Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dihadang
Pagi hari, Elena mempersiapkan berbagai keperluan sekolah Cantika dan Brian. Saat semua sudah siap, Elena mengantar kedua anaknya ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Cantika berlari menuju ke kelasnya. Karena terlalu bersemangat, Cantika tak memperhatikan jalan, ia pun terjatuh.
"Addduuhh," teriak Cantika.
Elena yang melihat puterinya terjatuh, langsung berlari ke arah Cantika. "Disebelah mana yang sakit, Sayang?" tanya Elena khawatir.
"Ini Ma di lutut." Cantika menunjuk ke arah lututnya.
"Brian, Mama mau antar Adik ke UKS, kamu mau ikut atau mau masuk ke kelas dulu?" tanya Elena kepada Brian.
"Aku ikut Mama aja deh, siapa tahu nanti butuh bantuan aku," jawab Brian.
"Ya sudah kalau begitu." Elena membawa Cantika menuju ke UKS.
Elena mengobati luka Cantika, setelah itu mengantarkannya ke kelas. "Assalamu'alaikum, Bu." Elena mengetuk pintu ruang kelas Cantika dan Brian.
"Wa'alaikum salam, eh Cantika ... Brian ... masuk Nak. Lo, kaki Cantika kenapa? Kok diperban?" tanya bu Dita khawatir.
"Tadi jatuh didepan, Bu. Cantika semangat sekali ingin belajar, jadi ia berlari, tapi malah terjatuh," jelas Elena.
"Begitu, lekas sembuh ya." Bu Dita mengelus puncak kepala Cantika.
"Terima kasih do'anya, Bu," respon Cantika.
"Ya sudah, kalau begitu Cantika dan Brian duduk dikursi masing-masing ya," pinta bu Dita.
"Baik, Bu." Cantika dan Brian berjalan ke tempat duduk mereka masing-masing.
Elena pun pamit, Elena berjalan menuju mobilnya, ia akan pergi ke tokonya. Saat dalam perjalanan, tiba-tiba ada beberapa orang pria yang menghadang jalan Elena, kebetulan daerah saat itu sepi.
Beberapa pria itu turun dari motor mereka, mereka berjalan menuju ke mobil Elena. Beberapa pria itu mengetuk kaca mobil milik Elena dengan keras. Elena pun keluar dari mobilnya.
"Ada apa? Sepertinya kita belum pernah bertemu, apakah kalian punya masalah denganku?" tanya Elena dengan nada agak tinggi.
"Tentu saja Cantik, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Tak kusangka, wanita secantik dirimu mempunyai musuh yang begitu kejam," ucap salah satu dari pria itu.
"Musuh? Jadi kalian orang suruhan, kalian disuruh apa terhadapku? Menghajarku? Atau membunuhku?" tanya Elena menggertak.
"Kami disuruh menghajarmu," jawab salah satu pria itu.
"Kalau begitu, ayo, majulah!" Elena bersiap dengan kuda-kudanya.
Beberapa pria itu maju hendak menyerang Elena, tapi satu persatu pria itu tumbang dalam seketika. Elena tersenyum puas, saat melihat semua pria itu terkapar ditengah jalan.
"Hanya ini kemampuan kalian," ucap Elena lalu masuk kedalam mobil.
Elena memutar mobilnya dan mencari jalan yang lain. Para pria itu terbaring dalam kondisi sadar, mereka hanya kesusahan bergerak karena beberapa bagian anggota tubuh mereka terasa sakit.
"Duh, gimana ini? Ternyata target kita bukan orang biasa, aduh ... leherku sakit sekali," pekik salah satu pria.
"Gimana ini kita bangkitnya, tulang ditubuh rasanya tidak bisa digerakkan," ucap pria yang lainnya.
*
*
*
Disisi lain, Elena telah sampai di halaman tokonya. Elena keluar dari mobil dan masuk kedalam tokonya. "Loh, Bu Elena kenapa? Kok ada darahnya dibaju, Bu?" tanya Lea khawatir.
"Tidak ada apa-apa kok, tadi dijalan ada beberapa pria menghadang jalanku. Karena aku mengajar mereka, jadi bajuku terkena darah mereka," jawab Elena.
"Tapi, Bu Elena tidak apa-apa 'kan?" Lea sangat khawatir dengan keadaan bosnya itu.
