Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.
Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.
Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.
Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.
Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.
"Sayang, kamu kembali."
Kembali? Kiara baru saja tiba.
Atau... benarkah?
Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.
"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."
Kiara tahu dia harus takut.
Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Sisi yang Tidak Ditunjukkan
"Besok pagi, bersihkan sisanya."
Kalimat Rayhan diucapkan begitu pelan sampai hampir tenggelam dalam napas tidur Kiara. Namun Adi mengerti beratnya.
Membersihkan, dalam kamus Rayhan Purnawan, tidak pernah berarti sekadar menurunkan satu unggahan.
Pukul enam pagi, sebelum Kiara membuka mata, tiga akun gosip menerima surat peringatan hukum. Dua admin freelance diputus kontraknya dari jaringan promosi film. Satu event organizer yang masih berhubungan dengan keluarga Yanuar kehilangan akses ke dua gala sosialita bulan depan.
Tidak ada berita besar.
Tidak ada ledakan publik.
Hanya pintu-pintu kecil yang tertutup satu per satu.
Di apartemen servis, Kiara terbangun karena aroma bubur hangat dan suara sendok menyentuh mangkuk.
Ia membuka mata perlahan. Selimut sudah menutup tubuhnya sampai bahu. Naskah yang semalam tertidur di dadanya sudah rapi di meja, diberi pembatas halaman. Di sampingnya ada air hangat, obat pagi, dan sticky note kecil.
Minum dulu sebelum protes.
Kiara menatap tulisan tangan Rayhan selama dua detik.
Lalu ia tertawa tanpa suara.
"Aku belum protes," gumamnya.
Dari pantry kecil, Rayhan menjawab, "Wajahmu sudah."
Kiara duduk sambil merapikan rambut. "Koko sekarang bisa membaca wajah orang tidur?"
"Wajah kamu saja."
"Itu lebih aneh."
Rayhan datang membawa mangkuk. Kemejanya digulung sampai siku, rambutnya belum sepenuhnya rapi, tetapi cara ia meletakkan sarapan di depan Kiara sangat serius, seperti menandatangani kontrak penting.
"Makan setengah mangkuk. Setelah itu obat."
"Kalau aku makan seperempat?"
"Aku suapi sampai setengah."
Kiara langsung mengambil sendok. "Aku bisa sendiri."
Rayhan duduk di seberangnya, mata menatapnya lembut. Tidak ada bekas dari pria yang semalam memerintahkan Adi menutup jalan orang-orang. Tidak ada dingin. Tidak ada bayangan ruang rapat Purnawan Tower.
Hanya seseorang yang menunggu Kiara menelan bubur sebelum menyerahkan obat.
Itu yang membuat Kiara kadang bingung.
Rayhan bisa begitu hangat sampai ia lupa pria itu berbahaya.
"Rumor kemarin sudah selesai?" tanyanya setelah beberapa suap.
"Bagian yang perlu selesai, selesai."
Kiara mengangkat mata. "Jawaban itu mencurigakan."
"Aku tidak menghapus diskusi aktingmu."
"Aku tahu. Terima kasih."
"Aku menghapus fitnah dan materi privat."
"Itu juga aku tahu."
"Lalu bagian mana yang mencurigakan?"
Kiara memiringkan kepala. "Cara Koko bilang selesai."
Rayhan tidak langsung menjawab. Ia mengambil tisu, menghapus sedikit bubur di sudut bibir Kiara. Gerakannya begitu alami sampai Kiara lupa menghindar.
"Sayang," katanya rendah, "tidak semua sampah perlu kamu lihat saat dibuang."
Jantung Kiara berdetak sekali lebih keras.
Kalimat itu lembut.
Tapi juga gelap.
Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, ponsel Santi berdering dari ruang sebelah. Jadwal studio dimajukan. Kiara harus bersiap.
Rayhan berdiri. "Aku antar."
Kiara menatapnya. "Koko ada rapat."
"Rapat bisa menunggu."
"Purnawan Group tidak bangkrut kalau Koko terlambat?"
"Tidak. Mereka takut."
Jawaban itu terlalu jujur. Kiara menatapnya, dan Rayhan hanya mengangkat alis seolah itu fakta biasa.
***
Di studio, suasana terasa berbeda.
Bukan pada kru utama Gerbang Majapahit. Mereka tetap sibuk, tetap berteriak soal lampu, kostum, dan jadwal. Yang berbeda adalah orang-orang di luar lingkaran inti. Beberapa staf promosi mendadak tidak masuk. Seorang asisten event yang biasanya sering muncul di area lobby digantikan orang baru. Akun gosip yang kemarin paling ribut sudah menghapus unggahan dan menulis permintaan maaf kaku.
Ci Lucy membaca berita kecil di ponselnya sambil mengerutkan dahi.
