NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMESTER 5 - Part 2

“Ya,” panggil Jay menghampiri Gea yang tengah merapikan isi tasnya setelah rapat di himpunan hari itu selesai.

Gea menengadahkan kepalanya, menatap sang kekasih yang masih berdiri di dekatnya.

“Aku balik duluan ya, Ya. Mau nganter si Putri. Udah lemes banget dia dari tadi,” ujar Jay meminta izin.

Gea mengerutkan kening samar, namun segera mengangguk patuh. “Oh iya, Ay.”

“Kamu gak apa-apa, kan?” tanya Jay, sekadar basa-basi formalitas.

“Santai. Udah sana kamu buruan. Kasian si Putri,” sahut Gea, mencoba berlapang dada.

“Aku duluan ya. Kamu nanti kabarin aku ya kalo udah sampe rumah,” pamit Jay, yang langsung dijawab Gea dengan anggukan kepala dan senyuman tipis.

Jay berbalik lalu meninggalkan himpunan dengan langkah setengah berlari. Gea menghela napas panjang melihat punggung itu menghilang. Karena hari itu ia tidak membawa motor akibat

dijemput oleh Jay tadi pagi, akhirnya Gea mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek daring.

“Laki lo balik duluan?”

Sebuah suara familier membuat Gea mendongak. Malik berjalan menghampirinya setelah menyaksikan Jay pulang terburu-buru bersama sahabat-sahabatnya.

Gea menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Balik sama gue, Ge,” kata Malik langsung.

“Gak usah, Mal. Gue udah pesen ojol nih,” tolak Gea halus sembari menunjukkan layar ponselnya

yang sedang memuat halaman pencarian pengemudi.

Tanpa babibu, Malik langsung mengambil ponsel dari tangan Gea. Jemarinya bergerak cepat menekan tombol pembatalan pesanan Gea sebelum pengemudi ojol menerimanya.

“Iiih, Malik. kok di-cancel sih?” protes Gea kesal, refleks memukul pelan lengan sahabatnya itu.

“Lo balik sama gue. Ini udah malem, Ge. Lagian ojol lo juga belom ada yang ambil itu,” sahut Malik santai sembari mengembalikan benda pipih itu ke pemiliknya. “Yuk, jalan.”

Mau tidak mau, Gea akhirnya mengekor di belakang Malik menuju area parkiran mobil.

Suasana jalanan kota malam itu cukup padat, menyisakan keheningan yang nyaman di dalam mobil Malik sebelum Gea akhirnya membuka suara.

“Sorry ya, Mal,” ucap Gea lirih. “Lo jadi repot gara-gara gue.”

Malik tetap fokus menatap jalanan di depan, tangannya dengan lihai mengendalikan kemudi.

“Simpan aja kata sorry lo, Ge. Kayak baru kenal gue kemarin sore aja.”

Gea terkekeh hambar, bersandar pada kursi penumpang.

“Kemana dia? Kok buru-buru banget tadi?” tanya Malik, menyelidiki hal yang mengganjal di kepalanya sejak tadi.

“Putri sakit katanya baru dapat hari pertama, makanya dari tadi pas rapat mukanya udah pucat

banget,” Gea menjelaskan dengan nada sewajar mungkin, menyembunyikan secuil rasa sesak di

dadanya.

“Terus kenapa lo gak di ajak balik sekalian? Dia bawa mobil, kan?”

Gea tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kedua bahunya pasrah, menatap keluar jendela.

“Lo… udah ngobrol lagi sama Jay?” tanya Malik hati-hati.

Gea menghembuskan napasnya berat, seolah oksigen di sekitarnya mendadak menipis. “Mal... gue capek.”

Malik tidak memotong. Ia membiarkan keheningan malam dan deru mesin mobil menjadi latar belakang, menunggu Gea melanjutkan apa yang selama ini tertahan di tenggorokannya.

“Capek berantem terus. Kayak? Gue napas aja salah,” aku Gea dengan suara bergetar. “Makin ke sini makin, posesifnya makin berasa bikin sesek. Lo bahkan gak tau kan, kalo dia kesel karena kita sekelompok di tugas kawasan?”

Malik menoleh sekilas, mengerutkan keningnya, lalu menggeleng pelan.

