NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Om Duda

Di Jodohkan Dengan Om Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:34.3k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Mia Novita

Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Butik

Tiga bulan telah berlalu sejak langit Singapura membara. Dunia memperkenalkan peristiwa itu sebagai "Kegagalan Sistem Global", namun bagi Arkan dan Zia, itu adalah hari di mana mereka berhenti menjadi pion.

Berkat bantuan Rio dan Bara yang memalsukan identitas mereka melalui sisa-sisa protokol The Ghost , kini mereka kembali ke Jakarta. Arkan tetaplah "Singa" di dunia bisnis, meski kini ia lebih memilih bergerak di balik layar dengan perusahaan modal ventura baru yang lebih bersih.

Senin pagi di kediaman Arkana.

"OM ARKAN! MANA DASI FISIKA-KU?!" teriak Zia dari lantai dua, suaranya menggelegar mengalahkan suara mesin kopi di dapur.

Arkan, yang sedang menyesap espresso sambil membaca laporan saham di tabletnya, bahkan tidak menoleh. Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap yang pas di tubuhnya, tampak tenang dan sangat... menyebalkan.

"Pertama, tidak ada yang namanya dasi fisika, Bocil. Itu dasi seragam sekolahmu," jawab Arkan datar. "Kedua, dasi itu ada di atas kulkas. Jangan tanya kenapa bisa ada di sana, tanyakan pada otakmu yang belajar semalam sambil makan camilan."

Zia berlari turun tangga dengan rambut yang masih agak berantakan. Ia menyambar dasinya dan menatap Arkan dengan cemberut. "Om ngeselin banget sih, bantuin cari kek. Aku ini mau Ujian Akhir Sekolah! Kalau aku tidak lulus, reputasi Om sebagai tunangan sekaligus wali yang jenius bisa hancur!"

Arkan meletakkan tabletnya, lalu berdiri. Ia berjalan mendekati Zia, membuat gadis itu otomatis mendongak. Dengan gerakan yang sangat efisien, Arkan mengambil dasi di tangan Zia dan memasangkannya di kerah baju gadis itu.

“Kalau kamu tidak lulus hanya karena masalah dasi, berarti investasiku pada guru les privatmu sia-sia,” ucap Arkan pelan, sambil membentangkan kerah baju Zia dengan telaten. Jarak mereka begitu dekat hingga Zia bisa mencium aroma parfum maskulin Arkan yang selalu membuatnya berdebar.

Zia terdiam sebentar, wajahnya merona. Namun, sifat rese Arkan segera kembali.

"Lagi pula, aku sudah cek jadwalmu. Hari ini ujian Kimia dan Sejarah. Tidak ada Fisika. Belajar yang benar, jangan cuma jago berdebat denganku," Arkan menyentil dahi Zia pelan.

"Ih! Om menyebalkan!" Zia menghentakkan kakinya, lalu menyambar rotinya. "Tapi... nanti jemput kan?"

Arkan kembali duduk, wajahnya kembali dingin dan tak terbaca. "Lihat nanti. Aku ada rapat dengan investor dari London."

Sepanjang hari, Zia mencoba fokus pada kertas ujiannya. Namun, bayangan Arkan yang belakangan ini kembali menjadi mesin uang yang dingin membuatnya sedikit kesal. Sejak kembali ke rutinitas, Arkan memang tetap menjaganya, namun sikap kaku dan diktatornya seringkali membuat Zia rindu pada momen emosional mereka di Singapura.

Saat bel pulang berbunyi, Zia berjalan lesu menuju gerbang sekolah bersama teman-temannya.

"Zia, lihat itu! Itu bukannya SUV tunanganmu?" bisik salah satu teman.

Zia mendongak. Di depan gerbang, bukan hanya satu mobil, tapi tiga mobil SUV hitam berkilau rapi. Arkan berdiri di depan mobil tengah, mengenakan kacamata hitam, menyandarkan tubuhnya di depan mobil sambil melipat tangan di dada.

