4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Mata yang Berkedip
Seluruh Rumah Besar melihat jari Arthur menunjuk ke arah Ethan.
Namun melihat bukan berarti bisa membuktikan.
Setelah Arthur kembali pingsan, dokter memaksa semua orang keluar dari ruang perawatan. Helena menangis sampai hampir jatuh. Ethan memapah ibunya dengan wajah pucat dan suara lembut. Natalia dibawa kembali ke kamar karena perutnya menegang. Engkong duduk diam di kursi roda, tongkat di tangan, matanya tertuju pada pintu tertutup ruang perawatan seperti sedang menimbang dosa lama yang baru muncul ke permukaan.
Darren tidak pergi jauh.
Ia berdiri di koridor sayap utara sampai dokter keluar tiga puluh menit kemudian.
"Kondisinya stabil, tapi kesadaran naik turun," kata dokter. "Tidak boleh diberi tekanan berat."
"Dia bisa mendengar?"
"Kemungkinan iya."
"Bisa merespons?"
Dokter ragu. "Respons motorik sangat lemah. Kadang jari bergerak, kadang mata berkedip. Tapi tidak konsisten."
Darren menatap pintu. "Cukup."
Naomi yang duduk di kursi roda di sampingnya langsung menoleh. "Dar."
"Aku tidak akan menyakitinya." Darren menunduk sedikit. "Aku butuh satu jawaban sebelum semua jejak dibersihkan."
"Kalau dokter bilang berhenti, berhenti."
Darren mengangguk. "Kamu yang hentikan aku kalau aku terlalu jauh."
Naomi menatapnya lama, lalu mengangguk.
Satu jam kemudian, hanya beberapa orang diizinkan masuk: dokter, Darren, Naomi, Engkong, Helena, Ethan, dan Billy untuk merekam dengan kamera kecil yang sudah disetujui dokter. Natalia tidak diizinkan hadir karena kondisi kandungannya.
Arthur membuka mata lagi saat Darren mendekat.
Kali ini, ketakutannya lebih jelas.
Helena menggenggam sisi ranjang. "Arthur, jangan takut. Aku di sini."
Mata Arthur bergerak ke arahnya, lalu perlahan kembali pada Darren. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada suara keluar.
Darren menarik kursi dan duduk agar wajahnya sejajar dengan Arthur. Stik golf tidak ada di tangannya. Suaranya rendah, hati-hati.
"Paman Arthur, dengarkan aku. Kalau jawabannya ya, kedipkan mata satu kali. Kalau tidak, kedipkan dua kali."
Dokter langsung berkata, "Pak Darren, jangan terlalu banyak pertanyaan."
"Tiga pertanyaan," jawab Darren. "Kalau kondisi memburuk, aku berhenti."
Arthur menatapnya.
"Kau mengerti?" tanya Darren.
Satu kedipan.
Helena menutup mulut.
Naomi merasakan bulu kuduknya berdiri.
Darren tetap tidak menunjukkan emosi. "Kecelakaan lima tahun lalu bukan kecelakaan biasa?"
Mata Arthur menutup sekali, lalu terbuka.
Satu kedipan.
Di belakang mereka, Engkong menarik napas kasar.
Ethan berdiri di sisi jendela, wajahnya pucat tapi masih tenang. "Darren, pertanyaanmu mengarahkan."
Darren tidak menoleh. "Kalau kau keberatan, tutup telinga."
"Ini tidak sah."
"Aku tidak sedang sidang pengadilan. Aku sedang bertanya pada korban."
Arthur mengeluarkan suara lemah, seperti setuju atau seperti sakit. Dokter memeriksa monitor. Detak jantungnya naik, tetapi belum melewati batas.
Darren melanjutkan, "Orang yang membuat kecelakaan itu berasal dari keluarga ini?"
Arthur berkedip sekali.
Helena berbisik, "Tidak..."
Engkong menutup mata sebentar. Wajahnya yang sejak tadi keras tiba-tiba tampak jauh lebih tua. Selama bertahun-tahun, ia memerintah rumah ini dengan keyakinan bahwa darah keluarga, sebusuk apa pun, masih bisa dikendalikan selama berada di bawah atapnya. Satu kedipan Arthur baru saja menghancurkan keyakinan itu.
Felicia yang berdiri di dekat pintu menutup mulut, sementara Bryan mundur setengah langkah. Tidak ada yang berani melihat Ethan terlalu lama.
Naomi merasakan sesuatu yang pahit di lidahnya. Rumah ini akhirnya mendengar dari korban sendiri, namun bahkan sekarang semua orang masih berharap jawabannya berhenti sebelum menyebut nama.
