Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Setelah itu dia pingsan," sahut Daren.
"Kita berdua sempat berantem, tapi dia pergi dan ga berapa lama ibu-ibu penyebar gosip itu dateng sambil nuduh yang neggak-enggak," lanjutnya.
Bahu lebar Daren rasanya begitu berat akibat masalah yang ia hadapi saat ini, baru saja pulang sudah dapat kejutan seperti ini.
"Bapak bisa buka cctv gudang kan? Biar ada bukti buat kita ngelapor ke Kantor Polisi," celetuk Dinda. Kejadiannya sudah separah itu, tak mungkin sang pelaku dibiarkan bernafas bebas sedangkan sang korban terluka karena kejadian itu.
"Bapak sudah cek, cctvnya mati, kayaknya dia matiin listrik dari meterannya yang di luar, tapi Zakia ga sadar dan cctv di luar juga ga berfungsi," jelas Pak Jamrud.
"Ya Allah Pak." Bu Lili menghela nafas lelah, jika sudah seperti ini paya urusannya, mereka tidak punya bukti yang kuat untuk melaporkannya ke kantor polisi, hanya dengan omongan saja para aparat itu mana mungkin mau percaya.
"Untuk saat ini biar Zakia dan keluarganya istirahat dulu, Zakia besok kalau ga masuk kerja juga gapapa, tenang diri kamu dulu, kalian biar diantar Daren pulang, nanti biar bapak yang bantu urus semuanya," kata pak Jamrud.
Keputusan ini ia ambil karena memang situasinya sedang abu-abu, bukti tidak ada, orangnya hilang entah ke mana dan pastinya gosip sudah menyebar, yang tau kejadian aslinya hanya mereka, orang di luar sana mana peduli dengan kejadian asli, apa yang dikatakan duluan maka itu yang akan mereka percayai.
"Daren ambil kunci mobil antar mereka pulang, " titah pak Jamrud. Daren masuk ke dalam untuk mengambil kunci mobil, sedangkan Zakia digendong oleh Rega, bagaimanapun juga ia tau kakaknya pasti belum sanggup untuk berjalan dengan kondisi kaki seperti itu.
Begitu sampai di luar tak berapa lama Daren berada di belakang mereka dan bergegas membuka pintu mobil, Rega membantu Zakia duduk dan dibantu juga oleh Daren, saat sudah duduk normal, Rega bahkan memasangkan sabuk pengaman untuk kakaknya dan mengusap rambut kakaknya itu.
"Bu Sinta ayo ikut sama saya di mobil, kita bareng Daren, Rega biar naik motor aja, gapapa ya Nak?" Rega mengangguk setuju, dia juga takut ibunya akan limbung jika dibawa naik motor, mengingat kondisi mental ibunya yang masih terpukul.
"Daren, pelan-pelan ya Nak," nasehat bu Lili.
"Bu Sinta ga usah khawatir, kita pecahin masalah ini sama-sama, Zakianya biarin istirahat dulu dan kalau perlu periksa ke rumah sakit biar kita tau kondisi kakinya gimana," kata bu Lili.
"Iya bu, makasih banyak ya," kata bu Sinta. Dia merasa tidak enak untuk menerima kebaikan mereka, tapi mau bagaimana lagi, ditolak juga tidak mungkin. Alhasil bu Sinta hanya bisa berkata sambil tersenyum simpul.
Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Zakia, rumah sederhana dengan banyak bunga dan pohon mangga besar di depannya. Lili dan Sinta. sudah turun, menyisakan Zakia yang masih duduk di dalam.
Daren bingung, dia ingin menolong tapi takut jika nanti Zakia tidak nyaman, alhasil mereka sama-sama diam dan menunggu kedatangan Rega.
"Bang Daren, makasih ya, maaf gara-gara masalah ini bang Daren jadi ikut terlibat," ujar Zakia tulus. Daren tidak berkata apa-apa, ia memandangi kaki wanita itu dan kemudian mengangguk pelan.
Tak lama kemudian orang yang ditunggu-tunggu akhir ya datang yaitu Rega, Rega mematikan motornya dan menghampiri kakaknya. Punggung lebarnya siap menampung tubuh kecil kakaknya dan membawanya masuk ke dalam.
