Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018
Besoknya, Hafeng datang lima menit lebih awal.
Ia meletakkan buku referensi yang sudah direservasi di meja dekat jendela, lalu duduk dengan wajah seolah keberadaannya di sana hanya kebetulan. Di luar, langit Jakarta mendung terang. Di dalam perpustakaan, udara dingin pendingin ruangan membuat halaman buku terasa kaku.
Meiran datang tepat waktu.
Ia membawa tablet, buku catatan, dan payung hitam yang sudah dikeringkan. Ketika melihat Hafeng duduk di meja yang sama, ia tidak menggoda. Ia hanya duduk di hadapannya dan membuka laptop.
"Pagi," katanya.
"Kamu tidak terlambat."
"Kamu terdengar kecewa."
"Aku hanya mencatat fakta."
Meiran tersenyum kecil. "Bagus. Hari ini kita punya dua jam."
Dua jam.
Kalimat itu baru saja terasa tenang ketika ponsel Meiran bergetar.
Nama Sari muncul di layar.
Meiran mengangkat telepon sambil berdiri. "Ada apa?"
Suara Sari di ujung sana tidak biasa. Terlalu cepat, terlalu tertahan.
"Bu Lim, maaf mengganggu. Ada masalah di kantor pusat. Tiga vendor utama tiba-tiba meminta pembayaran dipercepat. Bank mitra juga menahan pencairan fasilitas kredit untuk proyek logistik baru."
Meiran berjalan ke sudut dekat rak majalah agar tidak mengganggu.
"Alasannya?"
"Mereka bilang ada isu audit internal dan potensi manipulasi laporan proyek. Beritanya baru naik di satu portal bisnis kecil, tapi sudah mulai dibagikan di grup investor."
Darah Meiran terasa turun dari wajahnya.
Kata `manipulasi laporan` bukan kata yang bisa dianggap gosip ringan. Bagi konglomerat seperti Lim Group, reputasi kredit adalah tulang belakang. Jika vendor panik, bank menahan dana, dan media kecil mulai menggoreng isu, efeknya bisa menyebar dalam hitungan jam.
"Papa tahu?"
"Pak Lim sedang rapat darurat. Beliau meminta saya menghubungi Bu Lim dulu karena beberapa dokumen proyek ada di arsip digital keluarga."
Meiran menutup mata sebentar.
Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah memperhatikan detail seperti ini. Saat Lim Group mulai retak, ia hanya tahu Papa sering pulang larut, Mama menangis diam-diam, dan dirinya tetap sibuk mengejar Hafeng. Ia tidak tahu retakan pertama dimulai dari mana.
Sekarang ia tahu.
Retakan itu sedang terbuka di telinganya.
**【Sistem Predator】Peringatan: Kekuatan Takdir mulai bergerak.**
Panel merah muncul di tepi pandangan.
Nilai Kehancuran: 13 → 31.
Meiran menggenggam ponsel lebih erat.
Kenaikan delapan belas poin.
Tepat seperti pola serangan pertama.
"Sari," kata Meiran, suaranya menjadi lebih rendah. "Kumpulkan semua kontrak vendor yang meminta percepatan pembayaran. Pisahkan yang punya klausul penalti dan yang tidak. Minta tim legal cek siapa yang pertama kali menyebarkan portal itu. Jangan bantah di media dulu."
Sari terdengar menarik napas. "Baik, Bu Lim."
"Dan kirim akses arsip proyek ke email kampusku. Sekarang."
"Siap."
Meiran menutup telepon.
Saat ia berbalik, Hafeng berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ia tidak cukup dekat untuk disebut menguping, tetapi cukup dekat untuk mendengar kata `bank`, `vendor`, dan `Lim Group`.
"Ada masalah?" tanyanya.
"Tidak ada yang perlu kamu urus."
Jawaban itu keluar otomatis.
Hafeng menatapnya. "Wajahmu tidak setuju."
"Wajahku sering disalahartikan."
"Kamu pucat."
Meiran hendak menjawab, tetapi ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Papa.
Ia mengangkat.
Suara Lim Tjeng Hong terdengar tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini.
"Meiran, kamu di kampus?"
"Iya, Papa."
