Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Daley
Tok...
Tok...
Tok...
Mbok Arsih mengetuk pintu kamar Daley.
"Tuan muda, den Ley... ini mbok Arsih bawa makan malamnya den."
"Masuk..." jawab Daley.
Mbok Arsih membuka pintu kamarnya, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil membawa nampan makanannya. Sedangkan Daley sedang duduk di kursi rodanya sambil menatap pemandangan taman rumahnya lewat jendela kamar.
"Habiskan makanannya den, biar cepat sembuh," kata mbok Arsih.
Daley memutar kursi rodanya seraya menatap pelayannya.
"Dimana kakek?"
"Tuan besar sudah masuk kamarnya, sepertinya ia masih sangat sedih sama seperti den Ley. Mbok tahu kalian masih merasa kehilangan, tapi hidup terus berjalan den. Lebih baik den Ley membuktikan pada mendiang nyonya dan tuan, kalau den Ley bisa terus menjalani hidup dengan baik dan bahagia, itu bisa membuat mereka tenang di sisi Tuhan."
Daley mengulas senyumnya seraya menganggukkan kepalanya, "terima kasih mbok."
"Mbok tinggal ya, kalau ada apa-apa panggil saja mbok."
"Iya..."
Mbok Arsih meninggalkan kamar Daley, sedangkan laki-laki remaja itu kembali menatap taman rumah besar Jamiko. Semua kenangan bersama orang tuanya kembali teringat olehnya, Daley pun tak kuasa menahan air matanya.
"Maafkan Ley mi, pi... seharusnya Ley bisa menjadi anak yang berguna saat kecelakaan itu. Kenapa Ley tidak bisa menyelamatkan kalian berdua? kalian pasti sangat kesakitan, Ley minta maaf..."
Daley terus terisak sambil menundukkan kepalanya. Ia pun kembali teringat kejadian kecelakaan tersebut.
...****************...
FLASH BACK ON :
Hari itu Darwin dan Leyni ingin mengantarkan Daley ke kampusnya karena tiba-tiba saja sopir mereka izin tidak bekerja karena ada urusan mendadak.
Awalnya perjalanan mereka baik-baik saja, mereka pun masih sempat berbincang-bincang di dalam mobil selama perjalanan.
"Kau tidak ingin pindah kuliah ke Amerika Ley?" tanya Darwin.
"Benar nak, mami rasa Harvard kampus terbaik untukmu. Bukannya mami tidak menyukai kampusmu sekarang," sahut Leyni.
"Aku tidak ingin meninggalkan kalian," jawab Daley datar.
"Kami tidak selamanya bisa bersamamu nak, suatu hari kau harus mandiri. Kau anak yang cerdas, beasiswa semester berikutnya adalah ke Harvard. Kalau papi boleh memberi pendapat sih, lebih baik..."
"Kenapa papi bilang tidak bisa selamanya bersamaku?" sergah Daley, "kalian akan bersamaku sampai kapanpun," imbuhnya kesal.
"Bukan seperti itu, maksud papi..."
"Jangan marah dulu Ley, maksud papi... kau itu seorang pria, tentu saja harus mandiri. Mami sependapat dengan papi, lebih baik kau pindah kuliah saja ke Harvard. Disana jurusan management bisnis..."
"Loh ada apa ini?"
Leyni belum selesai bicara tapi suaminya mulai panik.
"Ada apa pi?" tanya Leyni dan Daley bersamaan.
"Rem mobilnya tidak berfungsi, ya Tuhan..."
Mereka semua terkejut, jalan mulai menurun dan sangat ramai. Darwin terus mengendalikan mobilnya yang melaju cukup kencang dan tak terkendali.
"Papi awas...!" teriak Leyni, "pegangan yang erat Ley," imbuhnya.
"Papi... coba injak lagi remnya. Mami, bagaimana ini...! " teriak Daley.
Keadaan mulai semakin panik, mobil semakin tak terkendali.
"Kalian pegangan yang kuat...!!" teriak Darwin.
Dan saat itulah Daley tidak mengingat apa yang dilakukan ayahnya. Ia tersadar saat mobil mereka sudah terbalik dan kedua kakinya terjepit.
Daley berusaha berteriak sekeras-kerasnya untuk meminta pertolongan, tapi tidak ada yang membantu mereka.
"Mami... papi... kalian baik-baik saja...!"
Tidak ada jawaban dari kedua orang tuanya. Daley berusaha melepaskan kakinya namun sia-sia.
"Mami... papi... katakan sesuatu, jangan membuatku takut. Mami...!!"
"Papi... bicaralah... kalian bangun... Ley sangat takut... mami... bangunlah...!!"
Daley terus berteriak dan mencoba membangunkan kedua orang tuanya namun tetap gagal. Cukup lama ia dalam keadaan hidup dan mati sampai akhirnya seseorang mendekatinya yang tak lain adalah Lisa.
FLASH BACK OFF
...****************...
Daley menghapus air matanya, ia segera menggerakkan kursi rodanya lalu keluar dari kamarnya.
"Kakek... kek... kakek...!!!" teriak Daley.
"Kakek...!!!"
Daley terus berteriak memanggil kakeknya, Aston yang terkejut mendengar teriakannya langsung keluar dari kamar.
