Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
David turun dari mobil, wajahnya sedingin es. Tangannya melingkar posesif di pinggang Mili, seolah memperingatkan siapa pun agar tidak berani menyentuh istrinya.
Di halaman rumah mereka, pemandangan yang tersaji membuat suasana seketika memanas. Papa Hermawan, Gea dengan wajah sembab penuh air mata, serta orang tua kandung Mili—pasangan yang selalu memperlakukan Mili layaknya budak—tengah berdiri menanti mereka.
"Ada apa ini? Apa ini acara penyambutan kedatanganku?" tanya David sarkastik, matanya menatap tajam ke arah Papa Hermawan yang terlihat berantakan.
"David! Bebaskan Andrew!" bentak Papa Hermawan tanpa basa-basi, suaranya menggelegar di halaman rumah yang luas itu.
David tertawa sinis, tawa yang tidak sampai ke matanya yang mematikan.
"Bebaskan penjahat itu?"
"Dia putraku! Dia kakakmu!" Papa Hermawan tidak peduli, wajahnya memerah padam.
"Dia bukan kakakku," potong David dingin.
"Dia penculik yang berniat menjual istriku ke Dubai. Di mata hukum, dan di mataku, dia hanyalah sampah yang harus membusuk di penjara."
Gea, yang sedari tadi terisak, maju mendekati Mili dengan tatapan memelas yang dibuat-buat.
"Kak... tolong minta suamimu untuk membebaskan suamiku. Kami baru saja menikah, kami butuh Andrew! Kumohon, Kak..."
Mili menatap Gea dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia merasakan kehadiran orang tuanya di belakang Gea, menatapnya dengan tatapan penuh kebencian dan tuntutan yang sudah ia kenal sejak kecil.
Mili menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf, Gea. Semua keputusan ada di tangan David," jawab Mili datar, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup kencang karena takut.
Tiba-tiba, ibu kandung Mili melangkah maju, jarinya menunjuk tepat di depan hidung putrinya sendiri.
"Mili!! Jangan keterlaluan kamu!! Jangan karena sekarang kamu kaya, kamu jadi sombong dan lupa daratan! Kami ini orang tuamu, kamu harus patuh!"
Mendengar ucapan itu, rahang David mengeras. Aura di sekitar David berubah mencekam, membuat udara di halaman rumah itu seolah membeku.
Mili terperanjat, ia tahu betul bagaimana David jika sudah tersinggung, apalagi menyangkut harga dirinya.
"Siapa yang kamu bilang sombong?" suara David terdengar rendah, berbahaya, dan mematikan.
Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan ibu kandung Mili.
"Dan, siapa yang berani menunjuk istriku?"
Orang tua Mili yang biasanya berkuasa atas hidup putrinya kini gemetar hebat di bawah tatapan predator milik David.
Namun, Papa Hermawan masih bersikeras, "David, cukup! Jangan bawa orang tuanya dalam masalah bisnis ini!"
David menoleh ke arah Papa Hermawan dengan senyum yang sangat mengerikan.
"Bisnis? Kalian menyebut penculikan istriku sebagai bisnis?"
David memberi kode pada Jonas yang sedari tadi berdiri di balik bayang-bayang mobil.
"Jonas, usir mereka semua dari propertiku sekarang juga. Dan kalau perlu, panggil polisi lagi untuk menyeret siapa pun yang berani menginjakkan kaki di sini tanpa izin."
Jonas melangkah maju bersama empat pengawal bertubuh tegap.
Tanpa ragu sedikit pun, mereka membentuk barikade kokoh, memotong jarak antara rombongan keluarga itu dengan David dan Mili.
"Harap Tuan-Tuan dan Nyonya sekalian segera meninggalkan area privat ini," ucap Jonas tegas, intonasinya dingin tanpa kompromi.
"Jika dalam hitungan ketiga Anda semua tidak berbalik arah, kami tidak akan segan menggunakan kekerasan fisik untuk melempar Anda keluar dari gerbang."
"David! Kamu anak durhaka! Kamu tega menghancurkan keluargamu sendiri?!" teriak Papa Hermawan histeris.
Wajahnya memerah padam, suaranya parau menahan rasa malu dan frustrasi yang membuncah.
Ibu kandung Mili yang belum puas menyebarkan racunnya kembali memaki dengan nada melengking,
"Mili! Dasar anak tak tahu diri! Kamu lupa siapa yang melahirkan dan merawatmu?! Kamu cuma dimanfaatkan pria ini! Lihat saja, kamu bakal kena kualat!"