"Makasih ya bang," ujar Rega. Daren kembali mengangguk dan menatap Rega serta Zaki yang pergi menjauh dari sana. Tak lama kemudian, sang ibu masuk ke dalam mobil dan mereka pun pergi dari pekarangan rumah Zakia.
"Ren, maafin kelakuan papa yang tadi mukul kamu ya," celetuk Lili. Daren diam, bagaimana rasa ngilu karena pukul ayahnya belum juga hilang sepenuhnya.
"Papa selalu gitu, ga mau dengerin penjelasan dulu," jawabnya kemudian.
"Iya memang kebiasaan papa kamu kayak gitu, dari dulu juga gitu," balas Lili. Daren pun kembali diam, masalah itu akan dibahas di rumah saja, lebih baik dia menyetir dulu dan bisa sampai ke rumah dengan cepat, tubuhnya sudah sangat lelah sekarang.
***
"Zakia, kamu tidur ya, tenang di rumah ini ga bakalan ada orang yang mau macem-macem sama kamu, ada mama sama Rega yang bisa jaga kamu."
Zakia yang sudah selesai mandi dan sudah bersih duduk di atas kasur dan menggenggam erat bantalnya, bagaimanapun juga kejadian itu masih berbekas, rasa takut itu masih ada, namun tak mungkin dirinya memaksa sang ibu untuk menemaninya di sini.
Akhirnya Zakia pun mengangguk dan mulai berbaring, selimutnya pun ia tarik untuk menutupi seluruh tubuhnya tak lama kemudian lampu kamarpun di matikan dan Sinta beranjak pergi dari sana.
"Ya Allah capek," gumam Zakia. Air matanya kembali turun di saat ia ingin menutupkan mata.
***
Jika Zakia masih dalam posisi ketakutan, maka Daren masuk lubang kebingungan yang tak ada hentinya, kepalanya pusing dan bahkan mendenyut bukan main. Tadi saat mereka pulang dari rumah Zakia, Daren melihat ada pak RT yang duduk di ruang tamu rumah.
Bisa dipastikan gosip tersebut sudah sampai ke telinga mereka beserta dengan foto sampah itu lagi.
"Pak Jamrud Bu Lili, sekalipun apa yang bapak ibu ceritakan tidak sesuai dengan foto yang ada di sini, kita tidak bisa memberikan bukti yang konkret untuk warga lain, fotonya sudah tersebar dan banyak warga sudah tahu, mau tak mau hal ini harus diluruskan," ujar pak RT.
"Diluruskan gimana maksudnya Pak?" tanya Daren bingung.
"Lebih baik kalian menikah saja agar fitnah ini tidak semakin meluas," kata pak RT.
Semua terdiam, menikah? Daren? Akan menikah? Heol, setelah ia menyelesaikan studi S2nya, balik ke kampung halaman dan tiba-tiba dia harus menikah?
"Tapi pak, kejadian itu kan tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan, kenapa anak-anak ini harus menikah, bapak tau sendiri kan menikah tak semudah yang kita katakan," kata bu Lili memberi pemahaman. Bagaimana juga keputusan untuk menikahkan mereka berdua tidak bisa diambil segampang itu, ini tentang kehidupan seorang anak.
Pak RT mengangguk mantap, "iya bu saya tau akan hal itu, tapi ga ada jalan lain yang bisa kita lakukan selain hal itu, warga sudah pada tau dan pasti kalian akan mendapatkan penekanan dari mereka, jadi selagi kita mencari bukti yang asli, biarkan mereka menikah untuk menutupi fitnah tersebut," jawab pak RT kemudian.
"Akhh!" Daren berteriak kesal. Ia membuka laci di kamarnya dan merutuki dirinya sendiri.
Barang sialan itu kembali ia pegang, yaitu rokok, Daren duduk di atas kasur dan memperhatikan asap rokok yang ke luar dari bibirnya. Kepalanya penuh, lebih penuh dari yang tadi.
Menikah tidak segampang itu dan Daren juga belum sesiap itu untuk membawa Zakia ke dalam kehidupannya, dia belum sempurna, masih banyak sikap yang harus ia benahi sebelum dia berani mempersunting anak orang.
Tapi kenyataannya keadaan berbalik total, Daren dituntut untuk menikah dengan gadis yang berusaha ia selamatkan.