NovelToon NovelToon
Dinikahi Pak Dokter Tampan

Dinikahi Pak Dokter Tampan

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:567.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Hanela cantik

Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.

Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

"Mas..." panggil Lilis pelan, suaranya terdengar sangat cemas.

Arka yang sedang melipat sarungnya menoleh. "Kenapa, Sayang? Kok mukanya gelisah begitu?"

"Itu... spreinya kotor, Mas. Aku bingung mau mencucinya gimana. Kalau Ibu atau yang lain lihat gimana? Aku malu banget," bisik Lilis sambil menunjuk kasur dengan dagunya.

Arka terkekeh pelan melihat tingkah istrinya yang tampak sangat panik. Ia berjalan mendekat ke tempat tidur. "Sudah, biar Mas saja yang bersihkan," ucap Arka santai sambil mulai menarik ujung sprei untuk membukanya.

Lilis langsung menahan tangan Arka. "Masa Mas sih yang cuci? Aku malu, Mas! Biar aku saja nanti diam-diam ke belakang."

Arka menghentikan gerakannya sejenak dan menatap Lilis dengan senyum menggoda. "Malu kenapa? Ini kan wajar, Sayang. Kita kan sudah sah. Lagipula Mas mau bantu biar kamu nggak repot."

"Ya tapi kan... tetep aja malu, Mas. Lagian Mas sih, minta di rumah mertua. Kenapa nggak di rumah kita saja kemarin-kemarin?" protes Lilis pelan sambil mengerucutkan bibirnya.

"Oh, jadi kamu sudah nggak sabar dari dulu? Bilang dong kalau mau di rumah kita kemarin," goda Arka yang sukses membuat wajah Lilis semakin panas seperti kepiting rebus.

"Mas! Bukan gitu maksudnya!" seru Lilis.

Arka menggeleng pelan sambil tetap menarik sprei itu dari sudut kasur. Ia tampak sangat santai, seolah hal ini bukan masalah besar baginya.

"Udah, sana. Ini biar Mas yang ngurus. Kamu kalau mau bantuin Ibu masak di bawah nggak apa-apa," titah Arka.

"Aku aja deh, Mas. Nggak enak sama yang lain, masa Mas yang cuci sih? Kan Mas mau kerja juga," tolak Lilis lagi, merasa tidak enak hati membiarkan suaminya melakukan pekerjaan yang menurutnya adalah tugas istri.

Arka menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menatap Lilis sambil tersenyum geli. Ia mengacak pelan puncak kepala istrinya.

"Ini hari Minggu, Sayang.Mas ngga ada jadwal."

"Udah, sana. Mas sudah biasa nyuci kalau di rumah. Ayah juga sering bantu-bantu Ibu kok dari dulu. Di keluarga ini, laki-laki nggak boleh gengsi bantu pekerjaan rumah."

"Tapi nanti kalau Ibu tanya kenapa Mas yang nyuci gimana?" tanya Lilis masih ragu.

"Ya tinggal bilang Mas lagi rajin. Udah, nggak usah dipikirkan. Sana turun, nanti Ibu nyariin kamu di dapur. Biar Mas yang bereskan ini semua secepat kilat," ucap Arka sambil mengedipkan sebelah matanya.

Lilis akhirnya mengangguk pasrah, meski hatinya masih merasa sedikit malu. Ia pun bergegas keluar kamar untuk menemui mertuanya di dapur, meninggalkan Arka yang dengan sigap mulai menggulung sprei kotor itu untuk segera dicuci.

Arka berjalan keluar kamar, sambil mendekap gulungan sprei di pelukannya. Ia menuju ke area cuci yang terletak di bagian belakang rumah, dekat dengan dapur. Sesampainya di sana, ia langsung membuka tutup mesin cuci dan mulai memasukkan sprei ke dalam mesin cuci tersebut.

Baru saja Arka hendak menuangkan detergen, langkah kaki seseorang terdengar mendekat.

"Ngapain, Bang?" tanya Yuda yang tiba-tiba.

Arka sedikit terperanjat, namun ia segera menguasai diri dan menoleh ke arah ayahnya. "Eh, Ayah. Nyuci sprei, Yah," jawab Arka.

Yuda tersenyum penuh arti mendengar jawaban putra sulungnya. Sebagai seorang ayah dan laki-laki yang sudah lama berumah tangga, ia tentu sangat paham dengan situasi tersebut. Tanpa banyak bertanya atau menggoda lebih jauh, Yuda hanya mengangguk kecil.

"Oh," sahut Yuda singkat.

Tanpa sepatah kata lagi, Yuda langsung pergi meninggalkan area cuci.

