"Gue peringatin sama lo, jangan pernah sentuh barang-barang gue!" ucap Refano sambil menarik kasar gantungan kunci yang ada di tangan Wafa.
"Dan satu lagi. Jangan pernah lo deketin Fani. Karena lo cuman bawa pengaruh buruk buat dia." suara datar dan tatapan tajam Refano tujukan kepada Wafa yang masih setia berdiri didepannya.
"Fani teman aku. Dan aku merasa bahwa nggak ada salahnya Fani membuat keputusan yang membuat dia jadi lebih baik." balas Wafa dengan berusaha untuk tidak sakit hati dengan ucapan Refano barusan.
"Lebih baik dengan berhijab maksud lo?"
"Apa yang salah dengan hijab?"
"Nggak usah ikut campur urusan keluarga gue. Dan ingat, lo nggak tahu apa-apa soal kehidupan gue. Jadi berhenti untuk pengaruhin Fani atau lo akan menyesal."
Bagaimana kisah Wafa selanjutnya? akankah dia mampu untuk menghadapi rintangan demi rintangan yang menimpa hidupnya?
Silahkan berkunjung di IG author: awanmendung_26 🌻🌻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwanMendung26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga
..."Seperti hujan yang tak selamanya turun kebumi. Begitu pula dengan kesedihan, tidak selamanya akan selalu kita rasakan. Karena, kebahagiaan itu nyata adanya."...
...-AwanMendung26-...
HAPPY READING....
"Wafa tungguin...." Teriak Zeya yang tertinggal jauh dibelakang Wafa. Dia lalu berlari menghampiri Wafa yang masih setia berjalan.
"Kenapa sih cepat banget jalannya?" Zeya kesal dengan Wafa yang berjalan sangat cepat hingga membuat Zeya kesulitan menyesuaikan langkah kaki mereka.
"Nanti mie ayamnya keburu habis." Ucap Wafa sambil mempercepat langkahnya menuju kantin.
"Ya, tapi nggak sampai kayak kereta api juga nggak sih." Sewot Zeya sambil terus berjalan mengikuti Wafa.
Wafa tidak memperdulikan omelan Zeya dan langsung menuju kekantin untuk memesan mie ayam yang menjadi makanan favoritnya sekarang.
"Bu, pesan mie ayam satu sama es teh satu." Ucap Wafa pada ibu kantin.
"Ze, mau pesan apa?" Wafa menyenggol pelan bahu Zeya. Perempuan disampingnya itu terlihat menampilkan wajah kusut layaknya pakaian yang belum disetrika.
"Bakso," ucap Zeya yang masih tetap menampilkan raut wajah cemberut. Dengan bibir yang dimajukan beberapa centi ke depan. Wafa lalu memesan makanan sesuai keinginan Zeya.
"Yuk, duduk." Ucap Wafa santai lalu berjalan kearah bangku yang kosong dikantin. Lagi-lagi Wafa mengabaikan Zeya dan berjalan lebih dulu.
Keduanya lalu duduk sambil menunggu pesanan datang. Untuk menghibur diri Wafa kemudian mengambil benda pipih yang ada ditasnya lalu berselancar di sosial media. Zeya yang melihat itu semakin dibuat kesal. "Tadi ditinggalin, sekarang dicuekin." Gerutu Zeya yang kini duduk disamping Wafa.
"Hay, guys. Assalamualaikum," ucap Fani menyapa kedua perempuan itu.
"Wa'alaikumussalam!" Wafa akhirnya mengangkat wajah untuk melihat kearah Fani yang baru saja datang.
"Muka kamu kenapa Ze?" Baru saja Fani datang menemui mereka. Tapi, Fani justru disambut dengan raut wajah Zeya yang tak bersahabat.
"Tuh, gara-gara Wafa. Tadi dia sampai ninggalin aku cuman gara-gara takut kehabisan mie ayam. Sekarang malah cuekin aku dan sibuk sama ponsel dia." Zeya mencurahkan isi hatinya kepada Fani. Berharap bahwa sahabatnya yang satu itu bisa mengerti apa yang dirasakan Zeya sekarang.
Fani tertawa mendengar penuturan Zeya. "Masa gitu ajah udah ngambek sih?"
