Masih tahap revisi bertahap, jika menemui POV 1 maka itu belum bisa Author revisi, terimakasih.
Velicia, gadis manis yang baik hati. Setelah mengalami pengkianatan dan perselingkuhan antara teman dan pacarnya, kini dia menjadi gadis yang dingin dan selalu menjauhkan diri dari orang lain.
Bagaimana kisah perjalanan hidup Velicia selanjutnya? Akankah dia mendapatkan cinta yang tulus untuknya? Akankah hatinya yang beku bisa mencair?
Cover from google edited by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Aku merasa senang saat Davin hadir,dulu aku sempat marah padanya karena dia yang tiba tiba saja bilang mau pergi keluar negeri,aku mengingat saat itu aku mengunci diri dikamarku,dia sampai menungguku didepan pintu sepanjang malam,hingga akhirnya dia pergi,dan aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal,saat aku mengejarnya mobilnya sudah terlampau jauh,dari semenjak itu aku sangat membencinya karena telah pergi,hingga aku tidak mau mengangkat telfon ataupun membalas surel nya.Tapi sekarang aku mengerti,dia melakukan semua ini juga untuk kepentingannya dan keluarga,lalu lambat lalun aku memahami apa yang dia lakukan,aku hanya rindu disaat dia menggodaku merayuku juga membully ku,aku sangat merindukan itu semua,tapi aku selalu menutupinya,karena aku tidak ingin dipandang lemah.
DISISI LAIN.KANTIN KHUSUA KARYAWAN.
Kantin karyawan dan kantin executif berada bersebelahan,hanya sebuah dinding kaca yang mengahalahi,disaat bersamaan Dean dan Sunny juga sedang makan,Dean nampak melihat Velicia yang begitu senang,dia juga melihat Davin dia melihat senyum dan tawa itu merekah,dan dia merasa tidak pernah melihat Velicia yang seperti itu.
"Pria itu adalah Direktur disini,dia terlihat masih sangat muda,dan dia kenapa dia bisa tertawa lepas sepeti itu?"Dean bergumam dalam hati.
Sunny memperhatikan Dean yang terlihat melamun dan memperhatikan arah dibelakangnya,karena itu Sunny penasaran denagn apa yang Dean lihat,dia menoleh kearah belakangnya,dan dia baru sadar kalau Dean melihat Velicia.
"Lihat wanita itu,dia sepertinya tidak berkaca,kemarin merayu orang tua,sekarang Direktur muda,hah..Hebat sekali ya dia."Ucap Sunny mengejek sembari memakan makananya.
"Jaga ucapanmu,kau tidak boleh menilai orang seperti itu."Dean menasehati.
"Dean,kenapa kau selalu saja membelanya,coba liat dia,bisa bisanya dia tertawa seperti itu dengan pria itu,menjijikan sekali.Biasanya saja dia begitu dingin dengan semua orang."Ucap Sunny sambil sekali lagi menatap kearah Velicia.
Dean nampak tidak senang dengan perkataan Sunny,dia menggenggam erat sendok ditangannya lalu menaruhnya di meja.
"Aku sudah kenyang."Kata Dean sambil berdiri dan pergi meninggalkan Sunny.
Sunny terlihat terkejut."Dean..."Panggilnya,tapi Dean tidak menoleh sama sekali. "Ada apa dengannya,kenapa dia selalu marah saat aku bicara tentang wanita itu,atau jangan jangan dia...Ahhh tidak mungkin,Dean tidak akan pernah suka dengan wanita seperti Velicia itu."Sunny bicara sendiri.
Jam makan sudah berakhir,aku turun kelantai bawah untuk mengambil paket milik Davin,saat di lift aku tidak sengaja bertemu dengan Dean."Kenapa bertemu dia disini."Gumamku.
Akupun masuk dan memencet tombol lift,Dean tepat dibelakangku,aku sedikit malas untuk menyapanya.
"Bagaimana pekerjaanmu?"Tanya Dean tiba tiba.
"Hmm.baik."Jawabku.
"Bagus,pulang kerja apa kau mau makan bersamaku,maksutku hanya untuk merayakan hari pertama magang kita."Dean menawari.
Dia ini kenapa?Kenapa tiba tiba mengajak makan?Aneh sekali. "Maaf aku sudah ada janji."Kataku lagi.
Itu sudah mencapai lantai 10,tempat Dean bekerja,aku mengeser tubuhku kesamping untuk memberi jalan padanya.
