Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031: Rumah Kebayoran
Sari datang ke rumah Kebayoran dengan satu koper kecil.
Ia menolak membawa terlalu banyak barang. Dua set pakaian rapi, beberapa baju harian, obat pribadi, buku catatan kios, dan map berisi salinan pesan ancaman dari Hendra. Kalau ia membawa setengah isi kontrakan, rasanya seperti mengaku kalah. Ia hanya ingin tinggal beberapa hari sampai situasi aman.
Mobil Arman berhenti di depan rumah besar dengan pagar hitam dan halaman yang terlalu rapi.
Sari turun, menatap bangunan itu, lalu berkata, "Rumah Bapak seperti kantor yang bisa tidur."
Arman hampir tersenyum. "Saya tidak tahu itu pujian atau keluhan."
"Catatan awal."
Pintu utama dibuka oleh Rini, ART yang tampak gugup tetapi ramah. Di belakangnya berdiri seorang perempuan berusia tiga puluhan dengan seragam krem yang terlalu pas badan untuk pekerjaan mengurus anak. Rambutnya ditata rapi. Bibirnya merah muda. Senyumnya sopan, tetapi matanya mengukur Sari dari kerudung sampai sandal.
"Selamat datang, Bu Sari. Saya Dini, pengasuh Lintang."
Sari mengangguk. "Sari."
Dini tersenyum lebih lebar. "Pak Arman sudah cerita banyak."
Arman menoleh. "Saya hanya bilang Bu Sari akan tinggal beberapa hari."
"Iya, Pak. Maksud saya, Bu Sari orang yang menolong Lintang waktu di waduk."
Kalimat itu benar. Nada suaranya tidak.
Sari menangkapnya, tetapi tidak bereaksi.
Dini mengambil alih seperti pemandu hotel. "Kamar Ibu di lantai dua. Pak Arman biasa sarapan jam tujuh kalau tidak ada meeting. Lintang makan di kamar karena anaknya susah. Kalau perlu apa-apa, bilang saya."
"Lintang makan di kamar setiap hari?"
Dini berhenti setengah detik. "Sering, Bu. Dia kurang suka ramai."
Arman mendengar. "Saya kira dia makan di ruang makan kalau saya di rumah."
"Kalau Pak di rumah, kadang iya," jawab Dini cepat. "Tapi kalau tidak, dia lebih nyaman di kamar."
Sari melihat sekeliling. Rumah itu luas, bersih, dan sunyi. Tidak ada mainan di ruang keluarga. Tidak ada gambar anak di kulkas. Tidak ada sepatu kecil berserakan. Rumah yang punya anak biasanya punya jejak anak. Rumah ini seperti sengaja menghapusnya.
"Lintang di mana?" tanya Sari.
"Istirahat."
Arman melihat jam. "Jam segini?"
"Tadi agak rewel, Pak. Saya suruh tidur."
Sari tidak suka kata suruh.
Arman menerima telepon dari kantor sebelum sempat bertanya lebih jauh. Wajahnya berubah serius. "Saya harus masuk rapat daring tiga puluh menit. Bu Sari, maaf."
"Silakan. Saya bukan tamu yang perlu dipangku."
Arman tersenyum kecil, lalu masuk ke ruang kerja.
Begitu pintu ruang kerja tertutup, udara berubah.
Dini masih tersenyum, tetapi kehangatannya hilang.
"Bu Sari pasti lelah. Kamar sudah siap. Tapi saya perlu bilang, Lintang itu anaknya sensitif. Jangan terlalu dimanja. Banyak orang kasihan, nanti dia makin sulit diatur."
"Sulit diatur bagaimana?"
"Diam. Tidak mau makan. Kadang pura-pura tidak dengar."
Sari menatap tangga. "Anak diam tidak selalu pura-pura."
"Ibu belum lama kenal."
"Makanya saya bertanya."
Dini tertawa kecil. "Saya cuma takut Ibu salah paham. Di rumah besar begini, banyak orang datang lalu merasa tahu segalanya."
Sari mengangkat koper sendiri sebelum Dini menyentuhnya. "Saya biasa membawa barang saya."
Di lantai dua, pintu kamar anak terbuka sedikit. Saat Sari lewat, sepasang mata kecil mengintip dari celah. Begitu Dini menoleh, pintu itu langsung tertutup.
Dini mengetuk pintu dengan buku jari.
"Lintang, ada Bu Sari. Jangan bikin malu, ya."
Sari berhenti.
Jangan bikin malu.
Bukan jangan takut.
Bukan ada yang mau menyapa.
Dini membuka pintu sedikit tanpa menunggu jawaban. "Ayo, keluar sebentar."
Lintang berdiri di dekat ranjang, memeluk boneka kelinci kusut. Rambutnya diikat asal. Wajahnya lebih kurus daripada saat Sari terakhir melihatnya. Matanya tidak menatap Sari dulu. Ia menatap Dini.
"Hai, Lintang," kata Sari lembut.
Lintang tidak menjawab.
"Bu Sari bawa lengkeng dari kebun. Tidak harus dimakan sekarang. Bu Sari taruh di bawah nanti."
Jari Lintang bergerak di telinga boneka.
Dini cepat berkata, "Dia tidak terlalu suka buah manis. Nanti batuk."
Sari menatap Dini. "Saya belum menyuruh makan."
Dini tersenyum tipis. "Saya cuma tahu kebiasaannya."
Lintang mundur setengah langkah.