"Tidak apa, aku kebelakang dulu untuk membersihkan diri." Elena masuk ke ruangan yang berada dibelakang toko.
Beberapa saat kemudian, Elena telah selesai mengganti pakaiannya yang terkena darah. Elena kini menghampiri Lea, ia menanyakan keadaan tokonya selama beberapa hari, beberapa hari itu Elena tak mengecek skema penjualan di tokonya.
Setelah mengecek, Elena berjalan menuju ke taman yang letaknya berada dibelakang toko. Disana Elena duduk sambil meminum sebotol air mineralnya.
"Siapa ya yang nyuruh orang buat menghajar aku? Apakah mantan ibu mertua? Atau mungkin Clara? Setahuku hanya dua orang ini yang terang-terangan tidak suka padaku," Elena bermonolog.
"Sudahlah, besok juga bakalan ketahuan. Kayaknya orang itu bakal ngirim orang lagi buat nyelakain aku, secara ... tadi tidak berhasil," gumam Alisha.
Tiba-tiba, Elena teringat akan kedua anaknya. Elena takut jika anaknya akan menjadi sasaran juga. Elena berjalan cepat menuju mobilnya, ia langsung melajukan mobilnya menuju ke sekolah kedua anaknya.
Sesampainya disana, Elena mencari keberadaan Cantika dan Brian dengan melihatnya dari sebuah kaca. Elena merasa lega, karena ia melihat Cantika dan Brian yang sedang serius mendengarkan perkataan bu Dita.
Alhamdulillah ya Allah, mereka baik-baik saja, gumam Elena pelan. Elena pun duduk bersama ibu-ibu yang lainnya. "Bu Elena, kenapa tadi seperti sedang ketakutan saat datang?" tanya salah satu ibu disana.
"Tidak ada apa-apa kok, Bu," jawab Elena sambil tersenyum.
"Oh," respon ibu itu singkat.
Beberapa saat kemudian, kelas pun selesai. Anak-anak mulai keluar dari ruang kelas mereka. Elena menghampiri bu Dita yang sedang duduk dikursi megajarnya. Cantika dan Brian menunggu diluar kelas.
"Bu Dita, ada hal yang ingin saya sampaikan," ucap Elena serius.
"Baik, ada apa ya Bu Elena?" Bu Dita penasaran dengan hal yang akan disampaikan oleh Elena.
"Begini, tadi sewaktu saya akan menuju ke toko saya, saya dihadang oleh beberapa pria tak dikenal. Mereka bilang jika mereka adalah suruhan seseorang, mereka ditugaskan untuk menghajar saya," jelas Elena.
"Lalu bagaimana keadaan Bu Elena saat ini?" tanya bu Dita khawatir, ia sangat terkejut mendengar penuturan dari Elena.
"Saya tidak apa-apa, saya berhasil melumpuhkan mereka. Saya menceritakan ini kepada ibu guru, agar kedepannya Cantika dan Brian harus menunggu didalam kelas saja saat saya belum menjemput mereka. Saya khawatir, jika orang itu akan mencelakai Cantika dan Brian," jawab Elena, ia menjelaskan maksud kedatangannya.
"Baik, Bu, saya akan menunggu Cantika dan Brian jika memang belum dijemput oleh Bu Elena," respon bu Dita.
"Baik, kalau begitu saya permisi dahulu, maaf sudah merepotkan." Elena bersalaman dengan bu Dita lalu berjalan keluar ruangan.
"Tidak kok, Bu, saya senang jika bisa membantu. Selama anak-anak masih di sekolah, mereka juga menjadi tanggung jawab kami sebagai guru," respon bu Dita.
"Terima kasih, Bu, kami pamit dahulu, wassalamu'alaikum." Elena pergi meninggalkan tempat itu.
"Dadah Bu guru Dita." Cantika melambaikan tangannya ke arah gurunya.
"Dadah Cantika yang cantik." Bu Dita juga melambaikan tangannya.
Kini, Elena dan kedua anaknya sudah masuk kedalam mobil. Elena melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, Elena tidak ingin membawa anak-anaknya keluar rumah dahulu kecuali untuk hal-hal yang penting saja, Elena khawatir dengan keselamatan kedua anaknya.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