Alesya Patricia Aurora yang baru saja lulus dari kuliahnya mencari pekerjaan di sebuah perusahaan. Setelah mencari pekerjaan di beberapa perusahaan ia berminat mendaftar diri di sebuah perusahaan ternama di Indonesia.
Tidak di sangka alesya diterima di perusahaan tersebut dan bekerja disana. Berjalan nya waktu tiba-tiba saja alesya di angkat menjadi sekretaris bosnya. Ia di angkat menjadi sekretaris karena ada sesuatu. Ternyata bosnya menyukai dirinya tanpa pengetahuannya.
"ternyata semua perlakuan manisnya terhadap ku selama ini dia menyukai ku, dan aku selama ini tidak sadar dengan itu semua"
_Alesya Patricia Aurora_
"dari awal aku melihat wajahmu hatiku sudah merasakan debaran yang aneh. Ada rasa ingin memiliki hatimu dan aku akan melakukan semuanya demi mendapatkan hatimu"
_Reyfan Fernando Dirgantara_
Kisah ini menceritakan seorang wanita yang sudah mati rasa sedang di perjuangkan oleh seorang pria yang akan menghidupkan mati rasanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Halaenopsis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Malam Yang Dingin
Raymond mengejar alesya yang sudah di ambang pintu. "alesya tunggu" ucapnya.
Alesya yang merasa namanya di panggil berhenti, menoleh ke belakang.
Melihat alesya yang berhenti Raymond mempercepat jalannya langsung menarik tangan alesya tidak peduli dengan penolakannya.
"eh pak, bapak mau bawa saya kemana" ucap alesya terkejut.
Raymond tidak menjawab ucapan alesya, ia tetap membawa alesya ke mobilnya.
"masuk" titah Raymond.
Alesya hanya diam di depan pintu mobil.
"mau cara paksa atau cara masuk sendiri"
Dengan cepat alesya masuk ke dalam mobil Raymond. Dasar pemaksa.
Raymond masuk ke tempat mengemudi, di hidupkan mesin mobilnya.
Suasana jalan malam ini tidak terlalu ramai, tapi masih ada orang yang berlalu-lalang di jalan. Di dalam mobil hanya suara lagu menemani diamnya Raymond dan alesya.
Sesekali Raymond melirik alesya yang sedang melihat ke luar jendela mobil. Dari samping saja terlihat cantik.
Alesya yang penasaran akan di bawa kemana hanya diam saja. Percuma ia bertanya bakal tidak di jawab.
Terlihat gedung berlantai sangat tinggi dengan lampu kerlap-kerlip. Raymond memakirkan mobilnya.
Alesya turun dari mobil melihat ke arah bangunan yang sangat megah. Seperti hotel tapi bisa dibilang juga restoran.
Raymond jalan deluan dan di susul alesya dibelakang nya. Dasar bos seperti cuaca, biasa romantis tapi sekarang cuek.
Seseorang menyambut kedatangan Raymond dan alesya dengan baju seragam.
"selamat datang tuan dan nyonya" sapa pelayan tersebut.
Raymond hanya menganggukkan kepalanya dan alesya tersenyum manis.
"tempat apa sebenarnya ini pak" tanya alesya pelan.
"jangan banyak tanya, nanti tau sendiri" jawab Raymond melangkah ke lift.
Tombol lift di tekan no 20, tempat paling ujung. Alesya melihat tombol itu merasa ngeri.
Ketika pintu lift terbuka, Raymond mengambil tangan alesya lalu di genggamnya.
Terlihat sebuah taman dengan tempat duduk dan meja beserta lampu yang indah. Seperti nya ini cafe di rooftop yang memang sengaja dibuat agar kita bisa melihat pemandangan dari atas.
Mata alesya berbinar melihat tempat ini.
"apa kau suka dengan tempatnya, kalau tidak kita akan cari tempat lain" tanya Raymond masih menggenggam tangan alesya.
"saya sangat suka pak, apalagi bisa melihat pemandangan di bawah sana"
Raymond tersenyum mendengar jawaban alesya. Tidak sia-sia ia mengeluarkan uang banyak demi tempat ini.
Tidak terlalu banyak pengunjung yang datang. Tapi, malam ini terlihat yang datang membawa pasangan masing-masing.
Mereka memilih duduk langsung menghadap di depan hamparan luas pemandangan kerlap-kerlip lampu gedung menghiasi langit cerah malam ini.
Langit juga mendukung malam ini. Dengan hadirnya banyak bintang dan bulan membuat malam ini sangat indah.
Meja di depan mereka sudah penuh dengan hidangan makan malam. Apakah ini bisa dikatakan dinner romantis?.
Alesya menyasal melepas jaketnya tadi. Angin malam membuat tubuhnya sedikit menggigil kedinginan.
"apa kau baik-baik saja?" tanya Raymond.
"hanya sedikit kedinginan pak" jawab alesya.
"bisakah kalau di luar kantor kau jangan memanggilku pak" pinta Raymond.
Alesya berpikir sebentar. "akan saya coba"
Raymond tersenyum. Kau selalu cantik kapanpun.