“Semua yang berhubungan sama lo selalu dia kesel, Mal. Menurut dia, hubungan kita sebagai sahabat itu terlalu dekat. Lo ingat gak pas kita ngerjain tugas kelompok di rumah gue beberapa

bulan lalu, dan ada dia juga?” Malik bergumam, mengisyaratkan bahwa ia masih mengingat momen canggung itu. “Setelah hari itu, dia bilang dia kesel liat lo deket sama keluarga gue. Dia cemburu karena lo bisa santai ngobrol sama bokap dan gak canggung juga sama Bang Jamal,” Gea tersenyum getir.

“Hmm. Jadi itu alasan lo belakangan ini makin menarik diri dan jaga jarak dari gue?” Malik menyimpulkan arah pembicaraan. “Terus? Apa lagi?”

“Lo tau sendiri kan sekarang gue udah gak aktif di IG? Gue gak boleh posting apapun lagi di sana. Dia gak suka orang pada komentar di foto yang gua posting. Gua ikutin maunya dia, Mal. Dan malam ini... kalau sampai dia tau gue pulang bareng lo, dia pasti bakal ngamuk lagi,” bisik Gea lemas, diakhiri dengan kekehan kecil yang terdengar penuh luka.

“Ge.”

“Gue gak apa-apa, Mal. Serius,” potong Gea cepat. Bukan untuk meyakinkan Malik, tapi mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Gue cuma belom ketemu momen yang pas aja buat ngobrolin semuanya dari hati ke hati. Tiap gue mulai bahas masalah kita, dia selalu punya cara untuk membalikkan keadaan. Dia bakal menjabarkan seribu daftar kesalahan gue di mata dia. Di saat itu juga, gue kayak langsung mendadak bodoh. Gue gak bisa membela diri gue sendiri.”

Air mata Gea kembali menggenang di pelupuknya, beruntung temaram lampu jalanan

menyamarkan kesedihannya. “Gue tau perasaan cemburu dia itu valid, Mal. Gue menghargai itu.

Tapi, gue cuma mau didengar juga sekali aja. Tapi tiap kali berhadapan sama dia... rasanya suara gue langsung ilang.”

“Jadi, selama hampir satu tahun ini, lo gak pernah benar-benar menyuarakan apa yang lo rasakan?” tanya Malik dengan nada menuntut.

Gea menggelengkan kepalanya. “Maaf ya, Mal.”

“Ngapain lo minta maaf sama gue? Lo gak ada salah apa-apa sama gue, Ge.”

“Maaf lo jadi keseret-seret dalam masalah percintaan gue,” ucap Gea tulus.

Malik menghela napas panjang, menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan yang agak sepi begitu mereka sudah dekat dengan daerah perumahan Gea. Menoleh penuh pada sahabat masa kecilnya itu.

“Lo tau gak kalo lo itu udah bego?” tanya Malik blak-blakan, namun sorot matanya sarat akan rasa protektif seorang kakak.

Gea tergelak kecil, air matanya luruh satu tetes namun buru-buru ia usap. “Tau. Lo bukan orang

pertama kok yang bilang gue bego.”

“Terus sekarang lo mau gimana lagi? Mau bertahan sampe lo bener-bener abis gak bersisa?”

Gea terdiam. Pertanyaan Malik mengunci lidahnya. Ia mengalihkan pandangannya, memilih

menatap pantulan lampu-lampu jalanan pada kaca jendela di sampingnya. Hubungan ini lambat laun terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.

“Dipikirin lagi yang bener ya, Ge,” ucap Malik dengan nada suara yang teramat dalam dan serius sebelum kembali melajukan mobil. “Jangan lupa kalo lo juga deserve buat bahagia. Bukan cuma bertugas menjaga kebahagiaan orang lain.”

...****************...

“Ay, weekend jalan yuk. Udah lama kita gak nge-date,” ajak Gea saat mereka dalam pulang pada Jumat sore. “Kamu free gak Sabtu atau Minggu besok?”

Jay yang sedang fokus menyetir melirik sekilas. “Sabtu aja yuk. Minggu aku ada janjian sama anak-anak mau ngerjain tekbang.”

“Oke, Sabtu ya.”

“Mau ke mana emangnya?”

“Makan aja. Lagi pengen makan pasta, nih.”

