Bunga Qisyal wanita cantik, diusianya yang masih muda 22 tahun sudah menjadi CEO ternama di perusahaan papanya.
Mencintai teman kecilnya yang bernama Jasson Anggara Utama, keduanya begitu dekat. Suatu hari, keluarga Jasson mengalami kebangkrutan.
Bunga ingin menolongnya dengan catatan Jasson harus menikah dengannya. Tentu saja pria itu menolak dan marah besar namun keluarga Jasson memaksanya hingga membuat Jasson tidak memiliki pilihan.
Kejadian itu membuat Jasson membenci Bunga, karena Jasson sudah memiliki kekasih hati pilihannya dan berencana akan menikah.
Jasson menganggap jika Bunga adalah wanita egois yang hanya bisa mengandalkan kekuasaannya untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Rasa sayangnya kepada Bunga sebagai teman berubah menjadi sebuah kebencian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lihat Aku, Jasson! Bab 17
Ade yang begitu kesal hanya bisa berteriak, namun suaranya tidak akan kedengaran oleh mamanya Bunga.
"Aku membencimu Bunga!"
Ponsel Ade berbunyi, ia takut melihat nomer yang menghubunginya. Ade langsung mematikan ponselnya, ia tidak ingin orang itu mengganggu atau mengacaukan rencananya.
Jasson kembali ke meja makan, wajahnya memerah terlihat sangat kesal
Salvira menatap menantunya, ia pun bertanya apa yang dibahas oleh menantunya "Segitu buruknya kabar itu sehingga kamu terlihat marah Jasson?" Jasson tersadar, tersenyum kepada ibu mertuanya.
"Tidak, Mi! Bukan berita buruk,"
"Lalu kapan temanmu kembali dari tugasnya? Maksud mami, berapa lama istri dari temanmu itu pergi?"
"Mami, sudah lah! Jangan seperti itu, jika temannya sudah kembali Ade pasti akan segera pergi."
Jasson dan yang lainnya menatap Ade yang kembali makan, Salvira hanya mengamati wanita itu saja.
Mengapa kecurigaannya kepada menantunya dan wanita itu semakin besar? Namun Salvira belum mempunyai bukti apapun.
"Kamu ini seorang model internasional se-Asia, dan status kamu belum menikah. Namun mengapa kalian mengatakan jika kamu sudah menikah?"
Ade dan Jasson tersedak, begitu juga dengan Bunga. Bagaimana bisa Salvira mengetahui itu?
"Itu karena Ade mencintai karirnya Mi, dia juga menutupi pernikahannya dari media agar karirnya tidak hancur!" Bunga pun membohongi maminya, ia tidak mau jika semuanya begitu cepat terbongkar.
"Jika memutuskan untuk menikah, bukan kah seorang wanita juga harus siap kehilangan karirnya? Buktinya kamu, memilih menikah dan meninggalkan perusahaan"
"Beda dong mami, perusahaan itu milik keluarga kita. Bunga bebas untuk masuk atau berhenti, berbeda dengan Ade." Bunga bersikap biasa saja, perkataannya mungkin juga menyinggung atau menyakiti hati dari kekasih suaminya itu.
"Mami bertanya kepada Ade, mengapa kamu yang menjawab? Sepertinya kalian menutupi sesuatu dari mami ya?"
"Udah dong mi! Mami curiga tanpa alasan, kasian dong Ade. Merasa tidak nyaman karena pertanyaan-pertanyaan yang mami berikan. Ade juga awalnya tidak mau tinggal disini, karena itu. Dia takut banyak pertanyaan dari keluarga Bunga atau Jasson, tapi Bunga yang memaksanya untuk tinggal di sini!"
"Maafkan mami, mami hanya ingin bertanya tidak bermaksud apa-apa!"
Mereka pun makan malam dengan tenang setelah ketegangan yang terjadi.
Setelah selesai makan, Bunga ingin masuk kedalam kamar. Jasson bingung ia harus bagaimana karena ada ibu mertuanya, Ade mengajak Jasson untuk tidur bersama.
