kemudian.
“Baik, Pak. Nanti saya atur. Kalo begitu saya permisi dulu. Ada lagi yang dibutuhkan, Pak?” tanya Vika santun.
“Tolong suruh office boy bawakan saya Kopi dan ... ehhm ... Lusi, kamu mau minum apa?” tanya Ferdian pada Lusi yang duduk di sofa lebar di tengah ruangan, sibuk mengutak-ngatik ponsel barunya .
“Susu coklat,” jawab Lusi singkat tanpa menoleh ke lawan bicara.
Ferdian mengernyitkan kening mendengar jawaban Lusi. Lalu menggeleng.
“Dasar bocah. Ya udah Vika tolong ya, kopi sama susu coklat hangat,” pinta Ferdian pada Vika.
“Baik, Pak. Permisi,” Vika pamit lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Ferdian bangkit dari duduknya seraya membuka kancing jasnya lalu menghampiri Lusi dan menghempaskan diri di sampingnya.
“Hari ini kamu daftar kuliah. Kampusnya tepat di samping gedung ini. Nanti aku antar,” ujar Ferdian kemudian.
Sesekali matanya menoleh pada layar ponsel di tangan Lusi. Ingin tahu apa yang sedang gadis itu kerjakan pada benda itu.
“Ohh, iya Mas. Berkas-berkasnya gimana? Kan ada di rumah aku semua,“ tanya Lusi menoleh sekilas pada Ferdian lalu kembali berkutat pada ponselnya.
“Bisa di atur, nanti menyusul saja. Kebetulan aku kenal baik dengan salah satu dekan di kampus itu,” jawab Ferdian santai lalu merentangkan lengannya pada sandaran kepala di atas Lusi.
“Lagi liat apa sih? Serius banget?” tanya Ferdian penasaran melihat Lusi begitu fokus pada layar ponselnya.
“Ini, Mas. Lagi pelajarin aplikasi-aplikasi di hape ini. Aku belum ngerti,” jawab Lusi menunjuk gawainya.
“Coba sini.“ Ferdian meraih gawai itu dari tangan Lusi. Lalu mengutak-ngatiknya sesaat.
Untuk soal gadget, itu salah satu keahlian Ferdian. Karena dia adalah pemilik perusahaan yang bergerak dibidang indutri teknologi komunikasi berskala global.
Jadi urusan ponsel atau apapun yang berhubungan dengan telekomunikasi tentunya dia sudah sangat paham.
“Foto, yuk."
Ferdian merapatkan wajahnya pada wajah Lusi lalu mengangkat batangan gawai itu menghadap ke arah mereka.
Keduanya pasang wajah ceria dengan senyum termanis yang mereka tampilkan.
Dan___
Kliikk, kliik, kliikk ...
Selfie beberapa kali.
Tergambar di layar ponsel itu wajah Ferdian dan Lusi yang saling menempel mesra.
"Aku jadikan wallpaper di handphone ini ya.”
Ferdian menyeting foto mereka sebagai wallpaper di layar gawai milik Lusi. Sesaat dia tersenyum melihat pose mesra mereka. Lalu menyerahkannya ke tangan Lusi.
“Kamu udah simpan nomor hape aku?” tanya Ferdian lagi.
“Oiya belum, Mas. Aku gak tau nomornya,” jawab Lusi sambil cengengesan .
Ferdian mengambil kembali benda itu dan mengetikkan nomor kontaknya.
“Suamiku?” Lusi membaca nama kontak yang di tulis Ferdian barusan. Kedua alisnya saling bertautan.
“Kenapa? Gak suka? Malu? Ya udah hapus aja.” Ferdian merajuk menarik sudut bibirnya.
Lusi hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah Ferdian yang tampak lucu dimatanya.
“Gak malu kok, Mas. Justru aku pikir Mas yang malu," sanggah Lusi di sela tawanya.
“Nih liat...” Ferdian mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Lalu mengetikkan nomor kontak Lusi berikut nama panggilannya. Kemudian dia sodorkan layar ponselnya ke hadapan Lusi.
“Istri Ferdian?” Lusi membacanya pelan lalu menoleh pada Ferdian yang mengangguk membenarkan apa yang tertera di layar ponselnya.
Derap jantung Lusi kembali berpacu, seiring dengan getaran asing yang melingkupi ruang hatinya. Perasaan yang aneh namun dia suka.
“Jadi GR aku, Mas.” Pipi Lusi bersemu merona mengundang Ferdian untuk tertawa.
Trrriiinggg....Trriiinggg....
Suara gawai Ferdian memanggil.
Dilihatnya foto profil Reynard pada layarnya. Dia menggeser tombol hijau untuk menjawab.
“Hallo, Rey?” Sapa Ferdian ringan.
“Bro, ada sesuatu yang mau aku bicarakan, penting.” Suara Reynard dari seberang terdengar berbisik.
“Ada apa, Rey?” tanya Ferdian lagi dengan rasa penasaran.
“Jangan bicara di telpon. Kau sibuk gak hari ini?”
