NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Sekali Lagi, Kamu Resign Sendiri

Seminggu pertama menjaga Felix membuat jadwal hidup Naomi berubah menjadi potongan-potongan kecil yang harus disusun tanpa ada satu pun boleh jatuh.

Pagi kuliah.

Siang mengerjakan terjemahan.

Sore ke Menteng untuk Felix.

Malam kembali ke minimarket kampus jika ada shift.

Di atas kertas, semuanya mungkin. Dalam tubuh Naomi, semuanya terasa seperti berjalan di tali tipis dengan mata setengah mengantuk.

Tapi Felix membuat bagian paling melelahkan dari jadwal itu terasa anehnya ringan.

Setiap kali Naomi datang ke rumah keluarga Hartono, Doberman itu sudah menunggu di dekat pintu kaca taman. Ekor pendeknya bergerak cepat, kuku-kukunya mengetuk lantai seperti bunyi hujan kecil. Begitu Naomi melepas sepatu di area yang ditunjuk staf, Felix langsung mendekat, menyelipkan kepala ke bawah telapak tangannya.

"Sitz," ucap Naomi.

Felix duduk.

"Bleib."

Felix diam, meski matanya tetap menatap kantong kecil berisi snack anjing di tangan Naomi.

"Bagus," bisik Naomi, lalu memberinya hadiah.

Vivian sering muncul sebentar untuk melihat mereka di taman, membawa segelas jus atau potongan buah.

"Naomi, kamu ini lebih sabar dari trainer mahal yang dulu," kata Vivian suatu sore. "Felix sama dia saja pernah pura-pura tidur."

Naomi tersenyum sambil menyikat bulu Felix. "Mungkin Felix cuma bosan, Tante."

"Atau dia tahu trainer itu sombong."

Felix mendengus seolah setuju.

Di rumah itu, Naomi belajar banyak hal baru. Cara memasang harness yang tidak menyakiti dada Felix. Cara membersihkan telinga Doberman setelah mandi. Cara membaca ketika Felix ingin bermain, lapar, atau sekadar ingin ditemani di bawah pohon kamboja.

Ia juga belajar bahwa rumah besar tidak selalu sunyi.

Vivian bisa berbicara dari ruang tengah sampai taman tanpa kehilangan tenaga. Staf rumah tangga bergerak teratur seperti sudah hafal ritme masing-masing. Kadang ada supir datang membawa belanjaan. Kadang Kelvin lewat di koridor lantai dua, hanya sekilas, cukup untuk membuat tangan Naomi yang memegang handuk Felix menjadi kaku.

Kelvin jarang bicara dengannya.

Tapi matanya melihat.

Naomi merasakannya setiap kali ia memberi perintah Jerman pada Felix, setiap kali ia berjongkok mengikat tali sepatu, setiap kali ia membersihkan bekas air dari lantai setelah Felix minum terlalu semangat.

Hari itu, Naomi datang terlambat dua puluh menit.

Bukan karena sengaja.

Manajer minimarket mengubah jadwal shift tanpa bertanya. Sepupu manajer yang baru bekerja dua hari salah mencatat stok minuman, tapi Naomi yang diminta memperbaiki laporan sebelum pergi. Saat Naomi mengatakan ia punya pekerjaan lain, manajer hanya mengangkat alis.

"Kalau kamu keberatan, banyak yang mau kerja di sini."

Kalimat itu mengunci mulut Naomi.

Ia berlari ke halte, menunggu bus yang penuh, lalu turun dua blok sebelum rumah Menteng karena jalan macet. Saat sampai di halaman Hartono, napasnya sudah pendek dan punggung kemejanya lembap oleh keringat.

Felix menggonggong dari taman.

Naomi hampir tersenyum, tapi senyum itu lenyap ketika melihat Kelvin berdiri di dekat pintu kaca.

Ia memakai kaus hitam polos dan celana santai, rambutnya masih agak basah seperti baru mandi. Di sampingnya, Felix berdiri dengan tali leash yang belum terpasang.

"Maaf," ucap Naomi cepat. "Saya terlambat."

Kelvin melihat jam di pergelangan tangannya. "Dua puluh tiga menit."

Naomi menunduk. "Saya ada masalah di minimarket."

"Felix tidak tahu kamu punya masalah di minimarket."

Kalimat itu tidak keras. Justru karena datar, rasanya lebih tajam.

Naomi menggenggam tote bag-nya. "Saya tahu. Maaf."

"Dia menunggu jam jalan sore. Kalau jadwalnya berubah, kasih kabar."

"Ponsel saya lowbat di jalan."

Kelvin menatapnya. "Itu alasan atau laporan?"

Naomi mengangkat kepala. Lelah membuat matanya sedikit panas, tapi ia menahannya.

"Laporan," jawabnya pelan. "Tapi tetap salah saya."

Felix mendekat ke Naomi, mendorong hidungnya ke telapak tangan gadis itu seolah mencoba menengahi.

Kelvin melihat gerakan itu, lalu kembali pada Naomi.

"Sekali lagi, kamu resign sendiri."

Naomi membeku.