Dalam hati, Gea sudah merencanakan semuanya dengan matang. Ia berniat membicarakan kelanjutan hubungan mereka dengan santai dan kepala dingin pada Sabtu besok. Gea bahkan sudah menyusun rangkaian pertanyaan di benaknya agar tidak terkesan menyudutkan. Tak hanya itu, demi memperjuangkan hubungannya dengan Jay yang hampir menginjak satu tahun, Gea sampai meluangkan waktu melakukan riset kecil-kecilan di internet mengenai cara menghadapi pasangan yang memiliki trauma masa lalu. Ia benar-benar ingin mengerti Jay.

Gea menyambut Sabtu pagi itu dengan penuh semangat. Setelah pulang dari kelas pilates,

ia sempat menikmati segelas jus buah segar buatan kakaknya sebelum bergegas mandi dan bersiap-siap. Namun, saat ia mengirim pesan menanyakan keberadaan Jay, pria itu mengabari kalau ia harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu dan tidak bisa menjemput Gea. Enggan merusak suasana hati, Gea membalas bahwa tidak apa-apa, ia akan berangkat ke restoran pasta tersebut menggunakan ojek daring dan mereka bisa langsung bertemu di lokasi.

Namun, tiga puluh menit berlalu sejak Gea menginjakkan kaki di restoran, Jay tak kunjung

memperlihatkan batang hidungnya. Pesan-pesan yang dikirim Gea bahkan belum ada yang di baca. Panggilannya pin dialihkan begitu saja.

Mengembuskan napas panjang, Gea mengetik pesan terakhir dengan sisa kesabaran yang menipis.

Aku tunggu setengah jam lagi.

Kalo kamu gak dateng, aku pulang.

Send.

Perutnya sudah berdemo lantaran sejak pagi dia hanya minum segelas jus buah. Dilanda galau apakah antara harus memesan makan sekarang atau nanti, menunggu kekasihnya datang, Gea hanya bisa mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Akhirnya, rasa lapar yang sudah tidak bisa ditahan membuat Gea memutuskan untuk memesan makanannya sendiri.

Hingga pastanya habis, Jay tak kunjung datang. Tidak ada juga satu pun pesan teks masuk dari pria itu sekadar untuk memberi kabar atau alasan pembatalan. Dengan hati yang diselimuti kekesalan mendalam, Gea akhirnya berdiri, membayar makanannya, dan memutuskan untuk

pulang. Sepanjang jalan, dadanya terasa sesak oleh perpaduan rasa jengkel, khawatir, dan kecewa yang melebur menjadi satu.

Ketika malam tiba, Gea yang sedang berbaring malas di atas kasurnya iseng membuka ponsel. Saat itulah matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuat jantungnya mencelos.

Jay baru saja memperbarui status m WhatsApp-nya. Pria itu mengunggah foto Adam yang tengah terbaring pucat di atas ranjang rumah sakit dengan keterangan tulisan, ‘Nyusahin emang anak rantau ini’.

Ada secuil rasa lega yang sempat mampir di hati Gea, setidaknya ia tahu Jay baik-baik saja dan tidak mengalami kecelakaan di jalan. Namun, sedetik kemudian, rasa lega itu langsung digulung oleh ombak kekecewaan yang jauh lebih besar dan menyakitkan.

Jay bisa memperbarui status WhatsApp. Bahkan ketika Gea beralih membuka Instagram, Jay tidak hanya mengunggah satu cerita, melainkan ada lima IGS berturut-turut yang ia bagikan di akunnya mengenai kondisi Adam. Jay punya waktu untuk membuka media sosial, mengambil foto, dan mengetik caption untuk teman-temannya. Namun, untuk sekadar membalas pesan teks dari Gea, pria itu sama sekali tidak punya waktu dua detik untuk mengetik kata 'maaf'.

Malam itu, di dalam kesunyian kamarnya, Gea hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, menahan seluruh letupan emosi yang nyaris meledak dari dadanya. Ia tidak berniat mengirim pesan makian atau mengemis penjelasan lagi. Mengalihkan rasa sakitnya, Gea memilih membuka laptop dan menonton maraton konten-konten NCT yang sudah menumpuk di daftar putarnya. Ia tertawa paksa di depan layar, mencoba mati-matian menenangkan diri dan memperbaiki suasana hatinya yang sudah telanjur hancur lebur.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!