"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Dilema REYN
Keesokan paginya, Wenny datang ke area sarapan dengan mata yang sudah disamarkan concealer.
Tidak ada yang tahu ia menangis hampir semalaman.
Kamera reality show sudah dipasang di beberapa sudut villa. Kru bergerak sambil membawa kabel, produser memberi arahan pendek, dan meja sarapan terlihat seperti biasa, penuh roti, buah, bubur ayam, telur rebus, serta beberapa makanan khusus yang diberi label gluten free.
Wenny berhenti sebentar di depan label itu.
Dulu, ia akan langsung merasa hangat karena REYN begitu teliti.
Hari ini, rasa hangat itu datang bersama nyeri yang halus.
Dia tahu karena dia ada di sana.
"Kamu belum makan?"
Suara rendah itu membuat punggung Wenny menegang.
Ia menoleh. REYN berdiri tidak jauh dari meja kopi, memakai kemeja hitam sederhana dengan lengan digulung sampai pergelangan. Jam tangannya menutup bagian kiri yang ingin Wenny lihat, tetapi justru karena tertutup, pikirannya semakin tidak tenang.
Wenny memaksa bibirnya tersenyum.
"Belum. Baru mau ambil."
REYN menatap matanya lebih lama dari biasa. "Kurang tidur?"
"Sedikit."
"Karena lagu?"
Pertanyaan itu terlalu cepat.
Terlalu tepat.
Wenny hampir kehilangan ekspresi.
Ia mengambil piring kecil agar tangannya punya sesuatu untuk dilakukan. "Lagu apa?"
REYN diam setengah detik. Bagi orang lain, jeda itu tidak berarti. Bagi Wenny, jeda itu seperti retakan tipis pada kaca.
"Kemarin kamu bilang mau membaca lirik," katanya akhirnya. "Kupikir mungkin kamu terlalu serius."
Wenny mengambil potongan pepaya. "Aku memang orangnya serius kalau menyukai sesuatu."
"Aku tahu."
Dua kata itu jatuh pelan.
Wenny menahan napas. Dulu, kalimat seperti itu akan membuatnya malu karena terdengar seperti rayuan. Sekarang, kalimat itu membuka pintu lain. Ia tahu karena ia pernah melihat Wenny kecil membagi bekal. Ia tahu karena ia mengikuti kariernya. Ia tahu karena lima belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyimpan seseorang di dalam dada.
Mereka duduk di sudut meja yang agak jauh dari kamera utama. Kru masih sibuk menyiapkan segmen pagi, jadi suara mereka tidak terlalu jelas bagi orang lain.
Wenny menusuk pepaya dengan garpu, tetapi tidak langsung memakannya.
"REYN."
"Hm?"
"Kamu pernah ikut syuting sinetron waktu kecil?"
Garpu di tangan REYN berhenti.
Hanya sekejap.
Lalu ia meletakkannya kembali dengan tenang yang terlalu rapi.
"Aku bukan aktor."
"Bukan sebagai aktor," kata Wenny, menatap piringnya. "Mungkin ikut orang dewasa ke lokasi. Jadi anak yang duduk di belakang set. Anak yang tidak terlalu diperhatikan."
REYN tidak menjawab.
Wenny mengangkat wajah.
Matanya bertemu mata REYN.
Di sana, untuk satu detik yang sangat pendek, Wenny melihat sesuatu yang tidak pernah muncul di panggung besar. Bukan aura Ice Prince, bukan ketenangan orang yang sudah terbiasa menghadapi ribuan kamera, melainkan kepanikan anak kecil yang tertangkap menyimpan barang paling berharga.
Lalu REYN menutupnya.
"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
Wenny menurunkan suara. "Karena aku semalam membaca lirik `Lesung Pipi`."
Jari REYN bergerak sedikit ke arah pergelangan kiri.
Gerakan itu kecil. Hampir tidak terlihat. Namun Wenny melihatnya.
Ia merasa dadanya sakit, tetapi ia tidak tersenyum, tidak menangis, tidak memaksa. Ia hanya menunggu.
REYN mengambil gelas air putih. "Itu lagu lama."