Sari tidak masuk kamar. Ia tetap di ambang pintu.
"Kalau Lintang mau lihat buahnya nanti, Bu Sari ada di bawah."
Anak itu tidak mengangguk. Tapi matanya sempat naik ke wajah Sari sebelum turun lagi.
Sari menganggap itu cukup.
Sore itu, Sari mengurus kios lewat telepon. Ayu melaporkan pesanan, pembayaran, dan pertanyaan pelanggan baru. Sari memberi instruksi pendek. Ia tidak ingin kehadirannya di rumah Arman membuat hidupnya sendiri berhenti.
Dari ruang keluarga, ia memperhatikan Dini.
Perempuan itu terlalu bebas. Ia mengatur menu dapur, menegur Rini soal gelas, membuka paket yang datang untuk rumah, bahkan menjawab telepon internal sebelum Arman sempat keluar. Semua orang memanggilnya Mbak Dini, tetapi sikapnya seperti nyonya yang belum diberi kursi.
Saat Arman selesai rapat, Dini langsung mendekat.
"Pak, makan malam mau di rumah? Saya bisa minta dapur buat sop buntut."
"Tanyakan ke Rini. Saya ikut menu rumah saja."
"Lintang tadi belum makan banyak. Mungkin karena ada orang baru."
Sari mengangkat kepala dari buku catatan.
Arman menatap Dini. "Jangan salahkan tamu untuk kondisi Lintang."
Senyum Dini kaku. "Baik, Pak."
Malamnya, Sari turun ke dapur untuk mengambil air. Dari tangga, ia mendengar suara pelan di lantai dua.
"Kamu tadi lihat dia terus buat apa?"
Sari berhenti.
Suara Dini. Tidak keras, tetapi tajam.
"Jangan kira kalau ada yang nolong kamu sekali, kamu bisa manja. Pak Arman sibuk. Orang seperti dia tidak akan urus anak rewel setiap hari."
Tidak ada jawaban.
Sari naik dua anak tangga tanpa suara. Dari celah pintu kamar Lintang, ia melihat Dini berdiri terlalu dekat. Tangannya memegang lengan Lintang. Tidak sampai memukul. Tapi cukup membuat anak itu kaku.
"Kalau Bu Sari tanya, bilang kamu baik. Mengerti?"
Lintang menunduk.
Sari membuka pintu.
"Lepaskan tangannya."
Dini terkejut. Tangannya langsung turun. "Bu Sari! Saya cuma menenangkan."
Sari masuk satu langkah, tidak lebih. "Menenangkan tidak perlu membuat anak gemetar."
Dini tertawa gugup. "Ibu salah lihat. Lintang memang begitu. Kadang suka drama."
Sari menatap Lintang. Anak itu memeluk boneka begitu erat sampai jarinya putih.
"Lintang," kata Sari, "Bu Sari turun. Kalau mau buah, nanti ada di meja. Kalau tidak mau, tidak apa."
Lintang tidak menjawab. Tapi matanya mengikuti Sari sampai pintu.
Di luar kamar, Sari langsung mengirim pesan kepada Arman:
Saya perlu bicara soal Lintang. Jangan lewat Dini.
Balasan masuk kurang dari satu menit:
Saya ke ruang keluarga sekarang.
Dari dalam kamar, suara Dini kembali terdengar, lebih pelan.
"Berani lapor, ya? Ingat, anak nakal bisa dikirim jauh."
Sari menggenggam ponselnya.
Rumah besar itu tidak sunyi karena damai.
Rumah itu sunyi karena seorang anak terlalu takut bersuara.
Arman turun ke ruang keluarga lima menit kemudian.
Dini ikut turun seolah tidak terjadi apa-apa. Ia membawa nampan berisi teh dan berkata, "Pak, Bu Sari mungkin belum terbiasa dengan cara menangani Lintang. Anak itu memang sulit."
Sari tidak menjawab di depan Dini.
Arman melihat keduanya, lalu berkata, "Mbak Dini, tolong cek dapur."
"Tapi Pak..."
"Sekarang."
Dini pergi dengan wajah kaku.
Baru setelah itu Sari bicara. Ia menceritakan apa yang ia lihat dan dengar tanpa menambah kata-kata besar. Tangan Dini di lengan Lintang. Ancaman anak nakal bisa dikirim jauh. Cara Lintang memandang Dini sebelum menjawab siapa pun.
Arman mendengarkan sampai selesai. Wajahnya makin pucat.
"Kenapa Ibu tidak langsung memanggil saya saat di kamar?"
"Karena kalau kita meledak tanpa bukti, Dini akan menangis dan bilang saya salah paham. Anak itu yang akan paling takut."
"Jadi?"
"Mulai catat. Makan, tidur, siapa yang masuk kamar, siapa yang memberi minum. Cek CCTV area umum. Jangan biarkan Dini berdua dengan Lintang terlalu lama, tapi jangan beri tahu alasannya dulu."
Arman menatap tangga. "Saya terlambat melihat."
"Jangan sibuk merasa bersalah. Anak itu butuh Bapak melihat mulai sekarang."
Kalimat itu membuat Arman diam. Lalu ia mengangguk.
Malam itu, untuk pertama kalinya, pintu kamar Lintang dibiarkan terbuka sedikit. Sari melihat cahaya kecil dari dalam kamar dan tahu perang di rumah itu belum dimulai secara terbuka.
Tapi setidaknya, Dini tidak lagi bermain sendirian.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??