Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Mobil hitam itu melaju meninggalkan gedung Jayendra Group.
Di dalamnya, suasana begitu sunyi. Tidak ada percakapan di antara Seokjin dan Viola. Hanya suara mesin mobil yang terdengar samar, bercampur dengan bunyi kendaraan dari luar yang sesekali masuk melalui celah kaca.
Viola duduk di sisi jendela. Tatapannya terpaku pada pemandangan kota yang bergerak mundur. Gedung-gedung tinggi, kendaraan yang memenuhi jalan, pejalan kaki yang berlalu-lalang. Semuanya terlihat seperti biasa. Hanya hidupnya yang tiba-tiba terasa berubah arah.
Jari-jarinya masih mengingat genggaman Seokjin tadi. Genggaman yang membuatnya bingung sekaligus membuat semua orang percaya bahwa mereka memiliki hubungan khusus. Dan yang paling mengganggunya adalah Seokjin tidak terlihat ragu ketika mengucapkan kebohongan itu.
Sesekali Viola melirik pria yang duduk di sebelahnya. Seokjin hanya menatap lurus ke depan. Wajahnya sulit dibaca. Tidak nampak tanda penyesalan ataupun kegelisahan. Seolah keputusan besar yang baru saja diambilnya hanyalah bagian kecil dari sebuah rencana yang sudah tersusun rapi di kepalanya.
Mobil terus melaju. Keheningan itu bertahan sampai akhirnya kendaraan berhenti di depan sebuah restoran mewah.
Bangunannya berdiri tiga lantai dengan arsitektur elegan. Dinding kaca memantulkan cahaya matahari siang, sementara pintu masuknya dijaga beberapa pegawai berpakaian rapi.
Seokjin turun lebih dulu, Viola begegas menyusul. Seorang pegawai restoran menghampiri mereka.
"Selamat siang, Tuan Han."
Seokjin hanya mengangguk singkat. Pegawai itu kemudian mempersilakan mereka masuk dan mengantar keduanya melewati ruang makan di lantai pertama dan kedua. Hingga akhirnya mereka tiba di lantai tiga.
Suasana di lantai itu berbeda. Lebih tenang, tidak ada suara percakapan yang ramai. Hanya ada dua ruangan yang sengaja disiapkan khusus untuk anggota tetap restoran. Pegawai itu menggeser pintu hingga terbuka. Lalu mempersilakan kedua tamunya masuk.
Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja dan beberapa sofa eksklusif. Jendela besar dengan balkon yang menghadap langsung ke pusat kota.
Seokjin duduk di salah satu sofa sambil membuka kancing jasnya, sementara Viola mengambil tempat di sebrang pria itu.
Setelah memesan beberapa menu makan siang, pegawai itu membungkuk sebelum meninggalkan mereka.
Kembali sunyi. Viola menatap meja di hadapannya. Makanan belum datang, tetapi pikirannya sudah terasa penuh. Ia ingin bertanya, tapi setiap kali hendak membuka mulut, keberaniannya menghilang. Sementara Seokjin tetap tenang seperti sebelumnya.
Setelah beberapa saat menatap layar ponsel dengan jari yang bergulir di atas layar yang menyala, pria itu bangkit. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan menuju pintu balkon.
Tangannya meraih gagang pintu lalu menggesernya hingga terbuka. Angin siang langsung menyambutnya. Tirai tipis di dekat pintu berkibar perlahan. Seokjin melangkah ke balkon.
Viola memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya ikut berdiri. Ia tidak bisa terus diam, ia harus mendapatkan penjelasan pria itu.
"Tuan Han ...." Viola berdiri dua langkah di belakang Seokjin.
Seokjin tidak menoleh. Ia berdiri di tepi balkon dengan kedua tangannya bertumpu pada pagar. Pandangannya tertuju pada jalan raya jauh di bawah sana.
Kendaraan bergerak seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti. Gedung-gedung tinggi berdiri kokoh di antara lautan manusia. Namun, di tengah keramaian itu, Seokjin justru tampak sendirian.
Menarik napas dalam, Viola mengumpulkan keberanian. "Tuan Han, bagaimana Anda bisa tahu tentang konferensi pers tadi? Saya dan Sagara ... kami bahkan baru merencanakan semuanya kemarin."
"Itu tidak penting." Seokjin akhirnya membuka mulut.
Kening Viola berkerut kasar. "Tapi ...."
"Yang terpenting saat ini adalah kelanjutan dari rencana konyol kalian." Seokjin akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu.
"Rencana konyol?"
"Tentu saja konyol." Seokjin menatapnya tajam. "Kau dan Sagara sangat gegabah dengan merencanakan sesuatu tanpa kesiapan matang seperti tadi."
Teerdiam sesaat. Rasa tersinggung perlahan menyusup ke dalam dada Viola. Ia tahu rencana mereka mungkin tidak sempurna. Namun, mereka melakukannya karena tidak punya banyak pilihan. Mereka hanya ingin segera menyelamatkan Nara dari pemberitaan yang semakin liar.
"Aku dan Sagara bermaksud menyelamatkan Nara. Agar semua pemberitaan itu bisa segera berhenti." Nada suara Viola mulai berubah. Tidak lagi ragu seperti sebelumnya.
"Tapi apa yang kalian lakukan justru semakin memperburuk situasi." Seokjin menjawab dengan cepat dan dingin.
"Mereka akan semakin mempertanyakan penjelasanmu. Mereka tidak akan mudah percaya begitu saja dan menganggap semua itu hanya alasan yang dibuat untuk melindungi Nara."