Darren menggenggam ujung ranjang sampai buku jarinya memutih. Pertanyaan ketiga tinggal satu. Semua orang tahu nama apa yang menunggu di udara.
Naomi meraih lengan Darren. "Pelan."
Darren mengangguk, lalu menatap Arthur.
"Apakah orang itu..."
Ethan tiba-tiba melangkah maju. "Papa."
Satu kata itu lembut, tetapi tubuh Arthur langsung menegang. Monitor berbunyi lebih cepat.
Dokter memperingatkan, "Detak jantung naik."
Darren berdiri. "Mundur."
Ethan berhenti, wajahnya terluka. "Aku hanya memanggil ayahku."
"Mundur."
Engkong mengetukkan tongkat keras. "Ethan, mundur."
Baru saat itu Ethan mundur satu langkah.
Darren kembali menunduk pada Arthur. Suaranya hampir berbisik. "Apakah orang itu Ethan Wijaya?"
Mata Arthur melebar.
Untuk satu detik, ia tampak seperti hendak berkedip.
Naomi menahan napas.
Helena menangis tertahan.
Ethan sangat diam.
Lalu tubuh Arthur kejang kecil. Matanya berputar. Monitor berbunyi nyaring.
"Cukup!" Dokter mendorong Darren menjauh. "Semua keluar!"
Perawat masuk cepat. Helena menjerit memanggil nama Arthur. Engkong memukul lantai dengan tongkat, wajahnya pucat. Billy menghentikan rekaman dengan tangan gemetar.
Darren berdiri di samping ranjang, wajahnya kosong.
Naomi menarik tangannya. "Dar, keluar."
Kali ini Darren mengikuti.
Di koridor, pintu ruang perawatan tertutup keras. Suara monitor masih terdengar samar dari dalam.
Helena berbalik dan menampar Darren.
Tamparan itu keras, membuat semua orang membeku.
"Kalau dia mati, itu salahmu!" jerit Helena.
Darren tidak membalas. Bahkan tidak menyentuh pipinya yang memerah.
Naomi ingin berdiri, tetapi Darren menahan bahunya.
"Kalau dia mati," kata Darren pelan, "itu karena seseorang membuatnya hidup lima tahun dalam ketakutan."
Helena terisak, tetapi tidak punya jawaban.
Ethan mendekat, mengambil bahu ibunya. "Ma, cukup."
Darren menatap Ethan.
Ethan menatap balik.
Kali ini tidak ada senyum.
Hanya dua laki-laki yang sama-sama tahu bahwa pertanyaan tadi belum selesai.
Beberapa menit kemudian, Billy menghampiri Darren di ujung koridor. "Bos, rekaman dua kedipan awal jelas. Pertanyaan terakhir belum ada respons."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa Bos bertanya di depan semua orang?"
Darren melihat pintu ruang perawatan, lalu pada Ethan yang membawa Helena pergi.
"Karena sekarang dia tahu Arthur masih bisa menjawab."
Billy terdiam.
"Mulai sekarang, ruang Arthur dijaga orang kita," kata Darren. "Bukan pengawal keluarga. Bukan perawat yang dipilih Helena. Semua obat dicatat dua kali. Kamera baru dipasang di koridor dan dalam ruangan, kecuali area perawatan pribadi."
Billy langsung mengetik. "Baik, Bos."
"Dan jangan umumkan semua kamera."
Billy mengangkat wajah, mulai mengerti. "Biar kalau ada yang bergerak..."
"Dia bergerak ke tempat yang menurutnya gelap."
Naomi menatap Darren. Di wajahnya masih ada amarah, tetapi di bawah amarah itu ada perhitungan dingin. Darren tidak hanya memburu orang yang menyerangnya. Ia sedang memaksa musuh memilih antara diam dan kehilangan kesempatan, atau bergerak dan meninggalkan jejak.
Dan di rumah sebesar ini, jejak kecil pun bisa menjadi satu-satunya jalan keluar dari kegelapan.
Billy menelan ludah, lalu menyimpan ponselnya. "Saya pastikan tim hanya lapor langsung ke Bos dan Nyonya, tanpa lewat staf rumah siapa pun."
Darren menunduk pada Naomi, suaranya lebih rendah. "Dan orang yang takut pada jawaban biasanya akan bergerak lebih dulu."
Naomi merasakan dingin merayap di punggungnya.
Darren bukan gagal mendapat jawaban.
Ia sedang memasang umpan.