Kamar Bunga bertepatan di samping kamar ibunya, Salvira melihat Ade yang masuk kedalam kamar utama
"Ini kan kamar anak saya, kenapa kamu masuk lagi? Belum cukup mengidam nya?"
Bunga dan Jasson segera menghampiri, Ade terdiam "Ma, kalau Ade masih ingin tidur di siji enggak apa-apa kok."
"Loh, tidak bisa begitu dong Bunga! Ini kan kamar utama kamu dengan suamimu. Dia harus tidur di kamar lain, kamu ikut Tante! Dan kamu Jasson, masuk tidur dengan istrimu!"
Jasson tidak banyak menolak, ia pun memegang tangan Bunga membawanya kedalam kamar "Ayo, Bunga!"
Bunga yang terkejut namun hanya bisa mengikuti suaminya.
Jasson langsung menutup pintu kamar sedangkan Ade masih berdiri kesal. Salvira langsung mengajak Ade tidur bersamanya.
"Kamu tidur sama Tante aja, biar enggak kesepian."
Ade hanya bisa menurut, ia pun masuk kedalam kamar ibunya Bunga. Walau hatinya dongkol, namun Ade juga tidak terbiasa tidur sendirian.
******
Di dalam kamar, Bunga dan Jasson terdiam. Mereka bingung harus apa "Jasson, kau tidurlah di kasur. Biar aku di lantai."
Bunga langsung mengambil bantal dan selimut, ia bersiap untuk tidur di lantai.
Jasson menarik tubuhnya "Kau tidurlah di atas, aku yang akan di lantai!"
Bunga pun mengangguk, ia hanya bisa menuruti ucapan suaminya.
Bunga segera berbaring di tempat tidur, kini Jasson melihat kecantikan Bunga tanpa polesan make-up. Bunga memang jarang memakai make-up, namun saat tertidur kecantikannya bertambah lima kali lipat.
Jasson meninggalkan Bunga yang sudah terlelap, ia mengambil sebotol win dari dapur. Dan meminumnya di balkon kamar.
Jasson mengingat pertengkarannya dengan Ade, hatinya hancur saat Ade mengatakan jika dirinya hanya menjadikan Ade sebagai budak ****.
Jasson sangat mencintai Ade, bahkan dirinya gila tanpa kehadiran Ade. Jasson pun tidak ingin ini semua terjadi, namun demi kesehatan papanya. Ia rela menikah dengan Bunga.
Kepala Jasson sedikit pusing, kesadarannya mulai hilang..
Ia pun pelan-pelan menghampiri Bunga yang tertidur di kasur. Jasson melihat Bunga seperti kekasihnya, Ade. Biasanya ia tidur dengan kekasihnya itu.
Jasson berbaring di samping Bunga. Bunga pun terbangun, kaget
"J-jasson! Ad-ada apa?"
"Sayang, aku mencintaimu!" Jasson langsung mengecup bibir Bunga, bahkan kecupan itu menjadi ******* sehingga Bunga tidak bisa bernafas.
Untuk pertama kalinya Bunga berciuman oleh lawan jenis, ya tubuhnya begitu suci. Bunga selalu menjaga kesuciannya, Bunga begitu bingung dan kaget. Mengapa tiba-tiba Jasson memperlakukannya dengan lembut?
"Jasson, sadarlah!"
"Aku sadar, Sayang! Aku mencintaimu, maafkan aku."
Bunga tersenyum, ia pun mengira jika suaminya menang dalam keadaan sadar. Dan meminta maaf kepadanya, dengan perasaan bahagia Bunga menyerahkan kesuciannya malam ini untuk sang suami.
*******
Pagi hari, Bunga terbangun dari tidurnya melihat Jasson yang sudah tidak ada disampingnya, ia pun beranjak untuk bangkit. Menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
Mengingat kejadian kemarin malam membuat dirinya senyum-senyum tak karuan. Ia menganggap jika suaminya Jasson sudah berubah.