"Lagu lama bukan berarti tidak punya cerita."
"Semua lagu punya cerita."
"Tapi tidak semua lagu tahu kotak bekal kuning."
Gelas itu berhenti tepat sebelum menyentuh bibir REYN.
Wenny mendengar napasnya sendiri.
Di sekeliling mereka, dunia masih bergerak. Ada kru tertawa kecil, ada suara kursi digeser, ada produser memanggil nama peserta lain dari ruang tengah. Namun di meja itu, udara menjadi sempit.
REYN menurunkan gelas perlahan.
"Kamu baca terlalu jauh."
"Mungkin." Wenny mengangguk, pura-pura menerima. "Tapi ada stiker matahari juga."
Wajah REYN tetap datar.
Terlalu datar.
Ia tidak bertanya stiker apa. Ia tidak tertawa. Ia tidak mengerutkan dahi seperti orang yang benar-benar tidak mengerti. Ia hanya diam, dan diamnya menjawab terlalu banyak.
Wenny menggenggam garpu sampai buku jarinya memutih.
"Aku dulu pernah punya kotak bekal seperti itu," lanjutnya pelan. "Warna kuning. Ada stiker matahari di dalam tutupnya."
REYN memejamkan mata sebentar.
Ketika ia membukanya, suaranya lebih rendah. "Wenny."
Nama itu bukan teguran.
Itu permintaan.
Jangan lanjutkan.
Wenny menelan sesuatu yang terasa seperti batu. Ia ingin meraih tangannya. Ia ingin berkata bahwa ia sudah tahu, bahwa ia tidak akan kasihan kepadanya dengan cara yang merendahkan, bahwa anak laki-laki itu tidak pernah menjadi beban dalam ingatannya. Tapi semalam ia juga melihat luka di balik semua diam REYN. Jika ia memaksanya sekarang, di depan kamera dan kru, ia mungkin hanya akan membuatnya kembali mengunci pintu.
Maka Wenny memilih mundur satu langkah.
"Maaf," katanya. "Aku cuma tiba-tiba ingat sesuatu."
REYN menatapnya lama. "Tidak semua ingatan harus dibuka di tempat yang ramai."
"Kalau di tempat sepi?"
Pertanyaan itu keluar lebih lembut dari yang ia rencanakan.
REYN tidak langsung menjawab.
Di balik ketenangannya, rahangnya mengeras. Matanya bergeser sebentar ke arah kamera di sudut ruangan, lalu kembali pada Wenny.
"Kalau kamu ingin bertanya," katanya, "pilih pertanyaan yang benar-benar siap kamu dengar jawabannya."
Wenny menatapnya.
Itu bukan pengakuan.
Tapi juga bukan penyangkalan.
Ia menunduk, mengambil napas pelan. "Baik."
REYN tampak hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi produser memanggil mereka untuk segmen pagi. Wenny bangkit lebih dulu. Ketika ia berjalan melewati REYN, tangannya tanpa sengaja hampir menyentuh pergelangan kiri REYN.
REYN menarik tangan itu sedikit.
Refleks.
Cepat.
Takut.
Wenny pura-pura tidak melihat.
Namun di dadanya, kepastian itu menjadi semakin terang.
***
Sepanjang hari, Wenny tidak lagi menekan.
Ia tersenyum saat kamera menyala. Ia menjawab pertanyaan permainan ringan. Ia tertawa ketika Kevin salah menyebut nama makanan Sunda dan membuat kru ikut tertawa. Ia berdiri di samping REYN saat mereka diminta memilih properti untuk sesi berikutnya, tetapi tidak membahas kotak bekal lagi.
Justru karena itu, REYN semakin gelisah.
Wenny bisa merasakannya dari jarak satu langkah. Dari cara REYN selalu memastikan ia tidak berada terlalu dekat dengan kabel di lantai. Dari cara ia mengambilkan air tanpa diminta. Dari cara ia menoleh setiap kali Wenny terlalu lama diam.
Ia sedang menjaga.
Sekaligus bersembunyi.