Felix merengek kecil.

"Kelvin," suara Vivian terdengar dari dalam, tapi Kelvin tidak menoleh.

Naomi menelan sesuatu yang pahit di tenggorokan. "Baik."

Ia mengambil leash dari tangan Kelvin. Ujung jari mereka tidak bersentuhan, tapi Naomi tetap merasa dingin. Ia membungkuk memasang harness pada Felix dengan gerakan hati-hati.

"Felix, jalan."

Felix menurut, tapi beberapa kali menoleh ke Kelvin, lalu ke Naomi, seperti tahu manusia-manusia di sekitarnya baru saja membuat udara menjadi berat.

Selama berjalan mengelilingi taman belakang, Naomi berusaha fokus pada Felix. Ia menghitung langkah, memberi perintah, memberi reward. Namun kepala bagian belakangnya berdenyut. Perutnya juga kosong. Roti tawar yang ia makan pagi tadi sudah lama hilang menjadi tenaga untuk mengejar bus.

Saat membersihkan telinga Felix setelah mandi, tangannya sempat gemetar.

Cotton pad jatuh ke lantai.

Naomi cepat mengambilnya, membuang ke tempat sampah, lalu mengambil yang baru. Dari sisi ruangan grooming kecil, Kelvin memperhatikannya.

"Kamu sakit?"

"Tidak."

"Tanganmu gemetar."

"Kurang makan sedikit."

Jawaban itu keluar begitu saja.

Naomi langsung menyesal.

Kelvin diam beberapa detik, lalu memanggil staf rumah tangga. "Ambilkan makanan."

"Tidak perlu." Naomi cepat menoleh. "Saya bisa makan nanti."

"Aku tidak tanya."

"Tapi saya sedang kerja."

"Justru karena sedang kerja, jangan pingsan di dekat anjingku."

Naomi tidak tahu harus tersinggung atau berterima kasih.

Vivian muncul tidak lama kemudian dengan wajah cemas dan semangkuk sup ayam hangat yang jelas bukan sekadar makanan ringan.

"Aduh, Naomi. Kamu belum makan? Kenapa tidak bilang Tante?"

Naomi ingin menjawab bahwa ia tidak terbiasa mengatakan hal seperti itu. Di dunianya, lapar adalah urusan pribadi. Orang lain tidak perlu tahu.

Tapi Vivian sudah menyodorkan sendok ke tangannya.

"Makan. Felix bisa menunggu. Anak itu juga harus belajar sabar."

Felix duduk di samping Naomi, menatap mangkuk sup seolah tersinggung karena disebut harus sabar.

Naomi makan beberapa sendok dengan tenggorokan yang terasa penuh. Sup itu hangat, gurih, dan terlalu baik untuk hari yang sejak pagi terasa kasar.

Kelvin sudah tidak ada di ruangan saat ia selesai.

Mungkin itu lebih baik.

Jika ia tetap di sana, Naomi takut rasa malunya akan terlihat terlalu jelas.

Menjelang sore, Naomi berpamitan pulang. Vivian menawarkan supir untuk mengantar, seperti biasa dengan nada yang seolah penolakan adalah hal paling tidak masuk akal di dunia.

"Tidak usah, Tante. Saya masih mau ke kampus sebentar," jawab Naomi.

Itu bukan bohong sepenuhnya. Ia memang harus mengambil jadwal shift minimarket dari grup kerja, dan mungkin setelah itu langsung membantu menata rak jika manajer kembali meminta.

Vivian tampak ingin membantah, tapi Felix lebih dulu mendorong kepala ke perut Naomi, membuat perempuan itu tertawa.

"Lihat, dia saja tidak rela kamu pulang."

Naomi berjongkok, mengusap kepala Felix. "Aku datang lagi, Felix."

Felix menjilat punggung tangannya.

Setelah melewati pintu utama, Naomi berjalan menuruni anak tangga teras dengan langkah pelan. Sepatu hitam bertumit rendah yang ia beli murah di pasar sudah menggesek tumitnya sejak siang. Ia menahannya selama di dalam rumah, takut gerakannya terlihat tidak sopan.

Baru di dekat sisi halaman, saat staf rumah tangga sudah kembali masuk, Naomi berhenti.

Ia berjongkok, pura-pura membetulkan tali sepatu.

Begitu bagian belakang sepatu terlepas sedikit, rasa perih langsung menyengat. Kulit tumitnya lecet. Naomi menggigit bibir, mengambil tisu dari tas, lalu menyelipkannya di bagian belakang sepatu. Cara murah agar bisa berjalan sampai halte tanpa meringis.

Ia memastikan tidak ada orang melihat, kemudian berdiri lagi.

Di balik jendela lantai dua, Kelvin berdiri tanpa suara.

Matanya mengikuti langkah Naomi yang kembali tegak, seolah rasa sakit di tumitnya tidak pernah ada.

Untuk beberapa saat, ia tidak bergerak.

Di halaman, Naomi berjalan keluar dari gerbang dengan tote bag di bahu dan Felix yang masih menggonggong kecil dari dalam rumah.

Kelvin melihat semuanya.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!