Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9 - Kak Sari
Keesokan paginya, Bu Tuti bersikeras mengantar Keiko sampai depan gerbang sekolah.
Biasanya Keiko turun sedikit lebih jauh agar Bu Tuti tidak perlu terjebak antrean mobil orangtua murid. Namun setelah semalam, Bu Tuti seolah takut melepaskan Keiko terlalu cepat. Perempuan itu bahkan turun dari mobil, merapikan kerah seragam Keiko, lalu menyelipkan sebotol air hangat kecil ke samping tasnya.
"Jangan lupa makan biskuit jam sepuluh."
"Iya."
"Jangan cuma disimpan."
"Iya."
"Kalau Kelvin itu anak yang baik, jangan lupa tetap jaga jarak."
Keiko hampir tersedak. "Bu Tuti."
Bu Tuti menatap polos. "Apa? Bu Tuti cuma bilang."
Keiko menunduk, wajahnya terasa hangat. "Aku masuk dulu."
Dia baru melangkah dua langkah ketika sebuah suara perempuan memanggil dari arah gerbang.
"Kei-kei!"
Keiko berhenti.
Tidak banyak orang memanggilnya seperti itu.
Di dekat pos satpam, seorang perempuan berdiri dengan koper hitam di samping kaki dan kamera tergantung di leher. Rambutnya panjang bergelombang, jatuh di atas jaket kulit cokelat muda. Kacamata hitam bertengger di atas kepala meski matahari Bandung belum terlalu terik. Bibirnya diberi warna merah bata, matanya tajam dan sedikit naik di ujung, membuatnya terlihat seperti selalu tahu rahasia orang lain.
Sari Maharani.
Keiko sempat mengira dia salah lihat.
"Kak Sari?"
Sari membuka kedua tangan. "Masa cuma dilihat? Sini."
Keiko berjalan cepat, lalu hampir berlari kecil ke arahnya. Sari langsung memeluknya, hati-hati tetapi erat. Aroma parfum citrus dan kopi hitam memenuhi napas Keiko. Rasanya seperti sesuatu dari hidup lamanya mendadak berdiri di tengah gerbang sekolah baru.
"Kak Sari, kok..."
"Pelan-pelan." Sari melepas pelukan, memegang bahu Keiko, lalu menatapnya dari atas sampai bawah. Senyumnya turun sedikit. "Kamu makin kurus."
Keiko tidak langsung menjawab.
Bu Tuti yang menyusul dari mobil juga terlihat terkejut. "Lho, Mbak Sari?"
Sari menoleh dan langsung tersenyum lebar. "Bu Tuti! Aduh, aku kangen masakan Bu Tuti."
"Datang-datang bukannya bilang dulu."
"Kalau bilang dulu, nanti nggak surprise."
"Surprise bikin jantung copot, Mbak."
Sari tertawa. Lalu dia meraih koper dengan satu tangan. "Aku ada kerjaan foto di Bandung beberapa hari. Sekalian mampir."
Bu Tuti menatapnya.
Keiko juga menatapnya.
Sari mengangkat alis. "Apa? Kalian berdua mukanya sama. Curiga banget."
"Kak Sari bawa koper besar untuk kerjaan beberapa hari?" tanya Keiko pelan.
"Wardrobe fotografer itu banyak, Sayang."
"Kak Sari biasanya cuma bawa satu ransel."
Sari menghela napas dramatis. "Anak pintar kadang menyebalkan."
Bu Tuti menutup senyum dengan punggung tangan.
Dari koridor masuk, beberapa murid melirik penasaran. Sari memang tipe orang yang sulit tidak dilihat. Bukan hanya karena penampilannya mencolok, tetapi karena dia membawa energi yang membuat ruang di sekitarnya terasa lebih hidup.
Keiko tiba-tiba sadar mereka masih berdiri di depan gerbang sekolah.
"Kak Sari, aku masih ada kelas."
"Aku tahu. Aku bukan datang untuk menculik kamu." Sari mengulurkan tangan, menyentuh pipi Keiko dengan punggung jari. Gerakannya ringan, tetapi matanya serius. "Kelas sampai jam berapa?"
"Tiga."
"Aku jemput."
"Tidak perlu. Bu Tuti..."
"Bu Tuti istirahat." Sari melirik Bu Tuti. "Iya kan, Bu?"
Bu Tuti langsung mengangguk. "Iya. Tolong jemput, Mbak. Saya mau belanja bahan bubur."
Keiko menatap mereka bergantian. "Kalian cepat sekali kerja samanya."
"Karena kami sama-sama waras," kata Sari. "Yang nggak waras itu kamu, sakit masih sok mandiri."
Satu kalimat itu membuat Keiko menunduk.