"Jangan datang ke kantor dulu. Media mungkin akan menunggu di lobi. Sari akan kirim dokumen. Kamu lihat dari luar, jangan ikut terseret."
"Papa, aku bisa bantu."
"Aku tahu." Ada jeda pendek. "Justru karena itu, bantu dengan kepala dingin. Jangan pulang ke rumah besar Lim di Menteng sampai aku kabari. Ada wartawan mulai mencari alamat keluarga."
Meiran menatap rak majalah di depannya.
Kekuatan Takdir tidak hanya menyerang perusahaan.
Ia menyerang ruang aman.
"Baik, Papa."
"Dan Meiran."
"Ya?"
"Jangan takut."
Di kehidupan sebelumnya, kalimat itu sering datang terlambat.
Hari ini, Meiran mendengarnya saat ia masih bisa bergerak.
"Aku tidak takut," jawabnya. "Aku marah."
Lim Tjeng Hong terdiam satu detik, lalu tertawa kecil di ujung telepon. "Itu baru putriku."
Panggilan berakhir.
Meiran menurunkan ponsel.
Hafeng masih berdiri di sana.
"Lim Group?" tanyanya.
Meiran menatapnya. "Aku bilang ini bukan urusanmu."
"Aku tidak bertanya apakah ini urusanku. Aku bertanya apakah ini Lim Group."
Nada suaranya berbeda. Tidak lembut, tetapi juga tidak mengejek. Lebih mirip saat ia membaca struktur maket dan menemukan titik yang bisa runtuh.
Meiran menarik napas pelan. "Ada serangan reputasi. Vendor panik, bank menahan pencairan, media kecil menyebarkan isu."
Hafeng mengerutkan dahi. "Terlalu rapi untuk rumor biasa."
"Aku tahu."
"Siapa lawan bisnis terbaru kalian?"
"Banyak."
"Dokumen proyek logistik itu pakai konsultan eksternal?"
Meiran menatapnya.
Hafeng seperti baru sadar ia bertanya terlalu jauh. Ia langsung menambahkan, "Aku cuma..."
"Menganalisis struktur runtuh?"
Ia diam.
Meiran hampir tersenyum, tetapi ponselnya kembali bergetar. Email dari Sari masuk. Subjeknya panjang, penuh tanda seru yang tidak biasa dipakai asisten profesional itu.
`URGENT: Arsip Proyek Logistik + Daftar Vendor Bermasalah`
Meiran membuka lampiran pertama.
Di halaman awal, ada nama perusahaan konsultan yang membuat dadanya menegang.
Perusahaan itu tidak termasuk daftar kontraktor utama. Tetapi di kehidupan sebelumnya, nama yang sama pernah muncul di salah satu dokumen yang membuat Lim Group dituduh lalai.
Kekuatan Takdir benar-benar mengulang alur.
Hanya lebih cepat.
**【Sistem Predator】Jika serangan tidak diredam, Nilai Kehancuran akan terus naik dalam 24 jam.**
Meiran menutup laptop setengah, lalu membukanya lagi. Tangannya tidak gemetar, tetapi dingin.
Hafeng melihat itu.
"Kamu butuh tempat yang lebih aman untuk bekerja."
"Aku punya perpustakaan."
"Perpustakaan punya terlalu banyak mata."
"Kamu menyarankan apa?"
Hafeng terdiam sebentar, lalu berkata, "Ruang studio arsitektur lantai empat. Ada ruang diskusi kosong. Tidak banyak orang tahu. Wi-Fi stabil."
Meiran menatapnya.
"Kamu menawarkan bantuan?"
"Aku menawarkan ruang."
"Bedanya?"
"Jangan membuatku menyesal."
Ia berjalan lebih dulu, mengambil buku referensi mereka dari meja, lalu berhenti.
"Bawa laptopmu. Dan jangan buka email itu di jaringan publik tanpa VPN."
Meiran mengikuti langkahnya.
Ruang diskusi lantai empat lebih kecil dari yang Meiran bayangkan. Dindingnya kaca buram, mejanya hanya cukup untuk enam orang, dan di sudut ada papan tulis putih yang penuh sisa coretan struktur dari kelas sebelumnya. Hafeng menutup tirai dalam satu tarikan, lalu menyalakan koneksi hotspot dari ponselnya.