"Udah ah, aku mau pesan makanan dulu." Lanjut Fani sambil berlalu meninggalkan Wafa dan Zeya.
5 menit kemudian Fani kembali dengan ibu kantin yang sudah mengantarkan pesanan Wafa dan juga Zeya. Wajah Wafa tampak berbinar dan siap untuk menyantap semangkok mie ayam tersebut.
"Ini pesanan dek Wafa." Ibu kantin lalu meletakkan semangkok mie ayam didepan Wafa.
"Ini pesanan dek Zeya."
"Dan terakhir pesanan dek Fani." Ucap ibu kantin dan diakhiri meletakkan pesanan Fani depannya.
"Makasi, Bu." Ucap ketiganya bersamaan.
Wafa kemudian berdoa sejenak lalu menyantap mie ayam tersebut.
"Mmmm...enak banget." Ucap Wafa sambil menikmati mie ayam yang ada dimulutnya.
"Biasa aja kali Fa. Kamu kayak belum pernah makan tiga hari aja." Ucap Zeya yang tampak sudah kembali ceria lagi.
"Hehe, maaf Ze."
Ketika sedang asik menikmati makanan masing-masing. Tiba-tiba Wafa teringat akan sesuatu.
"Fani, Zeya, barangkali dari kalian ada yang tahu lowongan pekerjaan yang cocok untuk mahasiswa kayak kita ini,"
"Memangnya kenapa Fa?" Tanya Fani sambil menatap bingung kearah Wafa.
"Aku lagi nyari pekerjaan." Ucap Wafa sambil memperhatikan Fani dan Zeya.
"Kamu mau kerja?" Kini pertanyaan itu berasal dari Zeya.
"Iya. Lumayan kan buat bantu-bantu Ibu aku."
"Tapi Fa. Kalau kamu kerja apa kuliah kamu nggak bermasalah nantinya?"
"Aku cari kerja yang part time aja. Dan aku yakin aku pasti bisa kok kuliah sambil kerja juga."
"Ya, udah kalau nanti ketemu, aku kabarin kamu deh," ucap Fani yang mendukung niat Wafa.
"Makasi, ya,"
"Iya, sama-sama."
Setelah kegiatan mereka dikantin sudah selesai. Ketiganya lalu menuju ke parkiran seperti biasa untuk bersiap pulang kerumah masing-masing.
"Lho, kenapa berhenti Ze?" Tanya Wafa yang menyadari Zeya yang tertinggal beberapa langkah dibelakang. Zeya terlihat sedang memperhatikan sesuatu. Pandangannya seolah-olah meneliti objek yang sedang amati.
"Ze? Kamu kenapa, kok berhenti?" Tanya Wafa lagi.
"Eh, nggak apa-apa kok. Cuman aku kayak ngeliat orang yang mirip sepupu aku aja." Wafa dan Fani lalu mengikuti pandangan Zeya yang tertuju pada sosok laki-laki yang memakai jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans berwarna biru tua. Wajah orang itu tidak terlihat oleh ketiganya karena posisi laki-laki itu membelakangi mereka.
"Salah orang kali," ucap Fani yang ikut mengamati gerak gerik laki-laki asing itu.
"Dari penampilan sama postur tubuh mirip sih. Tapi aku nggak yakin juga kalau itu dia. Soalnya mau ngapai coba dia kesini." Zeya semakin dibuat penasaran dengan laki-laki yang masih berdiri didekat parkiran.
"Mungkin dia mau jemput kamu kali Ze?"
"Nggak mungkin Fa. Dia itu anaknya sok sibuk banget. Nggak mungkin dia mau ketemu sama aku kalau nggak ada hal penting."
"Dari pada sibuk gibahin orang itu. Mending kita langsung kesana buat nyamperin." Usul Fani pada kedua sahabatnya itu.
"Ya, udah deh." Zeya lalu mempercepat langkah kakinya menuju laki-laki tersebut. Sedangkan Wafa dan Fani hanya bisa mengekor dibelakang.
"Kak Gian!" Karena mendengar suara Zeya menyapanya. Laki-laki itu membalikkan badan menghadap kearah Zeya. Dan betul saja tebakan Zeya, bahwa laki-laki yang sekarang berada didepan Zeya saat ini adalah sepupunya.
