Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Tiga Ratus Triliun
Rayhan menatap Keira cukup lama, seolah kalimat itu bukan bahasa yang ia pahami.
Kita cerai.
Di luar jendela, sisa hujan semalam masih menggantung di daun-daun halaman Rumah Besar Sutanto. Pagi baru benar-benar terang, tetapi kamar itu terasa lebih dingin daripada malam sebelumnya.
"Kau pikir aku akan percaya?" tanya Rayhan akhirnya.
Keira tidak menjawab dengan emosi. Ia hanya mengambil map cokelat dari meja, memasukkan kembali berkas yang tadi dibaca Rayhan, lalu merapikan ujung blusnya. Pergelangan tangannya masih merah, tetapi ia tidak menutupinya lagi.
"Pengacaraku sudah menunggu di Pengadilan Negeri Surabaya," katanya.
Alis Rayhan turun. "Kau benar-benar sudah gila."
"Mungkin," jawab Keira pelan. "Tapi ini pertama kalinya kegilaanku menyelamatkanku."
Rayhan tertawa pendek. Bukan tawa geli, melainkan tawa seseorang yang merasa tidak mungkin dikalahkan. "Kau tidak punya uang, tidak punya keluarga, tidak punya tempat pulang. Kau mau bercerai dariku dengan apa?"
Keira menatapnya.
Tiga tahun lalu, pertanyaan itu akan membuat kakinya lemas. Ia akan membayangkan gerbang panti asuhan, kamar sempit, suara orang-orang yang berkata ia beruntung diambil keluarga Sutanto. Ia akan mengingat Almarhum Kong Kong Sutanto yang dulu menepuk kepalanya dan berkata rumah ini akan melindunginya.
Namun perlindungan itu ikut dikubur bersama beliau.
Yang tersisa hanya rumah besar dengan banyak pintu, tetapi tidak satu pun terbuka untuknya.
"Dengan diriku sendiri," kata Keira.
Rayhan mendekat satu langkah. "Keira, jangan menguji kesabaranku."
"Kesabaranmu?" Keira menahan senyum tipis. "Tiga tahun aku menunggu kau makan malam, menunggu kau pulang, menunggu kau melihatku bukan sebagai beban. Kalau yang seperti itu bukan kesabaran, aku tidak tahu lagi apa namanya."
Ponsel Rayhan kembali menyala. Nama Anya muncul lagi.
Keira mengalihkan pandangan ke layar itu sebentar, lalu mengambil tas kecilnya dari kursi. Tas kain murah yang talinya sudah mengelupas. Satu-satunya tas yang sering ia pakai karena Bu Fenny selalu berkata menantu dari panti tidak perlu bergaya seperti nyonya besar.
"Angkat saja," ucap Keira. "Aku tidak akan mengganggu kalian lebih lama."
Rayhan tidak mengangkat.
Namun ia juga tidak menahan Keira ketika perempuan itu berjalan keluar kamar.
Di koridor, dua pelayan yang sedang membawa seprai berhenti dan menunduk canggung. Biasanya Keira akan tersenyum kecil, membantu jika ada yang jatuh, bertanya apakah mereka sudah sarapan. Pagi itu ia hanya berjalan lurus.
Di bawah tangga, suara Bu Fenny terdengar dari ruang makan.
"Keira! Kopi Rayhan mana? Jangan bilang kau belum buat!"
Langkah Keira berhenti setengah detik.
Rayhan berada beberapa langkah di belakangnya. Ia pasti mendengar. Namun seperti biasa, ia diam.
Keira menggenggam tali tasnya.
"Buat sendiri, Bu Fenny," katanya tanpa menoleh.
Ruang makan mendadak sunyi.
"Apa katamu?" Suara Bu Fenny meninggi.
Keira tidak menjawab. Ia membuka pintu utama dan keluar dari rumah itu sebelum siapa pun sempat mengejarnya.