“Lumayan sibuk. Nanti malam aja kau ke rumah ya,” suruh Ferdian.
“Oke, Bro. Pulang kantor aku langsung ke rumahmu,” sahut suara Reynard cepat.
Tanpa pamit Ferdian langsung memutus sambungan teleponnya.
Tok...Tok...
Pintu di ketuk dari luar. Tampak seorang office boy masuk membawa minuman yang dipesan Ferdian dan Lusi. Lalu meletakkannya hati-hati ke atas meja di hadapan mereka. Sekilas mengangguk hormat pada Ferdian kemudian berlalu keluar ruangan.
“Ayo minum susunya, abis ini kita langsung ke kampus, ya,“ perintah Ferdian pada Lusi.
Gadis itu menuruti lalu meraih gelasnya dan meneguk susu coklatnya. Ferdian pun menyeruput kopi hitamnya beberapa teguk saja. Lalu bangkit dan merapikan jasnya sesaat serta mengaitkan kembali kancingnya.
“Ayo kita berangkat,” ajak Ferdian kemudian pada Lusi.
Lusi bangkit dan menunggu Ferdian yang mengambil kunci mobil dari atas meja lalu melangkah keluar ruangan. Lusi mengikuti dari belakang.
Ferdian muncul dari ruangannya menggandeng tangan Lusi dan melangkah menghampiri Vika yang tengah sibuk mematut layar komputernya.
Vika berdiri spontan mendapati bossnya berdiri tepat di hadapannya.
“Vika, aku keluar sebentar. Nanti kembali lagi sebelum meeting siang,” kata Ferdian.
“Baik, Pak,” jawab Vika hormat.
Pandangannya berbenturan dengan Lusi yang tersenyum ramah padanya. Vika pun membalas senyum itu.
“Oiya, Lusi, kenalin ini Vika, sekertaris aku. Vika, ini Lusi istri aku.” Ferdian memperkenalkan mereka berdua.
Spontan bibir Vika menganga mendengar apa yang disebut Ferdian. Dia tak percaya apa yang baru saja didengarnya.
“Istri? Kapan nikahnya, Pak? Kok gak ngundang-ngundang?” tanya Vika tak bisa menutupi rasa tak percayanya.
Ferdian hanya tersenyum sekilas, tanpa menjawab pertanyaan Vika sama sekali.
Lusi menyodorkan tangannya pada Vika dan sekertaris itu pun membalasnya.
“Oke, Vik. Aku keluar dulu. Ayo, Sayang," ajak Ferdian kemudian menggandeng tangan Lusi meninggalkan Vika yang masih melongo menatap kepergian pasangan itu.
“Heh, Mbak Vika, kok bengong? Ada apa?”
Tiba-tiba Dewi si receptionis muncul dari samping kubikelnya.
Pandangan Dewi mengikuti arah mata Vika yang tertuju ke arah pintu keluar.
“Eh, Wi. Kamu tau gak perempuan muda yang tadi bareng sama si Boss?” Vika menoleh pada Dewi yang masih sibuk mengusap tangannya dengan tisue basah.
“Gak tau, mungkin adeknya,” jawab Dewi sekenanya.
“Itu istri nya, tau,” beritahu Vika berbisik di telinga Dewi.
“WHAT?! Istri si Boss?” Dewi spontan berteriak lantang, membuat pegawai yang berada di ruangan itu spontan menoleh ke arahnya.
Vika melotot padanya karena teriakannya itu menyentak semua orang yang berada di ruangan.
“Boss sendiri yang bilang tadi sama aku,” lanjut Vika masih dengan suara yang dipelankan.
“Masa sih? Kapan nikahnya?“ tanya Dewi ikut mengecilkan suaranya.
“Gak tau, si Boss cuma cengar cengir aja pas aku tanya begitu," jawab Vika seraya mengangkat bahu.
“Kok muda banget istrinya? Aku kirain adiknya. Tampangnya pun rada-rada mirip yah,” balas Dewi lagi masih dengan rasa penasarannya.
Vika kembali angkat bahu sekilas tanda tak tahu.
“Udah, balik kerja sana, aku lagi siapin berkas untuk meeting siang ini, ntar telat lagi.”
Vika mengusir Dewi yang tampak bersiap-siap membredel Vika dengan berbagai pertanyaan.
Dewi memanyunkan bibir menornya karena Vika kembali berkutat pada pekerjaannya dan mengacuhkan dirinya.
“Wah, gossip terheboh nih. Boss sebuah perusahaan besar nikah diam-diam. Jangan-jangan Meried by Accident?“ pikir Dewi sambil melangkah cepat menuju mejanya di depan.
Rasa tak sabar mendorong Dewi untuk segera mengumumkan berita heboh ini pada rekannya, Intan.
PLEASE LIKE, VOTE, 5 RATE, COMMENT YAH DEAR READERS. HAPPY READING
tokohnya ga ada yg tegas slalu menggantung
reynard aja yg tegas
ISTRI : MAESAROH
jauh amat thooor, suami gaul abis istri kampungan banget😅😅😅😅😅😅