"Kenapa kesini kak?"
"Lho, memangnya nggak boleh kalau gue kesini?" Tanya Gian sambil mengangkat sebelah alihnya.
"Ya, boleh-boleh aja sih. Tapi, heran aja gitu. Kok bisa tiba-tiba nggak ada angin, nggak ada petir kak Gian bisa ada disini?"
"Ada yang salah emangnya?"
"Kak Gian nih, ditanya malah nanya balik. Gimana sih!" Gian tertawa kecil melihat tingkah Zeya. Ketika bertemu dengan Zeya, pasti keduanya akan terlibat perdebatan kecil yang selalu berhasil membuat Zeya kesal.
"Gue kesini mau jemput lo, disuruh sama tante Ratih." ucap Gian santai lalu bersiap untuk menaiki motor sport miliknya. Tante Ratih adalah mama Zeya. Beliau menitip pesan pada Gian untuk menjemput Zeya karena mama Zeya itu sedang berada diluar kota.
"Ze?" Tiba-tiba dua perempuan berhijab menghampiri mereka. Gian dan Zeya kemudian menatap kearah kedua perempuan itu.
"Dia bukannya kembaran Refano, ya? Refano bukannya benci banget, ya, sama cewek berhijab? Tapi kenapa kembaran dia malah berhijab? Dasar keluarga aneh!" Gian bergumam didalam hati sambil terus menatap kearah Fani.
"Eh, iya. Guys, aku duluan, ya. Soalnya ojek online aku udah jemput." ucap Zeya bercanda.
"Heh, enak aja ngatain gue ojek online." Gian tidak terima dengan ucapan adik sepupunya itu. Apa mata Zeya sudah tidak berfungsi dengan baik sampai sulit membedakan ojek online dengan dirinya yang tampan dan keren ini?
"Santai kali kak, nggak usah nge'gas nanti kalau rem-nya blong bisa-bisa kakak ketabrak." Kini Zeya yang berbalik mengerjai Gian dengan lelucon aneh yang mampu membuat laki-laki itu kesal.
"Apaan sih lu, nggak jelas banget." Tak sengaja mata Gian menangkap sosok Wafa yang berdiri tepat diantara Zeya dan Fani. "Dia kan cewek galak yang kemarin." Ucap Gian dalam hati sambil terus memandangi Wafa.
"Hey, kak. Ngapain sih ngeliatin Wafa sampai segitunya?" Zeya menyadarkan Gian dari lamunannya.
"Wafa ada hutang sama lo?" Lanjut Zeya sambil menatap bingung kearah Gian.
"Oh, jadi nama lo Wafa?" Tanya Gian tanpa memperdulikan Zeya yang juga bertanya padanya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Zeya sambil menatap Gian dan Wafa bergantian. Saat ini wajah Wafa benar-benar datar. Tidak ada lagi raut wajah ramah dan ceria yang selalu dia tunjukkan ketika bersama dengan Fani dan Zeya. Hal itu memang sudah menjadi kebiasaan Wafa sejak lama, dia akan memasang wajah datar dan cuek jika ada laki-laki yang mengajaknya mengobrol. Entahlah selain untuk menjaga interaksi dengan lawan jenis Wafa juga rasanya sudah lelah untuk menghadapi kaum bernama 'laki-laki'.
"Nggak," jawab Wafa seadanya dengan suara datar.
"Zeya, cewek galak ini teman lo?"
"Dia punya nama kak Gian. Namanya Wafa." Jelas Zeya.
"Iya, maksud gue Wa-Wafa, iya, Wafa. Lo betah gitu temenan sama dia yang jutek terus mukanya datar-datar aja gitu?" Pertanyaan Gian sungguh aneh ditelinga ketiganya. Zeya melirik sekilas kearah Wafa. Perempuan itu tampak mengangkat kedua bahunya saat mengerti kode yang diberikan Zeya.
"Sejak kapan Wafa jadi orang jutek? Dia cuman jutek ke kak Gian kali. Orang dia anaknya ramah kok kesemua orang."