Udara Surabaya pagi itu lembap. Ojek online yang ia pesan menunggu di depan gerbang, pengemudinya sempat memandang rumah besar di belakang Keira dengan kikuk. Keira naik tanpa banyak bicara.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia meninggalkan Rumah Besar Sutanto tanpa membawa daftar belanja, tanpa pesan Bu Fenny, tanpa jas Rayhan yang harus diambil dari laundry.
Hanya map cokelat, ponsel, dan hati yang sudah terlalu lelah untuk patah lagi.
Rayhan datang ke Pengadilan Negeri Surabaya satu jam kemudian.
Ia turun dari mobil hitamnya dengan jas Armani yang rapi, sepatu mengilap, dan wajah dingin yang membuat orang-orang otomatis memberi jalan. Di belakangnya, Rion membawa tas dokumen. Semua pada dirinya tampak mahal dan terukur.
Keira berdiri di dekat pintu masuk gedung pengadilan dengan blus pasar yang mulai pudar dan rok hitam lama. Rambutnya hanya diikat sederhana. Di antara pengacara, staf pengadilan, dan orang-orang yang menunggu sidang, ia tampak seperti seseorang yang salah masuk tempat.
Rayhan melihatnya dari atas ke bawah.
Tatapan itu tidak asing.
Tatapan yang berkata ia terlalu murah untuk berdiri di samping pria seperti Rayhan Sutanto.
"Masih ada waktu untuk berhenti mempermalukan diri," ucap Rayhan.
Pengacara Keira, seorang perempuan paruh baya, berdiri di sisi Keira dengan map tebal. "Berkas cerai gugat sudah lengkap, Pak Rayhan. Nyonya Keira hanya perlu tanda tangan final untuk pendaftaran hari ini."
Rayhan melirik pengacara itu. "Siapa yang membayarmu?"
"Klien saya," jawab pengacara itu tenang.
Sudut bibir Rayhan bergerak tipis. "Klienmu bahkan dulu menghitung uang kembalian pasar."
Kalimat itu cukup pelan, tetapi Keira mendengarnya. Begitu juga pengacara itu.
Keira mengambil pena.
Tangannya tidak gemetar.
Di atas kertas itu, namanya tertulis jelas: Keira.
Selama tiga tahun, nama itu selalu ditempel dengan keluarga Sutanto. Istri Rayhan. Menantu Bu Fenny. Perempuan panti yang beruntung. Bayangan Anya.
Hari ini, ia menandatanganinya sebagai dirinya sendiri.
Goresan pena terdengar sangat kecil, tetapi bagi Keira, bunyinya seperti pintu yang akhirnya terbuka.
Petugas menerima berkas, memeriksa cepat, lalu memberi nomor pendaftaran. Karena semua dokumen sudah disiapkan pengacara sejak dini hari dan kedua pihak hadir, proses administrasi berjalan jauh lebih cepat daripada yang dibayangkan orang-orang di ruang tunggu.
"Sidang pertama akan dijadwalkan secepatnya," kata petugas. "Pemberitahuan resmi akan dikirimkan."
Keira mengangguk.
Rayhan memasukkan tangan ke saku celana. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada kalimat, "Jangan pergi." Tidak ada satu pun tanda bahwa tiga tahun pernikahan mereka menyisakan sesuatu yang layak dipertahankan.
Ia hanya berkata, "Selesai?"
Keira menatapnya. "Untuk hari ini, iya."
"Bagus." Rayhan berbalik lebih dulu. "Jangan menyesal."
Punggungnya menjauh begitu saja.
Rion sempat melirik Keira dengan wajah ragu, tetapi tidak berani mengatakan apa pun. Mobil Rayhan meninggalkan halaman pengadilan beberapa menit kemudian, secepat seseorang yang ingin membuang urusan kecil dari jadwalnya.
Keira berdiri di trotoar.
Panas matahari mulai naik. Jalan raya di depan Pengadilan Negeri Surabaya ramai oleh mobil, motor, dan suara klakson. Di tangannya, bukti pendaftaran gugatan cerai masih terasa hangat. Ia membuka dompet kecilnya. Di dalamnya hanya tersisa selembar uang lima puluh ribu rupiah dan kartu transportasi yang saldonya entah cukup atau tidak.
