NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Jatuh Cinta Pada Mahluk Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:829
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Keiko selalu menganggap legenda hanyalah cerita pengantar tidur.

Saat pulang ke desa terpencil tempat neneknya dimakamkan, ibunya memaksa ia membawa sebuah jimat pelindung dan memperingatkannya agar tidak mengucapkan sembarang permohonan selama Festival Dewa Kucing.

Bagi Keiko, semua itu terdengar konyol.

Di tengah festival yang dipenuhi lampion, topeng kucing, dan kisah-kisah tentang Bakeneko, ia hanya tertawa.

"Aku bahkan bersedia menikah dengan Bakeneko kalau memang mereka benar-benar ada."

Ia tak pernah menyangka, candaan itu didengar oleh sesuatu yang telah menunggu selama ratusan tahun.

Sejak hari itu, batas antara mitos dan kenyataan mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gonggongan anjing di gang sempit

Malam datang lebih cepat dari biasanya. Sejak sore, awan kelabu sudah menggantung di langit Tokyo. Menjelang pukul sepuluh, hujan turun deras, memukul kaca gedung FM Aoyama tanpa henti.

Lampu merah bertuliskan ON AIR perlahan padam.

"Dan itulah akhir kebersamaan kita malam ini, Night Lovers," ucap Keiko lembut sambil tersenyum ke arah mikrofon. "Terima kasih sudah menemani. Sampai jumpa besok malam... di jam yang sama."

Musik penutup Night Letter mulai mengalun. Keiko melepas headphone dari kepalanya, lalu meregangkan bahu yang terasa sedikit pegal.

"Kerja bagus," suara Renji terdengar dari balik kaca ruang kontrol sambil mengacungkan ibu jari. Keiko membalas dengan senyum kecil.

Beberapa menit kemudian, seluruh kru mulai membereskan perlengkapan. Keiko memasukkan buku catatan ke dalam tas, lalu berjalan keluar studio. Begitu tiba di lobi gedung, langkahnya terhenti.

"Hah..." Ia menatap keluar melalui pintu kaca. Hujan ternyata jauh lebih deras dibanding saat siaran dimulai. Butiran air memantul di aspal, sementara orang-orang di trotoar berlarian mencari tempat berteduh.

Keiko menghela napas pelan. "Aku lupa bawa payung..." Ia mengusap pelipisnya pelan. "Padahal tadi pagi cuacanya cerah banget."

"Kalau begitu..." suara yang sudah dikenalnya terdengar dari belakang. "Pulang bareng saja, Keiko-san. Aku juga mau pulang."

Keiko menoleh dan mendapati Renji berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membuka payung hitam yang cukup besar. Ia tersenyum canggung. "Nanti merepotkan."

Renji menggeleng. "Nggak juga. Rumah kita kan searah."

Keiko sempat berpikir beberapa detik. Hujan di luar sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda bakal reda. "...Baiklah. Terima kasih ya, Renji-san."

"Sama-sama." Renji membuka payung lebih lebar. "Yuk."

Mereka pun melangkah keluar dari gedung, menyusuri trotoar yang mulai dipenuhi genangan air.

Hujan turun tanpa ampun. Payung hitam yang dipegang Renji terus menahan derasnya air, tetapi embusan angin sesekali tetap membawa percikan hujan membasahi ujung blazer mereka. Beberapa saat keduanya berjalan tanpa banyak bicara. Suara langkah kaki yang memecah genangan air berpadu dengan deru kendaraan yang melintas di jalan utama.

Keiko sesekali melirik ke langit. "Padahal pagi tadi cerah sekali."

"Iya," sahut Renji sambil tersenyum kecil. "Ramalan cuaca memang sering berubah."

Keiko mengangguk pelan. "Untung ada Renji-san. Kalau tidak, mungkin aku masih berdiri di depan lobi tadi."

Renji terkekeh. "Atau malah beli payung transparan di minimarket?"