"Pakai ini."
Meiran menatapnya. "Kamu selalu membawa jaringan cadangan?"
"Aku tidak suka bergantung pada Wi-Fi kampus."
"Kebiasaan yang berguna."
"Jangan puji aku sekarang. Aku bisa berubah pikiran."
Meiran duduk dan membuka laptop. Email Sari berisi lebih dari dua puluh lampiran: kontrak vendor, jadwal pencairan bank, tangkapan layar artikel, dan daftar akun media sosial yang mulai menyebarkan isu. Hafeng berdiri di sisi meja, awalnya hanya melihat sekilas, lalu akhirnya menarik kursi dan duduk di sampingnya.
"Buat tiga kolom," katanya.
"Apa?"
"Vendor yang meminta pembayaran cepat, bank yang menahan pencairan, dan media yang menyebarkan isu. Kalau waktunya berdekatan, ada pemicu yang sama."
Meiran tidak membantah. Ia membuka spreadsheet kosong.
Selama sepuluh menit berikutnya, ruangan hanya dipenuhi suara keyboard dan notifikasi masuk. Sari mengirim pesan hampir setiap dua menit.
`Dua vendor lagi ikut meminta revisi termin.`
`Portal kedua mengutip portal pertama.`
`Tim legal mencari sumber dokumen.`
Meiran memasukkan waktu, nama perusahaan, dan alasan resmi. Hafeng membaca pola tanggal di sampingnya.
"Tiga vendor pertama punya konsultan risiko yang sama," kata Hafeng.
Meiran berhenti mengetik.
"Kamu yakin?"
Hafeng menunjuk nama kecil di lampiran kontrak. "Ini. Mereka pakai firma audit teknis yang sama. Kalau firma itu mengeluarkan memo peringatan, vendor akan panik bersamaan."
Meiran membuka lampiran lain. Nama yang sama muncul lagi, tersembunyi di halaman delapan belas.
Dadanya terasa dingin.
"Di kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah melihat halaman delapan belas," batinnya.
**【Sistem Predator】Analisis target membantu memperlambat kenaikan risiko.**
Meiran melirik panel.
Nilai Kehancuran tetap 31.
Belum turun, tetapi berhenti naik.
Untuk saat ini, itu sudah berarti.
Ponselnya berdering lagi. Sari.
"Bu Lim, satu portal besar meminta konfirmasi. Mereka bilang akan tayang dalam tiga puluh menit kalau tidak ada jawaban."
Meiran menatap spreadsheet di layar. "Jangan beri pernyataan umum. Kirim holding statement singkat: Lim Group sedang melakukan verifikasi internal dan akan memberi klarifikasi berbasis dokumen. Jangan sebut audit, jangan sebut tuduhan."
Sari menjawab cepat, "Baik."
Hafeng menambahkan pelan, "Minta mereka catat waktu permintaan konfirmasi. Kalau portal tayang sebelum memberi waktu wajar, itu bisa dipakai untuk menunjukkan niat menyerang."
Meiran mengulang instruksi itu pada Sari.
Di ujung telepon, Sari terdiam sepersekian detik, mungkin heran dari mana arahan tambahan itu berasal.
Meiran tidak menjelaskan.
Setelah panggilan terputus, ia menatap Hafeng.
"Kamu bilang hanya menawarkan ruang."
"Aku masih di ruang ini."
"Dan spreadsheet?"
"Spreadsheet itu milikmu."
Dalam situasi lain, Meiran mungkin akan tertawa. Saat ini, dadanya terlalu penuh untuk itu.
Di layar ponsel yang masih menyala, notifikasi berita baru muncul.
`Lim Group Diduga Bermasalah dalam Laporan Proyek Logistik`
Di bawah judul itu, ada foto lama Papa keluar dari gedung kantor pusat.
Meiran berhenti di tengah lorong perpustakaan.
Untuk pertama kalinya sejak bangun kembali, ia benar-benar merasakan kuku Kekuatan Takdir menyentuh tengkuknya.
Hafeng menoleh.
"Meiran?"
Ia mengangkat wajah.
"Ayo."
Namun di dalam kepalanya, sistem sudah memberi peringatan lain.
**【Sistem Predator】Hitung mundur krisis pertama dimulai.**