Seokjin berhenti sejenak. Rahangnya mengeras. Sementara tatapannya menancap tajam pada Viola. "Dan semua itu hanya akan semakin membuat Nara terpojok."
Viola menundukkan wajah, dadanya terasa sesak, tubuhnya sedikit bergetar, namun pikirannya terus mencerna setiap perkataan pria itu.
Semua yang Seokjin katakan memang benar. Ia dan Sagara memang kurang matang dalam menjalankan rencana itu. Mereka telalu gegabah, tergesa-gesa mencari jalan keluar hingga lupa memperhitungkan kemungkinan lain. Bahkan ketika pertanyaan wartawan datang bertubi-tubi, ia begitu kewalahan dan hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Dan jika Seokjin tidak muncul saat itu, mungkin penjelasannya justru akan semakin mudah dipelintir oleh media.
Namun, tetap saja. Kedatangan pria itu secara tiba-tiba dan pernyataannya tentang hubungan mereka, bukanlah sesuatu yang bisa diangap sepele. Justru pernyataan itu telah menyalakan api yang baru di tengah bara yang belum padam.
Perlahan Viola mengangkat wajah. Tatapannya kali ini lebih tajam. "Anda benar," jawabnya penuh ketegasan.
Seokjin menatapnya datar. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.
"Saya dan Sagara kurang matang dalam Merencanakan semuanya." Viola menarik napas dalam.
"Tetapi kedatangan Anda dan semua pernyataan yang Anda sampaikan tadi ...." Ia berhenti sejenak, berusaha menahan emosinya. "Bukankah itu justru semakin memperkeruh masalah?"
Seokjin terdiam.
"Sekarang semua orang percaya bahwa kita memiliki hubungan," lanjut Viola. Kali ini ia berniat untuk mengatakan semua yang ada pikirannya.
"Memang itu tujuanku." Seokjin menjawab singkat. Tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Viola terperangah.
"Dengan begitu. Mereka akan percaya dengan penjelasanmu. Dan perhatian mereka tidak lagi berpusat pada Nara."
"Tapi mereka akan mulai mengejar saya!" Suara Viola meninggi. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal erat. "Mereka pasti akan mendatangi Sweet Cake untuk mencari tahu lebih banyak."
Seokjin mengerutkan kening. "Aku akan mengurusnya," jawabnya tanpa beban. "Kau jangan mengkhawatirkan hal itu."
Angin dari balkon menembus masuk, menggerakkan tirai tipis di belakang mereka.
Seokjin menatap Viola dalam diam. Sementara, Viola berdiri tegak dengan dada yang yang naik turun.
Viola tahu dirinya sedang berhadapan dengan pria yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Seokjin bukan seseorang yang mudah menerima bantahan. Setiap keputusan yang keluar dari mulutnya seperti sesuatu yang sudah final.
Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, Viola kembali melanjutkan kalimatnya. "Saya berterima kasih karena Anda berusaha membantu Nara," ucapnya setenang mungkin.
"Tapi seharusnya Anda tidak membuat pernyataan seperti itu. Anda bisa menggunakan alasan lain yang lebih mudah dan tanpa resiko besar."
"Aku hanya melanjutkan apa yang kalian rencanakan." Seokjin menjawab dengan tenang. Wajah pria itu terlihat datar seperti biasa.
"Lagipula, menurutku pernyataan itu yang paling masuk akal untuk menghentikan mereka sebelum mereka kembali menyeret Nara."
Viola menggigit bibir bagian dalam, jemarinya semakin mengepal erat. Jawaban itu terdengar sederhana. Namun, entah mengapa, kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam meja.
Kesunyian perlahan menyelimuti. Terpaan angin yang berhembus kencang sesekali mengibarkan helaian rambut panjang Viola.
Viola menarik napas pelan.
Meski sebelumnya, ia sudah berusaha pasrah. Jika pernyataan yang direncakannya akan menyeret namanya, ia pikir dirinya masih sanggup menerimanya. Setidaknya ia sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Tetapi bukan seperti ini. Bukan pengakuan bahwa dirinya memiliki hubungan khusus dengan Seokjin.
Angin berhembus semakin kencang.
Seokjin melangkah mendekat. Tatapannya turun pada wajah Viola yang masih menyimpan kekecewaan. Pada bibir yang sejak tadi digigitnya untuk menahan segala sesuatu yang ingin diucapkan.
"Aku yakin kau begitu ingin menyelamatkan nama baik Nara dan pernikahannya bersama Sagara." Suaranya terdengar rendah dan dingin.
Viola masih terdiam.
Seokjin menatapnya tanpa berkedip. "Karena itu..." Ia berhenti sejenak.
Viola mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu.
"Kau harus mengorbankan dirimu sendiri."
Dada Viola terasa sesak, jemarinya perlahan terlepas. Ia menatap Seokjin seolah sedang berusaha menemukan sesuatu di wajah pria itu. Sebuah tanda bahwa semua itu hanya lelucon buruk.
Namun tidak ada. Hanya ada tatapan tegas yang membuat perutnya semakin tidak nyaman.
"A-apa maksud Anda sebenarnya?"
Seokjin tidak langsung menjawab. Ia justru mempersempit jarak hingga jarak di antara mereka semakin dekat. Aroma parfum pria itu samar-samar tercium terbawa angin yang berhembus. Viola tanpa sadar menahan nafas.
Untuk beberapa detik Seokjin hanya memandanginya. Kemudian bibirnya bergerak. "Menikahlah denganku."
**** Bersambung.
tpi kasian viola nikah tanpa di cintai.sll jdi lilin menerangi org lain .tpi kena tanga sndri 🙏🙏😭😭