Melihat alesya terus memeluk dirinya sendiri, Raymond membuka jaket hoodie hitamnya. "pakailah" ucap Raymond memakai kan ke belakang tubuh alesya.
"terimakasih pak, eh Raymond" ucap alesya kikuk.
"mari kita makan"
Raymond mengambil pisau dan garpu, memotong daging menjadi kecil. Begitu juga alesya. Suasana makan malam ini sangat indah, lagu romantis yang menemani makan malam mereka dan hembusan angin malam yang sepoi.
_________________________________
Setelah selesai makan, mereka berdiri di dekat pembatas rooftop atas keinginan alesya.
"apa kau suka ketinggian?" tanya Raymond.
"tidak begitu suka" jawab alesya.
"pantai?" tanya Raymond lagi.
"sangat" jawab alesya.
Mereka menatap lurus ke depan memandangi gedung-gedung serta lampu dari rumah yang kelihatan indah apabila dilihat dari atas.
"alasan kau menyukainya?"
"karena pantai bisa membuat pikiranku tenang"
"cuman itu?"
"disana kita bisa melihat sunrise dan sunset, gulungan ombak yang sempurna dan angin pantai membuat kita nyaman"
Raymond menghadap ke depan alesya.
"lihat aku" ucap Raymond.
Alesya pun menurut dan menghadap ke depan Raymond.
Mata mereka saling beradu pandang.
*Deg
Deg
Deg*
Suara detak jantung mereka terdengar cepat.
Tiga menit mereka saling beradu pandang. Alesya memilih deluan memalingkan wajahnya kembali ke depan. Ia tidak bisa manahan getaran aneh dari tubuhnya ketika melihat mata Raymond. Perasaan apa ini.
"apa kau juga merasakan apa yang kurasa" ucap Raymond. Raymond tahu kalau alesya juga deg-degan seperti dirinya melihat kedua bola matanya.
Alesya tidak mengerti arah pembicaraan Raymond. "saya tidak tau apa yang anda bicarakan" jawab alesya.
Raymond memegang kedua bahu alesya memaksa alesya menghadap ke dirinya.
"alesya, aku mohon bicara denganku seperti teman, ini di luar kantor alesya" pinta Raymond sungguh-sungguh.
Alesya melihat wajah Raymond. Dari wajahnya ia bisa melihat keseriusan Raymond.
"i-iya, a-ku akan mencobanya" jawab alesya menunduk.
Raymond menaruh jari telunjuk nya di dagu alesya untuk melihat dirinya kembali. Aku mencintaimu.
"buktikan padaku"
Alesya menarik wajahnya kembali. Ia tidak bisa biarkan perasaan anehnya ini makin menjadi.
"bolehkan aku tanya sesuatu" ucap alesya ragu.
"silahkan" jawab Raymond.
"apa kamu tidak mempunyai seorang pacar" tanya alesya sedikit takut, takut Raymond sensitif dengan pertanyaannya.
"tidak" jawab Raymond dingin.
"kenapa tidak mencari saja"
Raymond melihat wajah alesya. "kalau gitu kau saja jadi pacarku"
Wajah alesya terkejut mendengar pernyataan Raymond. "a-apa"
"hanya bercanda, tidak usah dipikirin"
Raymond tidak mau cepat-cepat mengatakan cinta pada alesya. Ia tidak mau menyakiti alesya. Ia harus menyakinkan perasaannya dulu.
Sedikit sakit hati alesya mendengar kalau Raymond hanya bercanda. Tapi, ia menepis itu semua, ia tidak mau mempunyai perasaan kepada bosnya sendiri.
Alesya tidak mau di sakiti lagi. Ia tahu kalau Raymond tampan dan kaya, pasti dia palyboy atau mungkin dia perhatian bukan dengannya saja. Jangan geer alesya, wanita nya banyak.
"alesya" panggil Raymond.
"iya"
"kau tau kenapa bintang malam ini sangat banyak" ucap Raymond.
"emm, mungkin mereka bosan di dalam rumahnya terus" jawab alesya ngasal.
Jawaban yang lucu. Batin raymond.
"salah" Raymond menahan tawanya.
"terus apa dong"
"karena mereka ingin melihat kita sedang berduaan" jawab Raymond.
Alesya tertawa renyah. Hatinya sedikit tersentuh hanya kata-kata receh seperti itu.
"kamu cantik kalau lagi ketawa" ucap Raymond kembali.
Saat ini wajah alesya memerah. Ia memalingkan wajahnya biar tidak ketahuan Raymond.
Cup.
Ntah dari dorongan mana Raymond mengecup kening alesya.
"kamu cantik kalau lagi merah wajahnya" bisik Raymond.
Darah alesya mendesir aneh. Hawa yang tadi dingin menjadi panas. Angin seakan menghilang di rasakan alesya. Oh tuhan, aku butuh oksigen sekarang.
**Semoga suka dengan part yang ini yah.
Maaf kalau gak romantis:(
Komentar+like+votenya
Tungguin Part selanjutnya.
Typo bertebaran**....