Setiap siswi yang lewat tidak bisa menahan diri untuk tidak mencuri pandang pada pria yang tampak seperti model iklan jam tangan mewah itu.

"Ayo masuk," perintah Arkan saat Zia sampai di depannya.

"Tadi katanya sibuk rapat?" tanya Zia sambil masuk ke mobil, mencoba menyembunyikan senyum senangnya.

"Rapatnya aku pindahkan ke jam makan siangmu," jawab Arkan singkat sambil mulai menjalankan mobil.

Namun, Zia menyadari jalan yang mereka ambil bukan arah rumah. "Kita mau ke mana? Aku harus belajar buat ujian besok, Om!"

"Ke butik," jawab Arkan singkat. "Besok malam ada jamuan makan malam penting. Aku tidak mau kamu datang dengan gaya anak SMA yang hanya tahu cara menghabiskan uang sakunya untuk boba."

"Ih, Om Rese! Aku kan memang masih anak SMA!"

Saat mobil berhenti di lampu merah, Arkan terdiam sejenak. Tangannya yang memegang setir tiba-tiba menegang. Jam tangan yang dikenakannya,jam tangan baru yang ia rakit sendiri, tiba-tiba bergetar halus dan mengeluarkan cahaya biru tipis yang hanya bisa dilihat olehnya.

Sebuah notifikasi enkripsi muncul di layar dasbor mobil, [PESAN TERENKRIPSI, GENERASI KEDUA ZONA SEKOLAH.]

Arkan melirik melalui spion. Sebuah motor sport hitam tampak mengikuti mereka dari jarak jauh sejak mereka keluar dari gerbang sekolah. Arkan menghela napas panjang, matanya kembali tajam seperti singa yang siap menerkam.

"Zia," panggil Arkan, suaranya berubah menjadi sangat lembut namun serius.

"Apa?" tanya Zia, masih sibuk mengomel tentang ujian kimianya yang sulit.

"Setelah UAS selesai, bagaimana kalau kita... liburan ke tempat yang tidak ada internetnya sama sekali?"

Zia menoleh, bingung dengan perubahan nada bicara Arkan. “Kenapa tiba-tiba?”

Arkan menggenggam tangan Zia dan menggenggamnya erat, sambil matanya tetap fokus pada motor yang membuntuti mereka. "Karena aku baru sadar, ujian tersulitmu bukan di sekolah. Tapi ujian untuk tetap menjadi milikku di dunia yang tidak pernah berhenti mengejarmu."

Zia tertegun, merasakan Arkan yang protektif. Dia tidak tahu bahwa di balik saku jaket Arkan, sebuah alat pelacak frekuensi sedang berbunyi cepat, menandakan bahwa musuh baru mereka jauh lebih dekat dari dugaan mereka.

Zia merasakan jemari Arkan yang dingin namun menggenggamnya dengan kekuatan yang tidak biasa. Suasana di dalam mobil yang tadinya penuh dengan omelan Zia tentang rumus kimia, tiba-tiba berubah menjadi hening yang mencekam namun intim.

Zia bukan gadis bodoh. Meski Arkan berusaha tenang, ia bisa merasakan ketegangan yang merambat dari otot lengan pria itu.

"Om... ada apa?" bisik Zia, suaranya mengecil. “Motor itu ya?”

Arkan tidak menjawab secara lisan. Ia hanya memutar kemudi dengan satu tangan secara lurus dan tenang, sementara tangan lainnya tetap menggenggam tangan Zia seolah melepaskannya adalah sebuah kesalahan fatal.

"Pasang sabuk pengamanmu dengan benar, Zia. Dan jangan menoleh ke belakang," perintah Arkan. Suaranya rendah, jenis suara yang membuat Zia patuh tanpa bantahan.