Arka menghela napas lega setelah ayahnya menjauh. Ia segera menekan tombol start pada mesin cuci, lalu bergegas kembali ke kamar sebelum anggota keluarga yang lain terutama Zayn atau Kenan datang dan mulai bertanya yang macam-macam.

Sore harinya, matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga di langit halaman rumah Yuda. Arka dan Lilis sudah bersiap di dekat mobil. Barang-barang mereka sudah tertata rapi di bagasi, termasuk beberapa bekal makanan yang dipaksakan Kirana untuk dibawa pulang.

"Kami pulang dulu ya, Yah, Bu," ucap Arka sambil melangkah mendekat untuk berpamitan.

Arka meraih tangan Yuda dan menciumnya dengan takzim, diikuti oleh Lilis yang melakukan hal yang sama. Kirana langsung memeluk Lilis dengan erat, seolah berat melepas menantu kesayangannya itu.

"Hati-hati di jalan ya, Arka. Jangan ngebut-ngebut, ingat istrimu," pesan Yuda.

"Iya, Yah. Masakan Ibu enak banget, nanti Arka mampir lagi kalau kangen,".

Lilis kemudian beralih ke arah Tiara yang berdiri sedikit di belakang. Lilis memegang kedua tangan calon kakak iparnya itu dengan lembut. " Tiara, Lilis pulang dulu ya. Jangan terlalu banyak pikiran, istikharah ya," bisik Lilis menyemangati.

Tiara mengangguk pelan, senyumnya kini terlihat lebih tulus. "Iya, Lis. Makasih ya sudah mau dengerin ceritaku tadi malam."

Tak ketinggalan, Aira dan Zayn juga ikut mendekat. Aira tampak sedih karena teman mainnya akan pulang, sementara Zayn masih sempat-sempatnya berteriak, "Bang, minggu depan jangan lupa bawa martabak kalau ke sini lagi!"

"Makan terus pikiranmu!" sahut Kenan dari balik pintu.

Setelah semua selesai berpamitan, Arka dan Lilis masuk ke dalam mobil. Arka menurunkan kaca jendela dan melambaikan tangan.

"Assalamu’alaikum!" seru mereka berdua bersamaan.

"Wa’alaikumussalam!" sahut keluarga besar itu dari teras.

Mobil perlahan bergerak meninggalkan halaman luas tersebut. Dari kaca spion, Arka bisa melihat keluarganya masih berdiri melambai sampai mobil mereka menghilang di belokan jalan.

"Capek, Sayang?" tanya Arka lembut sambil meraih tangan Lilis untuk digenggam.

"Capek sedikit, tapi senang banget, Mas," jawab Lilis sambil memejamkan mata.

Akhirnya setelah beberapa menit mobil Arka memasuki halaman rumah mereka sendiri.

Lilis segera meletakkan beberapa lauk yang mereka bawa tadi ke atas meja makan. Ia mulai menata wadah-wadah berisi masakan Kirana agar nanti tinggal dipanaskan untuk makan malam.

Arka yang baru saja meletakkan kunci mobil di meja ruang tamu, berjalan menyusul ke dapur. Ia berdiri di ambang pintu sambil melipat lengan kemejanya.

"Ada yang bisa Mas bantu?" tanya Arka menawarkan diri.

"Ehh, nggak usah, Mas. Mas mandi aja dulu, biar segar. Ini cuma tinggal mindahin lauk ke piring kok," tolak Lilis lembut.

Namun, bukannya pergi ke kamar mandi, Arka justru mendekat dan mengambil alih salah satu wadah lauk untuk diletakkan di piring.

"Lis, dengerin Mas," ucap Arka dengan nada yang tenang namun serius.

"Di rumah ini, Mas nggak ingin kamu merasa mengerjakan semuanya sendirian. Pekerjaan rumah itu dilakukan bersama."

"Mas nggak mau cuma jadi suami yang duduk manis menunggu dilayani. Selagi Mas bisa bantu, Mas akan bantu. Ini rumah kita berdua, jadi kenyamanan di dalamnya juga tanggung jawab kita berdua," lanjut Arka sambil menatap mata Lilis dengan tulus.

Lilis merasa hatinya menghangat mendengar prinsip suaminya. Ia teringat ucapan Arka tadi pagi di rumah mertuanya tentang bagaimana Ayah Yuda selalu membantu Ibu Kirana. Ternyata Arka benar-benar menerapkan ilmu itu di rumah tangga mereka sendiri.

"Makasih ya, Mas. Kalau gitu, Mas bantu beresin meja ini, nanti aku yang cuci wadah plastiknya," ucap Lilis akhirnya luluh.