"Ada apa Ley?" tanya Aston.
Daley mendekati kakeknya, "kecelakaan yang kami alami bukan kecelakaan biasa, dimana pak Kurdi kek?"
"Apa maksudmu nak, apa hubungannya dengan pak Kurdi sopir kita?"
"Aku yakin ia tahu sesuatu kek, dimana pak Kurdi?"
"Sampai sekarang ia belum kembali bekerja karena putrinya sedang operasi. Kau ingat sesuatu tentang kecelakaan itu? katakan pada kakek Ley."
Daley menganggukkan kepalanya, "pak Kurdi tiba-tiba tidak bisa mengantarkan Ley kuliah karena ada urusan, lalu ia bilang mobil papi masih di bengkel karena perawatan bulanan jadi kami harus menggunakan mobil yang biasa Ley pakai. Saat dalam perjalanan, awalnya baik-baik saja lalu tiba-tiba mobil melaju lebih kencang, saat itu papi mencoba untuk mengendalikan mobilnya dengan menginjak rem tapi rem mobilnya tidak berfungsi kek. Ley ingat papi bilang remnya tidak berfungsi."
Aston membelalakkan matanya, "rem blong?"
Daley kembali menganggukkan kepalanya. Aston segera beranjak dari sana menuju telepon rumah. Ia segera menghubungi asistennya.
"Malik... apa sudah ada hasil penyelidikan polisi tentang kecelakaan itu?" tanya Aston berbicara di telepon.
"Sampai saat ini masih belum ada pak Presdir. Kepolisian mengatakan butuh waktu 1 bulan untuk penyelidikan."
"Mobil yang mereka kendarai mengalami rem blong, kecepatan mobilnya naik dengan sendirinya saat itu terjadi. Aku rasa ini bukan kecelakaan biasa, segeralah kemari," perintah Aston.
"Darimana anda tahu pak?"
"Ley sudah mau menceritakan kecelakaan itu padaku. Satu lagi, tolong cari tahu keberadaan sopir Daley, Kurdi Hadiarto. Jika kau menemukannya, segera bawa ia kemari."
"Baik pak Presdir," jawab Malik.
Aston pun langsung menutup teleponnya lalu kembali ke tempat Daley berada.
"Kau tenang saja Ley, jika kecelakaan ini ada faktor kesengajaan, maka kakek tidak akan melepaskan siapapun yang melakukannya."
Daley terisak, ia kembali menundukkan kepalanya. Sontak Aston memeluk cucunya.
"Maafkan kakek karena tidak bisa melindungi kalian," ucap Aston ikut terisak.
"Kakek sama sekali tidak salah. Jika memang kecelakaan kami ada campur tangan orang lain, maka Ley pun tidak akan pernah melepaskan mereka."
Aston melepaskan pelukannya, "kita akan mencari tahu sampai tuntas."
Daley menghapus air matanya, ia harus kuat sebagai laki-laki.
"Kakek, Ley mau ke Amerika. Ley ingin sembuh dan sekalian kuliah di Harvard," ujar Daley.
Aston terkejut, "kau yakin nak?"
"Ley ingin tumbuh menjadi pria dewasa yang lebih kuat untuk mencari kebenaran atas kematian papi dan mami," jawab Daley tegas.
Aston menghela nafas panjang, "kita berangkat minggu depan."
"Tidak kek, Ley ingin berangkat besok juga."
"Tapi..."
"Kakek harus terus menyelidiki kasus ini, sementara Ley ingin segera sembuh, ingin menggunakan kedua kaki ini saat menangkap orang-orang yang terlibat tersebut. Ley yakin kecelakaan kami bukan suatu kebetulan saja, Ley yakin ini sudah direncanakan. Kakek tahu kan feeling Ley selalu benar?"
Aston menganggukkan kepalanya, Daley memang selalu memiliki perasaan yang kuat jika merasa ada yang tidak benar.
"Kakek akan bicarakan masalah ini dengan pak Malik, jika pak Malik bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat, besok atau paling lambat lusa, kakek akan mengantarkanmu ke Amerika."
Daley menganggukkan kepalanya.
"Sekarang kembalilah ke kamarmu, kakek akan bicara dengan pak Malik. Ia akan segera tiba. Makanlah yang banyak, jangan pikirkan masalah ini sendiri. Ingat Ley, masih ada kakek di sampingmu."
Daley memeluk pinggang kakeknya, "aku janji tidak akan mengecewakan kakek, mami dan papi."
Aston menepuk-nepuk punggung cucunya. Daley melepaskan pelukannya seraya membalikkan kursi rodanya. Laki-laki remaja itu segera menggerakkan kursi rodanya untuk kembali ke kamarnya. Aston menatap punggung cucunya dengan sedih.
"Kakek sejak awal memang merasa ini bukan kecelakaan yang sederhana Ley. Kakek sudah berpikir sejak kecelakaan itu terjadi pada kalian, kakek tidak menyangka kau pun memiliki pikiran yang sama denganku. Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama nak, kita tangkap pelakunya. Terima kasih sudah kembali bangkit Ley. Terima kasih membuat kekhawatiran kakek berkurang. Kakek janji akan berusaha untuk melindungi dan mendukungmu sampai akhir nak," pikir Aston.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