Dean berjalan keluar,tapi dia menahan pintu Lift yang akan tertutup.
"Apa yang kau lakukan?Kenapa kau menahan pintunya?"Ucapku terkejut.
"Berjanjilah padaku,saat ada waktu luang,mari rayakan untuk hari ini."Kata Dean yang masih menahan pintu lift.
Dia gila,tapi aku mau lihat sampai kapan dia bisa menahan pintu lift ini. "Aku tidak ingin berjanji."Ucapku sambil memalingkan wajahku.
"Ck."Gumam Dean,dia tiba tiba saja masuk lagi kedalam lift dan menekan tombol berhenti,aku merasa sangat terkejut.
"Apa kau gila,apa yang kau lakukan."Aku jadi panik.
"Berjanjilah kita akan makan saat kau ada waktu luang,maka aku akan pergi."Dean menatapku membuatku merasa benar benar bingung.
"Aku tidak yakin kenapa kau menolak ajakanku dan kau menerima ajakan makan orang lain,aku ingin memastikan apa kau benar benar seperti orang orang katakan,matre dan hanya ingin pergi dengan pria kaya."Gumam Dean dalam hati.
"Oke..Oke..Aku akan pergi,tapi bukan malam ini."Ucapku terpaksa.
Dean terlihat tersenyum tipis,wajahnya yang begitu dekat membuatku bisa melihat senyuman itu,senyuman yang begitu...Aghhh kenapa aku jadi berfikir kemana mana.
"Oke Deal."Dean nampak puas,pintu Lift terbuka kembali dan Dean langsung saja keluar dari Lift.
Aku masih merasa bingung,apa sebenarnya yang diinginkannya,dia tau rumor dan reputasiku yang buruk,walau sebenarnya tidak benar,tapi dia selalu saja mendekatiku.
RUANGAN DAVIN.
Aku masuk keruangan Davin,dan memberikan paket miliknya.
"Nih,apa ada tugas lagi?" Tanyaku.
"Oh..Rapikan berkas ini."Davin menyerahkan setumpuk stofmap kepadaku.
"Banyak sekali."Gumam ku dalam hati.
Aku membawa berkas berkas itu kemejaku,Davin secara khusus menyuruh orang untuk menyediakan meja diruangannya,aku duduk dan mulai mengecek berkas itu satu persatu.
"Kenapa mengambil paket saja begitu lama?"Tanya Davin yang melihat kearahku.
"Bertemu pengganggu."Ucapku tanpa menoleh ke arah Davin.
"Maksutmu pria ini?"Tanya Davin sambil memperlihatkan sebuah video di laptop nya yang dihadapkan kearahku.
Aku mengamati video dalam laptop itu,dan aku menyadari itu video ku dan Dean saat dilift.
"Davin,kau mematai mataiku?Dari mana kau dapatkan video itu?"Kataku kesal sambil berdiri.
"Hahaha,aku direkturnya,aku bisa melakukan apapun dan memerintahkan siapapun disini,siapa dia?Dia cukup tampan,dan sepertinya dia tertarik padamu."Davin mengamati gerak gerik Dean.
"Jangan bicarakan lagi,aku tidak ada apa apa denganya,dia hanya salah satu pria dikampus,dan dia kebetulan magang disini juga."Kataku sembari kembali membereskan berkas berkas.
"Hais...Sepertinya adikku yang cantik ini akan menjomblo seumur hidupnya,sayang sekali ya."Davin melirik kearahku,tapi aku tidak meresponnya.
"Jangan mulai menggodaku,bagiku pria tampan itu br*ngs*k."Ucapku kesal.
"Wah wah..Berarti kakakmu ini termasuk pria br*ngs*k ya?"Kata Davin yang masih menggodaku,tapi aku benar benar kesal.
"Ya..Kau termasuk."
"Ucapanmu ini begitu menusuk,ahhh aku merasa sakit hati."Ucap Davin dengan mimik wajah memelas.
"Bodo amat."Aku tidak memperhatikan Davin,aku hanya fokus membereskan pekerjaanku.
Jika mengingat,memang terkadang rasanya masih terasa sakit,bahkan aku masih merasa seperti ada pisau yang menancap tepat dijantungku,membuatku merasa sesak nafas,aku seperti tenggelam dalam danau yang sangat dalam,dan berharap ada seseorang yang menggapai tanganku dan menarik ku keatas,tapi itu sepertinya hanya hayalan ku semata,dan mungkin akan tetap menjadi sebuah khayalan.