Jayden harus menerima takdirnya sebagai seorang bintang, merasa tak memiliki orang yang mencintainya dengan tulus, bahkan Kayla, kekasihnya yang bertahun-tahun dicintainya, hanya memanfaatkannya untuk ketenarannya.
Hingga suatu saat dia bertemu dengan seorang wanita, wanita yang memandangnya dengan cara berbeda, namun bukan hanya itu yang dia temukan, 2 dunia yang berbeda memisahkan mereka bahkan sebelum kuncup cinta bisa mengembang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 -
Helikopter Jayden mendarat dengan sempurna di sebuah helipad khusus di hotel tempat mereka menginap sebelum nantinya mereka akan melakukan konsernya, Jayden segera keluar dari helikopter itu dan segera berjalan menuju jalan masuk yang ditunjukkan oleh asistennya.
Jayden dengan wajah menunduk segera di amankan masuk ke dalam kamar hotel, karena begitu banyak wartawan dan juga beberapa fans yang entah kenapa bisa ada di sana. Pintu kamar hotel itu segera dibukakan untuknya, dan saat dia masuk, sosok pertama yang dilihatnya sedang bercagak pinggang tentu saja adalah ibunya.
Wajah ibunya tentu tak senang, Jayden memandangnya saja dengan datar, kenapa harus memasang wajah seperti itu, tak ada wajah senang, apalagi khawatir, ibu biasanya akan sangat cemas karena anaknya hilang selama hampir 3 hari, namun tidak dengan ibu Jayden.
"Kemana saja kau selama ini?" kata Ibu Jayden dengan sedikit nada tinggi, bagi para asisten dan juga orang-orang yang bekerja bersama Jayden, sikap ibu Jayden ini sudah sangat biasa mereka dapati, awalanya miris melihat keadaan Jayden, namun lama kelamaan mereka kebal juga, toh, mereka juga tidak bis apa-apa.
"Tidak ada, cukup hebat ibu sudah mengetahui bahwa aku hilang setelah 3 hari, aku kira kalian akan menjemputku malam nanti, atau esok hari," kata Jayden dengan sikap santainya sambil duduk di salah satu sofa yang ada di sana, mengambil makanan cemilan yang sebenarnya tidak boleh dia makan.
"Ibu bertanya serius padamu!" kata Ibu Jayden yang marah, langsung mengambil cemilan itu dari tangan Jayden, menghempasnya jatuh ke lantai, Jayden memainkan bibirnya, melirik dengan tajam pada wanita yang katanya melahirkan dirinya itu, tatapannya cukup lama beradu dengan ibunya, lagi-lagi, dia tak bisa apa-apa, tak bisa melawan karena selalu ingat jasa ibunya ini.
"Aku juga serius mengatakannya, aku kira kalian baru akan sadar bahwa aku tidak ada sesaat sebelum konser ku akan di mulai karena kau tahu ibu hanya akan menanyakan keberadaanku jika itu sudah berkaitan dengan pekerjaanku, kemana saja ibu selama 3 hari ini hingga kalian semua tidak tahu aku tidak ada di kamarku? bagaimana kalian tak sadar kalian sudah meninggalkanku sendiri di desa itu? menurut ibu bagaimana?" kata Jayden dengan nada tenang namun membungkam semua orang yang ada di ruangan itu.
Mereka memang baru tahu Jayden tak ada di van itu saat salah satu asisten yang selalu membawakan makanan untuknya menyadari kenapa makanan yang dia sediakan tak pernah disentuh oleh Jayden, hari kedua dia sudah ingin memastikan keberadaan Jayden, tapi saat dia ingin membuka pintunya, ibu Jayden lewat dan mengatakan untuk tidak menganggu Jayden, sehingga dia baru bisa memastikannya hari ini.
"Aku akan kembali ke kamarku untuk istirahat karena aku butuh itu sekarang, Joseph setelah 1 jam bangunkan aku untuk gladresik dan sedikit latihan menari," kata Jayden yang memandang ibunya yang hanya bisa diam karena perkataannya tadi, dia memasukkan satu camilan yang sempat dia ambil sebelum ibunya membuang camilan itu ke dalam mulutnya, lalu pergi meninggalkan ibunya yang merasa Jayden semakin membangkang padanya.