"Boleh juga, tapi sayang uangnya," balas Keiko sambil tertawa kecil.

Suasana kembali hening sejenak sebelum Keiko menyadari sesuatu. Pandangannya jatuh ke bahu kiri Renji; kemeja pria itu tampak lebih gelap karena basah terkena hujan.

"Renji-san."

"Hm?"

"Bahumu basah," tunjuk Keiko.

Renji melirik sekilas, lalu hanya tersenyum. "Tidak apa-apa, kok."

Keiko mengernyit. "Payungnya terlalu ke arahku."

Renji mengangkat bahu pelan. "Kalau tidak begitu, nanti kamu yang kehujanan."

"Lalu kamu sendiri bagaimana?"

"Aku tidak masalah," jawabnya santai.

Keiko menggeleng kecil sambil terkekeh. "Itu bukan solusi namanya."

Renji tampak sedikit salah tingkah. Ia menggeser pegangan payung, tetapi tetap berusaha menjaga jarak di antara mereka. Keiko memperhatikan tingkah pria itu selama beberapa detik sebelum tersenyum geli.

"Renji-san."

"Iya?"

"Mendekat saja ke sini."

Renji tampak ragu. "Eh... nanti..."

Keiko mengangkat sebelah alis. "Nanti kenapa?"

Renji berdeham pelan. "Nanti terlalu dekat."

Keiko spontan tertawa. "Hahaha, memangnya kenapa kalau dekat? Kan cuma supaya tidak kehujanan."

Wajah Renji sedikit memerah. Ia akhirnya mengangguk kecil. "Baiklah..."

Dengan canggung, Renji melangkah sedikit mendekat hingga payung itu kini berada tepat di tengah. Bahu mereka sesekali bersentuhan pelan setiap kali langkah keduanya tidak seirama. Keiko hanya tersenyum tipis.

"Nah, begini kan lebih adil."

Renji mengembuskan napas panjang, sedikit lega. "Iya... lebih adil."

Mereka terus berjalan menyusuri trotoar yang mulai lengang. Semakin jauh meninggalkan jalan utama, deretan pertokoan berganti menjadi kawasan permukiman yang lebih sepi. Cahaya lampu jalan mulai jarang, hanya menyisakan beberapa titik kuning redup yang memantul di genangan air.

"Hampir sampai," ujar Keiko sambil menunjuk ke depan.

Suara hujan yang menghantam atap seng terdengar lebih keras di sana daripada suara kendaraan di jalan raya. Namun baru beberapa langkah, suara gonggongan anjing memecah kesunyian, disusul jeritan kucing yang melengking.

"MEEEOOOWW!!"

Keiko spontan berhenti dan menoleh ke arah gang yang lebih gelap di sisi kiri. Renji ikut berhenti. "Ada apa?"

Keiko mengernyit. "Itu... suara kucing," gumamnya.

Suara gonggongan terdengar lagi, kali ini lebih keras, diikuti suara barang-barang yang terjatuh. "Sepertinya ada anjing liar," ujar Renji. "Sudahlah, namanya juga hewan liar. Mereka pasti sedang berebut wilayah."

Namun Keiko tidak bergerak. Tatapannya masih terkunci ke arah kegelapan. Detik berikutnya, suara kucing itu terdengar lagi, kali ini lebih lirih, seolah menahan sakit. Keiko menggigit bibir bawahnya, lalu berkata, "Tunggu sebentar."

"Keiko-san?"

"Itu bukan suara berkelahi," sanggah Keiko cepat. "Itu suara minta tolong."

Belum sempat Renji mencegah, Keiko sudah berlari keluar dari bawah payung.

"Eh! Keiko-san!" Renji refleks mengejarnya. "Hujannya deras sekali!"

Namun Keiko tidak peduli. Ia berlari menerjang hujan hingga blazer kremnya basah kuyup. Begitu memasuki gang sempit, ia segera menyalakan lampu senter ponselnya. Sorot cahaya putih menyapu jalanan yang becek, dan seketika itu pula Keiko membeku.