"Gitu dong. Habis ini baru kita mandi dan shalat Maghrib berjamaah," jawab Arka sambil tersenyum puas.

1
Shuttttttttttt
udah tua msih gatal sibuk mikirin mntan suami yg udah mokad... aneh. bukannya mikirin anak² nya sama suami bru yg baik, malah kepikiran mntan suami
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Tamat juga baca marathon.👍
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Dasar Kakek sama Opanya Gibran ada saja bahan bikin ribut./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Selamat datang di dunia baru mu baby Gibaran Hafizan.. panggilannya GIBRAN atau HAFIZAN nih.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Hihihi pak Yuda lucu sekali kayak bocil lagi merajuk./Facepalm/
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Akhirnya calon Arka - Elisa junior hadir juga.👏👏
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Inibsebenarnya dokter Gunawan yang salah prediksi apa gimana sih, kok Elisa kebiasaannya menunjukan dan perubahan badan serta moodnya kayak orang lagi hamil.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kamu gantle Elham.👍
Hana buka hati mu untuk Elham suami mu karna dia sudah benar² berjuang keras untuk tanggung jawab dan maaf mu jadi berjuang bareng² saling melengkapi karna kamu sudah melihat sendiri gimana perjuangan dia di depan mu sampe rela melepas semua barang dan jabatan daribAyahnya demi kamu juga
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Kok bisa gitu ya, di kirain beneran hamil.🤔
Mungkin belum waktunya... di suruh mantenan dulu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Aduh Arka kamu dokter sampe ga kedeteksi kalau Elisa lagi hamil, biasanya kan dari gejalanya saja sudah ada ngarah ke situ beda sama Magh... coba kalau tadinya diperiksa denyut nadinya pasti ada yang beda.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Nah Loh bu Tantri dengan bu Marni saling mengenal, kejadian antara Elham dan Hana menjadi penghubung antara bu Tantri dan bu Marni yang mungkin sudah lama ga bertemu.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Calon baby sudah hadir nih dari gejalanya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
pak Yasir ini kayaknya arogan banget, sombong dan lebih mentingin kehormatan dari pada tanya baik² anaknya gimana.
Sudah sepuh harusnya ga pake otot pak takutnya larinya ke stroke.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Terus berjuang Elham, jangan menyerah sampe kamu benar² sudah sampe batas di mana kamu harus terus maju atau mundur untuk berhenti berjuang dan mendapatkan jawaban keputusan dari Hana.💪
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Sebenarnya ga ada yang namanya untung di sini tapi di balik kejadian Hana, hikmahnya adalah dia meskipun kehilangan kehormatan tapi Elham hadir bertanggung jawab dan datang di waktu yang tepat juga di saat bu Marni memerlukan pertolongan plus sosok Elham mungkin yang Allah kirim untuk jadi tempat Hana bersandar plus berbagi beban hidup yang selama ini dia keluhkan.

Jadi Hana dengan bantuan dan hadirnya Elham juga kamu ga kehilangan ibu mu, orang tua yang paling kamu sayangi... tapi masalahnya bukan hanya pada maaf Hana tapi juga ortu'nya Elham gimana nanti.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Betul Arka, meskipun kesalahan Elham berat tapi dia mau tanggung jawab dan ga lari dari kesalahannya begitu juga dia mau berjuang untuk maafnya Hana dan membantu bu Marni biayain operasinya dan menuhin kebutuhan Hana.

Biar waktu yang menjawab gimana nanti keputusan Hana pada Elham entah mau menerima dia atau ngga yang penting Elham sudah berusaha.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Saatnya Elham berjuang maaf pada Hana, untung juga a Elham datang tepat waktu jadi berarti Elham masih punya sisi baik meskipun itu ga bisa mengubah / mengembalikan keadaan Hana seperti dulu tapi kalau Elham haris menebus kesalahannya itu tergantung Hana gimana karna takutnya Hana hamil.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Terus kalau kamu pergi, Ibu mu di rumah barrng siapa dan siapa yang rawat beliau Hana.

Apalagi sakit jantung, kalau sewaktu² kambuh terus kamu ga ada yang ada kamu bakal lebih nyesel seumur hidup... lari dari masalah malah akan dapat cobaan baru
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Waduh apa Hana di perk0sa sama Elham ya karna Elham patah hati dan frustasi saat tau kalau Elisa sudah menikah dan berkahir mabuk terus lampiasin ke si Hana.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎🤍
Ada hubungan apa Hana dengan Elham kok kayak terjadi sesuatu di antara mereka.🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!