Jayden segera berjalan menuju kamar yang ditunjukkan oleh Joseph, sebelum dia menutup pintunya dia meminta Joseph untuk membawakan chager ponselnya, Joseph segera patuh dan mengambilkan charger ponsel itu untuk Jayden.
Jayden segera membuka hoodie yang dia pakai, melemparkannya asal ke atas ranjangnya, dia segera menyambungkan Charger ke ponselnya, menunggu ponselnya hingga menyala dia memutuskan untuk membersihkan dirinya dulu.
Jayden tak lama membersihkan tubuhnya, dia segera menggunakan bajunya yang sudah tersedia dengan buru-buru, lalu duduk di pinggir ranjang sambil melihat ke arah ponselnya, dia merogoh saku dari hoodienya, mencari secarik kertas yang diberikan oleh Mery tadi, sederet angka yang tertulis di sana segera dia pindahkan ke dalam ponselnya, dan tak butuh waktu lama, tanpa ragu dia segera menghubungi nomor telepon itu.
Wajah berharap Jayden seketika memudar, ketika operator telepon itu mengatakan bahwa nomor yang dia sedang coba untuk telepon itu tidak bisa dihubungi atau berada di luar jangkauan, Jayden melihat ponselnya yang retak karena hempasannya kemarin, apa mungkin Mery belum mengisi baterainya hingga akhirnya ponselnya pun tidak aktif?
Jayden mencoba untuk berpikiran positif dan segera menghemparkan tubuhnya ke ranjangnya yang mewah, Jayden mencoba lagi, kali ini dia men-loadspeaker-kan ponselnya, namun hasilnya sama saja, tidak bisa dihubungi.
Jayden menghempaskan ponselnya tak jauh dari dirinya, sedikit menutup matanya, namun yang terngiang adalah wajah Launa, ah, dia sangat ingn tahu sedang apa wanita itu sekarang, sudahkah dia bangun? apakah reaksinya saat tahu Jayden sudah tak ada lagi di sana? apakah dia sedih? kenapa Jayden tiba-tiba panik, dia ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang, Jayden benar-benar harus tahu Launa sekarang bagaimana?
Jayden kembali duduk, segera dia memastikan nomor yang diberikan oleh Mery itu benar, dan memang benar, tak ada salah satu angka pun, dia kembali menelepon nomor ponsel itu, jawabannya masih saja sama, apakah Mery salah memberikan nomor ponselnya?
Jayden segera membuka aplikasi pesannya, menuliskan beberapa kata agar Mery menghubunginya secepatnya jika dia sudah membaca pesan ini, dia ingin sekali bisa berbicara dengan Launa, bahkan mendengar sedikit suaranya akan mengobati rasa rindu yang sudah menyesakkan dadanya.
Jayden kembali menutup matanya, menikmati gambaran-gambaran yang tercipta oleh otaknya, bagaimana senyuman Launa, wajahnya yang tampak teduh, ah, betapa dia benar-benar merindukan wanita itu dan perlahan-lahan dia jatuh terlelap.
Jayden terbangun ketika mendengar ketukan dari pintunya, dia segera melihat sekelilingnya, masih berharap dia bangun dan masih ada di kamar Launa dan kepulangannya ini hanya mimpi belaka, nyatanya adalah kebalikan.
Jayden berjalan gontai menuju pintunya, dia mengusap kedua matanya yang berair karena baru bangun tidur, dia melihat Joseph sudah ada di sana berdiri dengan sungkan.
"Apakah sudah satu jam?" tanya Jayden, kenapa waktu begitu cepat berlalu.
"Ya, sudah, kita harus gladiresik sekarang, aku sudah mengatakan pada pihak penyelenggara dan mereka setuju untuk gladiresik sesuai dengan keinginanmu," kata Joseph lagi.
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan bersiap-siap," kata Jayden lagi.
Dia masuk ke dalam kamarnya, sejenak berjalan ingin menuju ke kamar mandi, namun dia melihat ponselnya yang hidup, dia segera membesarkan matanya, berharap dengan sangat itu adalah balasan dari Mery, sayangnya wajah harap itu kembali berganti menjadi kecewa, itu notifikasi komentar tentang dirinya di akun sosial media miliknya.
Jayden beralih ke pesan yang dia kirim, hingga sekarang tak ada balasan sama sekali, Jayden menelan pil kecewanya, meletakkan kembali ponselnya lalu segera menuju ke kamar mandinya.
kapan update abang jayden lagi...
udah setahun nungguin nya...