Seroang mafia masuk ke dalam novel poligami yang sangat dia benci, dia terjebak dalam raga seorang wanita lemah yang merupakan korban poligami dari suami materialistis.
Alina masuk saat ke dalam raga Alya saat dia meregang nyawa setelah didorong ke kolam renang oleh Monica yang merupakan istri kedua.
Alina membatu Alya untuk membalaskan dendam, dengan tau alurnya tentu sangat mudah untuk balas dendam namun Alina malah terjebak dalam jerat cinta CEO penikmat wanita yang merupakan partner bisnisnya.
Akankah Alya(Alina) dan Albert akan bersama? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
"Kamu yakin ingin minum di kamar?" tanya Albert dengan menatap Alya tak percaya.
"Yakin pak, kalau di sini tidak bisa bebas karena anak buah anda terus melihat kita," jawab Alya berbohong meski tujuan sesungguhnya supaya bisa memberikan minumannya pada Albert.
Albert tersenyum licik, akhrinya Alya sendiri yang menyerahkan dirinya. Dengan mengajak minum di kamar berarti Alya sudah siap untuk tidur dengan Albert.
Tak ingin membuang waktu lagi Albert segera meminta Chris untuk membooking kamar hotel untuknya dan juga Alya.
"Booking kamar yang terbaik," titah Albert.
"Siap Tuan," sahut Chris lalu pergi ke resepsionis untuk membooking kamar hotel, sebenarnya bisa saja lewat aplikasi namun karena sudah di hotel jadi dia langsung saja ke resepsionis.
Setelah mendapatkan kartu akses, Chris menghubungi Albert untuk ke loby.
"Semoga sukses bos," goda Chris saat Albert menerima kartu akses dari darinya.
Alya tersenyum menyeringai, ogah sekali sebenarnya berduaan dengan Albert di kamar hotel tapi bagiamana lagi, Albert sungguh licik dia terus saja menunda untuk menandatangi surat perjanjian yang Alya bawa apalagi Albert hanya ingin mengurangi nilai kompensasi seperempat saja.
Alya dan Albert segera menuju presiden suite room yang telah dibooking oleh Chris.
Alya sedikit deg degan saat masuk berdua ke dalam kamar hotel apalagi tangan Albert selalu berapa di pundaknya sedari tadi.
"Rileks santai, jangan gugup Alya," kata Albert lalu duduk.
Alya mengangguk lalu dia ikut duduk di sofa, Alya duduk agak menjauh dari Albert namun Albert terus mepet.
"Pak bisakah duduknya agak jauh dikit," kata Alya yang kurang nyaman duduk dekat sekali dengan Albert.
"Tidak bisa," sahut Albert.
"OMG lelaki ini sungguh menguji kesabaranku," batin Alya.
Albert yang membawa minumannya segera menuangkan minuman lagi ke gelas Alya berharap kali ini Alya mabuk supaya dia bisa mengeksekusi Alya secepatnya.
Lagi-lagi Albert dibuat heran, Alya sama sekali tidak mabuk.
"Alya apa kamu suka minum?" tanya Albert.
"Suka Pak, suka sekali," jawab Alya.
"Pantes kamu nggak mabuk sama sekali," sahut Albert dengan frustasi.
Renata hanya tersenyum, minum sampai pagi pun tidak akan membuat Alya mabuk.
Albert yang tidak bisa menunggu lagi mencoba menggoda Alya dengan meletakkan tangannya di pundak Alya tentu hal ini membuat Alya tidak nyaman.
"Pak kondisikan tangan anda," kata Alya dengan menatap Albert tajam.
"Calm down, tenang. Bukankah ini tujuan kamu mengajak minum di kamar supaya kita bisa bebas," kata Albert.
Alya menghela nafas lalu dia membuka berkasnya kembali dan meminta Albert untuk menandatanganinya.
"Tanda tangani ini dulu pak," kata Alya.
"Jangan terburu-buru Alya, kita nikmati dulu malam kita," ucap Albert dengan mendekatkan mulutnya ke telinga Alya.
Alya yang merasakan hembusan nafas Albert di telinganya mulai memanas, dia menjauhkan wajah Albert yang dekat dengan wajahnya.
Di kehidupannya dia adalah sesosok mafia bengis dan kejam jadi tidak ada pria yang berani mendekatinya bisa dibilang baru Albert lah yang berani dengannya seperti ini.
Radit saja yang macam-macam langsung digampar tanpa ampun oleh Alya.
"Pakaian anda terlalu formal, bisa tidak kalau anda ganti pakaian santai," pinta Alya.
"Mana bawa baju ganti aku," sahut Albert.
"Ya sudah lepas saja baju anda," timpal Alya asal.
Albert mengira kalau Alya akan segera mengajaknya memadu kasih di tempat tidur sehingga dia bersiap-siap membuang air seni dulu.
Inilah kesempatannya untuk bisa lepas dari Albert, Renata segera mengambil minuman yang dia bawa lalu mencampurkannya dengan minuman Albert.
"Rasakan kamu Albert, bersiap-siaplah sakit sukur-sukur sakit selamanya," kata Renata kesal karena Albert selalu menggodanya dan tidak mau menandatangani surat perjanjiannya.
Setelah dari kamar mandi, Albert melepas pakaiannya kemudian duduk lagi samping Alya.
"Astaga aku gugup sekali melihat tubuh Albert yang seperti roti sobek," batin Alya.
"Kenapa gugup sekali bukanlah suami kamu juga memiliki tubuh seperti ini?" tanya Albert.
"Mana aku tau aku tidak pernah melihat dia bertelanjang dada," jawab Alya
Albert mengerutkan alisnya, dia nampak heran mendengar jawaban Alya yang tidak pernah melihat Radit bertelanjang dada, lalu bagaimana mereka berhubungan badan? apa mereka kalau berhubungan badan masih memakai pakaian lengkap?
"Maksudnya aku sudah lupa karena memang sudah sangat lama aku dan dia tidak berhubungan badan," jelas Alya kemudian.
"Wow, kalau begitu kita langsung saja," bisik Albert.
"Baiklah tapi anda habiskan dulu minumannya," kata Alya.
Alya juga meminum minumannya begitu pula dengan Albert.
Setelah minum minumannya tiba-tiba Albert merasakan panas di sekujur tubuhnya, kepalanya juga terasa berat.
"Minuman apa ini?" tanya Albert lalu tak sadarkan diri.
"Mampus kamu Albert," kata Alya.
Bossss...
😀😀😀❤❤❤
😁😁