Arkan menginjak pedal gas. Mesin SUV itu menderu, membelah kemacetan Jakarta dengan presisi yang gila. Arkan tidak mengemudi seperti pengusaha sukses, ia mengemudi seperti seorang predator yang sedang menggiring mangsanya ke sudut kematian.

Motor sport di belakang mereka ikut menambah kecepatan. Si pengendara tampak lihai, menyelip di antara celah bus transjakarta.

“Aku benci saat liburanku diganggu bahkan sebelum aku memesan tiket,” gumam Arkan sinis. Ia menekan sebuah tombol tersembunyi di bawah dasbor. Layar navigasi yang tadinya menampilkan peta GPS berubah menjadi radar pendeteksi frekuensi radio.

"Zia, buka laci di depanmu. Ambil kotak kecil berwarna perak."

Zia melakukannya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah earpiece transparan. "Pakai ini. Jika aku menyuruhmu keluar dari mobil nanti, jangan pernah membuang ini."

"Om mau ke mana?! Kita nggak akan lari lagi kayak di Singapura, kan?" tanya Zia dengan nada panik yang mulai naik.

Arkan melirik Zia sekilas melalui sudut matanya. Kilatan protektif itu muncul lagi, kilatan yang sama saat ia menarik Zia dari kejadian di Singapura tiga bulan lalu. "Tidak. Kali ini kita tidak lari. Kita hanya sedang memilah siapa yang berani bermain api di wilayahku."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Mobil berhenti mendadak di depan sebuah butik mewah di kawasan Senopati. Petugas valet segera mendekat, namun Arkan memberikan isyarat agar mereka menjauh.

"Turun. Masuk ke dalam. Cari Ibu Dewi, bilang kau ingin mencoba gaun pesananku, Jangan keluar sampai aku menjemputmu," ucap Arkan tegas.

"Tapi Om—"

"Zia," Arkan memotong, suaranya bergetar sesaat. Ia mengusap pipi Zia dengan ibu jarinya. "Percaya aku. Aku butuh lima menit untuk mengusir serangga di belakang kita. Pergi."

Zia turun dengan langkah ragu. Begitu pintu butik tertutup di belakangnya, Arkan tidak langsung pergi. Ia bersandar di pintu mobil, menyulut sebatang rokok, kebiasaan lama yang hanya muncul saat ia merasa sangat terancam atau sangat haus akan kemenangan.

Motor sport itu berhenti sepuluh meter di depannya. Si pengendara membuka helm, menampilkan wajah yang masih sangat muda, mungkin jauh berbeda dari usia Zia, namun dengan menampilkan mata yang kosong dan dingin.

"Protokol The Ghost tidak pernah benar-benar mati kan, Tuan Arkan?" tanya pemuda itu sambil turun dari motornya.

Arkan mengembuskan asap rokoknya ke udara. "Katakan pada majikanmu. Jika mereka menginginkan kode enkripsi itu, datanglah padaku. Tapi jika mereka menyentuh gadisku, aku akan memastikan 'Kegagalan Sistem Global' kemarin terlihat seperti permainan anak TK dibandingkan apa yang akan kulakukan pada mereka."

Sepuluh menit kemudian, Arkan melangkah masuk ke dalam butik. Napasnya sedikit berburu, dan ada noda debu tipis di kerah kemeja abu-abunya, namun wajahnya sudah kembali ke mode "pengusaha dingin".

Ia menemukan Zia berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Gaun itu membuatnya tampak dewasa, elegan, namun tetap memiliki aura polos yang selalu membuat Arkan bertekuk lutut di dalam hati.

Zia melihat pantulan Arkan di cermin. "Om... orang itu?"

Arkan berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Zia. Ia melingkarkan lengan di pinggang Zia, menatap pantulan mereka berdua. Kontras antara pria dewasa yang penuh rahasia gelap dan gadis sekolah yang terang benderang.

"Sudah diurus. Dia hanya... kurir salah alamat," dusta Arkan lembut. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Zia, menghirup aroma vanila yang menenangkan sarafnya.