"Ramah apaan. Orang gue ketemu sama dia kemarin aja dia marah-marah mulu." Curhat Gian. Zeya menatap aneh kearah Gian. Apa Gian salah minum obat hari ini? Kenapa dia jadi mempermasalahkan sikap Wafa? Bukanya dia selalu cuek sama semua orang bahkan ke Zeya sekalipun. Gian merupakan tipikal laki-laki yang tak mau tahu urusan orang lain. Gian bahkan tidak pernah peduli dengan orang disekitarnya. Wajar bukan jika Zeya menaruh curiga pada laki-laki itu.
"Kapan ketemunya Fa?" Tanya Zeya pada Wafa.
"Nggak tahu. Mungkin salah orang kali." Lagi-lagi Wafa menjawab dengan cuek. Perempuan itu sangat malas berhadapan dengan laki-laki yang sok kenal seperti Gian ini.
Tampaknya Wafa benar-benar lupa dengan kejadian kemarin sampai dia tidak menyadari bahwa laki-laki yang kemarin berdebat dengan Wafa dijalan adalah Gian, sepupu Zeya.
"Tuh kan--"
"Fani, ayok pulang!" Tiba-tiba tangan kekar melingkar dipergelangan tangan Fani. Dia awalnya berniat untuk menarik kembarannya untuk pulang. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Gian yang juga ada disana.
"Ngapai lo ada disini?" Nada suara Refano terdengar tak bersahabat.
"Woi santai dong bro. Apa dikampus ini ada tulisan selain mahasiswa dilarang masuk, hm?" Gian dapat melihat raut wajah Refano seolah menahan amarah. Laki-laki itu pasti berfikir bahwa Gian sudah senekat ini mencelakai Fani. Bahkan rela untuk datang ke kampus demi membuat rencananya berjalan dengan mulus. Sedangkan Wafa, Zeya dan Fani hanya bisa saling memandang satu sama lain.
"Fani, ngapain sih lo ada disini. Sama perempuan ini lagi," ucap Refano sambil menunjuk tajam kearah Wafa.
"Kak udah. Jangan memancing keributan terus." Fani benar-benar lelah menasihati kembarannya. Entah cara apa lagi yang harus dilakukan Fani untuk membuat Refano sadar.
"Heh cewek kripik. Lo--"
"Woi, tutup mulut lo! Ngapain lo sampai bentak-bentak dia kayak gitu, ha?" Gian tiba-tiba terpancing emosi saat melihat Refano yang menyalahkan Wafa. Wafa menatap Gian tak percaya. Laki-laki itu membelanya?
"Kenapa? Asal lo tahu, ya, lo nggak berhak ikut campur urusan gue sama cewek miskin ini." Ucap Refano yang seolah menantang Gian dengan melangkah mendekat kearah laki-laki itu.
"Kak Refano, udah. Stop kak!"
"Liat, kita jadi tontonan mahasiswa lain." Lanjut Fani memperingatkan. Mereka lagi-lagi menjadi tontonan gratis bagi mahasiswa.
"Kak, ayok pulang." Ucap Zeya sambil menarik jaket Gian lalu berusaha sekuat tenaga untuk mendorong Gian agar menjauh dari sana. Hal yang sama pun dilakukan oleh Fani. Mereka tidak ingin terjadi keributan lagi dikampus.
Wafa hanya bisa menatap kosong kedepan memikirkan kejadian tadi. Selalu saja dirinya yang menjadi pemicu keributan orang lain. Apa seburuk itu Wafa dimata Refano? Sampai-sampai laki-laki selalu saja menemukan alasan untuk menyalahkan Wafa?
betapa indahnya bersama mahrom yg sejalan..
semoga solih sholihah q, juga mendapatkan spt keindahan kisah ini d akhirnya..aamiin
sub
like
vote
iklan
komen
kopi
stars
cha yo..
😘😍😘😍😘😍😘😍
berharap terbaik
apa yg terjadi skrg..adlah berharap terbaik kedepanya. aamiin..
menjaga hati..
sakit
buku diary
dl zaman nabi yusuf yg oncek2 bagianya kaum hawa, yg ampe tak menyadari tanganya kepisau saking gantenge..nabi yusuf
x ini berbeda ....hehehhe
🤣😂😁😀😃😅😆😉
krn tak bs melupakan jk hati terluka. uhhhhh..hny bs menguatkan diri sendiri.. cha yo..semua siper women disini i luv u pull
😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘😍
berharap yg yerbaik