Untuk melunasi hutang Ayahnya, Silvi terpaksa menikah dengan Andika. Sejak saat itu hidupnya seperti di neraka. Dia hanya menjadi pemuas Andika yang memang seorang casanova itu. Meski sudah memiliki Silvi tapi dia masih saja sering mengajak wanita lain ke apartemennya.
Silvi merasa tidak sanggup lagi dengan kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Andika, akhirnya dia kabur. Andika terus mencari dan ingin membawanya kembali. Di saat itulah Andika merasa kehilangan.
Berbagai cara sudah Andika lakukan untuk mendapatkan Silvi lagi. Apakah Silvi mau kembali dengan Andika atau Silvi lebih memilih bersama Dion, sahabat yang selalu setia menemaninya dan juga mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
"Silvi, lo beneran udah gak papa kan?" tanya Dion di pagi hari itu pada Silvi yang tengah bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Gue udah gak papa. Dua hari istirahat di rumah sudah cukup." Silvi kini memakai tasnya setelah selesai sarapan bersama Dion.
"Ya udah, ayo berangkat sekarang."
"Hmm," Silvi menghentikan langkahnya. "Gue berangkat sendiri aja ya. Gue gak mau lo digosipin sama gue di sekolah."
"Gosip murahan kayak gitu gak mempan sama gue." Dion menggandeng tangan Silvi dan mengajaknya berjalan menuju halaman depan, dimana motornya sudah terparkir dan siap digunakan.
"Ini helm lo." Dion membantu Silvi memakai helmnya.
Menerima perhatian dari Dion, membuat dada Silvi berdebar. Seandainya saja dia bisa bersama Dion, pasti hidupnya akan jauh lebih indah.
Setelah memakai helmnya, Dion naik ke atas motornya yang diikuti oleh Silvi. Beberapa saat kemudian motor Dion segera melaju menuju sekolah.
Tak ada pembicaraan apapun di antara mereka berdua. Sampai motor mereka berhenti di tempat parkir sekolah.
Silvi turun dari motor Dion dan melepas helmnya. Baru juga memasuki tempat parkir, beberapa mata sudah mengintai mereka.
"Hmm, Dion, lo jalan duluan aja deh." Silvi masih saja ragu. Dia takut, jika gosip itu mengganggu Dion.
"Kenapa? Jangan dengarkan omongan mereka." Dion menarik tangan Silvi agar berjalan mengikutinya.
Beberapa pasang mata semakin menatap mereka, apalagi melihat gandengan tangan mereka. Rasa penasaran mereka seolah terjawab sudah. Ada yang ikut bahagia, best couple akhirnya telah bersama, tapi ada yang tidak suka dan menatap mereka sinis.
Mereka berdua kini masuk ke dalam kelas.
Rika dan teman-temannya masih saja menatap Silvi sinis. "Akhirnya go public juga, setelah diincip dulu."
Perkataan itu membuat telinga Silvi memanas, ingin dia menimpalinya tapi dicegah oleh Dion.
Dion begitu santai menghadapi mereka dan gosip itu. "Jangan dengarkan omongan mereka, lo di sini untuk sekolah." Kemudian Dion duduk di belakang Silvi. "Gue akan selalu ada di sini buat jagain lo."
Silvi hanya tersenyum kecil. Seandainya saja dia bisa bersama Dion.
Bersama Dion? Itu tidak mungkin.
Dia mengingat statusnya bersama Andika. Meskipun hanya menikah siri, tapi dia berstatus istri Andika dan satu hal lagi yang selalu Silvi ingat, dia sudah tidak pantas bersama lelaki lain setelah apa yang dilakukan Andika padanya.
...***...
"Apa? Pak Handoko membatalkan kontrak! Bagaimana bisa! Kontrak itu sudah setengah jalan!" Emosi Andika seketika tersulut saat mendengar kabar jika kontrak kerjasamanya batal. Proyek itu sangat besar, jika dibatalkan kerugian akan mencapai ratusan juta.
"Iya Pak. Pak Handoko baru saja mengirim e-mail akan menghentikan kerjasama itu, dan ini juga berdampak pada PT Sinar Terang. Karena PT Sinar Terang masih dalam naungan Pak Handoko." terang assistant Andika.
"Ya sudah, nanti akan aku coba bernegosiasi dengan Pak Handoko. Sekarang coba kamu cek proyek baru yang akan kita kerjakan bulan depan. Jangan sampai terlewat." perintah Andika.
"Iya, Pak."
