Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Belajar Jadi Tamu Minang
Ayu akhirnya tidak menjawab pertanyaan Nenek.
Ia memilih cara paling pengecut yang tersedia: berdiri, mengambil teko teh, dan berkata bahwa air panas di dapur harus dicek. Bayu langsung bersiul pelan. Dian tertawa tanpa suara. Arif menatap istrinya seolah meminta maaf kepada seluruh dunia karena membiarkan dua orang seperti Dian dan Bayu bertemu.
Nenek Sari hanya berkata, "Air panas bisa menunggu, hati tidak."
Ayu hampir tersandung ambang pintu.
Di dapur, Raka sedang berdiri di depan wastafel dengan gelas kosong di tangan. Jelas sekali ia tidak benar-benar butuh air. Ketika Ayu masuk, mereka sama-sama berhenti.
"Saya minta maaf soal Bayu," kata Raka lebih dulu.
"Kak Raka tidak perlu minta maaf untuk mulut orang lain."
"Dia teman saya."
"Berarti Kak Raka sudah menderita lebih lama dari kami."
Raka tertawa kecil, ketegangan sedikit mencair.
Mereka berdiri bersebelahan, tidak berani melihat terlalu lama. Dari teras, suara Bayu masih terdengar bercanda dengan Nenek. Dunia di luar dapur sepertinya kembali bergerak, tapi di antara mereka masih ada pertanyaan yang belum dijawab.
"Mbak Ayu tidak perlu menjawab," kata Raka pelan.
Ayu menoleh.
"Pertanyaan tadi," lanjutnya. "Tidak perlu dijawab kalau membuat Mbak Ayu tidak nyaman."
Kalimat itu seharusnya membuatnya lega.
Anehnya, Ayu justru merasa sedikit kecewa.
"Kak Raka juga tidak perlu terlihat takut sekali," katanya.
Raka memegang gelas lebih erat. "Saya takut jawaban Mbak Ayu dipaksa keluar bukan karena Mbak Ayu ingin mengatakannya."
Ayu tidak punya balasan untuk itu.
Untungnya, Mamak Darto datang sore itu dan menyelamatkan semua orang dari suasana terlalu panas.
Ia muncul dengan motor, membawa kabar bahwa besok ada pertemuan kecil keluarga di rumah Datuk Anwar untuk membicarakan bantuan acara adat seorang kerabat. Ayu diminta hadir karena restoran mulai sering menangani pesanan baralek. Nenek langsung menyuruh Raka ikut.
"Raka perlu belajar adat," kata Nenek.
Raka hampir tersedak teh. "Saya?"
Mamak Darto menatapnya dari kursi. "Kalau tinggal lama di rumah kemenakan Mamak, minimal tahu cara duduk diam saat orang tua bicara."
Bayu berbisik kepada Dian, "Ujian CPNS kalah serem dari ini."
Raka mendengar, tapi tidak berani menanggapi.
Keesokan paginya, Raka memakai batik lengan panjang yang dibawa dari Jakarta. Ayu melihatnya di teras dan harus mengakui batik itu membuatnya terlihat berbeda. Lebih dewasa. Lebih rapi. Lebih sulit diabaikan.
"Terlalu formal?" tanya Raka.
"Tidak. Bagus."
Raka terdiam sebentar. "Oh."
"Oh?"
"Saya menyiapkan jawaban kalau Mbak Ayu bilang terlalu formal."
"Maaf mengecewakan."
"Tidak. Sama sekali tidak."
Bayu, yang akhirnya memutuskan menginap semalam, muncul dari belakang mereka. "Kalian kalau ngobrol bisa bikin nasi basi nunggu. Ayo berangkat."
Pertemuan di rumah Datuk Anwar berlangsung di ruang besar berlantai kayu. Para mamak duduk di sisi tertentu, perempuan keluarga menyiapkan minuman dan makanan kecil, sementara anak-anak muda membantu membawa piring. Raka mengikuti arahan Ayu dengan hati-hati: menyalami orang tua, duduk tidak terlalu selonjor, mendengar lebih banyak daripada bicara.
Ia belajar kata-kata baru.
Mamak.
Kemenakan.
Sumando.
Pasambahan.
Manjalang.
Setiap kata seperti pintu kecil menuju dunia yang selama ini hanya ia lihat dari luar.
Ketika Mamak Darto menjelaskan peran mamak dalam keluarga Minang, Raka benar-benar mendengar. Dalam keluarganya di Jakarta, garis keputusan selalu terasa mengarah ke ayah, lalu dipelintir oleh Sri Mulyani. Di sini, hubungan keluarga punya bentuk yang berbeda. Rumit, tapi tidak membuat Ayu kecil di dalamnya.
"Jadi," kata Bayu pelan dari sampingnya, "kalau lo macam-macam sama Ayu, yang datang bukan cuma ayahnya, tapi satu sistem adat?"
Raka menatapnya tajam. "Diam."
Bayu nyaris tertawa, tapi Mamak Darto kebetulan menoleh. Bayu langsung duduk tegak seperti murid teladan.
Setelah pertemuan selesai, Mamak Darto mengajak Raka duduk sebentar di teras.
"Kamu Jawa, ya?"
"Iya, Mak."
Mamak Darto mengangkat alis. "Sudah mulai panggil Mamak?"
Raka tampak panik. "Maaf. Saya pikir..."
"Tidak apa-apa." Mamak menahan senyum. "Kalau serius belajar, panggilan itu boleh. Tapi jangan cuma panggilannya. Tanggung jawabnya juga harus tahu."
Ayu yang berdiri tidak jauh langsung merasa tenggorokannya kering.
Raka menunduk. "Iya, Mamak."
Mamak Darto memperhatikan wajahnya beberapa saat. "Di Minang, laki-laki yang masuk ke rumah perempuan bukan raja. Dia tamu yang dihormati, tapi juga harus tahu diri. Kalau nanti jadi sumando, dia menjaga rumah, bukan menguasai."
Bayu di belakang mereka membuka mulut tanpa suara.
Ayu menatap lantai.
Raka menjawab dengan suara lebih tenang daripada yang Ayu duga. "Saya mengerti. Saya tidak ingin menguasai apa pun di rumah Ayu. Saya hanya... ingin berguna."
Mamak Darto tidak langsung merespons.
Lalu ia mengangguk pelan.
"Bagus kalau begitu."
Sepulang dari rumah Datuk Anwar, Raka duduk diam di mobil. Bayu sudah tertidur di kursi belakang, kalah oleh makanan dan adat. Ayu mengemudi, sesekali melirik Raka yang tampak berpikir keras.
"Pusing?" tanya Ayu.
"Sedikit."
"Adat Minang?"
"Bukan. Kata sumando."
Ayu hampir salah menginjak rem.
Raka cepat-cepat menambahkan, "Maksud saya, konsepnya. Saya belum pernah melihat laki-laki dijelaskan seperti itu. Dihormati tapi tidak menjadi pusat."
Ayu menatap jalan, mencoba menenangkan jantungnya.
"Di sini memang begitu."
"Saya ingin belajar."
Kalimat itu sederhana.
Tapi bagi Ayu, bunyinya seperti seseorang mengetuk pintu yang belum ia berani buka.