Ia baru saja menggugat cerai salah satu CEO paling berpengaruh di Surabaya.
Dan seluruh hartanya saat itu tidak cukup untuk membeli makan siang layak di kafe depan pengadilan.
Keira hampir tertawa.
Namun sebelum suara itu keluar, sebuah mobil berhenti di depannya.
Bukan mobil biasa.
Rolls-Royce Phantom hitam dengan pelat nomor khusus melambat di tepi jalan. Permukaan bodinya memantulkan langit Surabaya yang pucat. Beberapa orang di sekitar pengadilan spontan menoleh. Bahkan seorang pengacara muda yang sedang menelepon menurunkan ponselnya.
Pintu belakang terbuka.
Seorang pria tua berjas gelap turun. Rambutnya sudah memutih, tetapi punggungnya tetap tegak. Begitu melihat Keira, matanya memerah tipis.
Ia berjalan mendekat, lalu membungkuk dalam.
"Nona," suaranya bergetar tertahan, "tiga tahun sudah berlalu."
Keira membeku.
"Pak Lim..."
Nama itu keluar seperti napas yang sudah lama ditahan.
Pak Lim mengangkat kepala. Ada rindu, hormat, dan rasa bersalah yang tidak ia sembunyikan. "Pak Hendrik menunggu terlalu lama. Keluarga Liem menunggu terlalu lama."
Orang-orang di sekitar mulai berbisik.
Keluarga Liem.
Di Surabaya, nama itu bukan sekadar nama keluarga. Itu nama yang membuat bank membuka pintu tengah malam, membuat proyek pemerintah bergerak, membuat para konglomerat lain menimbang kata sebelum bicara.
Keira menunduk. Jari-jarinya meremas bukti pendaftaran cerai.
"Aku belum siap bertemu Papa," ucapnya lirih.
"Pak Hendrik tahu." Pak Lim memberi isyarat. Seorang pengawal membuka kotak kulit hitam dari dalam mobil. "Karena itu beliau hanya meminta saya menyerahkan ini dulu."
Kotak itu dibuka.
Di dalamnya ada kartu hitam keemasan, permukaannya pekat seperti malam dengan garis emas tipis di tepi. Di bawah kartu itu, terselip berkas kontrak dengan logo Angle Entertainment.
Pak Lim mengambil kartu itu dengan kedua tangan.
"Saldo aktif tiga ratus triliun rupiah, atas nama Nona Keira Liem. Selain itu, mulai hari ini, hak pengelolaan Angle Entertainment kembali kepada Nona."
Bisik-bisik di sekitar berubah menjadi dengung tertahan.
Keira menatap kartu itu.
Beberapa menit lalu, Rayhan berkata ia tidak punya uang, tidak punya keluarga, tidak punya tempat pulang.
Kini sebuah kartu berisi tiga ratus triliun rupiah berada di depan matanya.
Bukan hadiah belas kasihan.
Melainkan sesuatu yang memang sejak awal miliknya.
Pak Lim membungkuk lagi. "Selamat pulang, Nona Keira."
Untuk sesaat, Keira melihat bayangan dirinya di permukaan kartu. Blus pasar, wajah pucat, mata yang masih menyimpan luka. Namun di balik semua itu, ada nama yang selama tiga tahun ia sembunyikan.
Keira Liem.
Putri bungsu keluarga terkaya di negeri ini.
Keira mengambil kartu itu.
Dingin logamnya menyentuh telapak tangan, membuat sesuatu dalam dadanya ikut tenang.
"Siapkan mobil," katanya.
Pak Lim tersenyum samar. "Ke mana tujuan Nona?"
Keira menatap jalan yang tadi dilalui mobil Rayhan, lalu memalingkan wajah ke arah kontrak Angle Entertainment.
"Ke kehidupan baruku."
Ia menandatangani kontrak itu di atas kap Rolls-Royce, menyimpan kartu hitam keemasan ke dalam tas kain murahnya, lalu masuk ke mobil tanpa menoleh lagi.