"Om bohong," bisik Zia, matanya berkaca-kaca. “Dunia itu mengejar kita lagi, kan?”

Arkan menarik tubuh Zia agar menghadapnya. Ia menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. "Dunia boleh mengejar, Zia. Tapi selama aku masih bernapas, mereka harus melewati mayatku sebelum bisa menyentuh ujung rambutmu."

Arkan mengecup dahi Zia lama dan dalam. "Sekarang, berhentilah menangis. Kamu harus terlihat cantik untuk jamuan besok. Dan setelah itu... kita akan pergi ke tempat di mana hanya ada aku, kamu, dan langit yang tidak membara."

Zia memeluk Arkan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Di balik punggung Zia, Arkan melirik jam tangannya. Notifikasi baru muncul [TARGET TERLOKALISASI, ELIMINASI DIMULAI.]

Arkan tersenyum tipis, senyum yang mematikan. Perang mungkin baru dimulai, tapi bagi Arkan, menjaga Zia adalah satu-satunya misi yang tidak boleh gagal.

1
🤎Rahmaara⁴³💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ini Arkana sudah pernah menikah ya
🤎Rahmaara⁴³💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ : penasaran aku kak😁
total 3 replies
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
pensiun jadi playgirl zia ada" aja ini ya luka lama memang susah untuk di lupakan apalgi luka itu sangat dalam
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
arka PD sekali ya yakin banget kalau zia akan langsung jatuh cinta saat nanti ketemu
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
🍌 ᷢ ͩ꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ
tidak salah neneknya menyuruh Zia belajar masak karena usia segitu memang sudah sepantasnya untuk belajar memasak
Free Palestine 🇵🇸
ya jgn kasih kesempatan buat kang selingkuh👉👈
Free Palestine 🇵🇸
kalo ada kata2 peje jd inget malak d gc🙈🙈🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Free Palestine 🇵🇸
jalani az Zia...kalo kebanyakan mikir yg ada stress duluan...
delete account
sabar saja ya Zia bagiamana pun kamu tetap akan dinikahi dengan duda itu dan semoga minimal orangnya baik
delete account
kayak sudah tidak ada begini ya atau bisa didoakan
delete account
lagi lagi tidur bermimpi dan mimpi terlalu indah baginya
Free Palestine 🇵🇸
luka tak berdarah itu memang sangat menyakitkan
🏡s⃝ᴿ ѕ⍣⃝✰𝑰voᷠnͦeͮ𝐀⃝🥀࿐
Iya Zia tidak usah menghindar dan terima saja takdirmu.
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖
pemikiran orang tua jaman dulu. anak cewek harus bisa masak. padahal ga bisa masak jg tetap bisa makan. wkwkwk
🏡s⃝ᴿ ѕ⍣⃝✰𝑰voᷠnͦeͮ𝐀⃝🥀࿐
Hahaha panggilan om dudanya keren,nyai roro kidul 😂🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖
wkwkwk tidur aja ada ga aman nya ya. tenang Zia, nanti sambung lagi tidurnya
ℛᵉˣʚɞ⃝🍀𝑬𝒓𝒊𝒛𝒂𝒀𝒖𝒖
kan hal yang paling menyenangkan itu ya tidur. apalagi bisa tidur pulas dimana aja, jarang-jarang bisa yang ada diomelin orang rumah
🏡s⃝ᴿ ѕ⍣⃝✰𝑰voᷠnͦeͮ𝐀⃝🥀࿐
Berpikir positif saja Zia siapa tau pernikahan keduamu kali ini bisa membahagiakanmu nantinya meskipun traumamu juga mendalam setidaknya itu akan luntur seiring berjalannya waktu.
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Elzia kaget mendengar Arka akan membawa Elzia bertemu kedua orang tua Arka
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Arka kamu pasti lagi berusaha merayu Zia
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Zia kamu di tegur gara gara cara berpakaian kamu tidak sopan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!