David tidak membiarkan kata-kata makian itu menyentuh pendengaran istrinya lebih lama.
Dengan gerakan cepat, ia menarik Mili ke dalam dekapannya dan menutupi kedua telinga wanita itu dengan telapak tangannya yang hangat dan kokoh.
"Satu..." hitung Jonas dingin, memberi isyarat pada para pengawal untuk mencengkeram lengan Papa Hermawan dan ayah kandung Mili.
"Dua..."
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" jerit Gea sembari terseret mundur, tangisnya makin pecah saat melihat keangkuhan keluarganya hancur berkeping-keping di bawah dominasi mutlak seorang David Hermawan.
Sebelum Jonas menyuarakan hitungan ketiga, para pengawal telah menyeret dan mendorong rombongan itu keluar dari area halaman utama, lalu menutup rapat pintu gerbang besi yang menjulang tinggi.
Suara makian dan jeritan histeris dari luar perlahan memudar, tertelan megahnya kediaman David.
David menurunkan tangannya dari telinga Mili, lalu membalikkan tubuh istrinya hingga mereka berhadapan.
Ia mendapati tubuh Mili masih gemetar pelan, bayang-bayang trauma masa kecil akibat siksaan orang tuanya kembali menyeruak ke permukaan.
"Lihat aku, Mili," bisik David lembut.
Jemari kokohnya mengusap lembut pipi Mili yang pucat, menatap dalam-dalam ke dalam manik mata wanita yang sangat ia cintai itu.
"Mereka tidak akan pernah bisa menyakitimu lagi. Mulai hari ini, tidak ada satu pun orang dari masa lalumu yang berani menyentuh sehelai rambutmu."
Mili menatap mata David, menemukan kedamaian dan perlindungan tanpa batas di sana.
Rasa takut yang sempat mencekiknya perlahan sirna, berganti dengan rasa hangat yang memenuhi dadanya.
Mili mengangguk pelan, lalu menyandarkan wajahnya di dada bidang David.
"Terima kasih, David... Terima kasih sudah menjadi pelindungku."
David tersenyum tipis, merengkuh tubuh Mili makin erat sembari mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih dan kepemilikan yang tak tergoyahkan.
"Ayo, Sayang," bisik David dengan suara berat yang sarat akan gairah, menatap Mili tajam.
"Ke mana?" tanya Mili lirik, mendongak menatap suaminya.
"Ke ruang rahasia. Aku merindukanmu," balas David tanpa ragu, kepemilikan mutlak terpancar jelas dari matanya.
Mili menganggukkan kepalanya pelan, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya.
Langkah kaki mereka menggema pelan menuju ruangan tersembunyi di sudut kediaman megah itu.
Pintu berat berdesis saat terbuka, menyambut mereka dengan suasana remang dan intim yang sudah sangat familiar.
Seperti biasa, David memulai ritual cinta mereka. Dengan gerakan teratur dan tatapan terikat pada Mili, ia melepaskan pakaiannya, lalu menyusul melepaskan pakaian istrinya satu per satu hingga tak ada lagi jarak di antara mereka.
David kemudian mengambil tali lembut, mengikat kedua tangan dan kaki Mili dengan cermat namun tak menyakitkan.
Sebuah kain penutup mata dan kain lembut untuk menutup mulut istrinya dipasang dengan pas, memotong sensasi penglihatan Mili dan hanya menyisakan kepekaan pada setiap sentuhan.
David meraih cambukan kecil berbahan kulit halus dari rak.
Dengan ayunan perlahan yang memicu gelombang sensasi mendebarkan, ia mengusapkan dan menyapukan ujungnya ke permukaan kulit mulus Mili.
"Mmphh..."
Suara desahan teredam yang lolos dari balik penutup mulut Mili seketika membuat nafsu dan dominasi David semakin meningkat.
Dadanya naik turun membara, dipenuhi gairah meluap-luap yang tak lagi sanggup ditahan.
Namun, alih-alih melanjutkan kekasaran, David meluapkan dominasinya melalui kelembutan yang kontras.
Jemari kokohnya bergerak cepat melepaskan ikatan di tangan dan kaki istrinya, lalu membuka penutup mata dan mulut Mili.
Saat tatapan mata mereka kembali bertemu, David langsung merengkuh tubuh Mili ke dalam pelukannya.
Ia menyatukan tubuh mereka dan melakukannya dengan lembut, mencurahkan seluruh cinta, kerinduan, serta rasa kepemilikan yang mendalam di setiap sentuhan hangatnya.