Menjelang sore, saat kamera istirahat dan beberapa peserta kembali ke kamar masing-masing, Wenny berdiri di koridor dekat jendela besar. REYN datang dari arah ruang musik, seolah kebetulan, padahal langkahnya terlalu terarah.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Wenny memandang halaman villa yang mulai gelap. "Kalau seseorang pernah diberi gelang persahabatan waktu kecil, menurutmu dia akan menyimpannya?"
REYN berhenti di sampingnya.
Kali ini, tidak ada meja yang memisahkan mereka.
"Tergantung siapa yang memberi," jawabnya.
Suara itu membuat tenggorokan Wenny perih.
"Kalau yang memberi anak perempuan cerewet, yang suka memaksa orang makan bekal?"
Jari REYN mengepal.
Wenny melihatnya.
REYN juga tahu ia melihatnya.
Mereka diam dalam cahaya jingga yang masuk dari jendela. Untuk beberapa detik, Wenny merasa hanya butuh satu kata lagi. Satu nama. Rahmat. Kalau ia memanggilnya sekarang, mungkin seluruh tembok itu akan runtuh.
Tetapi mata REYN tiba-tiba berubah.
Bukan marah.
Takut.
"Wenny," katanya pelan, "jangan jadikan masa lalu alasan untuk memutuskan perasaanmu sekarang."
Wenny menoleh penuh.
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
REYN tersenyum tipis, tetapi tidak ada hangat di sana. "Karena orang gampang salah membedakan sayang dan kasihan."
Kalimat itu menampar Wenny lebih keras daripada penyangkalan apa pun.
Ia akhirnya mengerti.
REYN tidak diam karena tidak ingin ditemukan.
Ia diam karena takut, setelah ditemukan, Wenny hanya akan melihat anak lapar di sudut set, bukan pria yang berdiri di depannya sekarang.
Ia takut dicintai sebagai luka.
Wenny ingin menjawab, tetapi REYN sudah mundur selangkah.
"Istirahatlah," katanya. "Besok jadwalnya padat."
Lalu ia pergi.
***
Malam itu, REYN duduk sendirian di kamarnya.
Lampu utama tidak ia nyalakan. Hanya lampu meja kecil di samping ranjang yang memberi cahaya cukup untuk melihat tangannya sendiri. Setelah seharian memakai jam untuk menutup pergelangan kiri, ia akhirnya melepaskannya.
Di bawah bekas tekanan jam, gelang persahabatan itu tampak pudar.
Benangnya tidak lagi secerah lima belas tahun lalu. Ada bagian yang hampir tipis, ada simpul yang sudah berkali-kali ia perbaiki diam-diam. Namun benda kecil itu masih ada. Masih melingkari pergelangan kirinya. Masih menjadi satu-satunya nama yang pernah menyelamatkannya dari nama lain.
REYN menyentuh simpulnya dengan ibu jari.
Pagi tadi, Wenny hampir menyebut semuanya.
Kotak bekal kuning.
Stiker matahari.
Gelang persahabatan.
Ia tahu.
Atau setidaknya, ia hampir tahu.
REYN menunduk. Dadanya terasa seperti ditekan dari dalam.
Bagian paling egois dalam dirinya ingin Wenny tahu. Ingin mendengar ia memanggil nama itu lagi. Ingin melihat mata Wenny ketika menyadari bahwa lagu, panggung, latihan, dan semua tahun panjang itu selalu berjalan menuju satu orang.
Tetapi bagian lain yang lebih tua, lebih terluka, menahannya.
Kalau Wenny datang karena kasihan, ia akan hancur.
Kalau Wenny menggenggam tangannya karena merasa bersalah atas makanan yang tertukar lima belas tahun lalu, ia tidak akan sanggup tersenyum.
Ia tidak ingin menjadi anak kecil yang diselamatkan.
Ia ingin menjadi pria yang dipilih.
REYN mengangkat pergelangan kirinya mendekati cahaya. Benang pudar itu membentuk bayangan kecil di dinding.
"Aku ingin dicintai sebagai REYN," bisiknya pada gelang itu, suara serak tertahan. "Bukan dikasihani sebagai Rahmat."