Bunga pun menuju kamar mandi, membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Jasson datang kedalam kamar Bunga. Ia tersenyum kepada Jasson, namun lelaki itu meminta maaf kepada Bunga "Untuk apa yang terjadi, aku minta maaf Bunga. Sungguh, aku tidak sengaja melakukan itu, aku mengira jika kau adalah Ade. maafkan aku!"
Bunga tersenyum, mengatakan kepada Jasson jika suaminya tidak perlu merasa khawatir "Jangan khawatir, aku enggak masalah kok. Lagipula, aku ini istrimu. Kau berhak atas diriku, jangan khawatir Jasson, aku tidak akan terbawa perasaan!"
Bunga memaksakan senyumannya, Jasson berterimakasih kepada Bunga. Lalu pergi meninggalkan Bunga sendirian didalam kamar, setelah kepergian Jasson. Bunga menangis senggugukan, hatinya hancur.
Mengapa Jasson tidak pernah melihatnya sedikit pun? Bahkan Bunga berteriak, ia mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya ia sadar jika Jasson tidak akan mencintainya.
Bunga segera menghapus air matanya, ia pun keluar kamar. Sebelum keluar dari kamar, Bunga memastikan jika dirinya tidak terlihat habis menangis.
Bunga pun pergi ke dapur, terlihat semua masakan sudah dihidangkan di meja makan.
Bahkan semua orang sudah ada dimeja makan, begitu juga mertuanya.
"Mama, Papa. Sudah lama?"
"Belum, Sayang. Mama dan Mami mu memasak makanan khusus untuk kamu dan juga Jasson."
Kesedihan Bunga seketika hilang, ada kedua mertuanya yang menyayanginya dengan baik. Walau ia tahu jika kasih sayang kedua mertuanya tidak lah tulus. Namun setidaknya mereka masih perhatian kepada Bunga.
Ade pun menuju dapur, Kedua orang tua Jasson kaget dengan kehadiran Ade.
Namun Jasson memberikan isyarat untuk tidak mengatakan apapun, Laras yang kesal namun juga tidak berani mengatakan apapun. Jika ia melabrak Ade sekarang, besannya akan mengetahui siapa Ade. Salvira pasti tidak akan terima, ia akan mengusir mereka dan juga anaknya. Bahkan kemewahan yang mereka rasakan selama ini akan di ambil kembali oleh sang besan.
Semua duduk di meja makan, Laras yang memberikan perhatian kepada Bunga bahkan menyuapinya makan.
Ade yang melihat itu merasa semakin tidak tahan lagi, ia beranjak bangkit dari meja makan.
Ade bersiap-siap untuk pergi dari rumah, Jasson pun mengejar Ade
Keduanya kembali berdebat.
"Sudah cukup Jasson! Aku tidak tahan lagi! Aku akan pergi dari rumah ini, hatiku merasa sesak apalagi saat melihatmu bermesraan dengan Bunga! Bahkan kedua orang tuamu, mereka seperti tidak mengenal ku!"
"Tolong tenangkan dirimu, Sayang! Jangan seperti itu, aku minta maaf!"
"Cukup! Aku sudah muak, dan aku ingin pergi dari sini! Terserah kau ingin melakukan apa, Jasson! Jika kau mencintaiku, kau tidak memaksa ku terus bertahan di rumah ini! Aku merasa sesak!"
Ade menyusun pakaiannya ke dalam koper, Jasson sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan kekasihnya, namun semuanya sia-sia.
"Aku bisa gila jika terus berada di sini, dan tolong kasihani anak mu yang ada di perutku! Apa kau ingin dia tiada?"
Jasson langsung memeluk Ade, ia tidak akan mencegah Ade untuk pergi lagi.
"Maafkan aku, aku tidak akan membiarkan mu merasa sakit. Aku akan mengantarkan mu pergi sekarang!"