Setelah assistant nya keluar, Andika menyandarkan punggungnya di kursi. Dia usap wajahnya yang lesu. "Mengapa semua menjadi berantakan seperti ini. Argghh!" Andika memukul meja dengan keras. Kalau Papanya tahu masalah ini, pasti dia akan dimarahi lagi. Masalah Silvi saja belum selesai, ditambah masalah ini.
"Silvi belum juga ketemu ditambah lagi masalah ini. Sial!"
Kepala Andika terasa sangat pusing, ternyata semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak tanpa Silvi. Rasanya sangat berbeda, saat tidur tidak ada yang dia peluk. "Silvi, kamu dimana?"
Aku benci sama Pak Dika!
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya, begitu juga dengan tatapan Silvi yang penuh kebencian padanya.
"Silvi, aku memang terlalu kasar sama kamu." Andika membuang napas kasar lalu dia berdiri dan mengambil kuncinya. Baru saja dia membuka pintu ruangannya, ada Laura yang berdiri di depan pintunya.
"Dika, lama sekali kamu gak menghubungiku." Laura masuk ke dalam ruangan Andika dan menutup pintu itu lagi. Dia memeluk dan mencium bibir Andika.
Andika mendorong tubuh Laura agar melepas pelukannya. "Laura, aku sedang ada urusan penting."
"Urusan apa? Kucing kecil kamu?"
Andika tak menjawabnya, dia akan membuka pintu tapi ditahan oleh Laura. Laura kembali mencumbui Andika. Dia telusuri leher kokoh Andika, bahkan satu tangannya sudah menjamah dan me re mas sesuatu yang masih tertidur itu tapi kali ini tidak bereaksi sama sekali.
"Laura, udah! Aku lagi gak mood." Andika mendorong kasar Laura agar menjauh darinya.
"Sejak kapan kamu bisa tahan dengan sentuhan."
"Laura, aku sedang punya banyak masalah. Jangan menambah masalah aku. Mulai sekarang, kamu jangan pernah temui aku lagi. Kita sudah gak ada hubungan apa-apa lagi." Andika akhirnya memutuskan Laura. Dia sudah tidak tertarik lagi dengan Laura, yang dia pikirkan hanyalah Silvi.
"Andika, awas aja kalau kamu butuh. Aku gak akan mau datang!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Andika sebelum Laura keluar dari ruangan Andika.
"Cewek sialan!" Andika mengusap pipinya lalu dia keluar dari ruangannya.
Dia menuju tempat parkir lalu menaiki mobilnya.
"Aku coba ke sekolah Silvi lagi, siapa tahu Silvi sudah masuk sekolah karena kelihatannya Pak Adi juga sudah tidak terlalu khawatir seperti kemarin."
Andika menghidupkan mesin mobilnya lalu beberapa saat kemudian mobil Andika sudah melaju menuju sekolah.
Tak butuh waktu lama, dia sudah menghentikan mobilnya di dekat gerbang sekolah. Dia menatap beberapa murid yang baru saja keluar dari gerbang.
"Itu Silvi! Dengan Dion?" Andika segera melajukan mobilnya. Dia menambah kecepatannya dan menyalip motor Dion. Lalu menghadang motor Dion hingga tidak memiliki jalan lagi.
Seketika Dion menghentikan motornya.
"Yon, itu mobil Pak Dika. Dion gue takut." Silvi semakin berpegangan pada pinggang Dion.
Andika turun dari mobil. Dia menghampiri mereka berdua.
"Silvi ikut aku pulang!" Andika menarik paksa Silvi hingga dia turun dari motor Dion.
"Lepaskan!" Dion turun dari motornya lalu melepas paksa tangan Andika.
"Berhenti kamu ikut campur dengan urusan aku!" Andika kembali menarik tangan Silvi.
"Berapa hutang Silvi, akan aku bayar sekarang juga!" Dion mengambil sebuah cek dan diserahkan pada Andika. "Cek 60 juta."
Andika tersenyum miring dan merobek kertas itu. "Aku udah gak butuh uang itu lagi, yang aku mau cuma Silvi!"
"Gak mau! Lepaskan!" Silvi berusaha melepas tangannya.
"Lepas!" Dion menendang perut Andika hingga dia mundur beberapa langkah. Mereka berdua segera naik ke atas motor saat Andika meringis kesakitan.
"Silvi, bagaimanapun juga kamu tetap istri aku!"
Silvi semakin berpegangan erat pada Dion saat motor Dion mulai melaju.
"Shits!! Silvi aku pasti akan mendapatkanmu lagi!"
💕💕💕
.
Like dan komen ya...
ditgg karya selanjutnyaaaa