Tak jauh di depan mereka, tiga ekor anjing liar sedang mengelilingi seekor kucing gelap yang terpojok di sudut tembok. Tubuh kucing itu kotor berlumur lumpur, dan salah satu kaki depannya tampak berdarah. Meski begitu, ia masih berusaha berdiri—memamerkan taring dan cakarnya—berusaha menghalau ketiga anjing yang ukurannya jauh lebih besar darinya.

"Hei!"

Keiko membungkuk, meraih batu seukuran kepalan tangan, lalu melemparkannya ke arah salah satu anjing.

Brak!

Batu itu membentur dinding tepat di samping kepala anjing. Ketiga anjing itu serempak menoleh. Sorot senter ponsel Keiko kini menghujam tajam ke arah mereka. "Pergi!" teriak Keiko sekuat tenaga.

Salah satu anjing menggeram pelan. Bukannya mundur, ia justru melangkah maju ke arah Keiko.

"Keiko-san!" Renji segera berdiri di sampingnya, menggenggam payung lebih erat sebagai pelindung.

Keiko kembali mengambil sepotong kayu yang tergeletak di pinggir gang, lalu mengayunkannya ke tanah dengan kasar. "Pergi!"

Anjing itu sempat mundur, namun dua lainnya masih mengelilingi kucing malang tersebut. Tiba-tiba, kucing itu melompat. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia mencakar wajah salah satu anjing lalu menggigit telinganya.

"GRAAAWW!"

Anjing itu melolong kesakitan, namun anjing lain langsung menerjang balik.

"Awas!"

Renji refleks mengayunkan payungnya. Buk! Ujung payung itu menghantam tubuh anjing tersebut hingga terpental ke samping. Ketiga anjing itu akhirnya mulai ragu. Mereka saling memandang sesaat sebelum memutuskan untuk lari meninggalkan gang di tengah guyuran hujan.

Suasana mendadak sunyi. Hanya suara hujan yang terus mengguyur aspal yang terdengar. Kucing itu masih berdiri, tubuh kecilnya bergoyang pelan seolah memastikan ancaman sudah benar-benar pergi. Kemudian, kaki depannya kehilangan tenaga.

Bruk. Tubuhnya roboh begitu saja ke tanah.

"Astaga..." Keiko langsung berlari menghampiri. Ia berlutut di atas aspal basah, lalu mengangkat tubuh kucing itu dengan hati-hati.

Tubuhnya dingin dan basah kuyup. Lumpur menempel tebal hampir di seluruh bulunya hingga warna aslinya nyaris tak terlihat. Kepalanya terkulai lemas; tak ada sedikit pun perlawanan.

"Renji-san!" Keiko menoleh panik. "Cari tempat yang lebih terang!"

"Iya!"

Renji segera membuka payung lebar-lebar sambil mengikuti Keiko keluar dari gang.

Beberapa meter dari sana, mereka berhenti tepat di bawah lampu jalan. Cahaya kekuningan menerangi tubuh kucing yang kini berada di pelukan Keiko.

Dengan hati-hati, Keiko menyibakkan lumpur yang menempel di bagian wajahnya menggunakan ujung lengan bajunya. Saat itulah, ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di sela-sela jemarinya.

Keiko spontan menunduk.

Telapak tangannya dipenuhi warna merah pekat. "Darah...!!" Wajah Keiko langsung memucat.

"Renji-san..." suaranya mulai bergetar. "Dia... dia berdarah..."

Renji ikut berjongkok di sampingnya. "Coba lihat... masih bernapas tidak?"

Dengan tangan yang gemetar hebat, Keiko mengusap perlahan lumpur yang menutupi wajah kucing itu. Sedikit demi sedikit, bentuk wajahnya mulai terlihat.

Wajah Keiko pucat seketika

Pupil matanya membesar

bibirnya bergetar hebat.

"..Shiro?!!! "

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!