Nada Sari ringan, tetapi hanya orang yang tahu penyakitnya yang bisa berbicara seperti itu. Tidak ada eufemisme, tidak ada pura-pura. Sari adalah satu dari sedikit orang yang boleh mengangkat topeng Keiko tanpa meminta izin dulu.
Bu Tuti mengusap punggung Keiko. "Masuk dulu, Nduk. Nanti telat."
Keiko mengangguk. Namun sebelum pergi, dia menoleh lagi pada Sari. "Kak Sari benar-benar jemput?"
"Iya."
"Jangan tiba-tiba hilang karena kerjaan."
Sari menaruh tangan di dada. "Sakit hati aku dituduh."
"Kak Sari sering begitu."
"Itu dulu. Sekarang aku sudah dewasa."
Bu Tuti batuk kecil.
Sari meliriknya. "Bu, dukung aku sedikit."
Keiko akhirnya tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran semalam, senyumnya tidak perlu dipaksa.
Di kelas, kedatangan Sari masih menempel di kepala Keiko seperti warna terang.
Kelvin menyadarinya sebelum jam pertama dimulai.
"Kamu senyum sendiri lagi."
Keiko membuka buku. "Lagi?"
"Kemarin juga."
"Kamu memperhatikan?"
Kelvin diam.
Keiko menoleh, dan untuk sekali itu, Kelvin terlihat seperti orang yang salah langkah. Dia segera menatap jendela.
"Kamu ketawa pelan. Mengganggu."
"Maaf."
"Nggak bilang harus berhenti."
Keiko menunduk. Pulpen ungu mudanya berhenti di atas kertas beberapa detik. Entah kenapa kalimat itu terasa lebih hangat dari seharusnya.
Sore harinya, Sari benar-benar muncul di depan sekolah.
Kali ini dia tidak berdiri diam. Dia sedang berdebat dengan satpam karena mencoba memotret bayangan pohon di pagar sekolah.
"Mbak, ini area sekolah."
"Saya tidak foto murid, Pak. Cuma cahaya. Lihat, bagus banget jatuhnya."
"Tetap tidak boleh."
"Ya sudah, saya hapus. Tapi sayang, lho."
Keiko buru-buru menghampiri sebelum satpam menyerah atau Sari menang.
"Kak Sari."
Sari langsung menyimpan kamera. "Nah, orang yang kutunggu datang."
Mereka berjalan ke kafe kecil di seberang sekolah, tempat yang cukup sepi pada sore hari. Sari memesan kopi hitam untuk dirinya dan susu hangat untuk Keiko tanpa bertanya.
Begitu duduk, topeng ceria Sari turun.
"Kei-kei, semalam Bu Tuti telepon aku."
Keiko menatap gelas susunya.
"Dia cerita Mama dan Papa pulang?"
"Dia cerita kamu bilang sesuatu yang bikin dia nangis di dapur."
Keiko menggigit bibir.
Sari menyandarkan punggung, matanya tidak lagi bercanda. "Lu nggak usah sok kuat di depan gue."
Keiko tidak menjawab.
"Aku tahu kamu bisa senyum di depan semua orang. Aku tahu kamu bisa bilang `iya` sampai semua orang mengira kamu baik-baik saja." Suara Sari melunak. "Tapi aku bukan semua orang."
Keiko menggenggam gelas hangat dengan kedua tangan. Panasnya menempel di telapak, seperti mencoba menahan sesuatu yang dingin dari dalam tubuhnya.
"Aku cuma tidak mau membuat Bu Tuti tambah sedih."
"Bu Tuti sedih karena sayang. Bukan karena kamu jujur."
"Kalau semua orang sedih karena aku..."
"Kalau semua orang sedih, biarkan mereka sedih. Kamu bukan harus mengurus perasaan semua orang saat kamu sendiri sakit."
Kalimat itu mendarat terlalu keras.
Keiko menunduk lebih dalam.
Sari mengulurkan tangan ke seberang meja, menutup tangan Keiko dengan telapak tangannya. Kukunya dicat merah gelap, kontras dengan tangan Keiko yang pucat.
"Aku sewa studio kecil dekat Dago," kata Sari.
Keiko mengangkat wajah.
"Untuk kerjaan foto?"
"Untuk kerjaan, iya. Untuk bisa datang kapan pun kamu butuh, juga iya."
"Kak Sari..."
"Jangan mulai bilang tidak perlu."
"Aku belum bicara."
"Matamu sudah."
Keiko terdiam. Di luar kaca kafe, langit Bandung mulai berubah jingga. Murid-murid pulang, motor lewat, hidup berjalan seolah waktu semua orang sama panjangnya.
Keiko menelan ludah. "Kak Sari, kenapa kamu datang ke sini?"
Sari menatapnya lama.
Lalu perempuan itu tersenyum, kali ini tanpa gaya, tanpa bercanda, tanpa kamera sebagai tameng.
"Karena kamu di sini. Itu alasannya."