"Cepat sekali."
Kiara sedang dipasangi aksesori rambut. "Apa?"
"Akun yang menaikkan rumor kemarin minta maaf. Admin promosinya juga katanya diberhentikan dari beberapa proyek."
Santi yang berdiri di belakang kursi berbisik, "Pak Rayhan?"
Kiara tidak menjawab.
Di cermin, wajahnya terlihat tenang, tetapi matanya bergerak sedikit ke arah pintu. Rayhan sedang bicara dengan Gunawan di luar, tertawa pelan mendengar sesuatu yang mungkin hanya bisa diucapkan Gunawan tanpa membuatnya marah.
Pria itu terlihat normal.
Terlalu normal.
Gunawan masuk ke ruang make up beberapa menit kemudian, membawa tablet.
"Berita baik," katanya. "Jadwal promosi kita jadi lebih bersih. Berita buruk, dua sponsor kecil mundur karena takut terseret drama Yanuar. Berita lebih baik, Purnawan Group mengganti slot itu tanpa diminta. Aku tidak tahu harus senang atau takut."
Kiara memandang Rayhan yang masuk setelahnya.
"Koko mengganti sponsor?"
"Supaya filmmu tidak terganggu."
"Karena sponsor itu terkait Yanuar?"
Rayhan berhenti sebentar.
Jawaban itu ada di jeda.
"Karena mereka tidak cukup bersih untuk berada di sekitar produksimu."
Gunawan mengangkat kedua tangan. "Aku tiba-tiba ingat ada monitor yang harus dicek."
Ia keluar dengan kecepatan yang mencurigakan untuk pria seusianya.
Kiara menahan Rayhan dengan tatapan. "Yolanda masih melakukan sesuatu?"
"Mencoba."
"Dan Koko melakukan apa?"
"Menghentikannya."
"Cuma menghentikan?"
Rayhan menatapnya lama. Di ruang make up itu, dengan lampu putih dan aroma hairspray, wajahnya pelan-pelan kehilangan kelembutan pagi tadi.
Tidak sepenuhnya. Tidak di depan Kiara.
Tapi cukup membuat Kiara melihat garis tegas di baliknya.
"Aku memberinya kesempatan berhenti setelah gala," katanya. "Dia memilih memakai orang lain untuk menyentuh reputasimu lagi."
"Jadi?"
"Jadi kesempatan itu habis."
Punggung Kiara terasa dingin.
Ia ingin bertanya apa arti habis. Tetapi Santi masuk dengan kostum tambahan, dan momen itu terputus.
Rayhan kembali lembut seolah tidak ada yang terjadi. Ia mengambil shawl dari tangan Santi dan menyampirkannya ke bahu Kiara agar ia tidak kedinginan.
"Selesai syuting, langsung pulang. Jangan terlalu capek."
Kiara menatapnya melalui cermin.
"Koko selalu bisa berubah cepat sekali."
Rayhan tersenyum tipis. "Aku berubah untukmu."
Kalimat itu seharusnya manis.
Mungkin memang manis.
Tapi Kiara mulai mengerti, bagian yang tidak ditunjukkan Rayhan kepada dunia bukan berarti tidak ada. Ia hanya menaruhnya di balik pintu yang ditutup rapat setiap kali menatap Kiara.
Siang itu, saat adegan berlangsung, Kiara beberapa kali kehilangan fokus. Bukan karena dialog, melainkan karena di sela take, ia melihat Adi datang ke sisi Rayhan dengan tablet. Rayhan membaca satu baris, lalu memberi instruksi pendek tanpa suara.
Setelah itu, ponsel seorang staf promosi berdering. Wajah staf itu berubah pucat. Ia keluar dari studio dengan langkah terburu-buru.
Kiara tidak tahu apa yang terjadi.
Tapi ia tahu itu bukan kebetulan.
Malamnya, di grup sosialita Jakarta, undangan untuk Yolanda Yanuar mulai ditarik satu per satu.
Tidak ada yang mengumumkan perang.
Justru karena itu, orang-orang makin takut.
Di kamar apartemennya, Yolanda menatap layar ponsel dengan jari gemetar.
Mohon maaf, daftar tamu sudah penuh.
Mohon maaf, kerja sama konten ditunda.
Mohon maaf, pihak sponsor meminta perubahan nama undangan.
Semua pesan memakai bahasa sopan. Tidak ada yang menyebut Rayhan. Tidak ada yang menyebut Kiara. Tetapi justru karena tidak ada nama, Yolanda tahu siapa yang membuat semua orang tiba-tiba menutup pintu.
Ia melempar ponsel ke sofa, lalu menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Air mata keluar cepat.
"Aku cuma... aku cuma mau dia terlihat tidak sesempurna itu," bisiknya.
Tidak ada yang menjawab.